ESTHER!!!

ESTHER!!!
CHAPTER |2|



**Maaf akan penyebaran typo dan EYD yang sangat kurang!!! Terimakasih telah mampir dan mau membaca ceritaku....


*Happy Reading!!! I hope you like it***!!!


____


"Mereka hanya tak tahu tentang mu dan memang tak perlu tahu. Karena percuma mereka tahu, mereka tak akan mengerti"


--RainHalimah--


Setelah melakukan presentasi Esther pun pergi untuk pulang ke keluarga Azreneida. Ya tentu jika tak ingin dia dimarahi oleh para penghuni rumah itu.


Esther menaiki bus yang biasa ia naiki menuju rumah 'neraka' itu. Ingin rasanya dia memberikan pelajaran pada para penghuni nya. Buka itu saja, para pembantu di rumah itu pun tak ada yang pernah menghormatinya. Bukannya dia gila hormat tapi seenggaknya lah mereka ( memberiakan sedikit kasih sayangnya).


Namun sayang itu hanya mimpi yang tak kan pernah menjadi kenyataan.


Sesekali Esther merasa tersiksa namun apa daya dia masih belum mempunyai kekuatan penuh dari 'pihak lain.


Mengingat bagaiamana kejadian yaang sering diaa alami dirumah itu membuatnya ingin langsung membunuh mereka tanpa sisa. Persetan dengan kata keluarga Esther tak peduli. Yang dia pedulikan dia hanya akan balas dendam. Ya, dia akan membalas semuanya. 


Setengah jam kemudian Esther telah sampai di depan gerbang rumah atau orang biasa menyebutnya mansion. Apa bedanya ya, mansion ama rumah? Ntahlah author pun tak tahu.


"Pak, Eko. Esia mau masuk bisa pak Eko bukain" ucap Esther dengan senyuman terukir diwajah lembutnya itu.


Orang yang dipanggil 'pak Eko' itu pun lansung membukakan gerbang untuk sang nona mudanya. Ya, pak Eko memang baik pada Esther, jadi dia tidak ada dalam daftar orang yang akan dia balas.'


Kadang pak Eko juga berfikir mengapa keluarga ini terus menyiksa Esia alias nona mudanya? Kadang juga dia merasa kasihan ketika majikannya meyiksa Esia, mau gimana lagi ingin menolong nya pun tidak bisa dia harus ingat posisinya di tempat ini.


Mengapa keluarga ini menyiksa Esia? Padahal Esia gadis baik hati, lemah lembutdan penurut. Fikir pak Eko.


Hebat kau Pak Eko, kau tak tahu siapa yang kau puji baik hati dan lemah lembut!!!? Sungguh suatu perkataan yang mengandung unsur fitnah yang sangat keji!!


Esther hanya terkekeh geli saat mendengarkan bagaimana pak Eko jika bertemu dengan nya selalu memujinya dengan kata kata manis, seperti.


'Non, mah selalu begitu padahal keluarga ini jahat pada non. Non memang baik hati, lemah lambut penurut. Tidak seperti nona kedua yang selalu menyiksa dan menindas pada yang lemah'  apa orang disini (orang yang ada di mansion termasuk pembantu) matanya katarak sehingga tak dapat membedakan mana yang baik mana yang buruk' ucapnya kala itu.


'Sudah lah pak Eko Esia tak apa-apa. Pak Eko terlalu berlebihan'


'Non yang tak apa-apa sedangkan bapak sakit hati. Teganya mereka sama anak sendiri memperlakukan non seperti binatang. Coba aja saya punya putri kayak non pasti saya bangga'


Esther hanya tersenyum kecut medengar penuturan pak Eko kala itu. Masihkah ada orang yang menyayanginya?


.


.


.


"Terimakasih pak Eko!" ujar Esther setelah pak Eko membuka pintu gerbang.


Sekarang sudah sore, kemungkinan besar ralat tapi pasti dia akan dihukum karena pulang telat. Tapi lihat apa saja yang bisa mereka lakukan padanya.


Esther berjalan menuju pintu bercat putih itu. Dengan tatapan dingin Esther berjalan santai. Saat setelah memegang gagang pintu rumahnya mimik wajanya berubah menjadi seorang Esia.


Eather melangkah takut kedepan ralat pura-pura takut. Dengan gemetar dia terus berjalan. Di ruang keluarga terdapat seseorang yang merangkak menjadi orang tuanya juga kakaknya.


Dia adalah


-Melany Azreneida (mama Esther)


-Anton Azreneida (papa Esther)


-Robert Antony Azreneida ( kakak pertama Esther)


-Laura Antony Azreneida ( kakak kedua Esther)


Itu pun kata mereka!


Eather berjalan melewati mereka tanpa ada sapaan. Inilah niatnya untuk membuay mereka kesal terhadap dirinya.


Pasti seru! Setelah melakukan ini pasti mereka akan segera menyerangku!


"Hei kau berhenti!" Teriak Anton saat melihat Esther melewati mereka. Namun yang dipanggil hanya acuh dan melanjutkan perjalananya menuju tempat yang disebut kamarnya. Ya, kamarnya? Kamar pembantu.


"Esia papa bilang berhenti" tegasnya lagi. Esther pun langsung berhenti dan menatap papanya dengan takut kemudian menunfuk saat merasakan suhu ruangan tiba-tiba mencekam. Esther berjalan menuju Anton dengan gemetar.


"Ada apa pa?" tanya Esther ekstra hati-hati.


"Kau kemana saja baru pulang heh? Kakakmu Laura sudah pulang dari tadi. Dia bilang kau tidak masuk kuliah kau kemana?" tanyanya dingin. Esther diam kemudian dia menjawabnya dengan gugup.


"Esia kerja pa, untuk kuliah Esia" bohong Esther. "Untuk apa kau kerja bukannya papa selalu berikan jatah padamu"


"Mungkin di pake poya-poya pa" sahut Laura yang ntah kapan sudah berdiri disampaing Anton. Ntahlah Laura selalu iri jika Anton perhatian pada Esther. Esther pun tau meski Anton tidak memperlihatkan kasih sayangnya dia tahu Anton menyayanginya meskipun dengam cara menindas. Tapi dia tetap termasuk pada buku hitam Esther.


"Nggk...pa.."


"Mana ada maling ngaku pa, Esia tidak sepolos yang papa kira" ucapnya lagi. Melany dan Robert hanya menguping interaksi ketiga maknhuk ini dengan diam. Melany tersenyum puas sedangkan Robert hanya menatapnuy datar.


"Papa kecewa sama kamu Esia. Kau sungguh anak tak tahu diuntung. Seharusnya kau bersyukur dapat hidup dengan keluarga Azreneida" ucap Anton. Esther berdecih. Nyesal dia telah menyebut Anton bahwa memiliki kasih kasayang. Papa macam apa ini? Membedakan kedua putrinya. Dan mama macam apa yang melihat tanpa membelanya.


Fix! Dia akan membunuh semuanya!


Bersyukur apanya, lama-lama dia bisa mati.


"Maaf in Esia pa. Tapi bener Esia gak punya uang buat kuliah jadi selama sebulan ini Esia kerja"


"Bukannya papa selalu kirim uanga pada kamu" Eaia menggeleng."Melany apa kau selalu memberikan uang pada Esia?"


"Tentu dong mas" jawab Melany kemudian berjalan menghampiri suaminya. Dan berkat mabis bahwa dia selalu.memberikan uang bualnan pada Esther.


"Kau berani berbohong Esia, kau malam ini tidak ada jatah makan" tunjuk Anton pada Esther. "Tapi pa.." belum Esther melanjut kan Anton lebih dulu menyahut" aku tak mau mendengar alasanmu"


Skip.....


Braak...


Suara bantingan pintu terdengar begitu keras. Esther dapat mengetahui pelakunya.


"Esia apa yang kau bicarakan heh?" bentak Melany. Ya orang yang membanting pintu itu adalah Melany.


"Eh, mama. Apa ada yang bisa Esia bantu? Sehingga mama rela masuk ketempat kumuh seperti ini?" itu tak layak disebut kamar. Bahkan kamar pembantu pun lebih bagus daripada kamar nya.


"Kau berani menjawabku?" tanya Melany mulai naik darah. Bagaimana mungkin gadis penakut itu bisa menjawab perkataanya bahkan dengan dingin dan acuh dia tidak seperti Esia yang dikenalnya.


"Bahkan aku bisa saja membunuhmu sekarang" ucap Esther dingin. Ntah dari kapan  pintu itu sudah tertutup dengan rapat. Esther berjalan dengan tatapan dinginnya penampilannya memang agak berantakan saat ini. Rambut kepangan duanya sunghuh berantakan. Kacamata yang selalu bertengger manis kini sudah hilang. Matanya yang menatapa nyalang serta lingkaran hitam yang melingkari matanya membuat Esther lebih menyeramkan.


Awalnya Melany hanya ingin menggertak Eather. Namun melihat dia saat ini nyalinya tiba-tiba menciut. Melany berangsur-angsur mundur hingga dirinya terjebak dengan pintu yang ntah kapan sudah tertutup sempurna. Melany pun tak.menyadarinya.


"Aku akan membunhmu dan seluruh keluarga mu" ucap Esther kemudian. Tangannya siap mencekik Melany. Melany ketakutan" jika kau menyentku aku akan berteriak" ancam Melany namun tak membuat Esther ketakutan dia malah menyeringai.


"Teriak lah! Itu tak akan membuatku berhengi untuk melenyapkan mu"  Tangan Esther sudah mencekik leher Melany. Melany ketakutan keringatnya sudah keluar. Napasnya terengah-engah. Wajahnya sudah memerah pertanda bahwa dia butuh asupan oksigen.


Esther tertawa terbahak-bahak melihat mangsanya yang beberapa menit lagi akan kehilangan nyawanya.


Dengan sekuat tenaga Melany berteriak mencoba melepaskan tangan Esther. Namun tidak bisa Melany menangis Esther bahagia. Saat cekikan itu semakin keras....


"Aaaaaakkkkkhhhhh" Teriaknya kesakaitan.


Ya, dia sedang bermimpi dan sialnya mimpi itu terasa nyata. Anton mendengar teriakan isterinya membuat dia terbangun dari tidunya. Anton menoleh kearah samping melihat sang isteri yang menangis tersendu-sendu.


"Kau kenapa," tanya anton Lembut sambil mengarahkan tubub Melany dalam pelukannya.


"Aku....aku..." Melany tak bisa melanjutkan kata-katanya. Mimpi itu terasa nyata.


"Kau tenang" Melany pun menurut serasa tangisannya mulai reda Anton membalikan tubuh Melany kemudian menghadpanya.


"Tenang lah sayang"


"Aku tadi bermimpi Esia. Dia? Dia... Ingin membunuhku, mencekikku kemudian dia mengancam akan membunuh kita semua" ucap Melany bergetar ketakutan. Anton masih menyadarkan Melany bahwa itu hanyalah sebuah mimpi.


Namun pikiran Melany berbeda. Mimpi itu terasa akan menjadi kenyataan.


__________


"Nona, bisakah kau ke kantor sekarang?" ucap Liona disebrang sana.


Esther mengerinyit bingung mengapa sekretasinya malam-malam menelponnya. Dan apa katanya? Masalah? Apakah sebesar itu sampai Liona tidak bisa mengatasinya.


Eather pun mengikuti permintaan Liona. Dia keluar dari rumah terkutuk itu secata sembunyi-sembunyi.


Sekarang pukul sepuluh lewat. Esther keluar tidak lupa dia mengunci kamar nya dari dalam lalu pergi keluar melewati jendela.


🍁🍁🍁


_Aku lelah harus pura-pura Seperi ini_


--Esther--


__________


SALAM


__________


RAIN HALIMAH