FAITHFULLY YOURS (BSBB)

FAITHFULLY YOURS (BSBB)
Bab 5



...Bab 5 | Faithfully Yours...


"B-bagaimana caranya? Tolong beritahu saya."


Ibu itu berdiri lalu menatapku dengan tatapan penuh harap. Ia menunggu jawabanku untuk mengatakan hal apa yang sedang berusaha kutawarkan. Akhirnya, aku mengatakan padanya bahwa aku adalah seorang teman kencan sewaan yang secara teknis 'sama' seperti selingkuhan suaminya. Ya. Reaksinya bisa ditebak. Kedua matanya terlihat membelalak.


"Bagaimana kamu bisa menolong saya dengan itu?" tanyanya kini memicingkan mata, menjaga jarak.


Aku menjelaskan sistem kerjaku padanya, di mana mula-mula aku akan menyingkirkan perempuan itu dan menguras uang serta harta kekayaan lain yang suaminya simpan. Lalu, mengembalikan hasil rampasan itu kepada dirinya dengan imbalan fee dan persenan. Ibu itu tampak tertarik dengan opsi yang kuutarakan. Namun, seketika aku ingin menarik kembali kata-kata yang telanjur kuucapkan. Aku ini ingin berhenti, mengapa malah menawarkan diri lagi?


"Ah, tidak, tidak. Ibu tidak mungkin suka dengan usul saya." Aku menarik kembali ucapanku barusan, tapi ia menggenggam tanganku dan menahan agar aku tidak pergi begitu saja. Maka, aku mengatakan sesuatu yang kuharap membuatnya berpikir ulang bahkan mengurungkan niat.


"Apakah Ibu baik-baik saja jika suami Ibu meminta saya untuk melakukan hal yang 'pasangan dewasa' biasa lakukan? Dengan memberikan materi dan barang mewah, pasti ada timbal balik yang diharapkan oleh seorang pria dewasa seperti suami Ibu." Aku terpaksa mengatakannya supaya Ibu ini menolak.


Kini, aku merasa telah memulai sesuatu yang amat salah. Mungkin ini bukan solusi yang baik dan memang tak pernah baik untuk menjadi sebuah jalan keluar. Aku berubah pikiran.


Tampaknya, ia mengerti benar ke mana arah pembicaraanku. Tatapannya menerawang, mungkin sedang menimbang keputusan yang harus ia buat. Apakah ia akan menyetujui atau malah memandangku jijik? Tolak. Ayo, tolak, Bu.


Ah, sudahlah. Tidak ada waktu untuk hal seperti ini lagi. "Maaf, Bu, anggap saja saya asal bicara. Saya masih ada urusan, saya pergi dulu, ya."


"Tunggu!" Tangannya menarik pergelangan tanganku hingga membuatku terhenti. "Saya masih menimbang-nimbang. Jika tidak jadi pun, biarkan kita berteman. Ini kartu nama saya. Jika sempat, datanglah main untuk sekadar berkunjung." Ibu itu menyerahkan kartu namanya. Grace Bella, pemilik butik Bella Donna Mode. Oh, aku tahu butik ini. Pakaian yang dijualnya terbuat dari bahan premium, sangat cantik dan juga mahal tentunya. Tampaknya, aku mendapatkan calon teman tak sebaya yang berkelas.


***


Pagi ini aku berencana mengajukan pergantian dosen pembimbing. Kaus T-shirt jarang diterima untuk dipakai di perguruan tinggi, oleh karena itu aku memakai sebuah kemeja putih dengan brukat di lengannya dan midi long skirt berwarna abu-abu tua. Sepasang sepatu dengan hak pendek berwarna senada dengan kemejaku juga telah kukenakan. Niatku sudah bulat untuk mengganti si dosen meshoom itu. Semoga saja pengajuanku disetujui dan mendapatkan dosen pembimbing dengan nyaman untuk membantuku menyelesaikan Tugas Akhir.


Sejujurnya, aku mulai lelah berurusan dengan dunia Mia. Aku sudah sangat ingin lulus dan bekerja dengan benar. Mengapa begitu sulit untuk memiliki hidup yang normal sebagai diriku yang sebenarnya? Apakah hidup yang ideal itu benar-benar ada? Letih rasanya menjalani satu kehidupan dengan dua pribadi yang berbeda.


Saat melangkah masuk dalam mobil dan menaruh sebuah map di kursi penumpang, tiba-tiba sebuah panggilan dari Bu Indri—Wali Kelas Adel—membuatku bertanya-tanya. Tidak biasanya Bu Indri meneleponku.


Kuangkat panggilan itu dan Bu Indri menyampaikan sesuatu yang membuatku terkejut. Adel berkelahi dengan teman sekelasnya dan sekarang telah berada di ruang guru. Aku segera menuju sekolah Adel dan berharap tidak ada kemacetan di depan sana.


Hampir satu jam lamanya aku mengendarai mobil dan akhirnya tiba di gerbang sekolah Adel. Aku langsung menuju ruang guru. Ketika berada di ambang pintu, Bu Indri langsung melihat ke arahku. Tampak di sana, sepasang orang tua yang sepertinya adalah ibu dan ayah dari murid yang berkelahi dengan Adel. Bu Indri menceritakan kronologisnya kepada kami, bahwasanya Adel terlibat keributan dengan Citra, teman sekelasnya ketika pelajaran musik sedang berlangsung di ruang musik. Tunggu. Citra? Bukannya itu adalah teman Adel yang mengatakan hal buruk tentangku?


Bu Indri mengatakan bahwa saat itu mereka sedang praktik mata pelajaran seni musik menggunakan gitar. Ketika mengambil gitar, kaki Adel tersandung hingga tak sengaja menyenggol Citra. Tak pelak, senar gitar yang sedang distem Citra terlepas dan mengenai pipinya sendiri. Itu membuat Citra meraung kesakitan dan kemudian marah. Ia merampas gitar yang dipegang Adel untuk menggantikan gitarnya yang terlepas senarnya. Adel mempertahankan gitarnya, lalu Citra tak terima dan mendorong Adel. Saat itulah Adel membalas dengan balik mendorongnya.


Aku mengembuskan napas panjang ketika mendengar kronologis yang diceritakan Bu Indri. Setahuku, Adel jarang berkelahi dan jika dia sampai berkelahi berarti ada hal yang benar-benar mengganggu dirinya. Kuperhatikan wajah Adel dan Citra yang tampak terluka. Rambut keduanya terlihat kusut. Di pipi Citra ada segaris merah yang jelas adalah segaris bekas senar gitar. Di tangan kirinya pun ada luka goresan. Di leher Adel terlihat sebuah luka cakar dan sudut bibirnya juga terluka.


Aku segera minta maaf kepada Bu Indri atas kejadian tersebut dan menjelaskan bahwa Adel hanya mempertahankan dirinya. Namun, tiba tiba ibu Citra menyanggah dan menatapku tajam. "Kamu kakaknya Adel, 'kan??" tanya ketus.


"Bukan. Saya tantenya," jawabku.


"Ya, sama sajalah. Dengar ya, kamu bisa ajarin Adel itu sopan santun, nggak sih?? Lihat anak saya jadi begitu karena apa? Karena dia!" tuduh wanita tinggi berambut merah sepundak itu.


Bu Indri berusaha menenangkan ibu dari Citra yang berkomat-kamit kesal merutuk kami. Apa ini tidak salah? Bukannya seharusnya yang marah itu kami? Aku tidak bisa tinggal diam. Sudah jelas bahwa Citra yang melakukan penyerangan lebih dulu atas ketidaksengajaan Adel. Lalu, kenapa hanya Adel yang disalahkan?


"Sudah, sudah! Tolong tenang dulu semuanya. Kita tidak mencari siapa yang salah atau siapa yang benar. Yang harus kita lakukan adalah meluruskan dan memperbaiki keadaan, bukan malah memperkeruh suasana. Sebagai orang tua Citra dan Wali dari Adel, seharusnya Bapak dan Ibu bisa lebih bijak dan memberi contoh yang baik. Bukannya malah ikut-ikut berkelahi!" Alis mata Bu Indri bertaut. Suara tegas dan mimik wajahnya yang serius membuat kami terdiam dan menyimak perkataan Bu Indri.


"Adel, Citra. Ini hanya sebuah kesalahpahaman. Di dalam kelas, kita perlu menciptakan suasana yang nyaman dan kondusif. Jika berkelahi, siapa yang akan rugi? Kalian sendiri. Suasana belajar jadi tidak nyaman dan kalian tidak bisa belajar dengan baik," kata Bu Indri pada Adel dan Citra. "Sekarang Ibu akan meminta kalian merapikan ruangan musik, tapi sebelumnya Ibu akan memotong poin sekolah kalian berjumlah 35 poin masing-masing," ujar Bu Indri.


"Jangan, Bu! Tolong, jangan dipotong, Bu," pinta Adel yang memohon dengan mengatupkan kedua tangan di depan wajahnya. Ia terlihat berkaca-kaca.


Poin yang diberikan oleh pihak sekolah pada setiap murid adalah sejumlah 100 poin. Jika ada kesalahan yang dilakukan, maka poin akan dipotong. Sebaliknya, jika melakukan hal yang baik dan berprestasi, maka poin akan bertambah. Poin yang berkurang akan membuat murid mendapatkan hukuman. Jika terus berkurang hingga habis? Bersiaplah dikeluarkan dari sekolah.


"Jangan meminta maaf sama Ibu. Pahami di mana salah kalian dan renungi perbuatan barbar kalian itu," ujar Bu Indri.


Adel dan Citra saling menatap. Merenungi kata-kata Bu Indri, mereka terlihat setuju untuk saling berbaikan dan kini bersalaman. Bu Indri pun melihat inisiatif baik dari keduanya dan hanya memotong 15 poin masing-masing.


Pada akhirnya, aku juga menyalami orang tua Citra, tapi ibunya seolah tidak tulus melakukannya. Apa aku peduli? Tidak. Satu-satunya orang yang kukhawatirkan adalah keponakanku. Titik.


Setelah serangkaian kejadian yang cukup memancing emosi ini berakhir, Bu Indri mengizinkan kami pulang. Aku pun mengajak Adel berbincang di luar ruangan sebentar ketika semua orang telah pergi. Aku hanya ingin tahu apa yang dia rasakan saat ini.


"Adel, Tante sedih, loh, lihat Adel begini," ucapku mengamati lukanya.


"Tante, beneran Adel nggak sengaja kesenggol Citra. Terus dia malah marah dan ngata-ngatain Adel. Padahal Adel sudah minta maaf."


"Iya, tapi apa kalian harus kelahi dan luka-luka begini?"


"Dia yang mulai, Tan. Awalnya Adel nggak mau balas, tapi bicaranya nyebelin banget. Adel jadi kesal," jelas Adel berapi-api.


Di satu sisi, aku cukup mengapresiasi karena Adel bisa mempertahankan diri, tidak hanya pasrah berdiam diri. Tapi, ini sekaligus membuatku penasaran pada apa yang Citra katakan pada Adel, hingga Adel marah dan berbalik menyerangnya.


"Memang dia bilang apa?"


"Dia bilang Tante suka jalan sama Om-Om, terus Adel dimasukin ke asrama biar Tante bisa mudah keluyuran malam-malam. Itu nggak bener, 'kan, Tante?" lontar Adel meyakinkan.


Aku benar benar terkejut. Kenapa Adel bisa mengalami perundungan seperti itu? Lebih terkejut lagi karena akulah penyebabnya. Aku terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Hanya berpikir, betapa buruknya diriku menjadi seorang tante bagi Adel. Kejadian ini tentunya juga menyakitiku.


"Adel selalu bangga ngasih tau ke temen-temen, kalau Tante berjuang buat bayar sekolah Adel. Meski nggak punya Papa dan Mama lagi, tapi ada Tante yang selalu mendukung. Itu sudah cukup. Adel nggak terima aja kalau ada orang yang ngomongin macam-macam tentang Tante," timpalnya.


"Adel ...." Aku menggenggam tangan Adel erat. Sangat erat. Betapa bahagia sekaligus mengirisnya kata-kata Adel di telinga dan hatiku. Maaf ... maafkan Tante, Del. Sejujurnya, Tante berdosa padamu. Maaf, Tante belum bisa menjadi Tante yang baik.


Usai mengantar Adel ke UKS untuk mengobati lukanya, pihak sekolah memintaku mengganti kerusakan yang Adel dan Citra perbuat. Cukup adil karena dendanya dibagi dua bersama orang tua Citra. Hari itu aku pulang dengan pikiran yang kusut. Aku bahkan sampai lupa bahwa tadi aku berniat untuk mengurus masalah kuliah.


Sungguh, kejadian ini membuatku semakin ingin keluar dari dunia yang Mia jalani. Aku tidak mau Adel menjadi korban atas perbuatanku. Aku juga ingin menghasilkan uang secara benar dan berhenti menjadi Mia, selamanya. Bisakah? Bolehkah?


***


Bersambung ...