Falling in love at a Coffee Shop

Falling in love at a Coffee Shop
Perpisahan Adalah Puncak Sebuah Pertemuan.



[Bagaskara Hermawan]


Selama perjalanan menjemput iliana ke bandara jantung baga berdebar kencang. Iliana adalah sosok yang sangat di rindukan nya. Tidak sabar ingin bertemu si kekasih hati yang sudah beberapa bulan tidak bisa ia temui. Sesampai nya di bandara baga langsung turun dari mobilnya tanpa memperdulikan pak ujang si supir yang bertanya ia harus menunggu dimana. Mengedarkan pandangan mencari sosok yang ia rindukan. Begitu ia menangkap bayangan iliana baga berjalan mendekat dan memeluk. Iliana selalu tampak cantik dan anggun. Beberapa bulan tidak bertemu ia terlihat sedikit gemuk. Tapi tetap cantik.


"Hai sayang" Sapa baga sambil memeluk wanitanya


Si wanita tampak tidak bersemangat hanya membalas pelukan itu dengan enggan "Hai.." jawabnya kemudian


"Maaf aku lama ya, jalanan nya tadi sedikit macet" Baga menjelaskan.


"It's okay." Iliana menjawab sambil menaikkan bahunya seolah mengatakan itu tidak penting.


"Koper kamu cuma ini?" Tanya baga sambil mengambil alih koper rimowa pink dari tangan iliana.


"Iya."


Mereka berjalan beriringan ke arah mobil baga. Iliana hanya mengikuti langkah baga.


"How was your flight hon? (Gimana tadi penerbangannya sayang?)" Tanya baga ketika mereka sudah berada didalam mobil


"It was great (baik-baik aja)" Jawab iliana malas, ia hanya terbang selama 1 jam 20 menit dan itu penerbangan singkat bagi iliana yang sudah terbiasa berpergian untuk perjalanan modelnya.


"Kamu udah makan?" Tanya baga kembali berusaha mencairkan suasana seperti biasa.


"Udah dipesawat" Jawab iliana singkat.


"Mau langsung istirahat ke hotel? Biar aku pesenin dulu" baga menawari.


"Aku udah pesen hotel di JW Marriot"


"Kamu mau istirahat dulu?" Tanya baga lembut sambil mengecup tangan kinan.


"Boleh." Iliana kembali menjawab singkat. Lalu kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela. Membiarkan baga menggenggam tangannya.


"Kita ke JW Marriot ya pak ujang" perintah baga kepada supirnya


"Baik tuan" jawab pak ujang sembari melirik dari kaca spion.


"How was your work? (Gimana kerjaan kamu)" Tanya iliana memecah keheningan. Namun ia masih belum menatap baga. Iliana bertanya masih sambil menatap keluar jendela.


"It was good, I mean disini gak se chaos jakarta. Aku kerjasama sama ryu buat ngerjain proyek resortnya." Jawab baga antusias.


"Bagus dong. Ryu sahabat kamu kuliah dulu?"


"Iya. Untung ada ryu disini aku jadi gak terlalu kesepian. Dia punya coffeeshop sekarang bareng adiknya. Aku main nya selalu disana" Panjang lebar baga menjelaskan


"Heemm" Balas iliana pendek


"Adiknya cewek namanya kinan. Seru deh kamu pasti suka ketemu dia, nanti aku ajak kesana"


"Besok flight ku jam 9 pagi" Ucap iliana


"Loh cuma semalem? Cepet banget"


"Heem"


Jawaban terakhir iliana itu adalah akhir dari obrolan mereka. Hingga tiba di hotel tempat iliana menginap. Iliana menolak baga mengantarkan nya sampai ke kamar. Cukup sampai dilobby. Berdalih ingin istirahat dan meminta baga menjemputnya nanti jam 6 untuk makan malam. Bagi baga itu sudah cukup. Selama 3 tahun hubungan mereka memang seperti ini. Hubungan yang dingin. Tidak selayaknya sepasang kekasih.


***


Baga dan iliana sudah duduk di rooftop coffeeshop kinan. Sudah satu jam mereka duduk disana menghabiskan makan malam mereka dalam diam. Tidak banyak berbicara. Hanya baga yang sedari tadi banyak bertanya dan dijawab singkat oleh iliana. Sampai akhirnya iliana yang bersuara.


"Kita harus ngobrol" ucap iliana


Baga memajukan badan nya kearah ilana sambil tersenyum.


"Kamu mau kita obrolin apa sayang?" Tanya baga lembut kedua manik pria itu kini sudah tertuju menatap gadis pujaannya.


"Kamu harus bahagia ga" Ucap iliana serius


"Ada apa na?" Raut wajah baga berubah. Ia tau ada yang tidak beres.


"I'm pregnant (aku hamil)"


Lama tidak ada jawaban. Baga berusaha mencerna kata - kata pujaan hatinya itu. Iliana hamil? Sudah pasti itu bukan anak baga. Mereka tidak pernah melakukan nya bahkan setelah berbulan-bulan mereka baru bertemu hari ini. Ia mencari kebohongan dari mata pujaan hatinya. Tapi tidak ada kebohongan disana.


"Aku hamil udah 5 bulan. Kita selesaiin aja ya hubungan kita sampai disini. Gak usah memaksa diri kamu terlalu keras untuk aku ga. Aku tau selama ini kamu yang tersakiti mencintai aku." Ucap iliana lagi.


Sejurus kemudian iliana menangis. Baga masih terdiam duduk dikursinya belum bersuara.


"Kita selesaiin sampai disini ga. Kamu carilah pasangan yang baik dan mencintai kamu. Aku bukan pasangan yang baik untuk kamu. Aku gak pernah cinta kamu." Sambung iliana.


Ada sesuatu yang terasa begitu sakit didalam dada baga. Baga tau iliana tidak pernah mencintainya. Tapi tidak pernah ada dibayangan nya iliana selingkuh dan sekarang hamil. Air mata menetes begitu saja dari mata baga. 3 tahun baga berusaha membuat iliana mencintainya.


"Kita masih bisa berteman ga. Dan maaf aku harus menyakiti kamu sedalam ini."


"Anak siapa?" Hanya itu pertanyaan baga


"Jerry" jawab iliana singkat.


Jerry adalah manager iliana.


"Kamu cinta dia?" Tanya baga


"Kami sudah menikah 7 bulan lalu ga, mama dan papa gak tau " jelas iliana


"Jawab aku na kamu cinta dia?"


"Aku mencintai dia sejak SMA ga."


"Kamu harus bahagia na. Terimakasih ya 3 tahun ini" jawab baga dan lagi air matanya menetes.


Saat itulah baga melihat kinan yang ragu melangkah. Namun akhirnya memilih berjalan cepat ke kantornya. Baga tersenyum ke arah kinan.


"Dia yang namanya kinan?" Tanya iliana


"Dia kinan adik ryu"


"Cantik." Gumam iliana namun tidak ada jawaban dari baga.


"Kamu harus cari pasangan wanita cantik dan baik - baik seperti dia ga" lanjut iliana.


"Buat aku gak akan gampang melupakan kamu na"


"Kamu harus bisa ga." Kini iliana menangis lagi


Baga mengambil tangan iliana dan menciumnya lama. Lalu mencium kening gadis itu lama


"Kamu harus bahagia ya na. Jangan pikirin aku. Maaf harus membuat posisi kamu serba salah karna perjodohan kita. Aku sayang kamu na" Ucap baga lirih.


Kedua nya kini berpelukan lama dan hanyut dalam tangisan.


"Aku antar kamu pulang" Baga yang melepas pelukan itu duluan. Iliana hanya mengangguk.


Selama perjalanan menuju hotel tempat iliana menginap baik baga ataupun iliana hanya diam. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Makasih ya ga, take care." Ucap iliana begitu mobil baga berhenti di lobby hotel


"You too na. Salam sama jerry. Besok supir ku jemput kamu jam 7 pagi buat nganter ke bandara." Ucap baga


"Kamu harus bahagia ya ga." Ucap iliana sambil turun dari mobil baga.


Baga hanya menjawabnya dengan senyum dan memandangi punggung iliana yang menjauh. Lama baga terdiam di parkiran hotel menata kembali pikiran dan hatinya. Kemudian air mata itu menetes lagi. Bagi seorang pria dewasa seperti baga menangis adalah hal yang jarang dilakukan. Hanya saja hati nya terlalu sakit. Ia terlalu mencintai iliana sejak perkenalan pertama mereka. Sehingga dengan senang hati menerima perjodohan dari kedua orangtua nya. Tapi tidak begitu dengan iliana. Ia tidak pernah setuju dengan perjodohan ini dan tidak pernah mencintai baga.


Baga tidak ingin sendirian malam ini. Baginya ini terlalu melelahkan. Jika saja ia baga 5 atau 6 tahun yang lalu ia akan memilih melepaskan sesak di hati nya ke club malam dan mabuk-mabukan. Tapi tidak dengan baga yang sekarang. Ketika baga sudah mengambil alih jabatan CEO di perusahaan orangtua nya. Baga sudah meninggalkan segala macam kegiatan dunia malam. Ia sudah berjanji kepada kedua orangtua nya untuk tidak lagi menjalani kehidupan yang dulu.


Memutuskan untuk melajukan mobilnya berkeliling menebus malam. Baga teringat akan kinan. Ia ingin membenamkan diri diantara obrolan-obrolan bersama kinan saat ini hingga melupakan sakit dihatinya. Menimbang sejenak akhirnya baga menghubungi kinan.


"Halo ga" jawab gadis itu disebrang.


"Kin.. udah tidur?" Tanya baga


"Belum, gue baru sampe apartement. Kenapa ga?"


"Kin, boleh gak malem ini gue minta temenin ngobrol?" Tanya baga memohon.


"Lo dimana sekarang?" Tanya kinan lembut


"Gak jauh dari apartement lo." Ucap baga lemah


"Kita ngobrol di apartement gue aja gimana?" Kinan menawari


"Boleh?"


"Boleh ga. Apartement gue di lantai 19 nomer 1909"


"Okay, lo mau gue bawain sesuatu kin?"


"Gak usah ga. Yaudah gue tunggu ya"


"Thanks kin" ucap baga dan memutuskan panggilan telepon.


Baga merasakan hatinya menghangat, akhirnya ia memiliki teman untuk melewati malam ini. Baga tidak akan sanggup melewatinya sendiri.


Sementara kinan masih terdiam berdiri memandangi handphone nya. Suara baga terdengar lemah, suara yang sama ketika kinan mengetahui pernikahan faiqh. Baga memohon untuk ditemani malam ini. Dia pasti butuh teman. Apalagi tidak ada ryu disini. Karena itu kinan mengajaknya kesini. Selain karena kinan tidak ingin keluar lagi.


"Hai ga.. ayo masuk" Ucap kinan begitu membuka pintu.


"Thanks kin. Sorry gue ganggu lo malem-malem" Jawab baga dan menuruti perintah kinan untuk masuk


"Engga kok, gue tadi cepet pulang karena bosen di kopi. Duduk aja ga. Nyantai aja. Gue lagi masak. Bentar yaah dikit lagi." Jawab kinan melanjutkan kegiatan memasaknya yang sebentar lagi selesai.


"Apartement lo bagus kin.." Ucap baga sambil berjalan mengikuti kinan ke dapur dan duduk di salah satu kursi meja bar nya. Di apartement kinan juga ada mesin kopi lengkap dengan grindernya dan gelas-gelas kopi yang di tata rapi.


"Thankyou ga, lo mau kopi?" Tanya kinan


"Gue bikin sendiri aja" Jawab baga


"Okay, lo mau apa? Susunya ada di kulkas, sirup caramelnya ada di rak atas kepala lo." Jelas kinan


"Ahahah kok lo tau aja sih gue mau bikin caramel machiato?"


"Nebak doang. Lo suka mongolian beef and lime rice?" Tanya kinan


"Heem suka" jawab baga


"Beef nya mau pedes apa manis?"


"Manis aja kin, thankyou" Jawab baga sembari membuat kopi.


"It's okay ga.." Jawab kinan sambil tersenyum jahil


Baga terkekeh melihat senyum jahil kinan. Kinan melihatnya menangis tadi. Ia pasti tau baga sedang sedih.


"Jangan ngeledek gue gitu kinnn.."


"Dih, kok kepedean? "


"Siall ahaha Lo mau kopi?" Tanya baga


"Engga ah tadi gue udah ngopi. Lo aja. Esnya di kulkas ga" kinan sudah menyelesaikan kegiatan memasaknya dan sedang menata makanan di piring


"Kita makan di balkon aja yuk biar nyantai" Ucap kinan sambil berjalan ke balkon yang diikuti baga dibelakangnya


"What a beautiful view kin" Ucap baga ketika mereka sudah sampai di balkon.


Pemandangan dari balkon kinan adalah kerlap-kerlip lampu kota. Jalanan yang sudah mulai sepi. kinan mendekor balkon dengan meja kayu yang menyambung ke pembatas balkon dan sepasang kursi kayu bar tinggi disebelah kanan. Sementara di sebelah kirinya sofa ayunan berwarna peach yang didekorasi dengan lampu-lampu dan tanaman hijau. Dekorasi sederhana yang cantik. Khas kinan.


"Gue selalu menghabiskan waktu disini, sebelum punya kantor yang sekarang" Jawab kinan


"Kalau apartement gue view nya begini juga gue bakalan betah kin"


"Dulu apartement ini gue beli karena sebrangan sama rumah sakit. Jadi gue bisa curi-curi tidur sebentar" Kinan tertawa


"Trus lama - lama jadi betah gitu ya?"


"Gue males pulang, kalau gue pulang nyokab tuh pasti mulai ngenalin gue ke anak temen nya. Selalu bahas pasangan"


"Gue kalau pulang ke jakarta sekarang juga bakalan ditanya kapan gue nikah. Senasib ya kita"


"Lo sih enak udah ada pasangan nya tinggal lamar trus nikah. Lah gue?"


"Sekarang gue juga udah gak punya pasangan" Jawab baga lirih


"Hmm makan dulu deh ga nanti dingin" ajak kinan sambil duduk dimeja balkon.


"Lo jelek nya apa sih kin? dokter,jago desain,bisa bikin kopi enak, sekarang masakan lo pun enak banget kayak di restaurant" Ucap baga setelah mencicipi makanan kinan


"Apaan sih gaaa.. kebetulan doang itu mah"


"Ini enak loh serius."


"Suka?"


"Suka lah kin. Enak gini kok gimana gue gak suka coba"


"Ahaha nanti kapan-kapan gue bikinin lo steak ya"


"Harus kin. Gue harus coba.."


Mereka menikmati makan dengan santai, dan masih asyik mengobrol. Tawa keduanya tidak berhenti sedari tadi.


"Lo mau wine?" Tanya kinan


"Hmm boleh."


"Are you okay abis ngopi minum wine?"


"Biasanya"


"Okay bentar" Jawab kinan tersenyum


Kinan berjalan masuk ke dalam apartement, sementara baga kembali mengingat kesedihannya. Sambil memandang kearah kerlap-kerlip lampu kota malam ini. Hatinya kembali sakit. Baga tidak menyadari kinan sudah kembali dengan 1 botol wine dan menuangkan ke gelas.


"Cheers?" Ucap kinan memecah lamunan


Namun baga tersenyum dan mengambil gelas wine nya.


"Kalau gue sedang sedih biasanya gue akan duduk disini, memandangi lampu-lampu itu. Mendengarkan lagu sambil nge wine" Ucap kinan membuka obrolan


"Malem ini lo sedang sedih?" Tanya baga


"Bukan gue, tapi yang lagi duduk disebelah gue ini" Jawab kinan tersenyum


Baga hanya menatap mata gadis itu dalam.


"Are you okay?" Tanya kinan lembut


"Tadi lo liat gue nangis?" Tanya baga


"Harus gue jawab?"


"Gue cenggeng ya?"


"Apa salahnya dengan menangis ga? Sekalipun lo pria dewasa lo juga manusia"


Baga tersenyum "Kenapa lo selalu jago dalam bermain kata kin?"


"Mungkin itu anugrah ga" Kinan terkekeh


"Orang pertama yang gue inget ketika gue sedih tadi itu lo kin, gue selalu nyaman ngobrol sampai lupa waktu sama lo" Ucap baga


"Lo mau cerita kenapa?" Tanya kinan mencondongkan tubuhnya kesamping dan menopang dagu


"Boleh gue cerita?" Tanya baga


"Boleh dong ga. Lo bukan oranglain lagi buat gue"


Baga tersenyum. "Gue sudah mengakhiri cinta sepihak gue selama 3 tahun ini kin. Dia hamil. Jelas bukan anak gue karena gue gak pernah melakukan apa - apa. Itu anak orang lain yang jadi managernya saat ini"


Mata kinan berubah menjadi sendu. Kinan paham apa yang baga rasakan sekarang. Gimana rasa sakitnya. Karena kinan juga pernah merasakan.


"Lo butuh pelukan?" Tanya kinan


Tapi baga tidak menjawab hanya menatap kinan lalu kemudian air matanya menetes kembali. Kinan turun dari kursinya dan memeluk baga. Kinan tau yang paling dibutuhkan dalam keadaan baga saat ini adalah pelukan dan di dengarkan. Baga yang awalnya kaget sekarang sudah balas memeluk. Kinan menepuk - nepuk punggung baga halus. Tidak ada tagis terisak-isak hanya tetesan air mata dalam diam.


"Kalian menyelesaikan nya dengan baik-baik kan ga?" Tanya kinan


"Baik-baik kok kin. Gue yang egois memaksakan diri menerima perjodohan walaupun gue tau dia gak pernah sayang gue"


Kinan melepas pelukan nya. Lalu menatap baga.


"Don't be so hard on yourself ga! (Jangan terlalu keras sama diri sendiri ga)" Ucap kinan lembut.


"Makasih yah kin udah nemenin gue malem ini. Gue gak akan sanggup melewatinya sendirian"


"Ada gue kok kalau lo butuh temen. Lo mau disini sampe pagi juga ayok" Ucap kinan mengangkat gelas wine nya.


Baga terkekeh melihat kelakuan gadis didepannya.


Mereka kembali terlibat obrolan seru. Tanpa menyadari sudah hampir pagi dan mulai merasa mengantuk. mereka sudah menghabiskan 3 botol wine.


"Udah mau pagi, gue balik deh kin" Ucap baga disisa kesadaran nya


"Yakali lo mau nyetir sendiri setelah 3 botol wine ga?" Jawab kinan


"Gue bisa kok" Jawab baga


"Tidur disini aja. Masih ada kamar kosong kok. Besok aja pulangnya. Gue gak bakalan kasih lo izin nyetir sendiri sekarang dalam keadaan setengah sadar" Jawab kinan mendorong baga ke kamar tamu.


"Yaudah, tidur yuk. Lo pasti capek" ucap baga mengalah begitu sampai dipintu kamar. baga sudah tidak punya tenaga untuk berdebat. Ia saat ini hanya ingin merebahkan badan.


"Di dalam lemari ada baju - baju kaos cowok dan celana masih baru. Lo bisa ganti pakai itu. Gue tidur dulu ya. Lo jangan sedih-sedih lagi" Ucap kinan


"Thanks kin" Jawab baga sambil memandangi kinan yang sudah berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Mereka sudah sama - sama tertidur pulas di kamar masing-masing. Dan sekali lagi obrolan tadi malam semakin mengakrabkan. mereka saling merasa banyak kesamaann.