FAITHFULLY YOURS (BSBB)

FAITHFULLY YOURS (BSBB)
Bab 7



...Bab 7 | Faithfully Yours...


Rasa enggan melakukan apapun sedang menghantui. Suasana hati ini jatuh begitu jauh hingga ke dasar. Banyaknya masalah seperti sekarang ini membuatku ingin melampiaskannya pada tidur seharian. Benar. Hanya tidur. Bahkan aku tak ingin bangun lagi. Selamanya.


Tapi, bagaimana bisa istirahat? Semalam saja aku tidak bisa tidur nyenyak karena tipisnya kasur di kos ini. Kulihat jam di handphone menunjukkan pukul 07.30 pagi. Mia di dalam diriku ingin masa bodoh dengan kelanjutan Tugas Akhir, tapi Mellyssa tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Akhirnya, aku bangkit dari kasur, bergegas mandi, dan bersiap. "Kumohon Tuhan, berikan aku dosen pembimbing yang baik," pintaku keluar dari kamar kos terburuk itu sembari mengait jari telunjuk dan tengah menyatu.


***


Sudah seminggu terhitung, sejak kuajukan formulir pergantian dosen pembimbing waktu itu. Syukurlah permohonanku sudah diterima. Hari ini pukul sepuluh pagi, aku sudah berada di kampus untuk menerima arahan dari Kepala Prodi. Ruangan Bu Yulia sangat rapi dan bersih, serta banyak buku bagus di perpustakaan pribadinya ini. Kadang, aku meminjam buku dari Beliau.


Pada keterangan alasan di formulir, aku menuliskan Pak Dendy sebagaimana dosen pembimbingku terdahulu memiliki kesibukan sangat padat sehingga konsultasi tidak bisa berjalan dengan baik. Aku cukup baik menuliskan itu. Andai saja kutulis karena melakukan pelecehan terhadapku, bisakah dibayangkan betapa malunya dia? Bu Yulia pun sepertinya memaklumi keputusanku meminta pergantian dosen. Apa Beliau sudah tahu bahwa Pak Dendy senang menggoda mahasiswinya?


"Teman-teman yang lain mungkin sudah menyusun bab awal, kamu baru minta penggantian dosbing," ujar Bu Yulia.


"Iya, Bu. Saya terpaksa karena proses konsultasi berjalan di tempat. Saya pun sebenarnya mau cepat-cepat selesaikan Tugas Akhirnya," jawabku.


"Ya, nggak apa-apa. Saat ini dosen yang masih ada waktu luang hanya Pak Hansel," ujar Bu Yulia sembari menyodorkan surat keputusan. Aku membacanya dan di dalam surat tersebut tertera nama dosen pembimbing baruku, Pak Hansel Andarsa, A.Md., Par., MBA. Dosen baru di kampus sepertinya, karena namanya begitu asing di telingaku.


"Yuk, ikut saya. Saya antarkan ke Beliau," sambung Bu Yulia memimpin di depanku.


Kami pergi menuju ruang dosen. Sejujurnya, aku lebih nyaman jika ruangannya gabung, sebab aku tidak perlu merasa cemas jika kejadian seperti bersama Pak Dendy terulang kembali.


DEGG!!


Aku melewati ruangan Pak Dendy. Baru saja bergumam dalam hati, orang itu sudah memelototiku dari dalam ruangan sebelum akhirnya pintunya tertutup oleh seorang mahasiswa. Seolah-olah dia tahu aku sedang mengutuknya. Huh, tatapannya menyebalkan.


Aku mempercepat langkah menyejajarkan posisi dengan Bu Yulia. Kami menuruni anak tangga dan berbelok ke kanan. Tibalah kami di ruangan para dosen pengajar. Ketika mengedarkan pandangan, kedua mataku terhenti pada satu sosok pria yang tidak terlalu asing. Dan kini, Bu Yulia mengarahkanku tepat kepada orang itu.


"Selamat pagi, Pak Hansel," sapa Bu Yulia pada pria itu. Ternyata, dirinya adalah pemilik mobil yang kutabrak di parkiran waktu itu. Wait. Jadi, dia adalah dosen di sini? Sejak kapan? Mengapa aku baru tahu? Tamatlah riwayatku.


"Bu Yulia, selamat pagi," balas Pak Hansel ramah, berdiri dari kursinya menyambut kami. Pria ini terbilang muda. Mungkinkah usianya sekitar 28-30 tahun? Rambut cokelatnya tersisir rapi. Matanya agak sipit dan tubuhnya memang tinggi dari jarak sedekat ini.


Astaga, kenapa aku memperhatikan sedetail itu? Mudah-mudahan dia tidak mengenaliku. Aku bersembunyi merapat di belakang tubuh Bu Yulia yang lebih tinggi lima sentimeter dariku.


"Maaf mengganggu, Pak. Beberapa waktu lalu, Pak Hansel sudah terima surat keputusan pergantian dosen pembimbing, 'kan? Hari ini saya mau antarkan mahasiswi yang akan Pak Hansel bimbing," jelas Bu Yulia, membuatku menyimak. Oh jadi, Pak Hansel ini yang akan menjadi dosen pengganti Pak Dendy?


"Mellyssa, ini Pak Hansel, dosen pembimbingmu yang baru. Pak Hansel, ini Mellyssa, mahasiswi semester akhir jurusan Perhotelan. Mohon bantuannya ya, Pak," timpal Bu Yulia.


Aku menyembul keluar dari belakang Bu Yulia dan menyapa Pak Hansel dengan canggung. "P-pagi, Pak. Saya Mellyssa." Aku menundukkan kepala tanda hormat. Mudah-mudahan Beliau tidak mengingatku.


"Oh, kamu. Halo," sapanya. Dari jawaban itu, jelas ia mengenaliku. Pak Hansel yang tampak mengenaliku. "Di tangan saya, kamu harus segera lulus, ya," terang Pak Hansel yang memegang pena silver.


"Siap, Pak," jawabku.


Bu Yulia izin pamit setelah mengantarkanku pada Pak Hansel. Pak Hansel bertanya padaku tentang di mana tempatku magang, apa saja yang kupelajari di sana, dan masalah apa yang tertarik kuangkat untuk menjadi bahan penelitian di Tugas Akhir.


Tidak terasa sudah hampir satu jam kami mengobrol. Pak Hansel termasuk tipe orang yang mudah akrab dengan orang lain. Tiba satu pertanyaan Beliau yang membuatku berpikir.


"Kira-kira, kalau kamu menjadi pemilik hotel atau katakanlah sebagai manager hotel, apa yang akan kamu lakukan untuk memajukan bisnis kamu itu?" tanyanya. Pertanyaan ini terasa mudah untuk kujawab yang mana seolah mengingatkan pada impianku selama ini.


"Saya ingin memiliki sebuah hotel atau minimal guesthouse yang menjadi tempat singgah nyaman yang selalu dinantikan oleh para pengunjung. Entah di manapun itu. Saya ingin hotel atau penginapan yang saya kelola itu memberikan pelayanan terbaik dan juga memiliki keunikan yang khas dan berkesan. Sehingga, bisa terus diingat oleh pengunjung. Jadi, kalau suatu hari mereka berkunjung ke kota tersebut, pasti akan kembali menginap di hotel saya lagi," jawabku.


Pak Hansel tersenyum. "Nice. Bagus sekali. Kamu seolah tahu apa yang harus kamu lakukan," puji Pak Hansel. "Jika mahasiswa pikir, kampus meminta mereka magang hanya untuk melatih mereka menjadi hotelier, maka mereka salah besar. Justru, dengan mempelajari management-nya, siapa tahu suatu saat nanti kalian akan memiliki bisnis penginapan sendiri," imbuhnya menjentikkan jari.


Betul, aku pun bermimpi seperti itu, Pak. Bagaimana Bapak bisa tahu? "Setuju, Pak." Aku tersenyum lebar. Makanya, aku harus segera menyusun Tugas Akhir ini dan lulus memuaskan. Lalu, aku akan melamar pekerjaan di hotel bergengsi untuk menjalani secara langsung seluk-beluk bisnis perhotelan. Mana tahu, saat nasib baik datang, aku bisa saja mendirikan sebuah hotel. Ah, mimpi saja dulu, mudah-mudahan bisa kesampaian.


"Analisis Strategi Bisnis dalam Meningkatkan Pelayanan dan Citra Hotel Lumiera Jakarta. Gimana, Pak? Apa boleh saya ajukan judul ini jadi bahan penelitian saya? Saya sudah pastikan tidak ada judul yang sama dengan ini," ujarku.


"Kalau tidak ada judul yang sama, maka kamu bisa lanjutkan. Kita coba," jawab Pak Hansel mendukung. Beliau juga memberikan selembar kertas formulir pengajuan judul yang harus kuisi.


Astaga! Kenapa tidak ganti dosen dari dulu, sih?? Satu kali pertemuan, judulku langsung diterima? Bisa cepat beres Tugas Akhirku. Aku mengisi judul Tugas Akhir pilihanku pada lembar itu dan Pak Hansel menandatanganinya.


"Terima kasih, Pak Hansel. Terima kasih banyak. Saya sudah membuang-buang banyak waktu. Saya harus lulus tepat waktu," ucapku berterima kasih. Setelah konsultasi berakhir, aku meminta nomor kontak Pak Hansel untuk lebih mudah menghubunginya ketika ada hal yang ingin ditanyakan.


Meninggalkan ruangan para dosen dengan hati teramat senang, sesekali aku mempercepat langkah ketika menuruni anak tangga menuju halaman parkir. Namun, senyum yang terasa cerah ini seakan terhapus seketika saat melihat sosok yang kukenal sedang berdiri di sebelah mobil.


"Ha-halo, Mel...," sapanya canggung melambaikan tangan.


Aku mendelik. Sungguh berpapasan dengan Rara membuat suasana hatiku langsung berubah. "Mau apa, lo?" tanyaku ketus sama sekali tak berniat berbaikan.


"Gue sudah nyiapin duit 10 juta buat lu, Mel. Gantiin yang kemarin." Rara menyerahkan sebuah amplop coklat. "Sisanya akan gue cicil sampai lunas."


"Nggak usah. Anggap aja gue lagi apes. Lagian itu pasti uang yang lo pinjem dari Mami lo. Sudah cukup repotin gue, nggak usah lagi lo repotin orang tua," tolakku kasar.


"Please, tolong diterima. Anggep aja itu uang sekolah Adel beberapa bulan ke depan." Rara memohon.


Aku berpikir sesaat. Ya, benar juga, sih. Aku tidak bisa menampik bahwa aku sangat membutuhkannya. "Oke. Gue terima," kuambil amplop itu, "Uang sekolah Adel penting bagi gue. Thanks. Sekarang, minggir. Gue mau pulang."


"Pulang ke mana? Apartemen masih bisa kita tinggali sampai akhir bulan. Setelah itu, kita cari kontrakan aja," ajak Rara.


"Oh, jadi ini maksud lo nyamperin gue? Mau sharing bayaran kontrakan, gitu? NO. Terserah lo mau apa, jauh-jauh aja dari hidup gue, gue nggak mau tinggal sama penipu. Sudah dulu, ya. Banyak urusan yang lebih penting dari lo," kataku beralasan, masuk dalam mobil dan pergi meninggalkannya.


Aku masih sangat marah pada Rara. Dia itu terlalu ceroboh untuk masalah uang. Andai saja kami tidak tertipu investasi itu, sekarang aku masih punya tabungan. Padahal, sebelumnya aku juga sudah meminjamkan uang untuk kelahiran anak Mas Agung. Aku benar-benar membutuhkan uang saat ini.


Seekor kucing yang melintas begitu saja membuatku terkejut dan mengerem mendadak. Tasku pun terjatuh ke lantai mobil dan isinya berserakan. "Gila! Hampir aja! Kupinggirkan mobil untuk memungut beberapa barang yang berhamburan. Tanpa sengaja aku melihat kartu nama Bu Grace yang diberikan kepadaku. Aku terdiam sesaat sebelum akhirnya memutuskan akan berkunjung ke sana nanti malam untuk sekadar berbincang. Aku ingin tahu bagaimana keadaan Beliau setelah menghadapi hari buruk waktu itu.


***


Bersambung ...