
#Dua tahun berlalu
Kinan sedang duduk menikmati kopi nya seperti biasa dilantai 2 sewaktu ryu datang. Ryu sudah hampir 3 bulan tidak bertemu kinan. Dua tahun berlalu dari pernikahan faiqh namun kinan seperti nya masih sedih. Kinan lebih banyak menghabiskan waktu nya dirumah sakit dan belajar belakangan ini. berdalih terlalu sibuk karena masa spesialisnya akan segera selesai dan sibuk mempersiapkan ujian.
"Kin, gimana sama desain kantor lo? Lo suka?" Tanya ryu.
"Suka kok, tapi gue boleh ga minta ganti bohlam nya jadi warna kuning kayak diluar ini, putih terlalu terang buat ruangan gue" pinta kinan.
Kinan memang sengaja minta dibuatkan kantor di lantai 3 coffeeshop nya dan ryu ini agar bisa jadi tempat pelarian kinan dari semua kegiatan, ia ingin mulai menekuni lagi hobi yang sudah lama ditinggalkan. Yaitu photography, kinan sangat suka menghabiskan hari-hari senggang dengan mengelilingi kota dan membiarkan kamera mengabadikan moment. Ya, kinan bisa dibilang aneh, seorang dokter namun sangat mencintai kopi dan photography. Kegemaran nya tidak ada yang saling berhubungan. Tapi itulah daya tarik kinan dengan segudang bakat . Alasan ia dan ryu membuka coffeeshop adalah karena ia hampir tidak pernah lepas dari kopi yang enak setiap hari nya. Ia dan ryu adalah pemburu kopi enak, setiap ada coffeeshop yang baru buka keduanya akan selalu mencoba duluan.Ia bahkan berencana ingin mengambil kelas kopi nanti jika ia memiliki waktu senggang setelah menyelesaikan spesialis. Ryu sudah lebih dulu mengambil kelas kopi dan roasting 2 tahun yang lalu. Sebelum akhirnya mereka berdua berani mengambil keputusan membuka coffeeshop yang di beri nama "Hello,Goodbye ! " ini.
Kinan memberi nama begitu karena menurutnya coffeeshop adalah tempat dimana pengunjung akan selalu bertemu dan berpisah. Entah itu hanya sekedar memulai hari yang penuh harapan dengan secangkir kopi atau melepas penat beban seharian yang telah di jalani. Itu kenapa ia dan ryu butuh waktu hampir 2 tahun merampungkan pembangunan coffeeshop ini. Mereka ingin ini menjadi tempat yang nyaman untuk pengunjung-pengunjungnya. Selain karena kinan patah hati. Ia mulai tidak konsentrasi melanjutkan pembangunan coffeeshop ini.
"Oke ntar gue ganti sama warna kuning deh, tapi sofa lo paling baru lusa sampai" terang ryu
"Lo dapetin tukang yang bisa ngerjain sofa kayak yang gue mau yu?" Tanya kinan semangat
"Bisa lah. Gue gitu loh apasih yang gue ga bisa. Arsitek bayaran termahal loh gue sekarang" Canda ryu
"Hahahaha sial. Tapi gue seneng banget loh terimakasih abang kuu" Peluk kinan sembari menjawab itu.
"Gue sampai minta bantuan temen kuliah gue dulu nyari tukangnya."
"Oiya? Siapa tuh?"
"Temen kuliah gue di jakarta dulu. Ntar orangnya kesini kok. mau meeting gue lagi ngerjain desain pembangunan resort dia di danau toba" Jelas ryu.
"Lo lagi ada proyek baru? Kok baru cerita sekarang?"
"Kapan gue bisa ngobrol normal kayak gini sama lo?" Cecar ryu.
Kinan terkekeh mendengar omongan abangnya itu "Sial, emang gue ga normal apa"
"Kapan lo normal sejak patah hati? Kayaknya baru hari ini deh mood lo bagus"
"Gue sibuk bang bukan karena patah hati. Baru hari ini gue libur dari 3 bulan belakangan" Kinan membela diri
"Salah lo sendiri lah terlalu sering dirumah sakit ketimbang dirumah sampai mama papa kesepian gara-gara lo."
"Tadi gue pulang kok yu. Kan biar spesialis gue cepet kelar juga sih"
"Trus abis itu lo mau ngapain? Mau nikah?" Canda ryu
"Dih lo tuh ngaca dulu sebelum nyuruh gue nikah. Umur lo udah 34 tahun bang tapi masih jomblo" ejek kinan. Ryu hendak menjawab omongan kinan tetapi handphone nya bunyi ada panggilan telepon dari teman yang sedang ia tunggu untuk meeting.
"Halo ga." Ucap ryu begitu mengangkat telpon.
"Yu gue udah di parkiran coffeeshop lo nih." Suara seseorang disebrang telepon.
"Oke ga sebentar gue turun kebawah." Jawab ryu sambil mematikan telepon.
"Gue kebawah dulu kin." Ucapnya kepada kinan
"Okay mblo" canda kinan
"Sial, awas lo ya" ryu mengacak rambut kinan sembari berjalan turun kebawah.
Kinan kembali sibuk dengan buku yang sedang ia baca begitu ryu turun. Bagi kinan quality time hanya seperti ini. Membaca buku, mendengarkan lagu dari earphone dan menikmati bercangkir-cangkir kopi menghabiskan hari libur. Sebelum besok dia akan sibuk lagi dengan kehidupan rumah sakit yang hampir menguras semua waktunya. Bahkan belakangan ini untuk pulang kerumah saja kinan jarang punya waktu. Ia lebih banyak menginap di rumah sakit atau di apartement yang berada di sebrang rumah sakit. Ahh.. ya dia lupa pukul berapa sekarang? Masih pukul 2 kinan masih punya waktu 1 jam untuk menikmati quality time karena ia sudah punya janji dengan mama untuk menemani kesalon pukul 4.
***
Ryu mengajak Baga berkeliling untuk memperlihatkan desain coffeeshopnya. Baga dan ryu tampak menikmati, Baga antusias dengan desain coffeeshop yang menurutnya sangat nyaman seperti dirumah. Kini mereka sudah di lantai 2. Coffeeshop ini baru akan di buka 2 minggu lagi jadi masih tidak ada pengunjung yang datang kecuali tukang dan karyawan. Mereka terus berkeliling sampai ke sudut lantai 2, tempat dimana kinan sedang terduduk memegang buku ditangan namun pandangan kosong kedepan.
"Itu adik sepupu gue, kinan." Ucap ryu kepada baga.
Baga yang masih memandangi pemandangan indah didepan nya memilih tidak menjawab. Gadis yang disebut ryu adik sepupu tadi itu terlihat sangat cantik duduk disana dan disinari matahari senja. Tapi, kenapa tatapan nya begitu sendu? Batin baga.
"Kin, sini.. kenalin temen gue" Panggil ryu. Gadis itu berpaling ke arah suara dan memandang sesaat.
Masih ada tatapan sendu yang tersisa. Ia berdiri dan jalan mendekat. Tapi ia sudah mengubah ekspresinya menjadi lebih ceria. Kini ia tersenyum, senyumnya manis sekali.
"Halo, kenalin gue kinan adiknya ryu" ucapnya.
Suara lembut dan enak di dengar batin baga. Ia menyambut uluran tangan itu
"Halo, gue baga teman kuliah ryu dulu" balas baga terseyum.
Dilihat dari dekat begini gadis ini tampak sangat cantik, dan yang paling membuat baga tertegun mata indah berwarna coklat itu tampak sangat sendu seperti menyimpan banyak kesedihan. Walaupun gadis ini tampak bersusah payah terlihat ceria.
"Coffeeshopnya bagus, gue masuk ke sini kayak lagi ga berasa di Indonesia" Ucap baga.
"Wah makasih, bangga loh gue di puji sama arsitek juga" balas kinan yang disambung oleh ryu
"Coffeeshop ini desain nya imajinasi kinan yang gue gambar secara profesional, dia tuh miss perfect banget sampai ngebangun 3 lantai bagunan ini aja ngabisin waktu 2 tahun"
"Gue rasa 2 tahun nya ga akan sia -sia" balas baga.
"Makasiih, lo harus liat rooftop di lantai 3. Itu bakalan seru banget buat nongkrong sore sampai malam"
"Kalau gitu coffeeshop ini harus cepetan buka biar gue punya tempat main selama menetap dimedan" balas baga
"Secepatnya kita bakalan buka, kalian silakan lanjut dulu gue pamit ya mau pergi dulu" ucap kinan
"Lo mau kemana kin?" Tanya ryu
"Gue ada janji sama mama jam 4" Jawab kinan.
"Padahal abis ini gue sama baga mau makan dimsum, tadinya mau ngajakin lu" Ucap ryu
"Kalian reunian dulu deh gue takut ganggu" canda kinan
"Trus nanti kami di katain homo lagi sama orang - orang karena cuma berdua"
"Makanya lo cari pacar lah! Ga, tolong bilangin ryu nih suruh dia cari pacar. Masa dia masih jomblo" goda kinan
Baga yang dari tadi sedang membaca judul - judul buku di rak buku kali ini tersenyum.
"Lo harus mulai main aplikasi nyari jodoh deh kalau tahun ini masih jomblo" Kali ini baga ikut menggoda ryu.
"Sial, aries emang tukang bully ya! Gih dah lo pergi sana mama pasti ngomel kalau telat"
"Oke ga, gue jalan dulu ya. Makasih sudah mampir. Sampai ketemu lagi" ucap kinan sambil salam dengan baga.
"Oke kinan.terimakasih kembali" yang hanya dibalas senyuman oleh kinan
"Gue jalan yu" ucap kinan sambil memeluk ryu sekilas.
"Hati-hati ya lo!" Balas ryu, kinan berjalan turun kebawah.
Baga dan ryu yang masih berdiri di tempatnya memandangi tubuh kinan yang semakin hilang kebawah tangga sibuk dengan pikiran mereka masing - masing.
"Sudah 2 tahun kin, dan lo masih belum melupakan dia. Gue selalu menemukan lo sedang bersedih sendirian. Apa berbagi kesedihan sama gue sesusah itu kin?" Gumam ryu dalam hati.
"Kita ke rooftop?" Ryu bersuara memecahkan lamunan mereka.
Disambut anggukan oleh baga. Mereka berjalan ke sudut lain ke arah tangga. Kali ini baga dibuat takjub sekali lagi dengan pemilihan desain tangga. Tangga itu berbentuk gelombang air laut tapi tersusun rapi kecil-kecil dan dikelilingi lampu berwarna kuning yang juga bergelombang, terlihat seperti tangga hidup yang berjalan. Ini desain yang cerdas.
"Gila, desain tangga lo keren banget yu" cetus baga
"Tangga ini dari ide kinan gue cuma mengaplikasi kan" Jawab ryu
"Wihh canggih ide adek lo."
"Gue sendiri yang arsitek bingung kenapa dia bisa sampe punya ide begini, gue aja ga kepikiran ga"
"Kinan arsitek juga?"
"Bukan, dia dokter. Lagi ambil spesialis jantung"
"Hah? Dia dokter? Tapi bisa punya ide begini? Keren juga yu"
"Maka nya, demi tangga ini aja gue menghabiskan 6 bulan tau ga lo berdebat sama kinan" keluh ryu
"Tapi ini worth it sih yu. Dari gue masuk kesini tadi, ini tuh ga berasa coffeeshop doang. Berasa masuk ke galeri seni"
"Ide - ide kinan selalu ga masuk di logika nya orang normal tapi memang se bagus ini. Kayak desain sofa yang gue kirim ke lo tempo hari. Itu permintaan dia khusus untuk ruang kerjanya"
"Awal gue liat gambar itu juga kaget, gue sempat mikir kok lo bisa kepikiran bikin sofa doang seribet itu tapi hasilnya jadi simple dan cantik banget" ucap baga disambut tawa oleh kedua sahabat lama itu.
Mereka kini sudah berada di rooftop sekali lagi baga di buat terperangah kaget dengan keindahan rooftop ini disaat senja.
"Bener sih yang kinan bilang, ini bakalan seru buat nongkrong sore-sore" ucap baga masih takjub dan disambut oleh tawa ryu.
" 2 tahun gue dan kinan berdebat tentang desain rooftop ini dan itu..." tunjuk ryu ke bangunan berbentuk segitiga seperti atap kaca di sudut bangunan menghadap ke arah gedung tinggi di depan . Bangunan itu semua dari kaca tapi tidak tembus pandang.
"Are you kidding me? Itu apa lagi?" Tanya baga lagi - lagi takjub
"Tempat kinan bersembunyi dari dunia, yang ia sebut kantornya." Jawab ryu
"Kantornya?" Tanya baga heran
"Lo mau liat? Yuk" ryu sudah berjalan ke bangunan segitiga kaca itu. Ryu memasukan password dan pintu langsung terbuka memutar otomatis.
Baga tertarik dengan konsep pintu kaca yang terbuka memutar itu. "Bakat memang tidak bisa dipungkiri sob, adek lo jago banget memanfaatkan ruang" Baga menepuk pundak ryu.
"Kita yang kuliah arsitektur bertahun-tahun aja ga kepikiran ya?" Ryu menjawab
"Perbedaan bakat sama pengetahuan sob" Baga menjawab.
"Maksud lo gue gak berbakat?" cecar ryu
Baga terkekeh mendengar jawaban ryu.
"Kinan itu suka moto dan bikin video, ini bakalan jadi studio nya. Tempat dia menghabiskan waktunya kalau libur. membaca buku, ngopi, dan mengedit. Begitu dia bilang ke gue" jelas ryu
"Adik lo langka yah yu, dokter bedah tapi suka desain dan moto. Itu gak nyambung"
"Dan dia mau sekolah kopi. Lo bayangin ga tuh? Lebih gak nyambung"
"Unik.." ucap baga
Baga memandangi pemandangan dari ruangan ini. Ia bisa melihat kota dari setiap sudut ruangan. seperti rumah kaca. Tapi isi ruangan ini tidak bisa dilihat dari luar. Ada meja kerja yang menghadap ke gedung -gedung tinggi diseberang. Disana terdapat layar komputer. Disisi kanan ada space kosong sepertinya itu untuk si sofa yang masih dikerjakan oleh tukang . Di sisi kiri ada lemari tempat ia menyimpan semua kameranya. Dan, sebuah piano. Menarik, mungkin kah kinan bisa bermain piano? Ini indah. Baga akui ia yang seorang arsitek saja mungkin tidak pernah memikirkan ide ini.
"2 tahun yang lalu harusnya ini semua udah selesai. Tapi kinan patah hati, dan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit" kenang ryu
"Kenapa?" tanya baga
"Kinan ditinggal nikah sama pacarnya yang nikah sama sahabat kinan sendiri."
Baga terdiam tidak tau harus jawab apa.
"Kinan bahkan masih sedih sampai hari ini" lanjut ryu, ingatan nya kembali ke kejadian tadi sore. Ryu dan baga adalah sahabat dekat. Selama ini walaupun mereka berjauhan mereka selalu berhubungan dan saling bercerita. Itu membuat ryu tidak canggung menceritakan apapun. begitu sebaliknya.
"Semua pasti akan membaik pada waktunya bro" hanya itu yang menjadi jawaban baga.
"Hahaha gue jadi ceritain kinan ya? Sorry sob. Gue hanya masih sakit liat dia tadi begitu"
"Santai yu. It's Okay. Eh tapi gue pengen desain resort gue nanti unik dan nyaman kayak gini yu." Pinta baga mengalihkan pembicaraan.
"Waduh gue harus memohon ide sama kinan berarti hahah" keduanya tertawa.
Malam itu mereka membatalkan pergi makan dimsum yang berakhir menghabiskan waktu di rooftop memesan makanan dari aplikasi online dan bercerita mengenang masa mereka kuliah dulu.