ESTHER!!!

ESTHER!!!
CHAPTER |10|



Ada rasa yang tak bisa diungkap kan dengan kata-kata. Tersirat namun tak terlihat"


RainHalimahπŸ‚


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Nama saya Theresa. Nama pemberian dari orang tua saya. Dan ketika anda mengkritik saya, Mencemarkan nama baik saya dan dari saat itulah anda telah bermain dengan saya.Β  Saya memang hanya seorang gadis dan sarjana pun saya belum lulus. Dan kalian bertanya saya bisa mendirikan perusahaan ini? Theresa? Pikiran orang itu tidak sempit. Mereka mempunyai pemikiran yang berbeda-beda. Mungkin nama ini yang cocok untuk saya. Dan dengan mudahnya anda mengklaim bahwa nama saya adalah nama dari orang lain yang sukses dengan nama Theresa. Terserah anda ini hidup saya saya tidak peduli" Damn! Esther menyindir orang itu.


Para wartawan hanya diam saat mendengar penuturan Esther. Mereka sangat yakin bahwa Theresa tersinggung akan isue ini.


Dalam hati Esther dongkol, bagaimana tidak Zarcalio yang dia hubungi tidak mengindahkan perintahnya. Apa dia ingin mati? Kalo bukan didepan publik, rasanya saat ini juga rasanya Esther ingin mencabik-cabik wajah-wajah polos dihadapannya ini.


.


.


.


Kasus selesai, pencemaran bama baik kini telah selesai dan orang yang telah menyinggung Esther telah mendapatkan ganjarannya. Siapa pun yang berani berlawanan dengannya Esther siap melayani. Sekalipun seorang presiden! Mungkin, hehe😁


Dia, orang itu yang telah menghancurkan namanya. Dan telah Esther balas dendam.


Esther si kejam, Esther Cruel.


Jangan salahkan Esther yang menjadi kejam. Namun mereka yang membuat dirinya naik pitam. Tak lerlu kusebut kan bagaimana Esther menghajar orang itu, yang pasti Kalian harus percaya padaku akan kejadian ini.


.


.


.


Sejenak lupakan tentang pencemaran nama baik. Kini beralih pada cerita lain...


.


.


.


Setelah kejadian pencemaran nama baik. Esther mendapatkan hidayah untuk pulang ke rumah Antony Azreneida.


"Kau selama ini kau kabur dan sekarang berani sekali kau menginjakan kaki kotormu itu diruma ku" cecar Melany. Esther tersenyum miring mendengar ucapan Melany.


Apa katanya? Rumahnya?


"Apa kau sedang bermimpi tante?" ujar Esther menekankan kata-katanya.


Tante? Melany tampak berfikir, apa yang dimaksud dengan tante? Apa dia mengetahui semuanya?


Seakan Esther cenayang Esther pun berucap "Ya, aku mengetahui semuanya, kenapa? terkejut?"


Anton, Melany, Robert serta Laura memandang Esther dengan sorot tajam. Dia tahu Esia yang polos itu kini sudah mengetahui semuanya. Namun ini adalah kesempatan bagi mereka untuk menggertak Esia dan menyuruhnya untuk menandatangani surat wasiat itu. Namun satu hal yang selama ini tak mereka ketahui, bahwasannya orang yang berada dihadapannya ini adalah seseorang yang sudah berbeda.


"Oh, kau sudah tahu!" ucap Anton seraya tersenyum miring. Senyuman itu menunjukkan rencana licik yang akan dikeluarkan nya. Esther tak bodoh dia tahu pikiran pria didepannya ini.


Tanpa ba bi bu lagi seseorang dengan berpakaian serba hitam berjalan menuju Anton lalu memberikan sebuah kertas. Anton segra memberikannya pada Esther.Β  Esther mengerutkan alisnya tanda dia bertanya, apa yang akan dilakukan pria ini terhadapnya?


"Tanda tangani surat ini maka kau akan baik-baik saja" ujar Anton. Esther, kesadarannya telah kembali, heh.... dia tak bodoh ku katakan lagi bahwa dia tak bodoh. Gadis itu tersenyum miring tapi meski begitu dia mengambil surat itu lalu bertanya "Surat apa ini?" dia bertanya tanpa membaca, 'Gue lagi males baca'


Semuanya diam namun Melany segera berkata "Kau sudah tahu bahwa kami bukan orang tua mu, jadi untuk apa kami berpura-pura lagi. Tanda tangani surat itu maka kau akan selamat" Ucapnya dengan penekan diakahir kalimatnya.


Dengan senyum mengejek dia melihat semua orang yang hadir. Mau menggertaknya?


"Kalo aku gak mau?" Esther berniat untuk menaikan emosi mereka. Dan benar mereka nampak emosi apalagi Melany dan Laura, ibu dan anak ini, spesies dan gen dari ibunya melekat penuh dalam dirinya.


Sedangkan Robert dan Anton mereka memperlihat kan wajah kesalnya. Sejaka kapan anak ini jadi pembangkang? Dia selalu melihat Esther turut padanya. Kata-katanya. Dan sekarang? Anton tampak tak mengenali perempuan itu, meski dengan gaya yang sama namun ada sedikit sipat yang berbeda.Β  Esia, Theresa, Esther. Tentu Anton tidak mengetahui nya.


"Esia, aku katakan sekali lagi tanda tangani atau kau tak selamat...se.."


"Seperti yang kalian lakukan terhadap orang tuaku" ucapan Melany terpotong.


Dia Esia mengetahuinya? Mereka kira rahasia ini tak diketahui oleh Esia. Mungkin mereka kurang mencerna baik kata-kata Esther dari awal mengetahui semuanya.


"Aku tidak akan membiarkan harta warisan keluarga ku, keluarga Theresa diberikan pada orang lain. Sekalipun itu adalah adiknya sendiri. Apalagi orang yang telah membunuhnya" ucap Esther panjang x lebar.


Semuanya diam lagi, Esther tersenyum tipis. Wajah dengan kacamata bulat itu memperlihat kan sisi misterius nya.


Dia Esther si kejam. Sudah muak dengan semua ini dan Esther ingin mengakhiri semuanya. Dia lelah meski hanya akting. Namuan seseorang juga mempunyai batasan kemampuan mereka dan tidak akan pernah abadi.


Melihat raut wajah mereka yang menampilkan eskperesi marah. Esther menatap satu-persatu. Dari raut wajah Antony yang melihatnya tajam. Melany yang sedang menahan amarahnya dan menggigit kecil bibirnya. Laura yang kesal dengan wajahnya yang cemberut.


Dari ketiga orang itu raut wajah Robert yang terlihat tidak terganggu. Tenang dengan wajah datarnya. Ya hanya dia yang tak pernah melakukan kekerasan terhadap Esther. Namun meski begitu Esther harus terus berjaga-jaga, bisa jadi dibalik wajah tenang itu terdapat ribuan pisau yang siap menghancurkannya.


Arah haluan menjadi berubah. Wajah marah Anton kini menampilkan senyum miring saat dirinya teringat akan satu rencananya. Ya, mungkin dengan cara seperti ini berhasil. Seratus persen, mungkin.


Melihat senyum suaminya Melany pun tersenyum sama. Dia tahu apa yang dipikirakan suaminya itu...


Laura, hanya menatap bingung terhadap orang yang disebut ayah dan ibunya. Garis hitam terlihat dikeningnya. 'Kali ini rencana apa yang akan mereka lakukan untuk menghancurkannya?'


Namun satu hal yang mereka belum ketahui semua orang termasuk Esther sendiri.


Laura menatap sendu pada Esther meski hanya sekian detik. Laura adalah tipikal cewek bukan pendendam. Dia sebenarnya kasihan terhadap Esther lebih tepat nya menyayangi Esther. Bagaimana pun Esia adalah sepupunya. Sekuat apapun mereka menentang namun hukum tetap hukum. Saat dirinya dipaksa oleh ibunya untuk menyiksa Esia, dia selalu menyesal. Seharusnya dia membela gadis polos itu. Dia terlalu takut untuk menentang sang ibu dia mengancam bahwa dirinya tidak akan diakui sebagai anak Antony.


Bukan bukan itu yang Laura takutkan bukan karena dia tidak ingin diakui sebagi keluarga Antony. Namun di rumah itu masih terdapat Esia, setidaknya dia masih bisa memeperhatikan Esia, meskipun dari kejauhan.


Dia selalu memandang sedih tubuh yang selalu disiksanya. Ingin rasanya dia melindungi Esia. Namun melihat sikap Esia yang sedikit berbeda ada rasa senang dalam dirinya. Ada juga rasa cemas dalam dirinya takut bahwa Esia akan membencinya. Dia tak pernah memperlihatkan kasih sayanganya. Ini juga kesalahan dirinya dan harus menanggung konsekuensi nya. Mungkin di masa depan dia harus memperbaiki semuanya. Mungkin....


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Vomentnya!


SALAM


___________


RAIN HALIMAH