
"Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard
Oh take me back to the start"
Si gadis ceria itu lagi - lagi tertegun menjadi sendu hanya dengan sepenggal lirik lagu the scientist nya Coldplay yang terputar secara random dari playlist handphonenya. Ini sudah 5 tahun berlalu tapi ingatan - ingatan yang susah payah ia lupakan sesekali tetap muncul ketika sedang duduk sendiri seperti ini, tadinya ia hanya ingin sedikit quality time dari hiruk pikuk kegiatan nya yang tidak memberi jeda sedikit pun sebulan terakhir ini. Ia menghela nafas dalam dan menghembuskan nya panjang, lalu mematik sebatang rokok berharap itu dapat meringan kan sesak dihatinya. Ia menutup buku yang sedari tadi dibacanya, sambil memandang kosong kedepan. Ini masih tempat yang sama yang mana ia akan selalu kabur ke coffee shopnya dan duduk diujung lantai 2 ini setiap ingin berdamai dengan penat hidup. Ia kembali memencet tombol memanggil waiters yang selalu ada di setiap meja.
Si waiters datang "selamat sore mba kinan, ada yang bisa saya bantu?"
"Ndah, aku mau caramel machiato kayak biasa 1 lagi harus bikinan ryu ya" ucapnya pada sang waiters.
"Iya mba, trus mau pesen apa lagi?" Si waiters sembari meng input di tab nya.
"Itu aja, dibawah rame?"
"Iya mba lagi pada banyak orderan"
"Yaudah, aku itu aja deh" ucapnya sembari menghembuskan lagi hisapan rokok terakhirnya.
"Oke mba aku kebawah ya" si waiter undur diri yang hanya dijawab anggukan oleh nya.
Dia kembali menatap kosong kedepan, kota tempat tinggalnya ini sedang diguyur hujan sedari pagi tadi. Tapi tetap ramai padat dan cenderung macet. Dia membuka handphone nya, mengambil fitur kamera dan memotretnya. Jalanan yang macet dikala hujan. Lalu membuka media sosialnya, meng edit warna nya sedikit kemudian memposting foto tersebut.
Dia kembali tersenyum tipis ketika membaca notifikasi dari sahabatnya mengomentari postingan nya di sosial media
"**the scientist nya coldplay ini masih menyesak kan ketika di dengar saat hujan".
@hullayko : are you kidding me honn? Lo masih galau karna ini lagi? Adik lo butuh bantuan @ryuutan , biar otaknya normal lagi.
@ryuutan : @hullayko karna ini udah caramel machiato gelas ketiga nya dan dihitung - hitung dia udah 4 jam bertapa di lantai 2 sepertinya gue harus nyewa badut biar dia waras lagi**."
Lalu kemudian disusul notifikasi dari whatsapp
Hullayko Salim
15:45 : hehh jangan bilang lo mulai ga waras lagi, galau -galau ga jelas lagi!!
15:45 : gue masih ada meeting nih, baru bisa nyusulin lo jam 5. Jangan banyak - banyak ngopi weyy
Kinandari Widjaja
Dia meletak kan lagi handphone nya di meja, dan mematik rokok satu batang lagi, masih memandang kosong ke arah jalanan yang basah karna hujan dan macet.
"I hope you're happy now (aku berharap kamu bahagia saat ini)"
" i miss you, still missing you (aku merindukanmu, masih tetap merindukanmu)" ucapnya dalam hati.
"Wey, ini rokok gabisa di kurang - kurangi?" Pria itu mengambil rokok yang terselip ditangannya dan mematikan nya di asbak.
"Nih strawberry juice, no more coffee okay?"
"Iya nanti gue berenti ngerokok, okay thankyou. Dibawah rame?"
"Rame banget, gue baru bisa istirahat dari pagi"
Namun tidak ada jawaban dari gadis yang sedang terduduk sendu ini lagi - lagi hanya menatap kosong kedepan.
"Kin, are you okay?" Pria yang bernama ryu itu yang bersuara duluan.
"Yu, dia apa kabar? Lo belakangan pernah komunikasi?" Kali ini si gadis sendu kinan yang bersuara.
"Hmm.. lo mau gue jawab? Tumben lo mau tau kabar dia?"
"Ya iyaa kali ini gue pengen tau."
"Lu yakin kin? Are you okay with that?"
"Ya.. i miss him yu" suara nya bergetar ketika menyebutkan kalimat itu.
"Sebulan yang lalu gue masih ketemu dia di jakarta. Yah kayaknya sih sehat dan baik-baik aja. Tapi gue ga sempat ketemu anggi kayaknya lagi sibuk di rumah sakit. Dia nanyain lu juga sebenernya gue ga berani sampein ke elu. Tapi kenapa tiba tiba lu nanyain dia?" Kali ini ryu yang menatap kosong kedepan. Menjawab pertanyaan itu ingatan nya kembali ke 5tahun lalu dimana adik sepupunya ini patah hati dan benar-benar hancur karna pria itu.
Entah kenapa hari ini dia pertama kali bertanya setelah 5 tahun tidak pernah mau tau sekalipun kabar dari pria itu.
"Entah, 5 tahun udah yu tapi gue masih belum berdamai sama keadaan, ga sengaja dengerin lagu aja gue langsung keinget dia. Anggap gue penasaran, apa dia sudah hidup bener - bener bahagia? Dan ga pernah sekalipun ingat gue? Ga adil rasanya yu. Dia bahagia sementara gue masih begini aja. Masih sakit ketika ga sengaja ingat dia" kali ini air matanya menggenang dan segera di hapusnya dengan tisu.
Ryu megelus kepala adik sepupunya "mungkin kejadian itu terlalu sakit, tapi lo harus bisa berdamai sama keadaan kin. Semuanya udah selesai kan kin? Dia udah sama anggi, dan lo? Coba liat lo cantik, masih muda, dokter bedah terkenal, pengusaha kedai kopi terkenal di kota ini. Semua sakit yang dia bikin lu bales sama pencapaian - pencapaian yang luar biasa. Bukan kah ini udah waktunya untuk ikhlas kin?" Se lembut mungkin ryu menyampaikan itu. Dia bukan nya berpihak kepada pria itu, pria yang menyakiti adik sepupunya itu adalah sahabat nya bukan berarti dia tidak kecewa. Dia bahkan pernah melayangkan tinju sampai pria itu babak belur. Tapi ini sudah 5 tahun. Sudah waktunya kinan berdamai dengan keadaan.
"Apa sekarang dia masih suka caramel machiato yu?" Ucapnya lirih.
"Oh come on kin, ayolah.." ryu sudah memeluk adik sepupunya yang menangis terisak-isak. Hati nya pedih setiap harus menghadapi kinan yang sedang seperti ini..
"Kin, lo percaya kalau gue bilang dia juga udah nyesel sama semua perbuatan dia dimasa lalu? Jadi ikhlaskan lah kin. Udah waktunya lo move on dan membuka hati lagi buat yang lebih baik kin." Ryu melepas pelukan nya dan kini menatap dalam ke mata sendu adik sepupunya.
"gue berharap hal yang sama bang, gue pengen hidup tenang tanpa ada bayang - bayang dia lagi" . ucapnya serius, ryu tau itu adalah ungkapan hati kinan terdalam yang paling serius. karena kinan hanya akan memanggilnya "abang" ketika berbicara serius.