
...Bab 2 | Faithfully Yours...
Hari kami belum berakhir. Setelah berbelanja kosmetik dan produk perawatan kulit, kami mengunjungi sebuah salon spa di sebuah pusat perbelanjaan. Terlihat suasana salon cukup padat karena ini adalah akhir minggu. Saat duduk menunggu di kursi tunggu, Rara mengeluh.
"Harusnya tadi nge-spa dulu, baru belanja. Banyak tentengan barang belanjaan gini, jadinya." Rara mengedarkan pandangan ke sekeliling salon yang mulai terlihat ramai. "Mana lagi rame gini," timpalnya.
Menunggu sekitar dua puluh menit, akhirnya kami masuk untuk mendapatkan perawatan. Tubuh kami dimanjakan dengan pijatan yang merelaksasi, lalu dilanjutkan dengan lulur dan mandi susu. Menikmati rangkaian perawatan rutin yang menyegarkan, dua jam pun berlalu. Kami yang telah selesai pun melanjutkan pembayaran. Saat sedang mengantre di kasir, kulihat seorang ibu tidak sengaja menjatuhkan kartu kreditnya.
Marlita Gunardhi. Tanpa sengaja aku membaca nama yang tertera di kartu kredit tersebut dan seketika bergeming. Pikiranku sempat terusik sesaat, menebak-nebak apakah ibu ini mengenaliku atau tidak. Tetap tenang adalah sebuah sikap yang berusaha kutunjukkan. Kuserahkan kartu itu kembali kepada wanita yang memakai baju terusan cokelat muda bercorak batik, berbahan yang terlihat mahal. Beliau mengucapkan terima kasih.
Usai kami membayar, aku dan Rara keluar dari salon. Namun tak disangka, ibu pemilik kartu kredit itu menunggu kami.
"Maaf, ini jam berapa, ya? Saya lupa membawa jam tangan dan handphone saya kehabisan baterai. Jadi, nggak bisa menghubungi supir," kata ibu itu.
"Oh, sekarang jam setengah lima sore, Bu," jawab Rara.
"Oh, begitu. Kebetulan setelah ini saya mau pergi makan. Apa kalian mau makan sama-sama sebagai ucapan terima kasih untuk hal yang tadi?"
"Bolehhh," jawab Rara polos.
"Tidak, terima kasih, Bu," ucapku bersamaan.
'Jangan sembarangan menerima ajakan dari orang asing,' kupandangi Rara dan memberi tatapan isyarat menolak padanya.
Rara mengabaikanku. "Rejeki jangan ditolak," bisiknya.
Akhirnya, kami duduk di sebuah restoran dan memesan menu. Tak lama setelah makanan datang, ibu itu memulai pembicaraannya.
"Nama kamu ... Mia, 'kan?" tanya Bu Marlita meyakinkan. To-the-point.
"Iya, Bu."
Maksud dan tujuannya mentraktir kami seolah terbaca olehku. Kurasa, dirinya ingin meminta bantuanku lagi. Kuperhatikan Rara makan dengan lahap. Sedangkan aku, tenggorokan ini seakan tertusuk tulang hingga menolak untuk menelan apapun.
"Saya adalah istri Andre."
Aku terdiam sesaat karena telah mendapatkan validasi atas suasana tak nyaman yang kurasakan di sini. "Sebenarnya saya sudah tahu ..., " jawabku tenang.
"Wah. Tadinya saya ingin mengagetkan kamu, tapi malah kamu yang mengagetkan saya. Kamu mengenali saya?" Bu Marlita menyungging senyum.
Tidak, sepertinya yang paling kaget adalah Rara, dia tak menyadari bahwa yang di hadapan kami adalah mantan klien kami. Itu membuat Rara yang dari tadi sibuk mengunyah, kini terdiam dan tak berkutik. Aku hanya memandangi ibu itu dan tersenyum tipis.
Beliau adalah istri seorang Om yang kukencani beberapa bulan lalu. Aku menyadarinya sejak melihat kartu kredit miliknya yang terjatuh tadi. Bu Marlita adalah klienku dan berdasarkan perjanjian, aku dan para klien akan kembali menjadi orang asing setelah kasus yang kami jalani selesai. Di mana pria yang telah menjadi targetku telah kukembalikan padanya, lalu kami menjalani hidup masing-masing. Uniknya, aku dan Bu Marlita belum pernah bertemu sebelumnya. Ia hanya memintaku membantunya via telepon dan ini kali pertama kami bertatap muka. Meskipun begitu, tentu saja aku mengenalinya. Sebelum menerima pekerjaan, aku mempelajari terlebih dulu siapa klien yang akan menggunakan jasaku.
"Adakah yang ingin Ibu sampaikan?" tanyaku.
"Tunggu dulu. Apa kamu tidak penasaran mengapa saya tahu kamu adalah Mia?" Bu Marlita balik bertanya.
"Saya tidak penasaran. Ibu mau memberitahu atau tidak pun itu tidak menjadi masalah," jawabku.
"Untuk hitungan seseorang yang bekerja di dunia seperti ini, kamu termasuk sopan. Saya mengenali kamu karena—maaf—saya pernah membuntuti kalian. Dan sebenarnya, saya ingin berterima kasih lagi ke kamu karena telah membantu saya mengambil hak anak-anak. Masalahnya adalah dia kembali berulah seakan tidak pernah kapok. Jadi, saya ingin—"
"Saya tidak melanjutkan hubungan dengan Om Andre, Bu," sanggahku. "Saat kasus selesai, saya tidak pernah berhubungan lagi dengan target manapun," ujarku tegas.
"Saya tahu. Saya tahu itu bukan kamu, karena suami saya memiliki wanita lain lagi. Saya pun tahu tiap bulan Andre kembali ke Jakarta, tapi tidak pernah pulang ke rumah. Dia bahkan tidak menemui anak-anaknya. Sebenarnya, saya tidak masalah dengan apapun yang dia perbuat, bahkan sudah tidak peduli lagi. Tapi, ketika dia mulai mengacuhkan anak-anaknya, di situlah saya tidak bisa tinggal diam. Setahun terakhir Andre baru 3 kali bertemu anak-anaknya. Bulan depan adalah pernikahan anak pertama kami," terang Bu Marlita.
"Lalu, Ibu mau saya bagaimana?"
"Saya mau meminta kamu untuk kembali menghubungi Andre dan meyakinkan dia untuk hadir ke pernikahan anak perempuannya. Bilang saja kamu tahu pernikahan mereka karena kamu kenal dengan pihak laki-laki."
Aku mengembuskan napas perlahan. Dugaanku benar, ia mau meminta bantuan lagi. Inilah yang membuatku tak mau terlibat lebih dalam dengan kehidupan pribadi para klien setelah menyelesaikan tugas. Mereka memiliki kehidupan yang kompleks.
"Maaf, Bu. Tapi, saya sedang tidak menerima kasus baru."
"Tolonglah, Mia ... satu kali ini saja. Saya meminta tolong pada kamu untuk menghubungi Andre dan minta dia menghadiri pernikahan anak perempuannya. Minimal, dia tidak lupa mengunjungi mereka," pintanya. "Anak bungsu kami yang masih kelas 3 SD selalu bertanya kapan ayahnya pulang. Apa kamu tahu bagaimana tercabiknya perasaan saya ketika mendengar hal itu? Mengenai anak, saya akan selalu lemah!" Bu Marlita terlihat emosional saat membicarakan tentang anak-anaknya.
"Saya sangat berharap dia bisa mendampingi anaknya di altar. Meski hanya sebentar, itu sangat berarti bagi kami," imbuhnya terdengar pasrah.
Akhirnya, aku menganggukkan kepala tanda setuju. "Iya, Bu, akan saya sampaikan."
Raut wajahnya kini berubah cerah. "Terima kasih, saya sangat menghargai niat baik kamu." Beliau mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat. "Tolong diterima fee yang tidak seberapa ini, Mia."
Selain wangi parfum mahal, tentu saja aku menyukai aroma uang. Lantas, aku menerima pemberian Bu Marlita. Beliau menjabat tanganku berterima kasih dan kami berpisah.
***
Di sini, aku duduk menunggu seseorang. Di teras depan sebuah asrama yang memiliki dua kursi serta meja rotan bulat kecil diantaranya. Lepas di depan sana adalah hamparan hijau tumbuh-tumbuhan di taman yang masih basah karena embun pagi. Suasana asri nan indah ini mengingatkanku pada masa sekolah dulu.
Aku menanggalkan segala atribut Mia dan kembali menjadi diriku sendiri, seorang tante dari Adeline Cikita Setiawan, gadis 13 tahun yang tidak akan pernah bertemu dengan kedua orang tuanya lagi. Selamanya. Tidak di dunia ini.
"Tante!"
Aku menoleh pada suara yang kurindukan itu, gadis belia yang manis dan lugu sedang tersenyum melihatku. Ibarat kuncup bunga yang sudah menunggu waktunya mekar, kujaga dia dengan baik. Dialah alasan utamaku mengumpulkan pundi uang. Maka dari itu, aku juga memilihkan sekolah yang terbaik dan menitipkannya di asrama putri. Menurutku, dengan begitu dia akan lebih aman dan terjaga dibanding kos dengan jam bebas. Dia juga bisa belajar lebih bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
"Rambut Tante sekarang warnanya cokelat. Di sekolah, rambut kami nggak boleh dicat warna ini itu. Adel iri, deh," keluhnya ketika memperhatikan rambutku.
Aku tertawa mendengar pertama kali ucapan yang keluar dari mulutnya adalah keluhan. "Nanti, kalau sudah lulus SMA baru bisa cat warna-warni. Sabar, yah." Sebuah tas bekal kusodorkan. "Tante beneran nepatin janji mau datang, 'kan?" tanyaku disambut anggukan cepat Adel. "Adel sudah makan?"
"Sudah tadi pagi. Tapi, nggak terlalu selera. Masakan asrama nggak enak." Adel memajukan bibirnya sembari mengikat rambut sebahu berwarna hitam pekat itu.
"Kasihan. Tante bawain ini, nih, buncis tumis udang, bistik ayam, sama sayur sop buat Adel. Dimakan, yuk."
Raut wajah Adel berubah ketika membuka bekal yang telah kusiapkan. Perlahan, ia menunduk. Sebuah tetesan bening terjatuh ke pahanya yang terbalut celana panjang biru tua, kusadari bahwa dia tengah menangis.
"Adel ... kenapa?" tanyaku.
"Adel rindu Papa sama Mama. Rindu Tante. Rindu kita kumpul-kumpul lagi," ungkapnya jujur menyuarakan isi hati.
Wajar jika dia kepikiran, badannya bahkan terlihat lebih kurus. Kasihan kamu, Del. Tapi, hidup harus terus berjalan, Sayang. Kamu harus kuat. Aku memandangnya, mengelus lembut kepala keponakanku yang mulai beranjak besar. "Belajar yang rajin. Bukan untuk nilai yang bagus. Buat Tante nilai bukan segalanya, yang penting kamu paham apa yang diajarkan. Selesaikan dengan baik apa yang kamu kerjakan. Biar masa depanmu cemerlang. Papa sama Mama di atas sana juga pasti senang," pesanku.
"Iya, Tante." Dia menyeka air matanya.
"Tuh, Tante bawain barang-barang yang pastinya kamu suka. Ada baju baru, sepatu sekolah, kamus Bahasa Inggris, buku bacaan, dan alat-alat tulis." Aku menunjuk tas lain yang penuh akan barang. Isinya macam-macam sudah seperti kantong ajaib milik Doraemon.
"Waah ... makasih, Tante." Mata itu berbinar kembali seketika saat melihat semua isi dalam tas.
Aku mengelus kepala Adel, rambut hitamnya terasa lembut. "Sekarang makan dulu, dong," pintaku padanya yang langsung menyantap makanan yang kusiapkan. Aku senang sekali melihat dia makan dengan lahap seperti itu. Tidak terasa, giliranku yang meneteskan air mata. Kamu layak hidup dengan baik, Del. Tante jamin kebutuhanmu terpenuhi. Tante janji.
"Ngomong-ngomong, Tante kenal Heny, ya?"
"Heny?"
"Heny, temen Adel. Kata temen, Tante pernah ketemu sama papanya Heny. Apa itu bener? Emangnya, ada urusan apa, Tante? Kok, nggak ngajak Adel?"
"Hahh??!" Aku terlonjak kaget dengan pertanyaan Adel. Bahkan aku tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana. Apa benar aku pernah keluar dengan targetku yang tanpa disadari itu adalah papanya teman Adel?
"Ma-masa iya?? Emang siapa yang ngomong begitu??"
"Citra."
"Cuekin aja, ya. Adel fokus sama pelajaran aja."
"Iya, Tante."
***
Bersambung ...