FAITHFULLY YOURS (BSBB)

FAITHFULLY YOURS (BSBB)
Bab 10



...Bab 10 | Faithfully Yours...


"Apa syaratnya, Mia? Tante akan berusaha menyanggupi."


"Syaratnya adalah 30 juta perbulan ditambah dengan persenan dari uang yang Mia dapat nanti dari suami Tante. Juga uang perawatan."


"Boleh. Nanti kita buat surat perjanjiannya, biar lebih afdal."


"Satu lagi. Ketika kasus ini selesai, kita akan kembali menjadi orang asing. Sebab, Mia memutuskan ini kali terakhir menjalani pekerjaan ini. Saya ingin menjalani hidup normal, Tante."


"Deal. Kesepakatan diterima. Jadikan ini sebagai perjanjian simbiosis mutualisme. Kita sama-sama menguntungkan secara profesional."


Kira-kira itulah bunyi kesepakatan antara aku dan Tante Grace di pertemuan terakhir kami. Aku sedang berada di kamar mandi dan mengingat-ingat poin penting yang tertera pada surat perjanjian kami yang terbit satu hari setelah pembicaraan itu terjadi.


Mulai hari ini, aku menghentikan semua layanan kencan. Aku hanya fokus pada kasus Tante Grace. Setelah ini selesai aku akan menyambung hidup dengan uang tabungan yang kuhasilkan dan memulai hidup yang baru. Dari awal. Secara normal.


Aku mulai mencari tahu jadwal kerja suami Tante Grace, kebiasaannya, hal-hal yang disukainya, juga tempat-tempat yang biasa dia datangi, bahkan semua media sosial yang dia punya. Sebagian dari data itu aku kumpulkan sendiri dan sebagian lainnya Tante Grace yang memberitahu.


Aku masih mempersiapkan diri untuk melakukan pertemuan pertama yang akan mengawali ini semua. Pertemuan pertama adalah penentu kesuksesan dan haruslah berkesan, sebab itu adalah poin penting pengawal keberhasilan. Guyuran air menyegarkan tubuhku sore hari ini. Selesai membersihkan badan, aku mengeringkannya dengan sepotong handuk.


Aku melangkah dan duduk melantai di depan cermin kos berukuran 30 x 40 cm yang menempel pada pintu lemari. Ketika melihat rambutku, yang aku ingat adalah Rara sering menyisirnya. Dia memang gemar menata rambut dan segala yang berhubungan dengan kecantikan.


"Mel, baju crop top gue, gue taruh di mana, yaa??"


"Dress gue baru, nih. Lihat, dong. Bagus, nggak?"


"Mel, powerbank gue pinjem. Nanti gue balikin ya, bye."


"Oh ya, gue beliin lu orange segar cerah ceriahh."


"Sweet Home katanya bagus. Temenin gue nonton, dong, Mel."


Aku rindu masa-masa itu. Aku rindu ceriwisnya Rara. Kulirik jam digital di ponsel yang menunjukkan pukul 16.23 sore. Setelah menyisir rambut yang masih basah, kuputuskan pergi ke apartemen kami.


Saat tiba di depan pintu apartemen, seketika aku pun menjadi ragu untuk masuk. Langkahku tertahan. Apa Rara akan menerimaku, yang sudah marah dan terkesan membuang persahabatan kami?


"Sudahlah, sepertinya aku salah jika datang lagi ke sini," ucapku pelan. Aku menggenggam erat kunci mobil dan beranjak pergi. Bersamaan dengan itu, kudengar pintu apartemen terbuka.


"Mel ... lu pulang?" Suara Rara terdengar lirih dan lemah ketika memanggilku. Aku berbalik dan wajah Rara terlihat pucat dengan senyuman tipis disunggingkan. Matanya berair dan pandangannya lemah. "Untung lu pulang, Mel. Baru aja ... gue mau ke tempat kos lu, ngembaliin du--"


BRUKK!!


"Raraaa!!!"


***


Aku panik melihat Rara pingsan di depan mata dan langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. Dia mendapat perawatan di IGD. Tidak lama, perawat wanita menghampiriku dan mengatakan bahwa Rara sudah ditangani dan sadar.


"Kak, silakan ketemu dulu dengan pasien. Setelah selesai, dokter jaga akan jelaskan keluhan juga resep untuk ditebus dan dibawa pulang," kata perawat menyarankan. Aku menggangguk dan langsung mengecek keadaan Rara di balik tirai.


"Ra ...," panggilku.


"Mel, sini...," panggil Rara terbaring dan melambaikan tangan.


"Gimana? Sudah enakan?"


"He-em. Makasih, Mel. Untung ada elu. Kalau nggak, gue mungkin bisa gawat."


"Sama-sama. Lu kecapean, ya?" tanyaku.


"Iya, sepertinya. Oh ya, tadi gue mau ke kosan lu balikin duit. Maaf ... waktu itu gue ngikutin lu buat tahu di mana lu tinggal sekarang. Lu tadi mau pulang ke apartemen?"


"Iya. Gue tiba-tiba juga inget sama lu. Dan mau ngecek keadaan. Ternyata memang lu lagi dalam kondisi nggak baik," kataku.


"Haha, iya, ya," ucapku. "Maafin gue ya, Ra. Gue menggadaikan persahabatan kita hanya karena uang. Harusnya, habis dapat untung, gue tarik tu duit semua, bukan malah nambahin lagi. Dasar serakah gue!" Aku mengutuk diri sendiri.


"Ini mah salah gue, Mel. Maafin gue juga. Dan ... makasih sudah bawa gue ke RS."


"Sumpah, lu berat banget."


Kami tergelak saling melepas tawa. Melihat wajahnya yang pucat tadi, aku benar-benar kuatir. Syukurlah, sekarang wajahnya sudah bersemu merah. Aku menepuk-nepuk pipi Rara supaya terlihat semakin merah segar. Tak lama, perawat memanggilku untuk bertemu dengan dokter jaga IGD. Aku pun mengikuti arahannya.


Aku sampai di depan meja dokter itu dan duduk di kursi hitam. Dokter pria itu berkacamata dan terlihat masih muda.


"Halo, saya Dokter Eric. Apa Mbak kerabat pasien?" tanya Dokter Eric Ramah.


"Iya, Dok."


"Tadi gimana awal kejadiannya?"


"Saya pulang dan waktu di depan pintu, teman saya langsung ambruk nggak sadarkan diri. Saya minta security membantu saya dan langsung ke rumah sakit."


"Hmm iya, tadi waktu di awal periksa saya lihat wajahnya benar-benar pucat. Begini, Kirana tidak apa-apa, itu intinya. Hanya kecapean. Asupan makanan harus dijaga dan istirahat yang cukup, ya. Karena tadi tekanan darahnya sangat rendah. 80/60," jelas Dokter Eric.


"Ah, begitu. Jadi, cuma karena kecapekan ya, Dok? Kirain sakit apa. Istirahat saja beberapa hari juga akan pulih, 'kan, Dok?"


"Hmm, iya. Dan begini ... Saya juga mau memberitahu bahwa pasien sedang hamil. Mbak, sudah tahu?"


Aku terkejut mendengar ucapan sang dokter. "Gi-gimana, Dok?" tanyaku memastikan.


"Jadi, belum tahu, ya? Hm, begini," Dokter Eric menarik napas panjang, "Tadinya saya mengira hanya karena kelelahan tapi begitu pasien sadar, kami meminta izin untuk mengambil sampel urine. Atas persetujuan pasien, kami melakukan tes dan ternyata hasilnya positif hamil. Jadi, saya resepkan asam folat dan vitamin kehamilan untuk kesehatan janin. Bisa ditebus di farmasi. Dan, tolong bantu jaga pasien biar nggak banyak pikiran, ya," kata dokter berpesan.


Apa? Apa aku salah dengar? Dokter muda ini mengatakan bahwa Rara hamil? Ini yang aku takutkan. Sama siapa, Ra??


***


Keadaan Rara membuatku tak bisa meninggalkannya sendirian begitu saja di apartemen. Aku ingin meyakinkan sekali lagi bahwa apa yang dikatakan Dokter Eric itu salah. Aku yakin pemeriksaan urine itu keliru. Maksudku, bisa saja tertukar dengan pasien lain, 'kan? Ah, pikiranku kacau. Rara yang didiagnosa hamil, tapi aku yang kebingungan. Lebih membingungkan lagi memikirkan bagaimana cara untuk memberitahu Rara.


Aku duduk termenung di sofa apartemen. Tinggal menunggu hitungan hari untuk keluar dari sini karena tidak bisa membayar sewanya. Kulihat pintu kamar Rara terbuka dan dia sedang berbaring tengkurap dengan nyamannya.


Aduh, kalau memang benar hamil, seharusnya dia jangan tidur tengkurap. Aku jadi makin cemas dan kepikiran. Besok pagi, aku harus beli alat tes kehamilan dan menyuruh dia buang air kecil. Aku harus yakinkan lagi bahwa hasil tes urine di RS itu benar. Benar-benar salah, maksudnya!


"Mel, nyalain AC, dong! Gerah banget, nih!" perintah Rara dari dalam kamar.


Huh. Mentang-mentang lagi sakit, nyuruh orang seenaknya. Ngajak b'rantem? "Iyaaa, bentaaar..." sahutku. Aku melangkah masuk ke kamar Rara dan meraih remote AC yang ada di atas meja riasnya.


Wait.


Sebuah benda menarik perhatianku. Benda berupa stik panjang sekitar 10 cm, berwarna putih pada badan dan biru pada ujungnya. Biasa disebut sebagai alat tes kehamilan. Kubalik perlahan benda itu untuk melihat bagian hasilnya. Siap tidak siap, aku tetap berharap hasilnya negatif.


Oh, tidak. Mataku terbelalak. Mulutku tak bisa mengucapkan apapun. Hasilnya positif! Berarti, Rara memang sudah tahu bahwa dia sedang hamil??


"Mel?" panggil Rara dan ia kini menoleh ke arahku.


"Ra. I-ini ... punya siapa?" tanyaku menunjuk benda itu.


"Oh, itu. Itu punya guelah, siapa lagi?"


"Lu beneran hamil?!"


"Iya, Mel. I'm pregnant," jawabnya santai.


***


Bersambung ...