ESTHER!!!

ESTHER!!!
CHAPTER |12| Esther Jatuh Cinta???



**Maaf akan penyebaran typo dan EYD yang sangat kurang!!! Terimakasih telah mampir dan mau membaca ceritaku....


Happy Reading!!! I hope you like it**!!!


______


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Aissh, aku gak ngerti, jatuh cinta? Kenapa harus jatuh? Kalo masih bisa berdiri!?"


---EstherStupid----


Kembali kuliah meski rasanya tak ingin. Mengingat pembelajaran yang pernah dipelajarinya membuat muak. Ya, sebelum dirinya mengenal dunia perkuliahan, dia sudah memperdalam ilmu tentang perkantoran atau apalah namanya, siapa lagi yang mengajarkan nya kalau bukan Axton.


Mengingat pendidikan keras yang diberikan axton selama ini, membuat nya tahu bahwa sesuatu itu perlu perjuangan.


Belajar tentang senapan, bela diri, memanah dan hal yang berbau tentang dunia bawah. Melacak adalah bidang yang paling dikuasainya.


Back Story!


Esther, sungguh sialnya dirinya luka yang berada diwajahnya belum sembuh juga hari ini dirinya harus menerima bahwa si dosen itu akan mengajarnya.


Atau gue bolos aja ya?


Mendapatkan ide cemerlang seperti ini membuat nya bersemangat. 'Kau terlalu pintar untuk orang cantik sperti mu, Esia Theresa'


Katakan lah bahwa Esther tingkat ke--narsisannya berada di level tinggi.


"Ran, hari ini gue absen" ucap Esther pada temannya. Ya, Rani bisa di katakan teman meski harus secara sembunyi-sembunyi untuk mengobrol bersama Esther. Karena kalau tidak, mungkin dia akan di bully oleh Maura dkk. Secara Rani adalah anak penerima beasiswa. Jadi tak ayal jika orang suka menggunakan kekuasaan untuk menindas orang yang berada dibawahnya.


Esther tak akan mengorbankan Rani,untuk dirinya yang memang membutuhkan teman. Namun dia juga harus menjaga jarak dengan Rani.


"Iya, Si" Jawab Rani mantap.


Esther berjalan keluar. Tak lama kemudian Esther kembali ke kelasnya.


"Ran, pukul dua siang gue ke rumah lo" teriak Esther, tanpa menunggu jawaban Rani, Esther telah melenggang pergi. Ntah Rani setuju atau tidak, dia akan tetap ke rumah nya.


Belum sampai gerbang kampus, sesuatu telah ditabrak nya.


"*****, sial pantat gue. Goblo*" umpatnya kesal.


'Oh, Tuhan mengapa kau selalu menghukum hamba yang cantik ini. Apa salah hamba?'


Berdiri, melihat sesuatu yang ditabraknya. Ah, seperti nya kesialan selalu bersamnya.


"Ah, ternyata kau hobi menabrak ku!" ucap dingin Ansel. "Lain kali jalan pake mata"


"Lo, lo lagi lo lagi. Dasar dosen sialan lo. Belajar dimana sih lo, udah jelas jalan pake kaki bukan mata,***"Β  Biasa Esther selalu ngegas.


"Mulut mu itu, perlu dijaga" cibir Ansel.


"Lo salah, karena ngehukum gue. Kaki gue nih jadi korbannya" masalah itu Esther ungkit. Padahal kejadian itu dua minggu yang lalu. Esther merutuki kebodohan nya. Bukan, hanya saja kakinya sudah sembuh bahkan kala tak butuh waktu lama untuk sembuh.


"Apa wajah ku seperti orang yang bersalah?" Tanya Ansel sambi mencondongkan wajahnya ke arah Esther. Ansel harus mencoba merileks-kan emosinya jika berhadapan dengan gadis cupu di hadapannya ini. Ntah lah, Ansel tak percaya jika gadis di depannya ini adalah gadis cupu. Sikapnya yang bar-bar dan nada suaranya yang selalu nge-gas, membuat keyakinan nya semakin bertambah.


Berdekatan dengan wajah Esther, Ansel akui Esther sangat imut jika dilihat dari dekat. Hidung mancung nya, bibir tipis berwarna merah muda itu nampak natural. Wajahnya yang memiliki kesan merona dengan semburat merah dipipinya. Apalagi mata hitam yang penuh misteri serta ketajaman yang dimiliki dibalik kaca mata bulat itu membuat Ansel tahu bahwa gadis cupu ini bukan gadis biasa.


Ansel tak pernah menatap gadis sedekat ini, serta meneliti dengan baik bagaimana fisik seoarang gadis.


Meliat Ansel yang wajah nya terlalu dekat dengannya. Esther bisa melihat bagaimana wajah itu yang sebenarnya. Dilihat dari dekat Esther baru sadar wajah Ansel tak memiliki cacat apapun. Ah, rasa nya Esther iri. Bukan hanya itu, bibir nya yang sedikit tebal menambah kesan gagah pada lelaki itu. Matanya hitam yang tajam membuat siapapun terpaku dan yah, bisa membuat terhipnotis. Dia pernah melihat wajah ini saat dirinya tertabrak waktu itu. Namun kala itu Esther tak terlalu memerhatikan. Wajah Ansel yang terlalu dekat membuat semburat merah muda muncul di wajahnya. Rasa panas menjalari setiap syarafnya. Dan jangan lupa dia baru menyadari sedari tadi jantung nya berdegup kencang. Dan membuat Esther merasa aneh. Ada yang aneh dari dirinya.


Namun lamunannya buyar kala ansel menjitak keningnya "jadi orang itu harus sopan" terkesan dingin namun membuat Eather merasa aneh. Ansel telah berlalu dan saat itu pula Esther memegang dadanya yang terasa sesak. Jantungnya berpacu kuat apalagi saat perlakuan Ansel menjitak keningnya, bukan membuat Esther marah namum malah membuatnya terbengong.


.


.


.


.


Brak.....


Suara gebrakan pintu utama DXP membuat seluruh anggota DXP terkejut. Menoleh kearah pelaku dan mereka melihat sang ketua tengah berlari dan berteriak.


"MANA KETUA BESAR, MANA?" mereka hnya menggeleng.


"RIVAAAL, PANGGIL, PANGGIL KAN DOKTER KIM!! YEH, AJIG LO DENGER KAGAK. AAKHHH... HARI INI GUE BAKALAN MATIIII" Teriak Esther menggema. Sedangkan orang yang di panggil Rival kucar kacir untuk menemui sang dokter yang dimaksud.


Hah, hah, hah, Esther menetralkan pernapasan nya setelah duduk di sofa lantai bawah ini. Ruangan husus bersanatai para anggota DXP.


Jito, melihat sang ketua terlihat tak baik-baki saja, dirinya langsung menelpon sang ketua besar. Karena mendengar ketua nya memaggil-manggil ketua besar.


"Halo, ketua besar, maaf mengganggu ketua sedang dalam masa kritis dia memanggil ketua dan dokter kim" ucap Jito. Dan dimatikan langsung secara sepihak oleh ketua besarnya.


Siapa yang tak tahu dokter kim. Dokter asal korea. Dokter spesialis jantung yang bekerja di 'XayersFamily' jadi jangan heran dokter Kim tahu tentang XF


.


.


.


Dokter Kim memeriksa Esther"Nona, kau tidak punya penyakit riwayat jantung, juga jantung anda baik-baik saja. Malahan normal" Ucap dokter Kim kesekian kalinya.


Ruangan ini ruangan husus yang disiapkan oleh DXP, sendiri. Axton hanyaΒ  mendengarkan tanpa niat berbicara.


"Apakah kau memeriksanya dengan benar?" tanya Axton kemudian.


Bagaimana pun Dokter kim merasa kesal, bahwa Esther menuruhnya untuk memeriksa nya sudah beberapa kali. Ya iya, lah, Esther kan takut dia akan mati. Seluruh dendamnya tak terkabul semuanya ada satu lagi masalah yang paling besar yang tak diketahui siapa-pun. Dan sekarang diri nya akan mati akibat penyakit jantung itu?


Big NO oke!!!


"Tak mungkin dokter tadi jantung saya kayak mau copot, dag--dig--dug-- gitu. Masa nggak kenapa-napa?" Herannya. Melihat tingkah laku Esther yang bikin gemas Dokter Kim serta Axton melihat Esther dengan tatapan bertanya.


"Coba juga jelaskan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Axton.


Esther pun mengangguk "Paman taukan Ansel? Ansell Lux Eorion?"


"Iya, itu orang yang pernah kau tanyakan"


"Nah gara-gara dia aku dag-dig-dug paman"


"Gimana?" sahut dokter kim


"Ntahlah dokter, orang itu selalu bikin aku darting. Kalo ngomong sama dia rasanya tak cabik-cabik wajahnya tak berdosa itu. Nah, yang bikin aku aneh paman, dokter, tadi dia deket sama muka aku kayak gini nih--" Esther menarik wajah Dokter Kim dengan sangat dekat. Dan melepaskan nya kembali.


"--kayak gitu--terus jantung Esther keyak mau copot debarannya semakin cepat dan Esther takut. Dan aneh nya lagi rasa kesal yang selalu Esther tunjukan tak mempan juga wajah Esther terasa panas---"sifat dinginnya ntah pergi kemana. Esther terdiam dan semuanya terdiam disana juga tidak hanya ada dokter kim adas sepuluh dokter spesialis jantung yang akan memeriksa Esther, juga Axton yang tengah menahan tawa. Semuanya juga menahan tawa...


"Aneh kan dokter? Masa para dokter tidak bisa mendeteksi penyakit saya?" tanya nya polos.


Mendengar cerita Esther , mereka hanya menggeleng kan kepala juga menahan tawa. Melihat hal itu Esther bertanya "Apa ada yang salah?"


"Itu artinya kau jatuh cinta, Esther" timpal Axton.


"Nona, nona, kau ahli bela diri, melacak sangat hebat, tapi masalah cinta kau tidak tahu? Tambah dokter kim,


"Aissh, aku gak ngerti, jatuh cinta? Kenapa harus jatuh? Kalo masih bisa berdiri!?"


"Kau belum pernah jatuh cinta" Sahut dokter ber-nametag Rin.


"Nggak, lebih tepat belum pernah jatuh cinta. Kalo jatuh dari tangga mah pernah. Jatuh dari belkon, pernah" jawabnya polos. Oh, kemana kah? Sifat Esther yang dingin juga kejam, ini.


"Paman apakah jatuh cinta itu sakit? Soalnya kalo dari jatuh dari tangga, nggak sakit-sakit amat" tanya Esther mengarahkan pandangannya pada Axton.


"Apa yang kau rasakan?" Axton heran diusia yang ke-dua puluh ini belum merasakan jatuh cinta?


"Emang cinta itu apa?"


Damn kau Esther semuanya terdiam. Axton menggelengkan kepalanya. Mengapa ketua DXP ini? Jatuh Cinta aja tidak tahu. Jangan kan jatuh cinta, CINTA aja nggak tahu, ya ampun. Kalo seluruh anggota DXP tahu ketuanya tidak mengerti tentang cinta, mau disimpan kemana mukanya ini. Esther orang terpilih karena kemampuan nya yang hebat. Tapi dia tak tahu apa itu CINTA?!!


.


.


.


.


.


Tbc...!!!


.


.


.


.


SALAM


__________


RAIN HALIMAH