
"Lo kenapa apa yang lo sembunyiin dari gue hah!!" Tanya Allan makin membentak.
Seketika Vinapun diam dan.....
"Jangan bentak gue, gue gak suka!!" Seru Vina makin sengit hingga.
Plak....
Alanpun tanpa basa basi menampar Vina hingga.
"Lo... apa gunanya gue di mata lo, yang peka cuma gue yang nurut cuma gue, bahkan sedikitpun lo gak peka perasaan gue, lo sama kek Sean dan Ben gak pernah mau tau perasaan gue, dan gak mau ngertiin gue, Papa Mama sibuk dan gue kira lo ngerti gue, ternyata..., lo sama aja gak peka juga." Ucap Vina menatap Allan nanar, gadis itupun menahan mati matian rasa sesak di dadanya, rasa hancur hatinya.
"Kamu kenapa? Katakan aku gak bisa diajak kode kodean gini Vin" ucap Allan geram menatap Vina tajam sebari mengacak acak rambutnya gusar, pria itu pun terus menatap lirih pipi merah Vina yang tampa sadar ia tampar tadi.
"Gue gak suka liat lo deket ama Valeri, gue cemburu masa itu aja lo gak ngerti, lo dengerkan gak tuli kan....." ucap Vina menatap Allan benar benar sudah kecewa berat, bahkan karna saking emosinya wajah Vinapun sudah memerah semerah cabai yangbsiap membakar apapun yang ada di dekatnya.
"Dia sahabat kecil gue cuma sahabat aku, enggak ada apa apa di juga sekertaris osis gak mungkin aku jauhin dia Vin!" ucap Allan mulai merendah.
Hingga tiba tiba sontak Vina terkejut.
"Dan dia!... ngapain lo nelfon mantan lo hah!!, jadi ini ya... lo mau balas dendam hah?! lo mau selingkuh dan jadi jalangnya.." bentak Allan tiba tiba kembali meninggin hingga..
"Coba intropeksi diri lo disaat gue cemburu lo nanggepin enteng, dan disaat lo cemburu bahkan lo bilang gue jalang, dan disaat gue jawab 'dia cuma mantan aja gak ada apa apa pasti lo gak percayakan'." ucap Vina seketika mimik wajah Vina pun berubah menjadi datar.
Prangg.....
Sebari membanting benda didekatnya penuh emosi.
"Gue gak suka milik gue di disentuh! " ucap Allan makin sengit bahkan suaranya sudah menggema memenuhi ruangan.
"Jangan sampe lo buat gue kehabisan kesabaran Vin, gue enggak suka itu, jangan sampe gue kasar ke lo kayak tadi ngerti!!.. gue enggak suka lo ngucap kata kasar dan ngebentak, belajar ngebangkang!!" ucap Allan memojokkan Vina ke tembok kamar langsung saja tanpa basa basi Allan ******* bibir Vina kasar dan menuntut.
"Lo milik gue sampai kapanpun dan tetep selamanya" desis Allan menatap Vina tajam, lalh kembali mencium paksa Vina kasar hingga.
Plak....
"Gue capek, lo kira gue barang, milik lo!!, lo plis lo haru sadar Al Vale suka sama lo, dia mau misahin kita, lo gak sadar Allan!!, peka Al gue cinta sayang lo, tapi gue mohon jauhin Vale atau lo pilih. Gue, Vale atau kita putus!!!" ucap Vina final sebari menahan mati matian airmata yang sudah membendung di mata indahnya, belum lagi hatinya yang benar benar akan hancur sehancur hancurnya hanya karna kata terlarang itu.
"Gue milih kalian gua gak bisa ngejauhin Vale dia udah seperti adik gue Vin... ngerti gue Vin. Udah gue gak mau kita berantem dan camkan Lo milik gue dan lupakan masalah ini gue gak mau memperbesar dan cemburu lo gak beralasan, kata putus itu gak mempan untuk gue camkan itu" ucap Allan tegas hingga.
"Lo gak ngerti gue dan jangan salahkan gue sikap gue berubah karna lo sudah mutusin milih Vale dan gue enggak akan terima pilihan lo itu!!!" Ucap Vina sinis, lalu keluar.
Blam....
Blam....
Sebari membanting pintu kasar turun, masuk ke kamar tamu kembali menutup pintunya sangat kasar.
Allanpun dengan wajah gusar pulang tanpa berpamitan.
Vina Pov
'Hancur lagi sama seperti dulu hancur' monolog Vina sebari terisak memeluk lututnya, menatap sinar bulan di balik jendela kaca kamar tamu.
"Gue lebih sanyang ke lo dibanding perasaan gue ke Zero dulu, tapi kenapa lo gak percaya Al, Vale suka ama lo, gue tau gue tau dari tatapannya gue tau karna tatapannya natap lo, sama kayak tatapan sayang gue ke elo dan dengan mudahnya lo nganggap itu sebatas sahabat lo buta dan gak peka gue gak sanggup nangung sakit seperti ini lagi ini sakit Al Al...." ucap Vina terus terisak sebari memukul mukul dadanya pelan seakan berusaha menghilangkan rasa sesak menyakitkan ini hingga.
Sean pulang berteriak mencari Vina dan.
Saat Ben membuka Pintu adiknya sudah tampak berantakan.
"Kenapa kenapa? Allan lagi? " Tanya Ben memgguncang bahu Vina yang masih diam menatap bulan dengan derai airmata yang tak henti henti sebari sesekali gadia itu terus memukul dadanya pelan.
Tanpa sadar Vinapun menepis tangan Sean sebari menatap Sean dengan wajah sembab dan berantakannya "maaf gue pengen sendiri" Vinapun beranjak naik kekamar dengan wajah sembab hingga terlelappun masih ditemani tangis pilunya.
Hingga pagi tiba
"Pagi bro bro" ucap Zero dengan senyum menawannya dan jujur Zero makin tampan, tapi lebih ganteng dari Allan.
"Wuih lo dah balik dan satu sekolah ama Vina astaga." ucap Sean memukul bahu Zero kagum.
"Tambah ganteng lo heh" ucap Ben dengan cengirannya.
"Ya lah gue gitu loh, gue bareng Vina ya bang habis gue malu nanti di kruminin cewek gaje, plus gak tau kelas lagi" ucap Zero yang dijawab anggukan Sean dan Ben.
Lagsung saja Vina menyelesaikan makannya dan berjalan menuju motor Zero.
Hingga di depan motor Zero menatap lekat Vina.
"Lo kenapa Na lo habis nangis kenapa lo diapain Allan?" tanya Zero khawatir.
"Gue gak papa Zer" Jawanb Vina parau.
"Jangan bohong astaga lo nangis bilang ke gue, gue tau ini pasti masalah besar lo gak bakal bisa nutupin ini dari gue jujur Na" paksa Zero agar Vina jujur, sebari menghapus air mata Vina lembut.
"Sama, sama kayak lo gak percaya gue Zer, samaa kayak Zara, Sama" Ucap Vina bergetar, menyandarkan kepalanya di bahu Zero, menatap kelangit dengan tatapan sendunya.
"Dan kali ini rasanya lebih sakit Zer sakit disaat Allan ngelak dan gak percaya, felling gue itu bener Zer, gue gak mau kehilangan Allan lagi Zer gue, enggak bisa gak bisa.." ucap Vina terus menggeleng geleng, dengan airmata sudah membasahi jaket Zero.
"Sudahlah, berhenti menangis cantik lo bisa ilang tar, udah ya nanti kita cari solusinya ok, diem gue gak suka lo nangis atau kita beli chatime dulu biar lo gak nangis, mumpung masih keburu" Ucap Zero lalu menarik Vina naik ke Motornya dan membeli Chatime lalu kesekolah.
Hingga sampai di gerbang sontak semua mata melotot menatap Wajah tampan Zero menggandeng tangan Vina dengan Vinapun menapkana senyumnya saat Zero menggombalinya di pedangang Chatine tadi.
"Siapa Vin" tanya yang lainnya antusias.
"Zero murid baru sahabat gue" Ucap Vina sebari menyesap Chatime yang di traktir Zero dan yang satunya masih dibawa Zero.
Hingga lewatlah Vina di hadapan Vale dan Allan yang sedang tertawa.
Sekekmtika Vinapun mengahampiri mereka.
Dengan antusiaspun Vinapun memperkenalkan Zero.
"Vin kenalin ini Zero sahabat kecilku dia baru balik dari paris dan kita udah pisah 2tahun" ucap Vina santai sebari menampakn senyum palsunya.
"Dan Zer ini Allan" ucap Vina sontak Zero melotot.
"Pacarlo Na" tanya Zero saat matanya menatap Valeri.
"Iya dan ini Valeri Sahabat kecil Allan" ucap Vina Zeropun menatap Valeri dengan seringainya.
Sedikitpun Allan tak menggubris ucapan apalagi menatap Vina seketika Vinapun kesal.
"Kalo kamu gak suka bilang, gausah sok judes" ucap Vina lalu pergi.
"Eh Nana dimana kelas 12-2 astaga ni anak udah ngabek aja" ucap Zero lalu mengejar vina lalu kembali berjalan beriringan dengan Vina.
Dan di lain sisi nampak Allan sudah terbakar api cemburu, matanya sudah memerah emosi, serta buku buku jarinya sudah mengepal gatal ingin menghancurkan wajah laki laki yang menyentuh Vina.
Bahkan detik berikutnya Allan masuk ke ruang ketos dan lagi lagi mengamuk tak jelas......
Dan tanpa sadar di tatap senyum senang oleh Valeri.
_________
Up lagi guys maaf gak nenth peachhh.......
Kali menurut kalian gaje maaf yaa semiga suka membacanya....
guyss kalo menurut kalian penempatan kalimat gue kurang baok mohon dimaafkan ya...