
...Bab 8 | Faithfully Yours...
Beberapa kali singgah ke apartemen, aku membawa sejumlah barang penting dan juga pakaian. Saat di sana tadi, kupandangi penampilan di depan cermin besar kami. Aku memakai jumpsuit berbahan denim warna biru muda dan memoles wajah dengan riasan sederhana. Kuikat rambut bergelombangku yang terlihat tidak terawat belakangan ini. Penampilanku yang biasa terawatt, kini sudah mirip gembel.
Meski butik Bu Grace tidak terlalu jauh, tetap saja butuh waktu tempuh satu jam menuju ke sana karena jalanan Jakarta yang padat merayap. Sebelum sampai, kusempatkan membeli beberapa roti manis sebagai buah tangan.
Perjalanan yang tidak begitu jauh akhirnya membawaku tiba di sebuah butik berplang Bella Donna Mode. Bangunan persegi dua tingkat bergaya Eropa dengan warna hitam dan lampu kuning menyorot terang, membuat gedung ini terkesan mewah. Terdapat jendela kaca besar di masing-masing lantai dan ada patung manekin wanita yang memakai pakaian terusan brukat putih yang elegan. Pintunya membunyikan lonceng ketika dibuka dan ada pramuniaga yang menjaga.
"Permisi, saya Mia. Ibu Grace ada?" tanyaku sopan pada pramuniaga.
"Oh, mau ketemu Bu Grace, Kak?" tanyanya.
"Iya."
"Baik, sebelah sini."
Aku meminta diantarkan dan sampailah kami di depan pintu Ibu Grace. Pramuniaga mengetuk pintu beberapa kali dan terdengar jawaban mempersilakan kami masuk. Ketika memasuki ruangan, aku menyapa wanita dengan baju terusan hitam berlengan panjang dan riasan malam yang cantik elegan. Beliau sedang duduk di mejanya, menulis sesuatu. Untuk usia matang, kutebak sekitar 45 tahun, Bu Grace termasuk wanita yang cantik dan anggun.
Meski terdapat kerutan lelah di sekitar sudut-sudut mata, tapi wajah dewasa itu masih menunjukkan sisa-sisa kecantikannya di masa muda. Rambut berwarna cokelat muda sepunggung yang di-blow masuk, terlihat cocok dengan kulitnya yang terang. Kalung emas putih dengan batu berwarna biru tua melingkar indah di lehernya yang sudah menunjukkan guratan penuaan.
"Malam, Bu. Saya datang berkunjung. Maaf kemalaman soalnya jalanan lumayan padat," sapaku. Bu Grace tersenyum ramah dan menyambut kedatanganku. Beliau memintaku untuk duduk dan aku menyodorkan oleh-oleh yang kubeli tadi. Bu Grace memintaku memanggilnya dengan sebutan 'Tante'.
"Eh, iya. Nama kamu siapa? Tante aja belum tahu," tanyanya.
"Mia, Tante," kataku berjabat tangan dengan Beliau. Sepertinya suasana hatinya sedang baik hari ini, tidak seperti terakhir kali aku bertemu dengannya.
"Namamu unik. Oh iya, sebentar lagi anak saya jemput. Kami mau makan. Kamu ikut juga, ya."
"Hmm ... Mungkin next time aja, Tante. Kalau begitu saya langsung aja, ya, Tante...," kataku yang tidak enak hati hendak beranjak dari kursi. Tante Grace sepertinya serius mengajakku. Belum sempat Beliau melanjutkan, masuk seseorang ke dalam ruangan.
"Ma, mobilnya keluar asap terus dari tadi. Untung bisa sampai sini jemput Mama. Kita naik Go--" Ucapan pria itu terhenti ketika melihatku dan terkejut, "Loh??" ucapnya seakan mengenali.
Oh, aku ingat. Dia si Mas Kasir itu. Aku menunjuknya balik hendak memberitahu Tante Grace, tapi si Mas Kasir perlahan menutup bibirnya dengan jari telunjuk, memberiku isyarat untuk tidak memberitahu hal itu pada ibunya.
"Kebetulan kamu sudah datang, Tam," Tante Grace kemudian mengenalkanku pada anaknya, begitu pula sebaliknya. Ternyata, dia anak orang yang bisa dibilang cukup berada. Tapi, kenapa bekerja di minimarket? Lalu, kenapa dia tidak mau ibunya tahu?
"Ya sudah, kita naik taksi online aja, ya," kata Tante Grace pada anaknya.
Aku lantas menawarkan untuk mengantarkan mereka dengan mobilku. Maka, jadilah kami pergi dengan Mas Tama yang menyetir.
Akhirnya, kami tiba di lokasi tujuan. Di sini kita bisa menyantap hidangan seafood segar. Tante Grace memilih ikan dan Mas Tama memilih udang besar. Tidak disangka, mereka penggila makan juga. Tahu saja mereka tempat yang mirip surganya makanan ini.
Aku tidak memilih apapun, ikut makan apa yang mereka pilih saja. Tante Grace meminta saran dan aku mengatakan bahwa ikan yang dibakar itu nikmat dan lezat. Ternyata, Tante juga setuju denganku. Kami kemudian mengobrol sebentar sembari menunggu makanan datang.
Tante Grace mengatakan dulu sering datang ke mari bersama anak-anaknya. Ternyata, Beliau memiliki dua orang anak, satu putra dan satu putri. Yaitu, Ezra Giantama alias Mas Tama dan Clarissa Cicilia, dipanggil Sisil. Mas Tama mengatakan bahwa Sisil sedang berkuliah di Bali. Mas Tama juga menambahkan bahwa nama adiknya memang terbilang girly, tapi pada kenyataannya Sisil adalah perempuan yang lumayan tomboy dan sangat anti dengan yang namanya dress apalagi high heels, tambahnya. Bercerita seleluasa ini, ada perasaan yang aneh sekaligus menghangatkan yang menelusup di dalam hati. Tak ada rasa canggung, seolah aku sedang berbincang dengan keluarga.
Tak lama, makanan kami datang. Kami pun segera menyantap hidangan yang disajikan tepat di depan kami ini. Ikan gurame yang Tante Grace pilih dibakar, sedangkan udang Mas Tama dimasak dengan bumbu saus Padang.
"Selera Mia mirip-mirip orang tua, ya. Suka mobil sedan, suka ikan bakar. Untung gayanya nggak kayak orang tua," celoteh Tante Grace terkekeh.
"Hahaha, iya, Tante. Saya memang agak-agak jadul kalau soal selera makan. Menurut saya, ikan bakar itu paling enak karena bumbunya 'kan meresap dalam daging ikan. Berhubung ikan di sini segar, pasti rasanya bakal enak banget. Belum lagi, sambelnya. Aduh," ujarku semangat.
"Pinterr," ucap Mas Tama memberikan udang yang telah dikupasnya untuk ibunya.
Makanan senikmat ini tiba-tiba membuatku teringat pada Rara. Apa yang dia lakukan sekarang? Apa dia sudah makan? Biasanya, kalau lapar, kami akan keluar cari makan sama-sama.
Halah, buat apa aku memikirkannya? Jam tangan di pergelanganku menunjukkan pukul 21.45, kami sudah selesai makan dan aku mengantarkan mereka pulang.
"Kami pulang dulu, ya, Mia. Terima kasih sudah nganterin kami. Sampai jumpa lagi," ucap Tante Grace saat kami tiba di depan rumahnya.
Sebelum turun dari mobil, Mas Tama berbicara padaku. Ia memastikan bahwa Tante Grace sudah masuk ke dalam rumah. "Itu. Jangan bilang sama Mama, kalau gue kerja di minimarket, ya. Ini rahasia kita berdua, oke?" kata Mas Tama. "By the way, terima kasih tumpangan mewahnya," imbuhnya lagi mengedipkan mata, lalu membuka pintu dan keluar dari mobil.
"Oke." Dasar Mas Kasir.
***
Bersambung ...