Falling in love at a Coffee Shop

Falling in love at a Coffee Shop
Untuk kamu, terimakasih!



Kinan masih berdiri di parkiran mall setelah meninggalkan faiqh di cafe favorit mereka. ia tidak tau harus kemana sekarang, ia hanya ingin menangis. Sebentar saja agar ia bisa melepaskan semua sesak di dada. Ia butuh sesuatu yang menenangkan. Kembali kedalam mall kinan berjalan menuju salah satu coffeeshop favorit nya. Waiters yang sudah hafal wajah kinan menyapa dengan riang.


"Selamat sore mba kinan cantik.."


Kinan berusaha tersenyum


"Sore ale." Jawabnya


"Hari ini sendiri aja mba?"


"Iya le, meja biasa ada?" Tanya kinan.


Kinan selalu mempunyai tempat duduk favorit di coffeeshop ini.


"Ada mba kinan, silakan duduk. Hari ini mau pesan apa mba?" Tanya si waiters


"Kopi Susu le yang dingin." Ucapnya cepat


"Itu aja mba?" Tanya si waiters yang bernama ale memastikan.


"Sama rokok 1 bungkus ya le" jawabnya lemah


"Pesanan nya itu aja mba?" si waiters memastikan


"Iya le. Makasih" ucapnya.


Ketika si waiters bernama ale itu pamit untuk mengambil pesanan nya. Kinan mengambil handphone dari tas dan mencari nama ayko sahabatnya dengan cepat.


"Halo kin." Jawab gadis di sebrang telepon di dering ke dua.


"Ko, gue di djournal lo bisa susul gue kesini? Tolong.." ucapnya dengan suara bergetar.


"Kin, lo kenapa?" Jawab gadis itu panik


"Gue tunggu ya".


"Tunggu ya 20 menit gue sampe" lagi - lagi gadis di sebrang telepon itu panik. ia tau ada sesuatu yang terjadi dengan kinan sahabatnya.


***


Kinan masih duduk diam mematung memandangi gelas kopi susu ke dua nya ketika ayko masuk ke coffeeshop itu. Ayko bisa melihat sahabatnya itu sedang tidak baik - baik saja. Dari punggung yang tegak tegang dan apa? Apa dia salah lihat? Ketika melihat ada sebatang rokok di tangan kanan kinan. Kinan sudah tidak merokok lagi 3 tahun belakangan ini. Ia berjalan cepat menuju meja Kinan.


"Kin.. " sapanya lembut, tapi tidak ada jawaban dari sahabatnya itu.


"Kinn, ada apa?" Ulang nya. Masih tidak ada jawaban ia sudah duduk dihadapan kinan. Kini ia memegang tangan kinan mengambil sebatang rokok yang terselip disana. sambil meninggikan nada suaranya.


"Kinan!! Kenapa?" Kinan berpaling menatap ayko dan menyadari sahabatnya itu sudah datang, kinan menghambur ke pelukan ayko dan menangis disana. Ayko tidak bertanya lagi, tepatnya ia tidak tau harus bertanya apa. Kinan terlihat begitu hancur dan tidak baik-baik saja. Ayko memilih untuk memeluk kinan dan membiarkan sahabatnya menangis didalam pelukan nya.


"Kita pulang?" Tanya ayko lembut. Hanya dijawab anggukan lemah oleh kinan. Ayko menuntun kinan menuju mobil nya. Sebelum menjalan kan mobilnya ayko mengambil handphone dan membuka aplikasi whatsapp mencari nama Ryu.


Hullayko Salim


17:28 : " Yu, gue sama kinan dia dari tadi nangis dan belum ngomong apapun. Sekarang gue otw pulang. Lo bisa susul kerumah?"


***


Kinan sudah tidur setelah menangis hampir sejam dari mereka sampai dirumah. Ayko duduk di balkon menunggu ryu datang. Pesan nya belum dibalas tapi sudah dibaca oleh ryu. Ia tidak tau ada apa dengan sahabatnya itu. Memilih tidak bertanya karena kinan tidak mengucapkan sepatah katapun dari pertemuan mereka tadi di coffeeshop. Yang ia tau kinan hari ini keluar dengan faiqh. Ia memutuskan untuk menghubungi faiqh. Namun sudah 2 kali ia hubungi tidak ada jawaban. Perasaan nya bertambah tidak enak.


Kinan terbangun dan mencari keberadaan ayko, ia menemukan ayko duduk di sofa balkon.


"Ko.." panggilnya lirih


"Ya? Lo udah bangun?"


"Hmm" ucapnya sambil duduk disofa bagian lain


"Kenapa kin?"


"Faiqh mau nikah"


"Faiqh ngajak lo nikah?" Tanya nya bingung. Yang ia tau kinan dan faiqh sudah 3 tahun menjalin hubungan serius. Mungkin saja memang faiqh mengajak kinan menikah mengingat usianya yang sudah mau memasuki usia 30 tahun. Namun kinan menggeleng lemah


"Dia nikah sama anggi dua minggu lagi" jawab kinan lirih.


Ayko hampir saja menjatuhkan handphone yang ia pegang ditangannya ketika mendengar itu.


"Lo serius?" Hanya itu yang bisa ia ucapkan saat ini masih kaget dengan ucapan kinan barusan


"Iya.."


"Anggi? Anggi sunoto yang ikut kita liburan ke bali dulu?"


"Anggi siapa lagi kalau bukan dia ko"


"Bulan depan, dua minggu lagi ko. Mereka udah selingkuh dibelakang gue 1 tahun ko"


"*******!!" Umpat ayko.


"Gue bahkan nemenin dia fitting jas buat lamaran nya. Dan dia nanya jas itu cocok atau ga buat dia!" Kini kinan terisak lagi. Ayko memilih mendekat dan memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Ryu udah tau?"


Kinan hanya menggeleng lemah.


"Lo tunggu disini, gue samperin itu cowok brengsek. Biar gue kasih pelajaran!" Ayko melepas pelukan dan berdiri namun tangannya di pegang lemah oleh kinan.


" Biar aja ko. Lo disini aja nemenin gue"


" Dia harus ngerasain bogem mentah dari gue kin, biar dia tau rasa!! "


" Lo ga usah buang-buang tenaga buat cowok banci kayak dia ko. "


Kinan menggeleng lemah lagi, enggan melepas pegangan tangan ayko.


" Gue ga nyangka, gue pikir dia cowok baik-baik. Tapi sama aja brengseknya! " geram ayko. Pintu kamar kinan terbuka tampak ryu berdiri disana mencari sosok kinan. Ryu tampak berantakan dengan lengan kemeja yang sudah tergulung sampai siku dan ada darah di tangan nya. Menemukan ayko dan kinan di balkon ia menyusul kesana dan langsung memeluk adiknya.


"Lo gak apa - apa dek?" Tanya nya lembut.


"Bang, faiqh mau nikah dua minggu lagi" ucap kinan lirih.


"Gue tau dek. Dia tadi datang ke coffeeshop. Nemuin gue buat kasih undangan" pelukan ryu semakin kuat. Ayko tanpa sadar ikut meneteskan air mata. Ia tau betapa kinan memuja kekasih nya itu. Ia tau seberapa kinan kejar-kejaran dengan waktu agar ia cepat menyelesaikan spesialisnya untuk menyusul ke surabaya.


"Tangan lo kenapa bang?" Tanya kinan


"Dia udah gue bikin babak belur sampai masuk ugd dek" geram ryu. Kini kinan terisak lagi. Tidak ada kata-kata apapun yang keluar dari ketiganya. Hanya isakan kinan yang terdengar. Mereka saling berpelukan bertiga. Sampai kinan tertidur lagi. Ryu menggendong kinan untuk dipindahkan ke tempat tidur dan menyelimutinya.


"Duduk sini yu gue bersihin tangan lo" ayko memecah keheningan. Ryu menuruti perintah ayko dan duduk disampingnya.


"Lo apain dia sampai tangan lo begini?"


"Beruntung dia masih hidup, gue cuma matahin hidungnya" jawab ryu dengan emosi.


" Dia brengsek yu, pantas dapet yang lebih dari itu" kini ayko yang bersuara.


"Kalau gue tau dia bakalan nyakitin kinan dari dulu gue udah menjauhkan kinan dari dia"


"Ini bukan salah lo yu"


"Tapi kinan kenal dia karena gue ko"..


Ayko hanya mengangguk dan menenangkan ryu.


"Lo udah makan yu?" Tanya ayko


"Lo pesen makan untuk kinan aja. Gue belum mau makan. Gue keluar dulu lo temenin kinan ya ko malem ini"


"Lo mau kemana?"


"Masih ada urusan yang belum selesai"


"Hati-hati yu" hanya itu yang ayko bisa ucapkan.


Ryu melangkah keluar kamar sebelumnya ia sudah mengelus rambut panjang adiknya. Dan berjalan keluar.


***


Ini sudah 2 hari berlalu dan kinan masih bersedih, tidak ada lagi tangisan. Hanya tatapan kosong dalam diam. Ayko juga sudah 2 hari menginap disini menemani kinan. Beruntungnya ini adalah weekend dan ayko tidak harus masuk kantor.


"Kin, makan yuk?" Ayko masuk membawa sepiring chicken soup favorit kinan. Kinan hanya mengganguk dan mengambil piring itu.


"Gue pikir udah cukup buat gue bersedih karena dia ko" kinan yang lebih dulu membuka obrolan.


"Cowok kayak gitu ga pantes buat lo sedihin kin"


"Besok gue bakalan masuk kerja lagi."


"Lo yakin lo bisa?"


"Gue akan buktiin sama dia, dia salah memilih dengan meninggalkan gue. Sampai akhirnya dia menyesal dan memohon meminta gue kembali ko" ucapnya.


Ayko hanya bisa memeluk sahabatnya itu.


"Gue berterimakasih karna bukan gue yang jadi istri dia. Gue pantas dapat yang jauh lebih baik" gumamnya lirih.