
...Bukan Sugar Baby Biasa (BSBB) ...
...Bab 33...
Dua tahun kemudian...
"Tantee!"
Aku tersadar dari lamunan saat memanggang roti. Roti bakar selai kacang adalah kesukaan Adel. Kubuatkan empat lembar untuk sarapannya pagi ini, lengkap dengan susu hangat tentunya.
"Iyaa?" jawabku disambut dengan pelukan Adel.
"Minggu depan, Adel di ajak ke BNS (Batu Night Spectacular). Tante anterin Adel, yah? Nanti pulangnya ikut temen, nginap di rumahnya. Temen cewek semua, kok," ujar Adel meminta izin.
"Bolehh."
Adel masih memelukku seolah ingin mengutarakan sesuatu. "Tante..."
"Hm?" jawabku.
"Makasih ya, sudah ajak Adel pindah ke sini. Di sini, banyak temen yang baik-baik." Dia berterima kasih padaku karena telah membawanya pindah ke kota yang identik dengan apel hijaunya ini. Mendengarnya, membuatku senang. Karena usahaku membahagiakannya tentunya tidak sia-sia.
"Aaa, syukurlah. Adel memang anak baik, jadi teman-teman sayang sama Adel." Aku balas memeluk Adel erat. Dia terlihat sangat ceria, hanya itu yang ingin kulihat, yaitu senyumannya.
"Makasih, Tante. Adel berangkat ke sekolah, ya. Sayang Tanteee. Muahh."
Sesuai dengan janjiku pada Adel bahwa aku akan membawanya pindah dari Jakarta, aku menepatinya. Kutinggalkan Jakarta yang penuh dengan hiruk pikuk dan kenangan, lalu di sinilah kami sekarang. Di Kota Malang yang tenang, asri dan jauh dari orang-orang di masa laluku.
Aku memulai hidup yang baru bersama Adel. Hanya kami berdua. Tanpa Rara, tanpa Rio.
Maupun ... Kak Hansel.
Itu benar. Aku mengambil keputusan berat kala itu, memilih Adel atau dirinya.
Aku tahu aku jahat. Aku sadar dia hancur. Tapi, jangan mengira hanya dia yang merasa begitu, karena diriku juga pecah tak beraturan, tak berbentuk. Aku berusaha mengumpulkan kepingan diriku, menyembunyikan semua hal tentang perasaanku, mengukir senyum palsu di wajahku. Sebab, separuh hatiku telah tertinggal di Jakarta, bersama pria itu.
Pria yang selalu datang dalam mimpiku, yang selalu ingin kupeluk, kuhirup aroma tubuhnya, kucium bibir penuhnya, dan bermanja di dalam kehangatan dekapannya. Benar, hanya satu pria itu yang pernah dan selamanya akan memiliki hatiku. Kak Hansel.
Hatiku selalu terasa teriris tiap kali mengingatnya. Perpisahan kami telah kulakukan dengan kejam dan menyakitinya. Tapi, aku pun tak kalah menderita. Aku telah mati di dalam.
Maafkan aku, jika aku seegois ini. Aku meninggalkannya secara tiba-tiba, memblokir seluruh media komunikasi dengannya, pergi dan tak berniat kembali. Meski hatiku, selalu dan selalu memilihnya. Lagi dan lagi.
Hingga detik ini aku bertanya, mengapa hati dan akal sehat bisa tak sejalan?
Mengapa aku meninggalkannya ketika jelas-jelas hatiku memilih bersamanya?
Inilah alasanku membenci diriku sendiri. Sebab, apa yang kulakukan kadang bertentangan dengan suara hatiku. Aku menangis setiap malam, hancur dan tenggelam dalam kepiluan tanpa dasar. Dan keesokan paginya, aku harus memasang wajah berbeda lainnya dari apa yang kurasakan.
Sakit. Tentu saja. Ini merobek-robek perasaan dan juga mentalku, menguras seluruh energi yang kumiliki.
Apakah tidak apa-apa?
Benar, tidak apa-apa.
Tidak apa-apa selagi Adel masih bisa bersekolah dengan baik dan memiliki teman.
Tidak apa-apa selagi Adel bisa kembali mempercayaiku.
Tidak apa-apa aku mengorbankan diriku, sebab hanya ini yang aku punya untuk Adel. Pengorbananku dan juga seluruh diriku.
Inilah hukuman bagiku yang telah menyakiti banyak orang, terutama orang yang kucintai.
***
HopeStay adalah bisnis penginapanku, sebuah guesthouse dengan konsep kembali ke alam. Berbekal dari tabunganku selama ini dan pengembalian uang piutang dari Mas Agung, aku memberanikan diri mewujudkan mimpi dengan membangun bisnis penginapan. HopeStay sendiri adalah singkatan dari Hope dan Stay. Jadi, dengan harapan bahwa para pengunjung akan betah dan kembali lagi ke mari setiap kali mereka berkunjung ke Kota Batu yang hidup akan pariwisatanya.
Sebelum pergi ke Batu, aku ingin membersihkan kamar. Ketika aku sedang menarik selimut dan seprai di lemari, dua lembar foto yang telah lama kusimpan, terjatuh. Itu membuatku menatap benda-benda penuh kenangan itu hingga terdiam lama. Seketika aku mengenang kilasan balik setelah momen itu terjadi.
Selembar foto yang aku dan Kak Hansel ambil dari photobox di mall, beragam ekspresi lucu dan seru kami tunjukkan sebagai rasa bahagia kami.
Dan selembar lagi adalah foto wisudaku, beberapa bulan setelah kami putus. Tentu saja ekspresiku tidak bahagia terlihat jelas di foto ini.
Beberapa hari setelah kejadian Adel kabur ke terminal bus waktu itu, aku berkencan dengan Kak Hansel. Aku sudah menyiapkan segala hal untuk pindah keluar kota. Aku memutuskan Kak Hansel tepat di hari itu, setelah kami berfoto di photobox. Aku sadari bahwa aku memang sangat kejam. Sangat sangat kejam, dengan meninggalkan kenangan yang akan sulit untuk kami berdua lupakan.
"Aku ... nggak bisa sama-sama lagi," ucapku di mobilnya pada saat dia mengantarkanku pulang.
"A-apa? Kamu nggak serius kan, Mel?" tanyanya kala itu yang tampak terkejut.
"Aku sangat serius."
"Kenapa? Kita nggak ada masalah. Rasanya semua baik-baik aja. Bahkan sampai pernikahan Rara dan Rio kita masih sangat sepaham, bahwa kita saling menyayangi. Kenapa tiba-tiba begini?"
"Masa laluku buruk. Kurasa kita nggak akan bisa bersama. Kamu dosen. Orang tuamu juga terpandang."
"Karena aku dosen dan orang tuaku terpandang? Alasan macam apa itu? Terus, memangnya kenapa? Apakah karena aku dosen, aku nggak boleh jatuh cinta? Aku adalah diriku sendiri, Hansel Andarsa. Manusia biasa yang juga bisa jatuh cinta. Dan aku juga nggak pernah merencanakan kepada siapa dan kapan hatiku memilih seseorang. Kita udah bahas ini 'kan, Mel? Bukannya ini nggak masalah? Lagipula, sebentar lagi kamu wisuda, setelah itu kita bisa lebih leluasa karena nggak melanggar kebijakan kampus. Bertahanlah sebentar lagi, ya," ucapnya menatapku lembut, memberikan senyuman yang selalu aku nantikan.
"Kita nggak akan bisa berhasil...." ucapku lirih.
"Apa sih maksudnya? Aku nggak ngerti. Apa ada pria lain?" Dia memandangiku lekat-lekat.
"Nggak! Nggak pernah ada yang seperti itu." Tentu saja tidak ada lagi pria lain, karena aku hanya mencintaimu seorang. Aku telah menutup hatiku untuk pria manapun selain dirimu, gumamku dalam hati.
"Terus kenapa? Berikan aku alasan yang jelas. Bukannya kita sudah tahu perasaan masing-masing? Apa aku ada buat salah? Aku minta maaf, ya? Maafin aku, ya?" Dia menyentuh pipiku. Aku ingin memeluknya saat itu juga, tapi aku harus membuat perpisahan itu berhasil. Karena, aku sudah memilih dan mengutamakan Adel di atas segala kebahagiaanku sendiri, meski aku harus hancur sekalipun.
"Aku besok akan pindah. Sama Adel, keponakanku."
"Cuma itu? Cuma karena hal itu, kamu mau mutusin aku? Kamu nggak memikirkan gimana perjuangan kita untuk bisa bersama selama ini? Semudah itu kamu bilang mau putus dan menghilang. Kalau masalah LDR, sebulan sekali ketemu pun nggak masalah, aku yakin kita bisa hadapi ini. Ini bukan hal besar. Jadi, pikirkan lagi ya, Sayang, Please... aku sayang banget sama kamu, Mel.... Aku nggak bisa kalau harus berpisah. Kamu juga begitu 'kan? Kamu juga sayang sama aku 'kan, Mel?" Dia menggenggam tanganku. Wajahnya menggambarkan rasa takut. Takut akan kehilangan. Namun, aku tak punya pilihan lain selain melepaskan tangannya perlahan.
"Selama ini, aku hanya memanfaatkanmu." Aku melihat keningnya mengernyit. "Aku hanya memanfaatkanmu agar aku bisa menyusun skripsiku dengan baik dan segera lulus kuliah dengan nilai memuaskan. Aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu, selama ini aku hanya memalsukan semuanya. Aku sudah berjanji pada Adel akan memulai hidup baru berdua saja dengannya dan meninggalkan apapun di masa lalu. Jadi, kamu nggak termasuk di dalam rencana kami." Bisa kulihat dari tatapannya bahwa ia hancur di dalam.
Maafkan aku, ini sama tidak mudahnya bagiku. Meskipun begitu, aku harus menutupinya sebaik mungkin agar kami bisa berpisah dengan mudah. "Aku cuma mau bilang itu. Jangan hubungi aku lagi. Mari saling melupakan satu sama lain. Dan terima kasih untuk waktumu beberapa bulan terakhir. Aku pergi," ucapku lagi, keluar dari mobil dan meninggalkannya di sana sendiri. Sesaat, ia terdiam di dalam mobil seolah tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. tak lama, terdengar pintu dibuka, ia keluar dari sana dan menutup pintu dengan keras.
"Kamu kejam, Mel! Semudah itu kamu menyingkirkan aku, seolah-olah kebersamaan kita selama ini nggak ada artinya!" teriaknya penuh emosi. "Aku tahu semua ucapanmu ini bohong. Aku yakin kamu juga sayang sama aku! Aku yakin kamu nggak akan lupain aku meski kamu mencoba sebaik mungkin! Nggak akan semudah itu!"
Aku tidak menoleh dan terus berlalu. Aku tahu dia sedang menangis. Namun, aku takkan sanggup melihatnya hancur apalagi itu karena diriku.
Aku juga tidak ingin wajahku yang berantakan karena air mata ini harus disaksikan olehnya.
Maafkan, maafkanlah aku. Sungguh, aku mencintaimu Hansel. Dan akan selalu begitu.
"Selamat tinggal, Hansel Andarsa," ucapku pelan menangisi keputusanku sendiri kala itu.
Beberapa bulan setelah kami putus, beberapa kali aku kembali ke Jakarta untuk menjalani sidang skripsi. Saat wisuda tiba, aku tak bisa menghindari akan bertemu dengannya lagi. Di saat itu, kami tidak bertegur sapa, dia bahkan tidak memberiku selamat. Hanya melihatku dari kejauhan dan membuang mukanya. Aku tahu dia masih sangat kecewa. Dan hatiku terasa perih juga hancur.
Aku tidak bisa menahan perasaan rinduku yang sudah sangat meluap, tapi ketika melihatnya mengacuhkanku, hatiku tak bisa berbohong. Bahwasanya, aku masih sangat mencintainya. Namun, aku paham ini semua adalah salahku yang memutuskannya dengan mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan, kata-kata yang sengaja kukatakan agar ia membenciku. Agar aku bisa mengikhlaskannya tidak bersamaku dan mungkin menemukan wanita yang lebih baik.
Begitu acara selesai, aku sudah tak tahan lagi dan tangisanku pecah ketika aku pergi ke toilet. Rasanya hancur sekali, seperti mengiris-iris hati. Setelah hari itu, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi dan menerima kemungkinan bahwa dia sangat membenciku...
.
.
Bersambung...
...Copyright by Ine Young, 2021...