
...Bab 4 | Faithfully Yours...
"Wanita yang ditinggalkan karena adanya wanita lain adalah pihak yang beruntung. Sebab, mereka terbebas dari pasangan yang tidak tepat. Begitu pula sebaliknya."
- Mia Sunny.
"Mel."
"Hm?"
"Anu... Ada job lagi."
"Ck. Ya sudah, spek gimana?"
"Bapack-Bapack usia 39 tahun. Istri dua. Kerjaan Manager Hotel. Mobil sedan abu-abu. Cuma mau ngobrol temu kangen," kata Rara hati-hati tanpa menyebut nama. Namun, aku sudah tahu siapa yang dia maksud.
"Tolak. Males gue sama makhluk satu itu. Bau badannya gue nggak tahan, Ra. Sumpah," tolakku tegas. "Mana suka meluk cium."
"Wah, sayang kalau ditolak."
"Kalau lu mau, kenapa nggak sama lu aja?" tembakku sembari mengunyah pilus kacang.
"Orang dia maunya sama elu. Kok sama gue?"
"Gue punya misi. Bukan menjajakan diri—eh. Sorry, Ra, bukan maksud gue ..."
"Nggak pa-pa. Santai... Dia cuma mau ketemu sekali aja katanya. Katanya, kangen sudah lama nggak liat lu," bujuk Rara.
"Sumpah ya, Ra, gue aja nyesel pernah kenal sama dia. Masa, barang-barang yang dia kasih diminta balikin lagi? Ilfeel banget. So, please, no! Tolak. Eh bukan, bukan. BLACKLIST!"
"Scorpio kalau ngomong emang to the point banget ya..."
"Oh, ya jelas. Dan, gue bangga. Hehe," ucapku yang kini menyedot diet cola dingin dengan kaki berselonjor santai di sofa. "Pokoknya gue nggak mau, ya, Ra. Jangan jebak gue buat ketemu sama dia. NEVER. Lagian sudah punya bini dua juga, apa masih nggak cukup?"
"Ya, 'kan, namanya juga naluri lelaki." Rara mengembuskan napas panjang.
"Terserah. Itu urusan dia. Pokoknya NO!"
***
"Mas, saya setuju kita bertemu itu karena kata Rara, Mas mau menyampaikan sesuatu. Ya sudah, cepet kelarin," kataku sambil mengibas-ngibas udara. Bau badan Mas Agung mulai menggelegar tak sedap.
Dialah orang yang dimaksud Rara kemarin malam. Akhirnya dengan terpaksa, aku menyetujui menemui Mas Agung – Bapack-Bapack berusia 39 tahun yang beristrikan dua orang - di sebuah restoran. Meski ini adalah tempat makan, aku benar-benar sedang tak berselera untuk memesan apapun. Selain bau badan tak sedap, Mas Agung memiliki budidaya jamur di kakinya. Aku pernah tak sengaja melihat pemandangan yang menyebabkan efek traumatis itu ketika Mas Agung melepas sepatunya yang kebasahan karena banjir di jalanan utama dekat hotel Lumiera.
Sewaktu magang, dia selalu mendekatiku dan memberikan hadiah-hadiah mahal. Namun, setelah aku menegaskan bahwa aku tidak bisa memberi lebih padanya, dia meminta kembali laptop dan kamera digital yang pernah dia berikan. Padahal, laptop itu kupakai untuk mengerjakan tugas kuliah.
Iya, dia adalah Manager hotel tempatku magang kuliah waktu itu. Beruntung, setelah magang selesai, aku tidak perlu bertemu dengannya setiap hari lagi. Hingga kini aku bertanya-tanya, kenapa ya, bisa sampai ada wanita yang mau menikah bahkan dimadu oleh Mas Agung? Sungguh sebuah misteri yang belum terpecahkan.
"Mellyssa, tolong Mas, ya. Please, satu kali ini saja," pintanya penuh kesungguhan. Mas Agung yang duduk di hadapanku, memegang erat kedua tanganku dengan wajah yang kusut. Disodorkannya sebuah foto USG kehamilan pertama dari istri keduanya. Rupanya, dia meminta tolong padaku agar meminjamkan uang untuk biaya melahirkan istri keduanya. Katanya, bayi di dalam kandungan istrinya tersebut berada di posisi terbalik atau sungsang dengan lilitan tali pusar.
Ia juga menambahkan bahwa kehamilan istrinya telah berusia 40 minggu, di mana itu adalah usia kandungan yang sudah sangat matang dan siap untuk dilahirkan. Namun, posisi kepala si jabang bayi belum juga berada di bawah. Hal itu membuat dokter memutuskan untuk mengambil tindakan cepat untuk menyelamatkan sang bayi, yaitu dengan operasi sesar. Saat ini, istri Mas Agung tengah berada di rumah sakit, menunggu tindakan dokter.
Drama apa lagi ini? Kata Rara, Mas Agung mau ngasih aku duit. Mana? Ini malah sebaliknya.
Biaya operasi sesar minimal tiga puluh juta rupiah. Sebesar itulah yang Mas Agung ingin pinjam dariku. Dalam hati aku bertanya, apa orang ini sama sekali tidak memiliki simpanan uang? Bagaimana mungkin selama ini dia tidak mempersiapkan biaya kelahiran anaknya? Betapa tidak bertanggungjawabnya dia sebagai seorang ayah.
Melihat foto USG yang memperlihatkan si jabang bayi, juga wajah kusut Mas Agung yang kacau memikirkan anak dan istrinya, hatiku terasa aneh. Terbayang anak itu sedang menunggu di dalam sana, di mana hidup dan matinya bergantung oleh keputusan yang akan kubuat. Saat ini aku sangat bimbang dibuatnya. Di saat aku sendiri juga membutuhkan dana, di sisi lain ada nyawa makhluk kecil sedang dipertaruhkan. Aaargh, aku tak suka ini! Aku bukan badan amal!
Aku mengembuskan napas panjang, teramat panjang. Akhirnya, aku membuat keputusan yang kuyakini sebagai keputusan yang tepat. Aku akan membantunya kali ini. Tidak, bukan Mas Agung. Aku membantu si kecil tak berdosa itu. Mas Agung pun mengembuskan napas lega setelah mendengar persetujuanku. Kuraih ponsel di atas meja dan memproses M-banking untuk melakukan pentransferan dana.
"Kembalikan segera. Ingat itu, Mas," ucapku memperingatkan dengan nada benar-benar serius.
"Terima kasih ... Terima kasih banyak, Mel ... Akan segera Mas kembalikan secepatnya. Sungguh," ucap Mas Agung terbata mengelap sudut matanya yang basah. Ia kemudian izin pamit untuk segera ke rumah sakit.
Ya, pergilah, Mas. Dampingi istrimu saat ia melahirkan dan sambut anakmu ke dunia. Semoga terlahir dengan sehat, selamat, dan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Amin.
***
Hari ini aku menemani Rara ke hotel di mana dia akan bertemu dengan seorang wanita pemilik bangunan tersebut. Kata Rara, suami ibu itu telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Rara seringkali bertemu dan mendengarkan kisah-kisah lama Beliau saat masih bersama dengan mendiang suaminya.
Aku menunggu di lobby, tidak ikut menemani Rara di ruang kantor pemilik. Bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja perasaanku saat ini sedang tidak nyaman. Seakan sesuatu sedang menunggu menghampiriku. Amit-amit. Sungguh aku tidak sedang berdoa meminta masalah. Tapi, kenapa firasat ini sangat tidak nyaman?
Pintu lift hotel yang terbuka bisa terlihat dari sofa tempatku duduk sekarang. Suara gaduh terdengar dari sana ketika pintu itu terbuka. Kejadian itu menyita perhatian para tamu hotel, hingga mereka mendekat untuk menyaksikan hal apa yang tengah berlangsung.
"Dasar perempuan nakal! Penggoda suami orang!" teriak sang ibu berbaju terusan hitam.
Aku mengamati dari jauh tanpa berpindah dari tempatku duduk. Ketiga orang yang terlibat perkelahian itu pun saling tarik menarik. Seorang perempuan muda berambut pirang dan pria paruh baya yang terlihat familier berusaha melepaskan diri dari ibu tersebut.
"HEH, LEPASIN GUE!" bentak si perempuan muda.
Mereka kini keluar dari lift. "Lepaskan, Salma!" Sang pria sedang mencoba melepaskan tangan si ibu dari rambut si pirang.
Oh, wait. Biar kutebak. Ini pasti masalah perselingkuhan. Mereka akhirnya dipisahkan oleh petugas keamanan. Betapa terkejutnya aku ketika melihat dengan lebih jelas, pria yang terlibat keributan itu adalah orang yang kulihat di lampu merah beberapa hari yang lalu. Lalu, wanita muda itu adalah Celine—kenalanku—yang mana adalah orang yang duduk di kursi penumpangnya waktu itu.
Aku masih di lobby dan membiarkan diri tidak terlibat dengan pertengkaran yang tengah berlangsung. Lebih tepatnya, aku tak peduli. Aku bahkan masih di sana, duduk bergeming sekitar satu jam lamanya. Rara kemudian mengirim pesan dan menyuruhku pulang terlebih dulu. Lantas, aku menuju area parkir dan berjalan ke mobil yang berada di bagian sudut.
Ketika akan membuka pintu, aku terkejut melihat seseorang yang tadi membuat keributan di lobby hotel. Ibu itu terduduk di lantai di sudut area parkir dengan kepala menunduk. Bisa terlihat jelas tubuhnya berguncang dan aku yakin bahwa ia sedang menangis.
Tangisan itu meluruh tanpa suara yang artinya itu berasal dari sakit hati yang terdalam. Aku bisa merasakannya. Kuambil tisu dari dalam mobil dan kuberikan padanya. Ibu itu mendongak dan menerima tisu yang kusodorkan. Ia mengelap air mata yang membuat maskaranya meluntur dan sukses menghitamkan area mata. Lipstik merah yang ia pulas pun tercoreng tak beraturan. Kuduga ia berusaha tampil dengan riasan tebal untuk memberikan energi dan keberanian yang besar untuk melabrak perempuan yang telah mengganggu pernikahannya.
"Wanita yang ditinggalkan karena adanya wanita lain adalah pihak yang beruntung. Sebab, mereka terbebas dari pasangan yang tidak tepat. Begitu pula sebaliknya," ucapku menyodorkan dua lembar tisu lagi. "Silakan menangis sepuasnya, Bu. Tidak apa-apa. Biar lega. Setelah itu Ibu harus bangkit lagi dan hidup lebih bahagia." Aku tak tahu dari mana kudapatkan untaian kata yang keluar dari mulutku barusan. Namun, ketika melihatnya, aku bisa merasakan perasaan yang hancur berkeping, seperti saat klien-klienku menceritakan kesedihan mereka yang menyaksikan sang suami bersama dengan wanita lain.
"Terima kasih. Tapi, saya mau ambil kembali apa yang saya punya," sambutnya merespon.
"Apa lagi yang diharapkan? Sudah jelas-jelas Ibu telah dicampakkan. Laki-laki seperti itu mending dibuang, Bu. Itu, sih, saran saya," ujarku lepas.
Ia menengadah, melihatku. "Kamu masih muda. Cantik. Leluasa ke mana-mana. Kalau kehilangan satu pria, kamu masih bisa mendapatkan pria lain. Berbeda dengan saya. Jika sudah berpisah, saya hanya akan fokus pada masa tua dan masa depan anak-anak saya," ucapnya. "Dan sejujurnya, bukan dia yang saya inginkan. Saya mau harta saya kembali. Harta yang selama ini saya persiapkan demi masa depan anak-anak saya," timpalnya membuatku termenung sesaat.
Aku terdiam. Mengapa di saat aku tak ingin peduli atau pun terlibat dalam hal-hal merepotkan seperti ini lagi, perasaan aneh dalam diriku justru muncul? Mengapa aku tak bisa langsung pergi saja seolah tidak menyaksikan apa-apa? Sungguh menyebalkan.
"Ibu mau saya bantu?" tanyaku terucap begitu saja.
Ibu itu mendongak dan berdiri terhuyung. "B-bagaimana caranya? Tolong beritahu saya."
***
Bersambung ...