FAITHFULLY YOURS (BSBB)

FAITHFULLY YOURS (BSBB)
Bab 9



...Bab 9 | Faithfully Yours...


"Aduh!!" Aku menerima pukulan yang kali ini mendarat di pipiku. Pria tua ini memang kerap melakukan kekerasan ketika aku menolak untuk memberinya lebih dari sekadar cumbu. Tak bisa kubayangkan apa yang terjadi pada istrinya. Namun, justru karena hal inilah istrinya menggunakan jasaku.


Sudah berulang kali kukatakan pada pria yang kusebut 'Om Ferry' ini bahwa aku tidak melayani layanan bermalam. Tapi, dia tidak bisa menerimanya dan selalu memukulku karena hal itu. Aku tak punya pilihan, karena istrinya memberiku sejumlah fee yang tidak sedikit untuk mengetahui di mana Om Ferry tinggal. Istrinya melaporkan Om Ferry atas tindakan kekerasan dalam rumah tangga dan berharap dengan menemukan tempat tinggal pria tersebut dan itu pula yang membuatku mengambil kasus ini. Tapi, kali ini aku sudah berada di ambang batas kesabaran.


Tulang pipiku rasanya sakit sekali. Kulihat pantulan diri di cermin kamar mandi kos eksklusifnya, pipi kiriku tampak lebam. Selain memukul, Om Ferry juga melempar asbak kaca ke arahku. Dia merasa kesal ketika aku tidak bisa memenuhi harapannya. Hari ini, kuharap terakhir kali diriku bertemu dengannya.


"KELUAR KAU DARI SINI, BANGSAT! JANGAN SOK SUCI KAU, PEREMPUAN LAKNAT!" bentaknya keras saat aku keluar dari kamar mandi dan meludahiku serta menjambak rambutku. Aku mengaduh kesakitan dan berusaha melepaskan diri.


Gebrakan pintu menyelamatkanku. Istri Om Ferry datang bersama beberapa orang pria dan yang langsung melepaskan cengkraman tangannya dari rambutku.


"Kamu nggak apa-apa, Mia?" tanya Bu Nida, istri Om Ferry kepadaku. Aku menggeleng dan segera mengambil tas untuk meninggalkan tempat itu. Kutinggalkan keributan yang terjadi di sana bersama air mata yang tak bisa kubendung. Kumpulan awan hitam di tengah siang terlihat sedang bersiap menangis bersamaku. Mendapati kenyataan melakukan pekerjaan ini, aku merasa hina dan tidak berguna.


Sejujurnya, untuk menahan Om Ferry lebih lama di sana, aku hampir saja mengorbankan diriku untuk disentuh olehnya, tapi batinku terus menolak hingga aku mengurung diri di dalam toilet selama beberapa saat. Kubangan kotor ini membuatku semakin jijik pada diri sendiri. Sungguh, aku tak tahan lagi.


Mobil yang kukendarai memasuki jalan tol. Cukup lama mengendarai, kusadari ada sebuah tikungan yang langsung berbatas dengan jurang di depan sana. Apa aku lepaskan saja kemudi ini ke sana? Pikiranku menerawang sejak tadi. Sudah tidak waras. Kesetanan. Pedal gas semakin kutekan, membuat mobil melaju lebih kencang. Kupikir inilah saatnya mengakhiri semua, segala hal yang membebani pikiranku. Jika hari ini adalah hari terakhirku, kurasa orang-orang akan merasa senang dan bergembira.


"Adel, maafkan Tante, ya. Tante gagal menjadi Tante yang baik untukmu. Berjuanglah sendiri tanpa Tante."


Kulihat tikungan tajam semakin dekat. Laju mobil semakin kupacu. Aku siap melepaskan kemudi untuk membiarkan mobil ini menabrak pembatas jalan. Kudengar suara klakson panjang di belakangku yang berusaha menyuruhku sadar untuk berbelok. Tiga. Dua. Satu.


"Argh! Aku tidak bisa seperti ini! Tidak bisa!!"


Seketika, aku membelokkan kemudi mengikuti jalur yang benar. Ban mobil berdecit dan mobilku sedikit berputar hingga bunyi klakson panjang terdengar lagi. Aku tidak bisa melakukan ini!


Aku menepi sesaat dan menyalakan lampu hazard. Menunduk dan memegangi stir. Aku kacau. Pikiranku kalut. Napasku memburu cepat dan jantung ini berdebar kencang. Apa yang baru saja aku lakukan? Percobaan bunuh diri? Lihat, betapa egoisnya diriku.


Aku ingin berhenti dari pekerjaan ini, sebab aku takut jatuh terlampau dalam. Hari ini aku hampir saja goyah dan menyerahkan apa yang selama ini kujaga. Banyaknya air mata yang berjatuhan ini adalah saksi bahwa hati kecilku ingin aku kembali ke jalan yang benar, sebelum aku tersesat ... terlalu jauh.


Aku kembali mengendarai mobil, lalu menuju rest area untuk menenangkan diri. Saat di toilet, kupandangi diri di depan cermin washtafel, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja hampir menguasai akal sehatku.


"Apa dengan bunuh diri akan menyelesaikan semuanya? Aku sudah gila." Kubasuh wajah, berharap segarnya air dapat menyemangati diri.


Sebuah panggilan masuk kemudian mengalihkanku, menyadarkan pikiran yang terombang-ambing. Aku memeriksa ponsel dan panggilan dari Tante Grace tampil di layar.


"Halo, Tante ...."


"Halo, Mia. Kebetulan kemarin kamu datang ke butik. Ada yang ingin Tante bicarakan, tapi Tama keburu datang. Hari ini kita bisa ketemu, nggak?"


Ingin sekali kumenolak. Tapi, di saat seperti ini kurasa tak baik jika aku sendirian, di mana pikiran aneh mudah menghantui. Aku berdiam sesaat, lalu memutuskan untuk menerima ajakan Tante Grace. "Iya, Tante. Bisa. Di mana?"


Tante Grace menyebutkan nama sebuah mall. Sebelum pergi, kututupi dulu bekas lebam di wajahku dengan lapisan perias wajah. Aku berharap lebamnya tidak kelihatan. Kuurai rambut untuk menutupi sedikit pipi kiriku. Setelah selesai, aku langsung menuju ke sana.


Tante Grace sudah ada di restoran ketika aku tiba. Kulihat memang benar tidak ada Mas Tama di sekitar karena Tante sengaja tidak mengajaknya.


"Mia, pilih dulu mau apa saja untuk isian steamboat-nya," kata Tante.


"Oh iya, Tante." Berpura-pura ceria seperti biasanya, aku bertingkah layaknya tidak sedang mengalami apapun yang mengguncang diriku seharian ini. Aku memilih bakso ikan, fishcake, sayur, dan tahu. Tante Grace memilih sisanya, seperti ikan fillet, jamur, mie, daging kepiting dan udang. Kami memasukkan bahan-bahan itu ke dalam panci sambil menunggu isinya matang.


"Mia kurang tidur semalam?" tanya Tante Grace perhatian. "Matanya sembab. Ada apa?"


"Ah, nggak ada, Tante," dalihku, tertawa canggung. Bukan tadi malam, tapi beberapa jam lalu aku habis dihajar oleh pria tua sakit jiwa.


"Oh ya, Mia kuliah jurusan apa? Semester berapa? Usianya berapa?" Tante Grace memberondong tanya.


"Saat ini sih, sudah semester akhir, jurusan Perhotelan. Usia Mia 22 tahun, Tante."


"Oh, sudah mau lulus, ya? Tama beda setahun sama Mia. Usianya 21 tahun. Sekarang sedang kuliah desain grafis."


"Hah? Mas Tama-- Eh, Tama, usianya 21 tahun?? Lebih muda dari Mia, dong, Tante?" tanyaku kaget dan dibalas anggukan oleh Tante Grace. Terus untuk apa aku panggil 'Mas'??


"Mia ... sepertinya Tante butuh pertolongan kamu. Apa penawaran kamu waktu itu masih berlaku? Mia bilang mau menolong Tante, 'kan?" Ucapan serius Tante Grace membuat aku seketika menyimak penuh. "Suami Tante membeli mobil baru. Tante rasa untuk perempuan itu. Tante butuh bantuan Mia untuk mengembalikan hak anak-anak Tante."


Ternyata itu. Tante Grace ingin aku membantunya untuk urusan tempo hari. "Saya ... ," ucapku tertahan. Aku akan mengatakan tidak, apalagi baru saja aku mengalami kejadian tidak mengenakkan


"Tolong Tante, Mia. Tante akan memberi fee yang pantas dan juga persenan untuk Mia—"


"Apa yang Rizal dan perempuan itu nikmati adalah warisan peninggalan orang tua Tante. Setelah Papa kandung Tama dan Sisil meninggal, Tante menikah lagi dengan Rizal. Ternyata, dia manusia berengsek yang hanya mengincar materi yang kami punya. Surat nikah dan dokumen penting ada semua sama dia. Tante minta tolong, bawa itu kembali pada kami. Itu adalah hak Tama dan Sisil. Rizal dan perempuan itu tidak berhak menikmati hak kami," jelas Tante Grace. "Ini. Tante berikan di awal. Uang jajan untuk Mia dan mengenai 'menjelajah' bersama Rizal, Tante tidak masalah dengan hal itu. Tapi, tolong. Jangan sampai Tama tahu hal ini," pinta Tante Grace kepadaku.


Bagaimana ini? Hal tentang kewajiban 'suami-istri' yang kujadikan alasan untuk menolak, kini malah menjadi boomerang bagiku. Tante Grace terang-terangan tidak mempermasalahkannya. Bodohnya aku. Sekarang aku tak bisa mengelak lagi. Ia menyodorkan sebuah amplop yang kutahu pasti berisi uang. Di sisi lain, setelah kehilangan banyak dana, jujur, aku tak bisa pura-pura tidak membutuhkan tawaran yang menghasilkan imbalan besar ini. Aku mengembuskan napas perlahan.


"Hanya Tama dan Sisil yang Tante pikirkan. Tante sudah tua dan tidak membutuhkan apa-apa lagi. Kalau memang harus berpisah dengan Rizal, biarlah terjadi. Yang penting Tama dan Sisil punya masa depan yang terjamin dan dapat hidup dengan layak," jelasnya. "Tolong Tante, Mia. Tante mohon."


Seketika, aku merasa iba. Selalu saja begini, seolah-olah benar ada dua orang di dalam diriku yang ingin mengambil alih keadaan. Aku hanya tak habis pikir, mengapa wanita nyaris sempurna seperti ini disia-siakan hanya karena tergoda oleh gadis yang lebih muda? Sungguh berengsek sekali.


Tapi, apa aku boleh menolak? Mengapa di saat aku sudah memutuskan untuk berhenti, keadaan justru membawaku menemui jalan itu lagi? Baru kusadari bahwa uang memang dapat menyelesaikan banyak hal dan perkara. Tapi ternyata, dia jugalah yang menjadi sumber dari berbagai masalah.


"Baiklah. Mia akan membantu Tante, tapi Mia punya beberapa syarat."


***


"Ini ya, untuk bab-bab awal, saya rasa kamu sudah paham apa saja isinya." Pak Hansel menunjukkan poin-poin dalam buku pedoman sistematika penulisan Tugas Akhir.


Saat ini aku berada di ruangan dosen. Ada beberapa orang dosen di dalam sini.


"Nah, kamu fokus dulu di Bab Pendahuluan, sambil yang lain dilengkapi. Yang dari Halaman Motto sampai Halaman Abstrak. Itu bisa menyusul," lanjutnya.


"Oh, baik, Pak."


"Bab Pendahuluan isinya empat ini. Di bab ini, kamu paparkan apa saja yang membuat kamu ingin meneliti. Ada permasalahan yang terjadi dan akan dijawab di akhir penelitian. Dalam Tujuan Penelitian, kamu beritahu gagasan inti yang telah ditemukan oleh peneliti. Lalu, tentunya kamu berusaha menyelesaikan masalah yang ada, tapi bukan berarti membuat-buat masalah untuk diteliti. Paham, ya? Penjelasan tadi ada tertera di buku pedoman ini. Tinggal kamu baca-baca lagi untuk mengarahkanmu," jelas Pak Hansel panjang.


Beliau menjelaskan dengan rinci apa saja yang harus aku lakukan di bab pertama ini. Dan, aku menyimak setiap perkataannya dengan fokus. Teramat fokus.


"Siap, Pak," kataku sambil menandai hal-hal penting yang Pak Hansel katakan.


"Apa ada pertanyaan mengenai ini?"


"Eng, sepertinya belum ada. Oh ya, untuk konsultasi selanjutnya kapan ya, Pak?" Apa aku terdengar terlalu bersemangat? Mel, ingat-ingat, jaga imej sedikit.


"Seminggu lagi, ya. Bawa Bab 1 dengan lengkap. Nanti kita bedah."


"Oh, iya, Pak." Pertemuan kali ini benar-benar meyakinkanku bahwa aku bisa lulus dengan cepat. Aku berpamitan pulang.


Ketika sudah berjalan cukup jauh, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal buku yang kupegang. Saat kuperiksa, terselip pena silver milik Pak Hansel. Tanpa ragu, aku langsung kembali ke ruangan dosen untuk mengembalikannya. Namun, ternyata mejanya sudah kosong, ke mana Beliau? Aku bertanya pada seorang dosen yang sedang duduk tak jauh.


Dosen perempuan itu mengatakan bahwa Pak Hansel sedang mengisi kelas di ruang kaca lantai atas. Ruang kaca adalah ruangan praktik, tempat favorit hampir semua mahasiswa karena bisa mendapatkan ilmu melalui praktik langsung. Iseng-iseng aku menaiki anak tangga dan ingin melihat bagaimana dosen muda tersebut mengajar serta mata kuliah apa yang diisi. Aku 'kan belum pernah diajar olehnya.


Sampai di ruangan kaca, aku melihat Pak Hansel benar ada di sana. Rupanya, mereka sedang mendapat mata kuliah Bar Operation. Kuperhatikan, para adik tingkat terlihat antusias dengan penjelasan sang dosen, terutama yang perempuan.


Beberapa gelas berkaki maupun tidak, berada di atas meja yang dianggap sebagai meja bar. Gelas-gelas berbeda itu digunakan untuk jenis minuman masing-masing. Ada gelas sloki kecil, gelas anggur, gelas cocktail, gelas brandy, gelas whiskey, dan lain-lain. Sekilas aku mendengar Pak Hansel menjelaskan kegunaan masing-masing gelas dan tipe minuman bar.


"Oke, sekarang kita siapkan gelas cocktail karena saya akan membuat minuman Cocktail Pina Colada yang menjadi minuman resmi Puerto Rico. Bahan dasarnya adalah rhum, krim kelapa, dan buah nanas," jelas Pak Hansel.


Ah, iya. Aku ingat, waktu magang di Lumiera, aku pernah membuat Pina Colada dan suka sekali dengan rasanya yang segar. Melihat mata kuliah ini benar-benar membuatku bernostalgia. Aku pun mendekatkan diri ke jendela kaca bening dan mendengar lebih jelas melalui celahnya yang terbuka.


"Bahannya apa saja, Pak?" tanya seorang mahasiswi.


"Sudah ada di slide powerpoint, boleh kalian catat atau foto saja. Siapkan tiga oz rhum, tiga sendok makan santan, tiga sendok makan nanas kupas yang sudah diiris tipis-tipis, lalu es batu secukupnya. Masukkan dalam blender dengan dua cangkir es. Blender dengan kecepatan tinggi sebentar saja." Pak Hansel menekan tombol blender dan mesin itu berbunyi cukup keras. Setelah minuman tercampur, Beliau menyaring isinya. "Saring ke dalam gelas saji. Selesai." Pak Hansel menjelaskan sambil menuangkan bahan-bahan yang telah ia campur ke dalam gelas khusus cocktail. Tangannya sangat terampil. "Tapi, kalau jus nanas sudah tersedia, kalian tinggal campurkan sisa bahan lain dan kocok memakai shaker," timpalnya, menyematkan hiasan di bibir gelas.


"Pak, rhum ada alkoholnya?" tanya seorang mahasiswa berkacamata.


"Iya, benar. Rhum itu beralkohol, tapi sekarang ada rhum yang non-alkohol. Boleh jadi alternatif," jelas Pak Hansel.


Hmm, begini rupanya cara Pak Hansel mengajar. Ini aneh, karena aku menikmati caranya menjelaskan sesuatu. Andai saja dulu dapat Pak Hansel di mata kuliah ini, mungkin aku bisa minta tips dan trik untuk membuat minuman bar lainnya. Kupandangi pena silver milik Pak Hansel di tanganku.


"Pena silver, Tuanmu berkharisma banget. Aku jadi iri sama kamu, bisa ada di dekatnya setiap waktu. Hari ini, aku nggak antar kamu pulang dulu, ya. Besok-besok aja."


***


Bersambung ...