
...Bab 3 | Faithfully Yours...
"Mudah-mudahan judul kali ini diterima sama Pak Dendy," ucapku penuh harap. Ini menjadi doaku pagi ini. Kutulis judul terakhir untuk Tugas Akhir yang akan diajukan ke dosen pembimbing. Kucepol rambut medium bergelombangku dengan menggunakan pensil.
__________________________________________________________
1. PERANAN CONVENIENCE FOOD DI DALAM MENUNJANG EFISIENSI PENGOLAHAN MAKANAN DI RESTORAN DI HOTEL LUMIERA JAKARTA
2. PERANAN BARTENDER DALAM MENDUKUNG KELANCARAN OPERASIONAL DI HOTEL LUMIERA JAKARTA
3. ...
__________________________________________________________
"Duh, nggak bisa konsen," gerutuku yang masih terganggu dengan apa yang Adel katakan tentang ucapan temannya. "Benar-benar merusak mood. Apa iya aku pernah jalan sama papanya teman Adel? Padahal, yang kayak gini sudah sangat aku hindari." Aku mengacak-acak rambutku frustrasi.
BLAM.
Rara yang masuk ke kamarku, tengah bertelepon memakai handsfree dan langsung berbaring di kasur. Aku beranjak dari kursi dan berjalan mendekatinya, sepertinya dia sedang membahas kuliah entah dengan siapa. "Ra, kecilin suara lu, gue lagi konsen," bisikku sembari melepas satu handsfree di telinganya, lalu kembali duduk. Wajahku sudah sangat kusut, kalau ada yang mau mengajak berkelahi, aku akan meladeni tanpa ragu.
"Eh, sudah dulu, gue mau belajar lagi. Biar matkul ini nilainya bisa bagus. Dadahh." Rara menutup panggilannya dengan centil. Aku membalikkan badan dari kursi yang kududuki, memandangi Rara yang kini dalam posisi tengkurap.
"Ra, lu ngulang mata kuliah?" tanyaku setelah mendengar percakapannya tadi.
"Iyesss. Kenapa?"
"Yaa, nggak apa-apa, sih. Bagus lu jadi giat belajar perbaiki nilai."
"Iya dong, pendidikan itu penting."
Spontan, aku menatap Rara lekat-lekat. "Buset. Lu salah makan apa? Tumbenan. Pasti ada yang lu taksir, 'kan?"
Rara membenarkan posisinya menjadi duduk dan berubah serius. "Di kampus, nggak boleh ya, kalau naksir sama adek tingkat?" tanyanya.
"Yaa... Boleh-boleh aja, sih, apalagi kalau membawa perubahan yang positif. Asal bukan testpack aja yang positif," kataku mengingatkan.
"Main aman, dong."
"Hah?!" ujarku kaget. Rara memang selalu nekat. "Gue nggak ikut-ikutan, ya. Gue mau lulus tahun ini. Sudah ah, gue cabut dulu ke dosbing. Semoga aja judul Tugas Akhir gue diterima."
"Semangat."
__________________________________________________________
3. PERANAN KEPEMIMPINAN DALAM MENINGKATKAN KUALITAS KERJA KARYAWAN PADA HOTEL LUMIERA JAKARTA.
__________________________________________________________
Kusungging senyuman saat menulis judul terakhir itu. Kubuka cepolan rambut dengan menarik pensil yang tersemat di rambut dan kuikat tinggi. Aku meninggalkan apartemen untuk menuju kampus.
Sesuai janji temu yang dibuat oleh dosen pembimbing, aku sampai di depan kantor Pak Dendy dan mengetuk pintu. Jawaban dari dalam memintaku untuk masuk. Syukurlah, aku tidak disuruh menunggu berjam-jam lagi seperti minggu kemarin.
"Permisi, Pak."
"Iya, masuk."
"Pak, saya Mellyssa Winona, mahasiswi semester 6 jurusan Bisnis Perhotelan. Hari ini ada janji temu bimbingan Tugas Akhir dengan Bapak."
"Oh iya. Saya ingat."
Aku menyodorkan map berisi lembaran formulir tiga judul yang tadi kulengkapi. Pak Dendy melihat judul yang aku sertakan. Beliau kemudian mencoret satu. Dua. Tiga. Ketiga judul dicoret dengan lempengnya. Aduh, ditolak lagi??
"Maaf, Pak ... beserta ini, sudah sembilan judul yang saya ajukan, tapi tidak ada yang diterima...."
"Tolong bantu permudah, Pak. Beri satu petunjuk untuk judul yang bagus ...," ujarku yang mungkin terdengar putus asa.
"Oh, boleh. Saya rasa ada satu judul yang cocok. Sebentar, ya." Pak Dendy menuliskan judul di sebuah lembar kertas kosong.
Terima kasih atas bantuannya, Pak Dendy, kataku dalam hati penuh harap.
__________________________________________________________
"Pengaruh One Night Stand Mahasiswi Jurusan Bisnis Perhotelan terhadap Penerimaan Judul Tugas Akhir yang Diajukan."
__________________________________________________________
"Nah, kalau ini gimana?" tanya Pak Dendy dengan senyum yang menjijikkan. Satu detik setelah selesai membaca judul yang diberikan Pak Dendy, aku meradang. Jadi, ini maksud dia menolak sembilan judul yang kuajukan?? B'rengsek, ternyata dia adalah manusia bejat! Padahal bajuku kalau ke kampus biasa-biasa saja, tidak pernah ada yang mengundang mata lelaki.
Aku terdiam, dengan kening berkerut menahan amarah. Wajah marahku tak dapat ditampik dan rasanya ingin sekali kumuntahkan emosiku ke hadapannya segera.
"Ya, kalau kamu nolak juga tidak apa-apa. Saya tidak rugi. Kamu pasti lulus kok, cuma mungkin agak lama aja." Setiap kata yang keluar dari mulut busuknya itu membuatku muak.
"Tolong Pak, jangan begini. Saya kuliah benar-benar untuk ilmu."
"Kamu mahasiswi cerdas, kok. Ini cuma jalan pintas aja. Mau diambil terserah, nggak diambil juga nggak apa-apa. Dibuat gampang aja, Melly." Tatapan Pak Dendy sungguh membuatku tak nyaman.
"Pak, tolong ingat, Bapak punya dua orang putri yang usianya kurang lebih seperti saya. Maaf kata, bagaimana jika dosen mereka menawarkan hal yang sama seperti ini, apa Bapak tidak sedih?" Ucapanku ternyata membuat Pak Dendy meradang, hingga ia menggebrak meja membuatku terlonjak.
"Hehh!! Jangan bawa-bawa anak saya, ya! Tau apa kamu urusan keluarga saya??" Telunjuknya kini menunjuk-nunjukku. "Sudah, keluar kamu! Kalau tidak suka, ajukan saja ganti dosen pembimbing. Suka-suka kaulah! Aku tak urus!" bentaknya melempar map judulku.
"Baik Pak, terima kasih atas sarannya. Saya permisi dulu." Aku mengambil map dan ingin sekali kulempar balik ke wajahnya yang menjijikkan itu. Namun, aku yang masih menahan diri akhirnya memutuskan untuk keluar dari sana segera. Sungguh, aku sudah begitu muak melihat wajahnya. Bukannya sok suci, tapi ini 'kan dunia pendidikan. Jangan kotori dengan hal seperti ini.
Kakiku melangkah dengan cepat. Mulutku terus menyumpah serapah. Tiba di area parkir, aku bergegas mengeluarkan mobil. Sampai detik ini, aku masih merasa kesal. Orang yang kaya akan ilmu belum tentu juga kaya akan moral. Pak Dendy benar-benar miskin moral!
"Vangsattthhh!!! Rasanya pengen kutonjok dia dari atas sampai 'bawah'. Gilak, sudah tua bangka masih juga ganjen sama mahasiswi. Sumpahhh! Lebih baik ajukan ganti dosbing daripada sama dia!"
Sebuah bunyi tabrakan berasal dari belakang mobilku. Aku terdiam sesaat ketika menyadari bahwa mobil yang berusaha kukeluarkan menabrak sesuatu. "YaLord, ketabrak mobil punya siapa, sih? Markirnya nggak bener banget. Kenapa sial banget sih, hari ini??"
Alarm mobil mahal itu berbunyi. Panik, kesal, emosi, bercampur aduk. Apa orangnya akan marah? Ah, kalau iya pun, tidak masalah. Kebetulan aku sedang berada di ambang emosi yang sangat meluap-luap. Kalau mau ribut, ayo. Kuselesaikan saja sekalian. Di sini. Sekarang. Saat ini juga. Aku turun dari mobil dan menyilang lengan menunggu sang pemilik dan masih menunjukkan tanda pertanggungjawabanku.
Tidak lama, muncul seseorang dengan kemeja lengan panjang biru muda dengan lengan digulung. Suara alarm mobil telah dimatikan, lalu dia memeriksa bumper depan mobilnya yang pesuk berlekuk akibat tertabrak belakang mobilku.
"Kamu yang nabrak?" tanyanya padaku.
Sorot mata yang tidak menghakimi itu seketika membuat amarahku meredam. Rasanya seperti, apa ya? Tenang, teduh, dan seperti ... bertemu jodoh. Eh, 'kan.
"Iya, maaf. Tadi nggak sengaja ketabrak pas saya mau keluar. Saya nggak terlalu memperhatikan," jawabku.
"Oh, oke." Dia sedikit membungkuk dan mengamati bagian yang tertabrak, kemudian menelepon seseorang. Sepertinya untuk membantu membereskan mobilnya. Ketika sudah selesai melakukan panggilan, dia pun berbicara padaku, "Ya, sudah. Nggak apa-apa. Lain kali hati-hati, ya."
What?? Begitu saja? Aku pikir dia akan marah dan meminta ganti rugi. Aku tercengang. "Itu ... mau diperbaiki, nggak? Nanti saya yang ganti biaya perbaikannya," kataku menawarkan sembari menunjuk bagian yang pesuk.
"Nggak usah, nggak apa-apa, kok. Masalah kecil ini," ujarnya menggampangkan.
"Oh, gitu. Ya sudah, kalau begitu. Sekali lagi ... maaf, yaa," ucapku dengan sungguh.
"It's okay. Saya duluan, ya."
Hei, kamu siapa? Angkatan berapa? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.
***
Bersambung ...