Falling in love at a Coffee Shop

Falling in love at a Coffee Shop
Pelukku untuk Pelikmu..



[Bagaskara Hermawan]


Baga baru saja landing di bandara Kualanamu ketika dering handphone nya menyadarkan lamunan. Dia tersenyum mendapati nama ryu di layar handphone.


"Hai orang sibuk" sapa baga kepada seseorang di sebrang telepon.


Ada suara tawa di sebrang telepon sana


" Dimana lo ga? Sorry gue harus menunda pulang ke medan lagi. "


"Sibuk yaaa arsitek terkenal satu ini" goda baga


"Sial, sorry ga. Gue jadi ga enak hati sama lo harus ninggalin lo di proyek sendiri." Sesal ryu


"It's okay. Asisten lo yang di proyek kerja nya bener-bener bagus. Setidaknya itu meringankan gue" jawab baga sambil mendorong koper cabin nya keluar dari bandara menuju parkiran.


"Hahaha. Gue harus extand di surabaya 1 minggu lagi ga. Ada masalah sama izin pembangunan disini. Dan birokrasi pemerintah disini terlalu ribet"


"Wah, gue bakalan tambah kesepian kalau gitu seminggu ini. Hahaha" balas baga


"Lo ke kopi aja. Disana paling ada kinan. Tadi dia abis nelpon gue ngeluh sepi karena gue ga jadi pulang. Eh lo dibandara?" Tanya ryu yang mendengar suara informasi keberangkatan di sebrang telepon.


"2 minggu yang lalu gue sempat ketemu kinan. Kami berdua kayak orang **** ga punya temen main. Hahaha ehmm ya gue baru landing dari singapore"


"Nyamperin iliana lagi?" Tanya ryu kini bernada serius pasalnya ia tau baga selalu patah hati begitu kembali dari singapore karena pujaan hati nya itu selalu tidak pernah mau bertemu.


"Hehe iya"


"Ketemu?"


"Engga hahaha"


"Ga, kali ini gue serius. Apa lo ga curiga sama sikap iliana yang selalu menghindar?"


"Dia janji mau nyusulin gue lusa kesini. Yah kita liat nanti aja deh yu. Pusing gue haha" jawab baga


"Take care ya ga. Kalau kesepian ajak kinan main aja. Tadi gue udah bilang kinan biar nemenin lo. Secepatnya gue pulang" jelas ryu


"It's okay yu. Take your time. Hmm btw kalau butuh bantuan gue untuk surabaya bilang aja. Anak buah gue disana bisa ngurusin" Tawar baga


"Okay thanks. Nanti gue kabarin"


Baga tersenyum memasuk kan kembali handphone nya ke saku celana. Ia sudah di jemput oleh supir begitu sampai di parkiran.


"Selamat malam mas baga. Kita mau langsung pulang atau mau mampir dulu?"


Baga melirik jam tangan rolex nya. Sudah pukul 7 malam, baga ingin istirahat sebentar lalu makan malam di kedai kopi kinan.


"Kita pulang ke apartement dulu aja pak ujang" jawab baga


Ingatan baga kembali kepada ucapan ryu tentang iliana, baga sebenarnya memang sudah merasa ada yang aneh dengan sikap iliana beberapa bulan terakhir. Kemarin baga hanya ingin memastikan sendiri firasatnya. Baga kembali harus pulang tanpa bertemu dengan iliana. Iliana hanya mengabari nya lewat telepon bahwa ia akan menyusul baga lusa ke medan.


Baga berusaha memejamkan matanya saat kembali merasakan nyeri di kepala tapi perutnya bunyi. Aah ia belum makan sama sekali hari ini. Hanya makan roti di pesawat tadi.


"Pak ujang, anterin saya ke coffeeshop nya ryu aja. Pak ujang nanti pulang bawa mobil aja gak usah nungguin saya"


"Baik mas baga."


***


"Selamat malam mas baga" sapa gibran si barista ketika baga duduk di meja bar.


"Malam gib. Apa ada meja kosong?" Tanya nya baga melayangkan pandangan nya mencari meja kosong.


"Bentar ya mas saya cek dulu. Untuk berapa orang mas?" Gibran melihat cctv dilantai 2 dan 3 mencari meja kosong. Namun tidak ada meja yang kosong semua nya penuh. Dan masih ada beberapa tamu yang sudah waiting list.


"Gue sendirian doang." Jawab baga.


"Mas maaf belum ada meja kosong, mas baga mau ga duduk di bar dulu? Kalau ada yang kosong saya langsung kasih tau mas baga"


"Lama ga ya? Gue laper banget.. di meja bar ga boleh ada bau makanan kan ya?" Tanya baga.


Saat itu kinan baru saja keluar dari dapur. Ia mengecek stock. jika ada ryu, ryu yang akan mengerjakan nya. Tapi siang tadi ryu menelpon menyampaikan bahwa dia akan menunda lagi kepulangannya. Ia melihat baga yang sedang duduk di bar.


"Hai ga. sama siapa?" Sapa nya.


"Hai kin, sendirian. Lo dari mana?" Baga sedikit terkejut dengan kehadiran kinan yang tiba-tiba. Sementara kepalanya yang sudah sakit sedari siang tadi kembali berdenyut.


"Kalau di bar, mohon maaf mas kami emang ga boleh ada makanan. Sebentar ya mas saya pastiin lagi" barista yang bernama gibran itu berbicara lagi.


"Dari dapur gue. Kenapa ga? Ga ada meja kosong ya?" Jawab kinan.


"Iya nih. Rame banget yah haha" baga menggaruk kepalannya yang tidak gatal.


"Malam minggu emang gini ga, pada kencan" canda kinan


"Yaudah deh, gak apa-apa kalau ga ada meja kosong gue balik aja. Tadi cuma pengen nyari makan. Laper banget gue baru landing jam 7 tadi" jawab baga


"Oh lo mau makan? Makan di kantor gue aja mau ga? Kebetulan gue juga mau makan" Kinan menawari.


"Hmm.. gak apa-apa emang?" Tanya baga memastikan. Pasalnya ia sudah menyuruh pak ujang pulang. Jika ia mencari makan diluar lagi berarti baga harus memesan taksi online. Akan memakan waktu yang lama. Kepala baga sudah terasa berat.


"Ya gak apa - apa lah.. yuk?" Ajak kinan


"Okey.."


"Mau pesen apaan lo?" Tanya kinan menyodorkan menu


"Enak nya apa ya? Gue belum makan seharian nih" jawab baga sambil memilih-milih menu.


"Beef burger mau?" Tanya kinan


"Hmm boleh beef burger aja deh" baga menjawab.


"Okay. Beef burger 1 ya gib sama papermint hot tea." Pinta kinan kepada gibran


"Lo ntar aja ya ngopi nya. makan dulu" Kinan berbicara sambil melirik baga meminta persetujuan.


"It's okay" jawab baga..


***


Kinan dan baga saat ini sudah duduk di kantor kinan menikmati makan malam mereka. Kinan dengan cordon bleu favoritnya dan baga dengan beef burgernya. Mereka tampak santai menikmati makan malamnya sambil bercakap-cakap.


"Jangan di biasain ga, makan ga teratur se sibuk apapun lo" cecar kinan


"Sekarang lo terdengar seperti dokter yang marahin pasien" canda baga


"Sial, haha kalau semua pasien gue kayak lo bisa kaya dong gue. Ga bisa jaga kesehatan, ga sayang badan" kinan menjawab


"Hahaha biar dokter ada pasien nya gitu"


"Gue seharian sibuk kin, sampai lupa makan. Begitu kegiatan gue selesai udah sore gue harus ngejar flight" baga menjelaskan entah mengapa baga ingin kinan tau ia tidak sengaja melalaikan makan nya hari ini.


"Ya tetep aja lo harus merhatiin kesehatan. Nih minum teh nya. Bagus buat pencernaan" kinan menuangkan teh papermint dan menyodorkan nya kepada baga.


Baga menurut, lalu meminum tehnya. Ia tersenyum. Hatinya menghangat. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia diperhatikan seperti ini oleh seseorang. Baga kembali teringat kepada iliana. Bahkan iliana sendiri tidak pernah memperhatikan nya seperti ini selama 3 tahun mereka menjalin hubungan.


Kinan masih sibuk menikmati makan nya sambil bermain handphone. Sementara baga yang sudah selesai makan sedang memandangi kinan.


"Kantor lo bagus kin" baga memecah keheningan.


"Serius? Lo suka desain nya? Ryu bilang bentuk kantor gue aneh. Segitiga" kinan menatap baga


"Suka. Ini unik. Terasa seperti kinan banget" jawab baga tersenyum tipis.


"Lo sama ayko temen gue kok sama sih komentarnya. Terasa kinan banget. Emang gue apaan banget" kinan berceloteh.


"Setiap apapun desain lo itu kayaknya menggambarkan diri lo sendiri kin. Simple, modern, ga ribet, tapi cantik dan nyaman" ucap baga


Kinan tertegun dengan ucapan pria di depan nya ini. Barusan itu pujian kah? Batin kinan.


"Gak salah nih gue dipuji sama arsitek?" canda kinan. namun baga hanya tersenyum.


"Lo bisa main piano?" Tanya baga lagi


"Hmmm sedikit" jawab kinan merendah. Padahal kinan sangat mahir memainkan jarinya diatas nots piano.


"Dulu waktu kecil gue benci piano karena bokap selalu memaksa gue untuk ikut les piano. Tapi belakangan gue menyukai piano diantara alat musik lain. Karena entah kenapa selalu cocok untuk menyampaikan perasaan gue" baga bercerita panjang lebar.


"Kok sama sih? Gue selalu merasa gue bisa bercerita dari piano. Dari nada yang gue main kan" jawab kinan. Kinan merasa ia dan baga memiliki banyak persamaan.


"May I play your piano kin?" Tanya baga


"With my pleasure.." jawab kinan.


Ia kini membalikan badan nya ke arah piano. Baga sudah duduk disana. Memainkan nada-nada yang terdengar menyedihkan. Lalu setelah selesai dengan itu. Baga memainkan salah satu lagu favorite kinan. Permainan piano baga terdengar sangat indah, seperti mencurahkan segala isi hatinya.


●Fool Again - Westlife●


Tanpa sadar kinan meneteskan air mata nya. Ingatan nya kembali kepada sosok yang dirindukan. Apa pria yang dirindukan nya itu baik-baik saja? Apa hidupnya berjalan dengan baik. Ia menangis didalam diam. Air mata tidak mau berhenti mengalir. Aaah shitt.. kinan tidak ingin kedapatan menangis di depan baga. Kinan berdiri ingin ke kamar mandi mencuci muka. Tapi tangan kokoh itu lebih dulu menahan kinan. Membawa kinan kedalam pelukan. Kinan menyerah. Ia menangis terisak - isak. Sesak di hati nya ini sudah lama ia tahan sendirian. Berusaha sibuk dengan segala aktifitas tanpa henti selama ini membuatnya bisa sedikit melupakan. Sementara akhir - akhir ini ketika ia lebih banyak waktu luang. Sakit itu kembali menyerang. Lama kinan menangis di pelukan baga sampai akhirnya tenang. Kinan melepas pelukan itu.


"Gue ke kamar mandi dulu." Kinan bersuara. Tapi lagi-lagi tangan nya di tahan. Baga menghapus sisa air mata kinan dengan jarinya. Entah mengapa hati nya sakit melihat kinan menangis. Dorongan perasaan ingin melindungi si gadis sendu ini terlalu besar.


"Seberapa dalam sakitmu, sendu?" Tanya baga dalam hati


"Kalau lo butuh teman cerita, gue ada kin. Gue tau kita baru kenal. Tapi sejak pertama kali gue ketemu lo dibawah. Gue tau lo menyimpan banyak kesedihan di sini" tunjuk baga ke arah jantung kinan


Kata-kata baga kembali berhasil meluncurkan bulir air mata itu ke bawah. Aaah kinan kenapa kembali terlihat lemah. Pikirnya dalam hati.


"Makasih ga.." ucap kinan serak


"Maaf ya gara-gara gue mainin lagu itu bikin lo sedih"


Baga kembali menghapus air mata kinan dengan jarinya.


Kinan menggeleng lemah. "Gue memang sedang merindukan nya belakangan ini ga. Biasanya gue punya banyak kegiatan jadi ga terlalu kebawa perasaan. Sekarang gue sendirian ga ada ryu dan ayko malah tambah berasa"


"Sekarang lo bisa menambahkan gue di salah satu list orang yang bisa menemani lo kalau butuh apa-apa. Gue akan selalu ada." baga menawari


Kinan mengangguk mengisyaratkan ia paham dan berterimakasih.


"Peluk ku, untuk pelikmu.." ucap baga


"Hah?" Tanya kinan tidak mengerti


"Kata-kata di cup itu untuk lo. Peluk ku, untuk pelikmu.." ulangi baga


Kinan berkaca-kaca. Ia tidak tau harus menjawab apa. Perasaan nya bercampur aduk. Siapa pria di hadapan nya ini. Kenapa ia bisa tau kesedihan kinan. Apa terlihat jelas? Batin nya


"Sekarang lo sedang bertanya didalam hati kenapa gue bisa tau? Karena gue di posisi yang sama seperti yang lo rasakan. Gue tau rasa nya" ucap baga..


Kinan masih tertegun tidak menjawab.


"Kebahagiaan itu masih ada ketika lo mulai mengikhlaskan nya kin. Percayalah" ucap baga menatap lekat ke arah dua manik yang kembali meneteskan air mata itu.


"Thanks ya ga, selama ini gue harus terlihat baik-baik aja biar ryu sama ayko gak terlalu khawatir. Gue gak mau terlihat lemah. Tapi malem ini gue udah gak bisa nahan lagi. Gue kangen ga sama dia" Kinan bersuara


"Lo berfikir kalau lo bisa terlihat kuat kin, tapi mereka tau lo sedang pura-pura kuat."


"*Emang keliatan jelas ya ga?"


"Di mata gue, iya kin.. Lo bisa cerita apapun kalau lo mau sama gue . Buat gue ryu sudah seperti saudara sendiri. Begitu pun keluarga nya*" Jelas baga menatap mata kinan dalam.


"Lo mau kopi?" tanya kinan mengalihkan pembicaraan. ia tidak mau membicarakan kesedihan nya lebih dalam dan ia tidak tahan di tatap begitu terus oleh baga.


"Boleh, Gue Americano Ice aja kin" Jawab baga .


Sejurus kemudian kinan menelpon ke bar memesan americano ice untuk baga dan caramel machiato untuknya.


"Di dalem sini boleh ngerokok gak sih?" tanya baga


"Boleh lah, bentar ya" . kinan membuka pintu kaca.


Malam itu mereka habiskan dengan bertukar cerita, ide - ide menarik kinan untuk resort baru baga, lagu dan makanan kesukaan mereka. Malam yang sedih sudah berubah menjadi ceria. Kinan dan Baga melupakan kesedihan yang menyesak kan dada mereka. Sampai gak berasa sudah menunjukan pukul 1 dini hari.


"Lo gak mau balik kin?" Tanya baga


"*Mau balik sekarang? yaudah yuk"


"Okey bentar gue mau pesen taksi online dulu*" Jawab baga


"Lo gak bawa mobil?" tanya kinan


"Enggak. tadi gue minta anter supir kesini"


"Yaudah gue antar aja yuk" Kinan menawari


"Udah malem tau kin, gak mungkin lo nyetir sendiri"


"Gue udah biasa kali ga nyetir sendiri, mau malem-malem juga hahaha emang lo pikir gue punya pacar yang mau nganter jeput gueee" Kinan terkekeh


"Dih.. lo pengen banget apa di anter jeput pacar?"


"Engga juga sih.. hahah yaudah yuk ah gue anter"


"Udah malem tau kin.. Gue gak apa - apa naik taksi online aja" Baga ragu


"Yaudah gini aja, lo anter gue ke apart, trus lo bawa aja dulu mobil gue. gak ada tawar menawar lagi ya ga!" Ucap kinan akhirnya. Baga sudah tidak bisa membantah lagi. Mereka pulang, dan masih melanjutkan obrolan di dalam perjalanan pulang. Seperti waktu yang mereka miliki untuk saling bercerita tidak pernah cukup.