
...Bab 6 | Faithfully Yours...
Insiden pertengkaran yang membuatku harus dipanggil ke sekolah Adel tadi, membuatku melupakan satu hal yang sama pentingnya. Aku melewatkan waktu pengajuan penggantian dosen pembimbing di kampus. Suasana hatiku benar-benar hilang untuk mengurusnya. Akhirnya, aku pulang ke apartemen dan sesampainya di sana, Rara telah menangis meminta maaf kepadaku. Apa lagi ini? Perasaanku benar-benar tidak enak.
"Ra ... kenapa?" tanyaku melihat dia sesenggukan dan kini berlutut di hadapanku.
"Mel ... Ma-maafin gue ... Gue mohon maafin gue ...."
"Ra, lu kenapa sih?" tanyaku lagi tidak mengerti apa yang terjadi. "Coba bicara yang jelas."
"Kita habis, Mel ...."
Kenyataan lain harus menamparku dengan bukti bahwa Rara telah salah langkah dengan menaruh seluruh uang yang kami kumpulkan, semuanya, ke sebuah investasi bodong. Dengan janji penanaman modal uang sejumlah Rp. 15.000.000, kami akan mendapatkan 30% dalam 30 hari. Siapa yang tidak tergiur?
Aku pun menyetujuinya. Kami sudah mendapatkan satu kali periode dan uang sejumlah Rp. 4.500.000 telah kami kantongi. Namun, ketika kami menanamkan modal lebih besar, yaitu Rp. 90.000.000, nyatanya situs itu pun menghilang bak ditelan bumi. Tentunya beserta uang kami yang raib tanpa kabar.
Demi Tuhan, aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Aku marah. Benar-benar marah pada Rara. Awalnya dia memohon-mohon padaku untuk menggandakan uang tabungan kami masing-masing melalui cara itu. Dengan bodohnya, aku mempercayai dia dan menaruh semua uangku di sana. Sekarang lihat apa yang Rara perbuat.
Aku tidak bisa tinggal bersama dengan orang ini lagi, itu yang terngiang di pikiranku. Aku benar-benar tolol karena menyerahkan seluruh uangku pada investasi itu. Ini semua gara-gara Rara.
"Ah, sudahlah!" Aku merasa teramat kesal dan mengambil beberapa pakaian, lalu memasukkannya dalam sebuah tas besar. Kuputuskan untuk keluar dari apartemen yang kami tinggali bersama dan juga Rara. Lagi pula, kami tidak akan bisa memperpanjang sewa apartemen lagi. "Gue anggap kita nggak ada hubungan lagi. Males gue berurusan sama lu," ucapku ketus.
Aku keluar dari apartemen itu dan mengendarai mobil tanpa tujuan, pergi entah ke mana jalan ini membawaku. Pelarianku akhirnya terhenti di sebuah minimarket berwarna biru. Kurasa segelas kopi akan membuat pikiranku menjadi lebih tenang.
Ternyata, tidak. Duduk berjam-jam di tempat ini, di atas kursi besi minimarket yang dingin bersama pikiran yang kacau balau, sukses membuatku seperti orang tak punya arah. Terhitung, sudah empat gelas kopi kuhabiskan, tapi aku si bodoh ini masih termenung meratapi nasib hingga dinginnya malam menyapa. Hal yang paling kutakutkan terjadi. Jatuh miskin adalah hal yang paling kubenci.
Lalu, aku harus melakukan apa sekarang? Bagaimana aku bisa menyekolahkan Adel? Janjiku di pusara almarhum abang harus tuntas kupenuhi, menyekolahkan Adel sampai lulus kuliah. Hanya dengan itu aku bisa membayar kebaikan abang dan istrinya kepadaku semasa hidup. Dari tadi hanya ini yang terus berputar di kepalaku.
Sudah tiga tahun berlalu, ya, Bang. Kau dan istrimu telah meninggalkan kami. Kenapa kalian tetap pergi malam itu? Padahal kalian sudah tahu derasnya hujan tengah mengguyur jalanan. Kenapa kalian seolah mengantar nyawa secara sukarela di tol sialan itu? Kecelakaan terburuk yang tak akan pernah kulupakan.
Kalian ingat? Kita adalah keluarga kecil yang selalu berbagi. Kita cukup dan bahagia. Sekarang, lihat. Tidak hanya Adel yang kalian tinggalkan, tapi juga diriku yang kini tidak punya tempat untuk bersandar, bernaung. Aku hanya mencoba untuk berdiri tegak, tapi aku tak tahu ini akan bertahan berapa lama. Aku kehilangan arah.
Kutatap langit gelap yang jauh di atas sana bersama pikiran yang sudah entah ke mana. Jalan raya di depanku yang dipenuhi motor lalu lalang, tak kupedulikan. Kuangkat kedua kaki dan memeluknya di depan dada. Apa aku susul saja mereka?
Dari tadi perutku terasa tak nyaman dan sekarang sesuatu seperti mengalir di 'bawah' sana. Aku masuk dan memeriksanya di toilet. Benar saja, aku sedang datang bulan. Kacau sekali hariku. Ditambah fase datangnya 'tamu bulanan' yang membuat suasana hatiku meledak-ledak. Kuambil benda untuk wanita dari rak minimarket dan membayarnya ke kasir, lalu ke toilet untuk menggunakannya.
Kusadari si Mas Kasir sedari tadi memperhatikan gelagatku. Apalagi pukul sepuluh malam seperti ini tidak banyak pembeli yang datang ke minimarket. Ya, biar sajalah. Toh, aku tidak mencuri apapun.
Aku ingin pulang, tapi tak ingin pulang. Lebih tepatnya, tak punya tempat tujuan untuk pulang. Keadaan dilema yang sungguh membingungkan dan melelahkan. Kuputuskan untuk bermalam di kos harian. Masih ada sisa uang untuk bertahan beberapa waktu.
Aku mengambil air mineral, roti tawar, dan setoples selai kacang, juga beberapa barang kebutuhan mandi. Semuanya kutaruh dalam keranjang belanja yang juga berwarna biru itu. Saat akan membayar, Mas Kasir mengecek tanggal kedaluarsa roti yang akan berakhir dua hari lagi.
"Dalam dua hari, apa habis ini rotinya, Kak?" tanyanya ramah sebelum memindai kode batang pada barang. "Soalnya, expired date-nya tinggal dua hari."
"Iya, nggak pa-pa. Rotinya cuma tinggal itu di rak," jawabku singkat tanpa melihat. Dia lalu melanjutkan pemindaian harga semua barangku.
"Oke, belanjaannya sudah lebih dari Rp. 100.000, nih, Kak. Mau tebus murah samponya, nggak?" tanyanya lagi.
Sudah, Mas. Jangan banyak tanya. Aku sedang malas bercakap-cakap. Tapi, setelah melihat merek samponya sama dengan yang kuambil, "Boleh, deh. Varian yang sama aja seperti yang saya ambil." Usai membayar, aku memasukkan barang belanjaan itu ke dalam kantong belanja yang aku punya dan bergegas pergi.
"Kak," panggil si Mas Kasir. Aku menoleh. "Kembaliannya." Si Mas Kasir menyodorkan uang kembalian beberapa ribuan.
"Buat Mas aja," ucapku.
"Terima kasih, Kak. Silakan datang kembali." Salam khas minimarket itu hanya kubalas dengan senyuman yang kupaksakan. Di hari yang cukup berat ini, rasanya sulit sekali untuk bisa tersenyum.
***
Bersambung ...