
...Bab 18 | Bukan Sugar Baby Biasa (BSBB)...
"Selamat pagi," sapaku pelan sembari menyembulkan kepala dari balik pintu kamar 428, mengecek apakah sang pasien sudah bangun atau belum.
"Pagi," balas Tama lembut menyambutku dengan senyum.
"Eh, sudah bangun?” Aku melihat jam tangan yang menunjukkan pukul 07.30. "Aku datang kepagian ya? Kamu masih mau tidur, Tam?"
Tama menggeleng pelan. "Nggak kok. Udah bangun dari tadi. Nggak bisa tidur lagi. Sini, masuk."
Aku masuk dan menyerahkan sebuah kantong plastik berisi botol jus kepadanya. "Kasihan... Nih aku bawain jus buah jambu, bagus buat memulihkan kondisi kita waktu lagi sakit. Aku bikin sendiri loh, diminum yah."
"Iya, sini aku minum. Makasih ya." Tama senyum-senyum senang sembari membuka botol dan meminum jus buatanku.
"Sama-sama."
"Sorry, udah ngerepotin. Mama juga bilang makasih udah anterin aku ke rumah sakit."
"Nggak ngerepotin, kok." Aku duduk di kursi samping Tama.
Kejadian ini membuat aku teringat waktu dulu mengantar Rara ke UGD, lalu kali ini mengantar Tama. Aku berandai, jika suatu saat aku sakit, siapa yang akan peduli dan menbawaku berobat?
Bukannya aku meminta penyakit, sih. Cuma pengen aja, ada yang memperhatikan juga. Selama ini, aku hanya menjalin hubungan tanpa perasaan. Ah konyol, aku sedang berpikir apa sih? Hahaha.
"Lain kali, jangan makan sembarangan. Di hasil tes Widal, kamu terinfeksi bakteri Salmonella. Kamu itu udah tahu demam, nggak mau cek ke dokter, malah masuk kerja. Ya, gimana nggak tumbang?"
Tama menarik lenganku pelan.
"Sebenarnya ... " ucapnya dengan wajah yang serius, membuatku sedikit terkejut tapi kemudian bersiap mendengarkannya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Nggak, ah. Nggak jadi."
"Apa? Mau bilang apa? Kok nggak jadi? Bikin penasaran aja deh."
"Nggak jadi, lupa tadi mau bilang apa."
"Ah, bohong. Ayo dong, mau bilang apaan tadi?" Aku mengguncang lengan tama. Dia malah ketawa terkekeh kegelian.
"Tam, pesananmu sudah Daddy belikan."
Suara itu sontak membuat aku dan Tama berhenti seketika. Om Rizal berada di depan pintu dengan membawa bungkusan makanan, menatap kami berdua.
"Eh iya, Dad. Taruh di atas sini aja, nanti Tama makan."
Om Rizal menaruh makanan di atas lemari di sebelah ranjang pasien. "Cepat dimakan ya. Nanti keburu dingin. Daddy pulang dulu, mau mandi," kata Om Rizal.
"Iya Dad, makasih."
Om Rizal berpamitan padaku juga sebelum pergi. Aku melihat tatapannya sedikit dingin. Lalu, aku bertanya pada Tama, kenapa Om Rizal pagi-pagi sudah di sini. Ternyata, Om Rizal menginap di rumah sakit dan menjaga Tama semalaman.
"Mia..." panggil Tama.
"Iya?"
"Aku lapar...," ucapnya manja.
"Manja banget, sih. Bentar yah aku ambilkan. " Aku membuka bungkusan yang tadi dibelikan Om Rizal dan melihat isinya. "Soto Betawi?? Kamu serius mau makan ini pas lagi sakit?"
"Hehehe, iyah. Habisnya makanan rumah sakit nggak bisa ketelen. Lagi pengen soto Betawi, nih. Suapin, dong. Ya ya ya?"
"Hm. Dasar."
Aku tak bisa berkata-kata lagi. Yang penting dia mau makan. Aku menuang Soto Betawi yang sejatinya berkuah santan itu ke mangkuk yang disediakan rumah sakit, lalu menyuapi Tama. Syukurlah, dia makan dengan penuh selera.
"Ngomong-ngomong, akhirnya Tante Gracia tahu kamu kerja di minimarket. Tapi, bukan aku loh yang ngasih tau,” ucapku sembari menyuapinya.
"Ah, emm, ya aku tahu bukan kamu yang kasih tahu. Nggak apa apa, setidaknya aku bisa sedikit lega, akhirnya nggak banyak menyimpan rahasia dari mama," jawabnya sembari mengunyah makanan.
"Banyak? Emang ada rahasia apa lagi yang kamu simpan?"
Tama tidak melanjutkan bicaranya dan hanya mengunyah makanan hingga habis, meninggalkan kuahnya. Aku juga tak bertanya lebih lanjut dan mengambil tisu untuk membersihkan sisa makanan di sekitar bibir Tama. Meski masih terduduk lemah, ia tampak lebih segar dibanding kemarin.
"Nah, sudah selesai. Aku balik ya Tam."
"Tunggu." Tama menarik tasku hingga aku tertahan. "Sejujurnya ... aku curiga Daddy selingkuh. Ini yang mau kuomongin tadi."
DEGG!
Jantungku seakan berhenti sesaat. Aku terkejut dengan ucapan Tama. Apa dia memergokiku saat bersama dengan Om Rizal? Apa dia tahu bahwa aku dan daddy-nya bertemu secara pribadi? Bagaimana ini? Tenang, tenang. Aku berusaha tenang dan mengendalikan sikap.
"K-kamu tahu dari mana?" tanyaku gugup.
"Beberapa minggu lalu, aku lihat mobil daddy parkir di hotel dan keluar cewek dari mobilnya. Tapi, aku nggak lihat wajahnya."
Tama menghela napas.
"Lalu ... hasilnya?" tanyaku.
"Nihil. Aku nggak dapat bukti apa-apa lagi setelah itu. Kalau aku bisa buka hp daddy, mungkin akan ada satu dua bukti yang bisa kudapat. Tapi, itu mustahil. Daddy mengunci hp-nya pakai sandi dan pastinya nggak pernah lepas dari benda itu."
Aku merasa lega, tapi juga masih tersisa sedikit rasa cemas. Cemas jika suatu saat akan ketahuan oleh Tama.
"Kamu terlalu banyak pikiran, Tam," ucapku berdalih.
"Iya sih. Mudah-mudahan aku cuma salah lihat."
"Udah, kamu istirahat lagi ya. Tifus penyembuhannya berkala. Bisa sampai seminggu dia minggu, loh."
"Kalau ada kamu, aku jadi cepat sembuh, sih. Hehe."
BUGH!
Aku meninju lengan Tama.
"Aduh, orang lagi sakit malah ditinju. Teganya...." Tama mengaduh kesakitan padahal aku tidak meninjunya kuat-kuat kok. Ya, cuma sedikit aja. Hehe.
"Aku pulang dulu ya. Besok aku ke sini lagi," pamitku pada Tama dan dia melambaikan tangan hingga aku keluar dari sana.
Kulihat lift sedang penuh dan aku enggan mengantre lama. Menuruni anak tangga adalah jalan ninjaku.
Setelah menuruni anak tangga beberapa langkah, seseorang menarik lenganku dan itu membuatku terkejut. Dengan sedikit cemas dan takut aku memberanikan diri melihat siapa orang itu.
"Om??"
"Kamu sama Tama akrab banget," pungkas Om Rizal. Mimik mukanya serius. Jadi, wajah dinginnya padaku tadi itu karena cemburu, toh?
"Nggaklah, Om. Kami cuma teman. Masa cemburu sama anak sendiri sih?"
"Bener ya?" tanyanya meyakinkan. "Ah, akhirnya bisa ketemu kamu lagi. Om kangen banget." Om Rizal memelukku dan mimik wajahnya seketika berubah.
"Om, jangan begitu. Nggak enak kalau ada yang lihat."
Om Rizal menjauh sedikit dan mundur selangkah. "Oke, besok siang kita nge-date ya. Om nggak sabar nunggu besok."
"Iya. Nanti aku chat Om jam ketemunya. Aku lagi ada urusan Om, aku duluan."
...***...
"Yang ini bagus, Om," kataku pada pilihan dasi dan jas yang Om Rizal pilih.
"Oke, Om ambil ini." Om Rizal kemudian memintaku memilih pakaian untuk kubeli juga. Aku memilih beberapa baju dress dan atasan lalu akan mencobanya di ruang ganti.
Tiba-tiba saja, Om Rizal ikut masuk ke dalam ruang ganti.
Aku berbicara dengan berbisik. "Om? Kok ikut-masuk? Mia-mau-coba-bajunya."
Om Rizal mendekatiku dan mengurung tubuhku dengan lengannya. Tinggi pria ini sekitar dua puluh sentimeter di atasku, membuatku mendongak ketika melihatnya.
Om Rizal memberi sebuah kecupan di bibirku. Aku terkejut dan berusaha mendorongnya, tapi dia menahanku.
Sebuah telepon masuk membuat pria itu teralih. Ia mengambil hp dan aku melihat nama Celine tertera di layar.
Om Rizal beranjak pergi dan menitipkan kartu kreditnya untuk kupakai. "Pakailah, ambil saja beberapa baju cantik yang kamu mau."
Aku menatap Om Rizal, menahannya untuk berhenti menemui perempuan itu.
Om Rizal tersenyum. "Maaf ya, dia juga masih prioritas Om." Om Rizal mengecup leherku dan melepas tanganku dari lengannya. "Nanti kita lanjutkan."
Aku cukup kesal karena harus kalah dari perempuan itu. Hp-ku berbunyi, tanda sebuah pesan masuk. Setelah memeriksanya, aku mengutuk diri sendiri karena lupa akan janji yang amat penting.
Pak Hansel: Mellyssa, kamu lupa ya hari ini konsultasi?
Oh my God! Kok aku bisa lupa?? Buru-buru aku mengambil beberapa baju lagi. Termasuk baju yang lebih sopan untuk pergi ke kampus dan kubayar dengan kartu kredit Om Rizal yang diberikan padaku. Tidak sadar, total belanja pakaianku adalah 3,9 juta. Makasih ya, Om.
Aku buru-buru membalas pesan Pak Hansel dan pergi ke kampus. Kulihat jam tangan menunjukkan pukul 15.30. Apakah masih sempat? Ah, yang penting yakin aja dulu.
Me: Maaf Pak, ini masih on the way soalnya jalanan lagi macet.
Berapa pun jam berangkatnya, bilang saja sudah OTW! Arrghh!
.
.
.
Bersambung....
...Copyright © Ine Young, 2021....