Falling in love at a Coffee Shop

Falling in love at a Coffee Shop
Hadiah Untuk Kinan.



[Bagaskara Hermawan]


Sejak kejadian di mall waktu itu, kinan dan baga sudah jarang bertemu karena baga sudah kembali sibuk dengan pembangunan resortnya. Walaupun begitu mereka kerap kali saling bertukar pesan. Malam ini baga berencana untung mengajak kinan makan malam begitu urusan proyeknya dan ryu selesai. Baga menyempatkan mengirim pesan untuk kinan di sela meeting nya.


Bagaskara Hermawan


: Lagi ngapain kin?


Baga tersenyum setelah pesan itu terkirim dan menyimpan kembali handphone nya di saku jas menunggu balasan kinan, baga melanjutkan meeting. 20 menit berlalu pesan baga berbalas.


Kinandari Widjaja


: Hai, lagi tiduran.


Kenapa ga?


Bagaskara Hermawan


: Tumben jam segini tiduran?


Kinandari Widjaja


: Gak apa - apa.


Lo dimana?


Bagaskara Hermawan


: Malem ini, dinner yuk?


Masih di proyek


Kinandari Widjaja


: Mau dinner di mana?


Bagaskara Hermawan


: Maunya di mana?


Kinandari Widjaja


: Di apart aja yuk?


Gue masak steak


Gue lagi gak enak badan kalau keluar.


Bagaskara Hermawan


: Lo bisa?


Sakit apa?


Kalau masih sakit gak usah di paksa..


Kinandari Widjaja


: Gak apa - apa


Mau di apart aja?


Bagaskara Hermawan


: Jam 7 boleh?


Kinandari Widjaja


: Boleh ..


Bagaskara Hermawan


: See you kinandari..


Kinandari Widjaja


: Haha see you ga..


Bagaskara Hermawan


: Mau dibawain apa?


Kinandari Widjaja


: Lagi gak pengen apa - apa ga.


Bagaskara Hermawan


: Okayy kinn..


Baga masih tersenyum menatap layar ponsel ketika ryu sudah menutup meetingnya. Ia sudah tidak berminat lagi melanjutkan meeting ini. Hanya ingin cepat kembali dan makan malam bersama kinan.


Sementara ryu yang memperhatikan baga dari tadi penasaran. Ada apa dengan sahabatnua yang baru saja ditinggal kekasih itu? Alih - alih bersedih malah terlihat bahagia. Seolah sudah melupakan kesedihan yang di tinggalkan iliana.


"Kita balik sekarang?" Tanya ryu


"Yaudah ayuk.. semua beres?" Jawab baga


"Udaaah ga! Lo yang senyam senyum mulu sama handphone selama meeting" Cecar ryu


"Kan udah ada lo pimpro (pimpinan proyek) nya. Gue mah percaya sama kemampuan lo yu" Jawab baga terkekeh.


"Lo ngapain sih senyam senyum mulu?"


"Chat sama kinan" Jawab baga santai.


Raut wajah ryu berubah menjadi tegang mendengar sahabatnya sedang saling bertukar pesan dengan kinan. Ryu masih trauma dengan masa lalu kinan dan faiqh yang notabe nya juga sahabat ryu. Ia tidak ingin kinan merasakan sakit hati lagi.


"Lo chat apa sama kinan?" Tanya ryu mengintrogasi.


"Mau makan malem" Ucap baga santai.


"Ga, gue bukan nya gak seneng lo sama kinan deket. Tapi sorry ga gue mau nanya lo bermaksud deketin kinan atau hanya sebagai sahabat?" Tanya ryu serius.


Bukan nya tersinggung. Baga malah tersenyum kepada ryu dan membalas tatapan mata sahabatnya.


"Entah kenapa dorongan buat ngejaga kinan dari pertama kali ketemu dia terlalu besar dalam diri gue yu. Saat ini gue hanya ingin mengikuti naluri itu. Terlepas dari nanti dia hanya akan menganggap gue sahabat atau memandang gue sebagai seorang pria gue akan menerima."


"Maksud lo?"


"Gue dan kinan sama - sama punya luka masa lalu. Mungkin gue ingin menjaga kinan. Gue nyaman dan entah kenapa setiap kinan ketawa gue bahagia. Itu udah cukup buat gue. Sisanya terserah kinan akan menganggap gue apa." Jawab baga


"Lo tau kan ga, gue gak akan maafkan diri gue sendiri lagi kalau dia terluka lagi"


"Yu boleh gak sekarang kita berbagi tugas untuk saling menjaga kinan dan bikin dia bahagia?"


"Lo suka kinan?"


"Kinan gak akan segampang itu di taklukan yu"


"Lo bener juga sih ga."


"Dia bukan perempuan yang gampang jatuh cinta"


Ryu tercekat mendengar jawaban sahabatnya. Pasalnya kinan memang bukan perempuan yang gampang jatuh cinta. Semenjak kinan dekat dengan baga pun ryu merasa kinan menjadi ceria kembali.


"Takecare her for me ga" Jawab ryu kemudian sambil menepuk pundak temen nya


Baga hanya tersenyum " Kita jalan sekarang? "


Mereka berjalan beriringan menuju mobil yang disupiri oleh pak ujang hari ini.


"Kinan suka apa?" Tiba - tiba baga bertanya


"Makanan?" Tanya ryu


"Tadi kinan lagi gak enak badan. Biasanya dia suka apa yu?"


"Kinan sakit?"


"Dia cuma bilang gak enak badan"


"Lo bawain dia salad buah aja"


"Okay"


"Gue percaya ga sama lo, tolong jaga kinan"


Ryu tertawa mendengar jawaban teman nya itu. Selama ini baga memang pria baik-baik yang hanya mencintai 1 wanita. Hidupnya ia habiskan hanya untuk bekerja. Semoga kali ini bukan keputusan yang salah, batin ryu.


***


Kinan dan baga sudah duduk di meja balkon untuk menyantap steak mereka. Kinan tampak santai dengan dress oversized hitam dan rambut yang dijepit setengah tanpa menggunakan make up apapun, anehnya kinan semakin cantik tanpa make up. Sementara baga masih menggunakan setelan kantornya kemeja biru yang sudah dilinting sampai ke siku dan celana bahan slimfit, jas dan dasinya sudah ia buka sedari dimobil tadi.


"Lo sakit apa?" Tanya baga memeriksa dahi kinan


"Capek aja kok ga"


"Capek kenapa?"


"Lumayan capek ngurusin STR gue buat di rumah sakit"


"Lo udah mulai praktek?"


"Masih awal bulan depan. Gue kemarin ngurus STR nya aja melengkapi administrasi"


"Udah selesai semua?"


"Udah kok"


"Nanti prakteknya di Rumah Sakit yang lama tempat lo residen?


"Iyaa penempatan gue disana"


"Liburan yuk? Biar refresh lagi, kita ajak ayko sama ryu" Ajak baga


"Kemana?"


"Kemana yang lo mau"


"Yaudah, nanti gue tanya ayko sama ryu"


"Weekend kita berangkat.."


"Okay..Lo tadi sama ryu dari proyeknya?"


"Iya. Ryu gue anter ke coffeeshop"


"Kok dia gak ikut kesini?"


"Ada janji sama klien lagi"


"Wuidiih bukan main yaa dia"


"Sibuk diaa kin, kejar target biar cepet nikah"


"Nah lo kapan nikah?" Tanya kinan


"Lo kapan siapnya di nikahin?" Jawab baga


"Apaan sih lo" Ucap kinan salah tingkah


"Lo mau nikah umur berapa?"


"Belum ada yang ngajak gue nikah. Jadi gue gak tau jawaban nya"


"Kalau gue ajak nikah sekarang, lo mau kapan?"


"Gaaa.. apaan siiih" jawab kinan sambil berlalu mengambil piring kotor dimeja dan membawanya kedalam.


Baga tersenyum melihat tingkah kinan. Ia mematik sebatang rokok dan menyesapnya dalam. Kinan kembali dengan membawa satu botol wine dan dua gelas, menuangkan nya dan kemudian ikut mematik sebatang rokok. Kedua nya duduk terdiam sambil menikmati kerlap kerlip lampu kota sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Kin.." panggil baga tanpa mengalihkan pandangannya dari lampu - lampu gedung pencakar langit.


"Hmm" jawab kinan singkat.


"Kinnn.." nada baga lebih rendah kini menghadap ke arah kinan.


Kinan meniup kan asap rokok terakhirnya lalu mengikuti arah pandangan baga.


"Kalau gue panggil kinn.. jawabannya harusnya kenapa ga? Bukan hmm kin" protes baga lembut.


Kinan tersenyum, lalu mengikuti ucapan baga " Ya, kenapa ga?"


"Kita sembuhin hati bareng-bareng yuk kin. Mau gak?" Tanya baga sambil memegang tangan kinan yang bebas. Kemudian tangan satunya menyelipkan rambut kinan yang terjuntai ke belakang telinga.


"Maksudnya?" Tanya kinan bingung. Tapi ia tidak menepis genggaman tangan baga. Kinan nyaman dengan perlakuan baga. Jika bukan baga yang saat ini menggenggam tangan nya mungkin sudah kinan lepas sedari tadi.


"Kita dua orang yang punya luka di masa lalu, mau gak belajar sembuh dari masa lalu sama - sama? Kita belajar membuka hati lagi sama- sama. Gue nyaman kin sama lo, dan rasa ingin membuat lo bahagia itu terlalu besar di hati gue" Ucap baga lembut.


Kinan menatap mata pria di hadapan nya itu, tampak begitu jujur, begitu dalam, dan begitu teduh. Sejenak kinan hanya diam memandangi mata pria di hadapannya. Pria yang saat ini sudah mengenggam tangannya dan mengelus lembut pipinya.


"Kita belajar sama - sama ya ga. Tapi gue gak bisa janjiin lo apa-apa." Jawab kinan lembut


Baga tersenyum, mencium punggung tangan kinan lama.


"Makasih ya kin, ajarin gue apapun tentang lo. Kita mulai segala sesuatu nya nanti, ketika kita sudah sama-sama siap"


"Iya ga" Jawab kinan


"Bentar, gue punya sesuatu" Baga berdiri dan kemudian berjalan ke dalam apartement kinan. Mengambil kotak besar yang sedari tadi tidak kinan perhatikan.


"Ini hadiah dari gue untuk semua pencapaian lo saat ini. Terimakasih sudah menjadi perempuan kuat." Ucap baga.


Kinan menerima kotak besar berwarna cokelat itu.


"Boleh gue buka sekarang?"


"Boleh"


Kinan membuka kotak itu dengan hati-hati, lalu kembali menatap baga tidak percaya. Didalam kotak itu isinya adalah kamera Leica yang kinan pilih sewaktu menemani baga membeli kamera untuk hadiah.


"Lo suka?" Tanya baga masih mengelus lembut pipi kinan.


"Gimana gue gak suka ga. Kamera ini gue yang milih sendri. Lo serius ini buat gue?"


"Kamera ini emang buat lo. Gue suka liat hasil foto-foto lo, gue suka ekspresi bahagia lo setiap memegang kamera" Ucap baga


Kinan berdiri untuk memeluk baga. Baga mengelus rambut kinan, kemudian mencium kening kinan.


"Makasih yaaa ga"


"Apapun buat lo kin"


"Ga, terimakasih selalu menjadikan pertemuan - pertemuan kita berkesan dari pertama kali kita kenal"


"Makasih juga kin, udah mau belajar buka hati lagi buat gue"


Kinan tersenyum, perasaan nya menghangat. Sudah lama sekali dari terakhir kali dia merasakan itu. Kinan baru mengenal baga beberapa bulan terakhir, tapi baga selalu membuat kinan nyaman dan terkesan. Perlakuan baga terhadap kinan yang manis. Lelucon baga yang selalu membuat kinan tersenyum. Sikap dewasa baga yang mendominasi. Setiap bersama baga hati kinan terasa bahagia. Seolah semua senyuman dan tawa dari pria itu menular.


"Kin.." Panggil baga


"Hmm?"


Baga menyipitkan matanya, seolah mengatakan jangan menjawabnya seperti itu.


"Ya kenapa ga?" Ulang kinan dan tertawa.


" May I kiss you kin? " baga bertanya ragu, jarinya mengelus bibir mungil kinan.


Kinan tersenyum kemudian mengangguk yang dibalas oleh senyuman oleh baga.


Baga mengecup puncak kepala kinan, lalu kedua mata, kedua pipi, hidung dan terakhir bibir. Setelah mengecup baga sekali lagi menatap mata kinan. Kali ini baga menempelkan lagi bibirnya di bibir tipis kinan. Ciuman manis yang penuh perasaan, kinan membalasnya lembut mengikuti alur ciuman baga yang terasa begitu memabukkan. Seolah tidak ingin lepas mereka saling membalas dan menyesap manis bibir masing-masing. Tidak ada gairah di dalam ciuman itu. Lebih kepada ciuman manis mendamba yang menyampaikan perasaan masing-masing. Baga harus rela melepaskan ciuman nya setelah merasakan mereka mulai kehabisan oksigen.


"Ga.." ucap kinan


"Kenapa sayang?"


"Makasih ya" Ucap kinan lirih.


"Makasih juga ya" Jawab baga sambil mengecup kening kinan


Malam itu mereka habiskan dengan berpelukan di ayunan, bertukar cerita saling mengenal kebiasaan masing-masing.


"Kinn.."


"Ya ga"


"Jangan pernah sedih lagi ya?" Ucap baga.


Kinan enggan menjawabnya. Memilih mengeratkan pelukan nya dan membenamkan diri di dada baga. Menghirup parfum maskulin baga. Kinan merasa nyaman berlama-lama disana. Hatinya membuncah dengan perasaan bahagia yang tidak bisa dijelaskan.