
PROLOG
Aku Mia. Mia Sunny. Selamat datang di catatan perjalanan hidupku. Sebenarnya, Mia bukanlah nama asli. Nama ini kugunakan ketika sedang bekerja sebagai teman kencan sewaan. Percayalah, aku hanya berkencan. Tidak bermalam dengan mereka, garis bawahi.
Sedikit berbeda dengan teman kencan pada umumnya, pekerjaan ini memiliki misi tersembunyi. Di mana mengambil sebanyak-banyaknya kekayaan dari para target dan mengembalikannya pada klien—sang istri—yang menyewa jasaku adalah fokus utama. Segera setelah itu, kutinggalkan mereka dan kuserahkan pada istri masing-masing, sembari berharap para pria tak setia itu akan jera. Meskipun, ada pula klien yang hanya menggunakan jasaku untuk mengetes kejujuran suaminya.
Perihal diterima kembali atau tidak oleh pasangan resminya, bukan lagi urusanku. Ada yang dimaafkan, ada pula yang digugat cerai hingga hidup para pria tak setia itu luntang-lantung tak tentu arah. Itu mutlak keputusan para istri yang tersakiti.
Kuyakini, inilah satu-satunya cara termudah bagiku untuk menghasilkan uang saat ini. Dengan jalan ini, aku dapat bertahan hidup bersama keponakanku satu-satunya. Oke, aku bukan seorang tante yang baik ternyata. Terserahlah. Sebab, hidup kadang membawa kita pada jalan terjal yang berliku dan aku harus tetap mengambil pilihan. Siapa lagi yang bisa kuandalkan di saat seperti ini, selain diriku sendiri?
Mellyssa Winona adalah nama asliku. Di luar sebagai Mia, aku hanyalah perempuan biasa yang mempunyai impian. Apakah kalian bersedia mendengarkan kisahku? Siapkan dulu minuman dingin, karena popcorn saja tidak akan cukup.
***
Bab 1 | Faithfully Yours
Jumat sore menjelang malam, Om Haris mengecup pipiku lembut. Kecupan itu terasa seperti perpaduan sayang dan tak ingin berpisah. Terima kasih, Om, tapi aku hanya menemanimu sebatas profesi tanpa afeksi. Ia terlihat senang karena seharian ini aku menemaninya.
Pertemuan ini berakhir di sebuah rooftop restoran mewah, dengan dekorasi pagar semak hijau yang berhiaskan bunga-bunga putih dan pernak-pernik pita merah muda. Pukul 19.00 malam, Om Haris menunjukkan bukti transfer yang baru saja ia lakukan langsung dari ponselnya, juga memberikan satu set perhiasan padaku.
Berkencan dengan para pria paruh baya beristri, menemani mereka pergi ke sana – kemari, sejujurnya adalah keadaan yang mulai membuatku muak. Batinku bertanya-tanya, kapan aku bisa berhenti melakukan ini semua?
Jujur saja. Aku juga ingin hidup normal. Bekerja menghasilkan uang secara halal dan umum. Bukannya malah menemani pria paruh baya jalan-jalan. Namun kenyataannya, ada jiwa lain yang bergantung padaku dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tagihan uang sekolah yang perlu dibayar, biaya kuliah, barang-barang yang kuinginkan, serta hal-hal lainnya yang daftarnya mengular. Seluruh hidupku adalah tentang uang dan uang. Jika disuruh memilih, antara diberi pasangan atau materi. Maka, aku akan lebih memilih materi. Harga mati.
Besok adalah akhir minggu, Om Haris akan pulang ke Surabaya untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya dan tugasku hari ini sudah selesai. Aku harus segera berpamitan agar pria berusia lima puluh tujuh tahun ini tidak meminta 'lebih' dari sekadar jalan-jalan.
"Makasih, ya, Om. Mia pulang dulu." Aku beringsut pergi.
"Tunggu dulu, dong." Om Haris menahan tanganku. "Sebagai hari perpisahan, kita buat 'momen berkesan', gimana?"
Aku bergidik. "Nggak bisa, Om. Mia ada tugas kuliah. Mia pulang pakai taksi online aja, ya. Bye-bye," ujarku buru-buru. Aku segera pergi meninggalkan tempat itu setelah memesan taksi online secara diam-diam tadi. Saat menunggu mobil taksi di luar restoran, ponselku berbunyi dan itu adalah panggilan masuk dari Rara, sahabatku.
"Halo," jawabku mengangkat panggilan.
"Mel, lu sudah selesai sama Om Haris?"
"Iya, sudah. Baideway, gue kayaknya mau berhenti kerja beginian, deh."
"Yah, kenapa lagi?"
"Ya ampun, masa rejeki ditolak? Ingat, siapa lagi yang mau bayar sekolah Adel kalau lu nggak ada duit? Ambil aja, mumpung masih laku."
"Kamvret. Nggak ada empati-empatinya sama sekali, heran."
"Hahahah, ya, sudah, ya! Oh iya, malem ini gue nggak pulang, Mel. Lagi ngerjain tugas kampus di rumah temen. Bye-bye, Dear."
"Oke, mobil taksi gue juga sudah dateng. Bye," ujarku menutup ponsel.
Jika saja Rara tahu, bahwa aku sudah lelah melihat orang-orang ini. Pria paruh baya semacam ini ada banyak dan pada umumnya, mereka mengejar-ngejar wanita muda, mencari cara untuk bisa menghubungi, dan menawarkan berbagai macam hadiah. Memang, tidak semua dari mereka meminta 'imbalan' fisik. Ada pula yang hanya meminta ditemani menghabiskan waktu, nonton, makan, atau bahkan hanya mendengarkan ceritanya. Namun, aku berkomitmen hanya melayani kasus pembalasan dendam dari para istri, yang kuakui cukup menguras tenaga dan emosi.
Jatuh cinta pada Om-Om senang? Tidak, tidak boleh. Itu adalah peraturan yang tidak pernah kulanggar. Jangan pernah mengambil resiko atau kau sedang menggali kuburanmu sendiri.
Saat berhenti di lampu merah, aku melihat sebuah mobil mewah berhenti tepat di sebelah kiriku. Kaca mobilnya cukup terang sehingga aku bisa melihat pengemudinya. Tampak seorang pria paruh baya berkacamata hitam yang memakai kemeja biru muda rapi. Dia terlihat sedang berbicara. Mobil taksi yang kutumpangi perlahan bergerak maju, hingga aku dapat melihat orang di kursi penumpang di sebelahnya. Seseorang di sana adalah perempuan yang kukenal. Segera setelah lampu hijau menyala, mobil kami melaju berpisah.
***
"Mel, kapan kita bisa pindah ke apartemen yang lebih besar, ya? Apartemen kita yang sekarang ini terlalu kecil," ucap Rara mengamati satu set perhiasan yang Om Haris beri kemarin. Kalung dengan permata zamrud berwarna hijau, serta cincin dan anting-anting yang memiliki batu senada itu akan kukembalikan pada istrinya. Rara mengikat rambut lurus medium berwarna ash grey miliknya untuk memakai kalung itu di leher.
"Ya, maulah, Ra. Kalau uang sudah terkumpul lebih banyak, baru kita bisa pindah ke apartemen yang lebih bagus. Kalau sekarang, ya, tahan-tahan aja dulu," kataku. "Eh, hati-hati pegang kalungnya, ya. Antingnya juga jangan hilang. Mau dikembaliin," pesanku.
Jika ada pertanyaan bagaimana aku bisa mengawali pekerjaan ini, maka aku pun tidak tahu harus menjelaskannya mulai dari mana. Semua terjadi begitu saja saat tetangga apartemen lamaku yang mendapat lebam di tangan dan kakinya. Kuberanikan diri untuk bertanya dan ternyata sang suami telah melakukan kekerasan, sebab telah ketahuan memiliki perempuan lain. Ini gila. Jelas-jelas sang istri telah tersakiti secara mental, ditambah ia harus mendapat kekerasan fisik pula. Lalu, apa artinya pengorbanannya selama ini?
Aku mengagumi ibu itu dan menilainya sebagai seorang istri yang berbakti, mengurus segala kebutuhan suami, anak, dan juga tempat tinggal mereka. Ia kadang menceritakan bekal apa saja yang disiapkan untuk dibawa oleh suaminya bekerja dan makanan apa yang akan dibuat saat pulang nanti. Namun, pengabdiannya seolah tidak cukup. Ibu itu menangis di pelukanku saat mengetahui bukti perselingkuhan suaminya. Saat itulah, kuputuskan untuk membalaskan sakit hati wanita paruh baya itu dan ternyata imbalan uang menjadi jawaban atas persoalan materi yang kumiliki.
Lalu, bagaimana dengan Rara? Rara adalah teman satu kampus, sahabat, sekaligus orang yang mengatur jadwal misiku. Usia kami 22 tahun dan kami tinggal bersama.
Me: [Om, hari ini Mia nggak bisa datang, ya. Maybe, next time.]
Aku salah mengirim pesan dan ketika pesan itu sampai pada Rara, ia memohon-mohon padaku untuk mengajaknya masuk pada dunia yang tidak bisa dibilang membanggakan ini. Jika aku membatasi diri saat sedang bekerja, tidak dengan Rara. Ia bermalam dengan mereka. Dengan kata lain, dirikulah pembuka gerbang dosa baginya. Jujur, ini membuatku benar-benar merasa amat bersalah. Bahkan, untuk mengucap nama-Nya saja aku merasa tidak pantas.
Sudahlah, bukan waktunya untuk berkhotbah. Aku mengambil kunci mobil dan mengajak Rara meninggalkan apartemen. Kami lalu berbelanja di sebuah outlet kosmetik dan perawatan wajah. Saat di sana, aku mengambil apa yang diminta Rara satu keranjang penuh. Kutambah koleksi lipstik dari merek terkenal dengan warna berbeda. Bukankah lipstik selalu menjadi benda wajib di dalam tas setiap wanita? Sudah naluri wanita ingin terlihat cantik dan ini semua membutuhkan modal dana yang tidak sedikit. Semua hal di dunia ini membutuhkan uang.
***
Bersambung ...