ESTHER!!!

ESTHER!!!
CHAPTER |11| Cia-nya Ura



**Maaf akan penyebaran typo dan EYD yang sangat kurang!!! Terimakasih telah mampir dan mau membaca ceritaku....


Happy Reading!!! I hope you like it**!!!


______


Semua nya terasa cepat. Dan di sinilah Esther berada. Dalam keadaan terikat di balik kursi yang di dudukinya. Masih dalam keadaan pingsan serta tak lupa luka-luka yang didapatnya. Memar itu membiru dan luka sayatan di wajah cantiknya. Esther mengutuk tingkah bodohnya ini. Ini salahnya iya salahnya....


Jika tadi dia tak tertipu oleh Anton Melany paatei dirinya tidak akan berada ditempat ini.


Sebelum seperti ini, Anton menyekap orang tuanya. Dan agar di bebaskan Esther harus menandatangai surat pengalihan harta ke tangan Antony. Awalnya Esther tak percaya bahwa yang dilihat itu orang tuanya. Dan Esther menyetujuinya.


Bodohnya Esther harus percaya omongan Antony sehingga dirinya di sekap. Orang tuanya? Yang penting Esther mengakui kebodohannya, ya jelaslah itu bukan.orang tuanya, ya udah mati ogeb.


Tapi ada hal lain yang menyenangkan, tanda tangan itu! Tanda tangan itu memang asli miliknya. Namun satu hal yang mereka tak ketahui. Meskipun sudah memiliki tanda tangnnya itu tak dalam artian harta keluarga'Theresa jatuh pada Antony.


Karena apa? Karena pin atau tanda pengenal keluarga Theresa masih dengan namanya. Dan pin itu berada di tangan kakek nya. Sial...kalo mereka lebih cepat darinya, ntah lah yang dulu diperjuangkan harus di miliki orang lain. Dan Esther tak ingin itu terjadi. Bukannya dirinya gila harta namun senggaknya harta itu adalah milik keluarga Theresa.


Dan jalan satu-satunya adalah keluar dari tempat terkutuk ini...


.


.


.


Berbeda dengan Esther yang masih berpikir, Laura memandang kota itu dengan tatapan kosong dari balkon kamarnya. Semuanya berakhir dan mamanya yang gila harta itu terus menguras tenaganya, harus ini--lah harus itu--lah. Tapi itu hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Sedangakan dirinya di jadikan budak mamanya. Bahkan Laura pernah berfikir bahwa Melany bukan mamanya.


Memikirakan hal ini membuat dirinya teringat akan masa itu, masa yang membuatnya bahagia. Tawa yang selalu dinantikannya---hilang. Dan setelah ingin memperbaiki semuanya akan usai.


Memandang langit malam yang begitu gelap. Tak ada penghias untuk kelamnya langit.... Melihat ke bawah pada sebuah taman mini yang indah dipenuhi bunga itu. Mendesah pelan ,ingatan itu hadir kembali.


"Kak Ura, Cia beli peremen mau?" Ucap Esia kecil sambil berlari menuju Laura kecil yang sedang duduk di kursi taman rumahnya. Laura tersenyum manis.


Ingatan lainnya menghampiri...


Dia ingat mamanya selalu melarangnya bermain bersama Esia-nya. Bahkan saat mamanya menyiksanya dia hanya bisa menonton, Laura pernah ikut andil menyiksa Laura itupun karena paksaan sang mama.


Mama macam apa yang mengajarkan keburukan pada anaknya?


Memperhatikan Esia dari kejauhan, bahkan saat mamanya mengurung Esia dia selalu menyuruh para pelayan untuk memberikan makanan pada Esia.


Hingga pada saat hari ulang tahun Esia ke sepuluh mamanya tahu bahwa dirinya akan memberikan makanan pada Esia yang tengah dikurung, mamanya melarangnya mentah-mentah yang ada dirinya yang kena amukan sang mama. Lalu bagaimana sikap papanya? Ntahlah papanya itu tak pernah peduli padanya.


Dan tekad nya di mulai dia seharusnya tak takut yang namanya penyiksaan!!


Keluar kamar berjalan menuju lantai bawah menuju lorong sepi dimana Esther didekap.


Laura menegang knop pintu yang sialnya dikunci. Mencari cara agar bisa membuka pintu itu, karena percuma mencari kuncinya pasti mamanya menyimpan dengan rapat.


Paku! Lalu Laura mencoba membukanya dan,trek...kunci pintu yang di gembok itu terbuka.


Melihat pandangan kedepan, dia Esia-Cia kecilnya sedang diikat dan sekarang dirinya sedang pingsan. Pikir Laura....


Namun sebenarnya bukan pingsan oke! Esther hanya ngantuk, jadi rencananya dia mau kabur tapi karena nagntuk dia pun memutuskan untuk tidur terlebih dahulu. Tanpa bantuan laura pun dirinya bisa melarikan diri. Masa ketua gengster kagak tahu yang kek ginian.


Laura bersimpuh dan berlutut pada Esther yang dipikirnya sedang pingsan. Menangis!! Laura menangis dengan terus beucap kata maaf.


Tidur Esther terganggu dan hal ini sangat menyebalkan. Niat awal ingin tidur tenang malah diganggu. 'Ajig kau mengganggu tidurku' masih dengan penglihatan terpejam lalu membuka secara perlahan. Hal pertama yang dia lihat adalah Laura yang sedang menangis berlutut dihadapannya. Keningnya mengkerut, mengapa si nenek lampir ada di sini? Dan berlutut? Menangis?


"Lo, lagi nagapin?" tanya Esther basa-basi. Ya jelas lah Esther tahu bahwa Laura sedang berlutut dan menangisi--nya mungkin.


"Gue akan lepasin lo" ucapnya kemudian. Esther menatap horor orang yang sedang berbicara dengannya.


Melepaskan ndasmu? Yang ada kau akan melepaskan nyawaku, bukan?


"Sori, selama ini gue salah sama lo" ucap Laura. Dan Esther hanya diam menatap heran pada Laura.


Hal apa yang telah dilewatkannya? Sehingga Laura bersikap seperti ini?


Atau telah terjadi tornado? Gunung meletus? Tsunami? Kejadian apa yang membuat Laura bersikap lembut kepadanya.


Melihat Esia yang tampak diam "gue gak akan nyakitin lo" ucapnya lagi.


"Ck, gak akan nyakitin gua? Gue gak percaya?" ucap dingin Esther.


Dan yang ditakutkan Laura terjadi. Esia membencinya!!! Menghembuskan nafas kasarnya Laura menunduk melepaskan ikatan tali di kaki Esia. Dan pindah kebelakng untuk melepaskan tali yang berada ditangan Esia.


"Sekarang lo bisa pergi" ucapnya


Lagi dan lagi tatapan heran dari Esther menatap Laura "kok lo natap gue gitu si, jadi takut!?"


"Lo sakit?"


"Lebih tepat nya sakit hati" jeda" gih pergi sebelum mama gue sadar"


"Lo kenapa nyuruh pergi? Lao.ngusir gue dari rumah gua? Ogah ya!"


Tak memperdulikan apa yang dikatakan Esia "lo mau mati jadi bangke disini?" masih mencerna apa yang terjadi. Kenapa Laura mendadak jadi baik?


Jelas dia nggak mau mati lebih cepat. Bagaimana pun dia belum merasakan kebahagiaan nya.


Melenggang pergi dengan pikiran berkecamuk. Tak memperdulikan Laura yang melepaskan nya. Esther pergi tanpa ucapan terimakasih nya.


Saat setelah diambang pintu "Suatu hari nanti gue butuh lo, Cia--nya, Ura"


.


.


.


.


"Mencoba menolak apa yang terjadi dan tidak menerima kenyataan. Namun apalah daya ketika seseorang berkata ini takdir"


_RainHalimah_


.


.


.


SALAM.


_________


RAIN HALIMAH