
...Bab 28 | Bukan Sugar Baby Biasa (BSBB)...
"Hai," sapa pak Hansel ketika aku membuka pintu dan keluar dari kamar hotel. Senyumnya mengembang.
Dia memakai baju kemeja lengan pendek berwarna abu-abu tua dan celana panjang hitam. Sedangkan aku memakai baju blus warna salem dan celana panjang 7/8 berwarna abu-abu.
Kulirik sekilas, tampak lengan pria itu berlekuk atletis. Meski tidak berotot bulky, tapi itu sudah cukup. Cukup sexy untuk membuat para wanita tak tahan ingin bergelayut manja di lengannya.
"Hai juga," balasku. Rasanya seperti berkencan. Berbeda dengan ketemu dengan para pria yang sudah-sudah.
"Gimana lukanya?" tanya Pak Hansel. Dia mendekatkan diri untuk melihat dengan cermat, luka yang kutempel dengan plester transparan ini. "Mudahan cepat sembuh, ya," katanya masih memandangi dahiku.
Aku masih belum bisa mengatur perasaan ketika mengingat kejadian semalam. Kuingatkan diriku lagi, bahwa tadi malam aku tak sengaja mengutarakan perasaanku padanya. Tapi, aku juga tak menduga bahwa dia akan membalas dengan mengatakan sayang padaku bahkan mencium pipiku.
Itu berarti dia juga memiliki perasaan yang sama, 'kan? Atau tadi malam itu hanyalah mimpi? Aku meletakkan telapak tangan pada kedua pipiku. Seakan tak percaya bahwa aku bisa senekat itu.
Kami memasuki lift dan turun di lantai parkir. Berjalan beberapa saat, kami melihat kendaraannya terparkir rapi. Itu dia mobil yang tak kusangka akan beberapa kali membuatku menumpang di dalamnya. Mobil warna hitam dengan parfum aroma vanilla yang sekarang menjadi wewangian favoritku pula. Mobil yang menjadi saksi bisu awal mula aku jatuh hati pada pemiliknya.
"Kita mau ke mana, Pak?" tanyaku setelah kami duduk nyaman di dalam mobil dan Pak Hansel menyetir di kursi kemudi.
"Sarapan. Kamu mau sarapan apa?"
Aku berpikir. "Lagi pengen Mekdi..."
"Oke deh, menuju Mekdi...."
Aku memperhatikannya. Lengan itu kokoh dan mapan dalam menyetir mobil. Melihat wajahnya dari samping, terlihat hidung tinggi itu menambah kesempurnaannya di mataku.
"Kenapa?" tanyanya sadar aku memperhatikannya dan berbalik menatapku dengan senyuman. Seketika aku mengalihkan pandangan dan menggeleng.
Apa hubungan kami sekarang? Setelah saling menyatakan perasaan, lalu apa kami masih berstatus dosen-mahasiswi? Ataukah status itu sudah berubah menjadi personal? Mengapa hari ini wajahnya terlihat lebih tampan dari biasanya? Cerah dan segar. Ujung-ujung rambutnya masih terlihat basah, membuatku menebak-nebak apa merek shampo yang dipakainya karena wanginya tercium semilir begitu segar.
"Gimana hotelnya? Nyaman?" tanya Pak Hansel membuka percakapan.
"Cukup nyaman, cuma nggak bisa tidur."
"Oh ya? Kenapa?"
Apa perlu aku jawab karena mikirin dia semalaman?? "Nggak tahu juga kenapa. Mungkin karena bukan tidur di rumah."
"Ooh, saya kira..." Pak Hansel berhenti melanjutkan ucapannya. Tapi, kami berdua paham benar ke arah mana maksud ucapannya itu. Dia mengusap tengkuk dan aku tersenyum malu. Kami berdua menjadi salah tingkah mengingat momen tadi malam.
Begitu sampai, kami memesan menu sarapan dan mengambil tempat duduk. Pak Hansel membawa nampan Mekdi yang terdapat pesanan kami. Kemarin aku telah membuang tenaga cukup banyak. Baiklah, kurasa makanan ini akan terasa sangat nikmat.
"Jadi, semua persiapan sudah selesai. Lusa, acara pernikahan Rio dan Rara. Acaranya nggak besar-besaran, hanya mengundang keluarga. Ya ini cuma sekadar info aja, harusnya kamu udah tahu, 'kan?" tanyanya sembari mulai mengunyah Sausage Wrap yang bentuknya mirip dengan kebab.
"Iya. Saya sudah dikabarin sama Rara tentang ini, kok. Saya juga sudah nyiapin kado pernikahan buat mereka. Hehe," kataku mencubit roti burger sehingga potongan kecil itu bisa masuk ke mulutku.
"Oh ya? Perhatian sekali."
"Setelah mereka menikah nanti, mungkin kamu akan merasa kesepian pada awalnya. Memangnya kamu nggak punya teman lagi selain Rara?"
"Iya, yang akrab cuma Rara. Ada sih satu lagi temen kampus dulu, tapi sekarang udah bukan temen lagi, kayaknya," kataku mengingat Celine.
"Loh, kok gitu?"
"Em, entahlah. Mungkin saya ngelakuin kesalahan yang nggak pernah saya sadari. Jadi, mau minta maaf pun bingung, karena tidak tahu alasannya marah dan menjauh itu apa."
"Tanyakan saja secara langsung. Semoga ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan."
Aku termenung lalu tersenyum. "Iya, semoga saja."
Yah, dulu kami bertiga berteman. Aku, Rara, dan Celine. Tapi, entah sejak kapan, Celine menjauhiku. Waktu itu, kudengar dia bermalam dengan seorang dosen di kampus dan sempat menjadi berita heboh. Setelah kejadian itu, dia diminta keluar oleh pihak kampus untuk menyelamatkan nama kampus. Sampai sekarang, kami tidak tahu siapa dosen yang dibersihkan namanya dari aib itu. Yang kami tahu, nama Celine-lah yang menjadi kambing hitam untuk perbuatan yang sebenarnya harus ditanggung oleh kedua pihak tersebut.
Pak Hansel mengunyah sepotong Hash Brown, yaitu potongan kentang cincang yang dibentuk menyerupai nugget dan digoreng renyah. Aku senang memperhatikannya saat sedang makan. Dia tampak begitu menikmati makanan di hadapannya, membuat siapapun yang melihat pasti seketika berselera makan.
Ketika dia sadar sedang kuperhatikan, ia menurunkan kecepatan rahangnya mengunyah makanan itu dan tampak tersipu. "Maaf ya, saya kalau makan memang begini. Agak memalukan memang," ucapnya mengelap sudut bibir perlahan.
Siapa bilang memalukan? Bikin gemas, iya. "Nggak malu-maluin kok. Kelihatan berselera. Ya berarti nafsu makan Pak Hansel itu bagus. Makanya tinggi, soalnya bisa makan apa aja."
"Benar. Sejak kecil, Mami selalu bilang kalau saya nggak susah makannya. Karena apa aja yang ditawarin, pasti dimakan. Apa aja yang dimasakin, pasti habis."
"Enak banget kalau anak nggak milih-milih makanan gitu. Jadi pengen punya a—" Sial, aku keceplosan. Spontan aku menutup mulutku.
Pak Hansel tertawa lalu meminum lemon tea-nya. "Oh ya, kemarin itu saya mau ajak kamu pilih baju untuk acara pernikahan Rio. Soalnya masih ada satu kuota pakaian di paket pernikahan yang belum dipakai. Makanya saya ke rumahmu."
"Oh ya?" Jadi itu maksudnya Pak Hansel datang ke rumah. Aku pikir mau ajak aku jalan atau makan.
"Iya. Tapi, begitu tahu kamu bersama Om itu, saya sempat pergi lagi. Cuma firasat saya nggak enak banget. Akhirnya saya putar balik mobil, dan ternyata benar. Orang itu berbuat yang nggak baik ke kamu. Cukup menyesal, kenapa nggak lebih cepat. Kalau aja saya langsung turun waktu itu, kepalamu nggak akan luka."
"Nggak apa-apa, kok. Lukanya nggak terlalu besar. Cuma karena sudut tajam meja aja, jadinya berdarah," ucapku menunjuk dahi.
"Iya, syukurlah. Semoga cepat sembuh." Pak Hansel berhenti makan. Ia menaruh potongan nugget kentang yang sisa seperempat bagian itu di nampan. "Saya boleh tanya sesuatu, nggak?"
Aku tahu ke mana arah tujuan pertanyaan ini. Mungkin dia ingin bertanya tentang hubunganku dengan Om Rizal. Baiklah, kalau memang Pak Hansel mau tahu, aku akan mengatakan yang sejujurnya. Aku tidak ingin menutup-nutupi apapun. Jadi, jika dia mengurungkan niat untuk memupuk perasaan sayang lebih banyak padaku, itu tidak akan meninggalkan sakit yang terlampau dalam bagi kami berdua.
"Iya? Mau tanya apa?"
.
.
.
Bersambung...
...© Copyright by Ine Young, 2021...