
Seketika dibalik tembok terlihat Alvina menatap tajam Allan, pandangannya memburam karna mata sembabnya karna kejadian dinihari, hingga Vina berinisiatif memakai kacamata dan makeup agar mata sebabnya tersamarkan.
'Aku percaya didalam lubuk hatiku kau mencintaiku tapi aku benci apa yang ada di otakku adalah kau menduakanku' batin Vina berbalik berjalan keluar dari gerbang sekolah.
Hingga pak James mencegatnya "kemana? mau bolos ya dasar murid nakal!" Serunya sebari menatap Vina aneh.
"Gak pak saya permisi mau pulang saya sakit" jawab Vina dengan suara serak hingga mata Pak James berubah menatap Vina kasihan.
"Oh maaf, siapa yang akan menjemputmu, perlu Bapak antar?" Vinapun menggeleng "hati hati dijalan yaa..." ucap pak James yang Vina jawab dengan ganggukan.
Di perjalanan menuju rumah, Vina enggan rasanya menaiki taxi, lebih baik ia berjalan sebari mengeluarkan sakit hatinya dengan tangisnya.
Bahkan hingga hujan turun Vina tak manggubrisnya dengan hati sudah hancur, Vina dengan tangisnya berjalan bersmaa dengan derasnya hujan membuat tubuhnya, benar benar basah kuyup, tak peduli suara petir atau mobil yang meciprati roknya maupun baju sekolahnya yang akan kotor, difikirann saat ini hanya rasa sakit dan hancur.
Tubuhnya seakan matirasa mengingat kasih sayang Allan, dan seketika hancur disaat mengingat telefon tersebut.
Hingga sampailah Vina di gerbang rumahnya.
"Non kok udah pulang ayo masuk ini hujan deras Non bisa sakit" ucap Pak John menggiring Vina masuk kedalam rumah hingga.
Pelayan rumah menatap Vina khawatir langsung saja mengerumuni Vina dengan beribu pertanyaan.
"Sudalah siapkan air hangat aku mau mandi dan makan malam bubur dan air hangat itu saja bawa ke kamar dan jangan terima tamu" ucap Vina masuk dengan wajah sangat pucat hingga kakinya berjalan agak tak teratur.
Dengan wajah pucat Vinapun memasuki batubnya, lalu mandi air hangat dengan lambat karna sedikit pergerakan saja sudah membuat kepala Vina berdenyut keras.
Dengan susah payah Vina menyelesaikan ritual mandinya lalu mengganti bajunya dengan piama lalu segera berbaring di ranjangnya.
Hingga hpnya berbunyi nyaring, dengan wajah pucat tanpa tenaga, susah payah Vina menengok tertulis nama Allan seketika senyum simpul tercetak di bibirnya hingga.
Plak...
Plak.....
"Ini terlalu sakit disaat kau sama sekali tak memastikan keadaanku dan malah bersama orang lain" ucap Vina lalu lagi lagi melempar benda didekatnya hingga.
"Ada apa Non kenapa Vas bunganya jatuh" tanya Alin pelayan yang membawakan bubur Vina.
"Tak apa tolong panggil yang lain membersihkan ini lalu suapi aku makan, tubuhku terasa berat lalu ambilkan obat di dapur dan vitaminku dilaci" ucap Vina serak lalu kembali berbaring.
Setelah sarapan Vinapun menonton TV hingga matanya teralih saat telefon kamarnya berdering.
vinapun beberapa kali sudha memanggil Alin tp nihil, hingga dengan susuah payah Vina kembali bangkit meraih gangang telephone dengan hati hati.
"Hallo" ucap Vina serak menahan pusing yang menganggu kepalanya.
"Sayang" jawab Allan seketika Vina menangis.
"Jika kau ingin dengannya pergi saja jangan peduli padaku lakukan maumu dan jangan kesini kumohon" ucap Vina seketika telephone jatuh diikuti tubuh Vina yang limbung hingga kegelapanpun merenggut matanya yang semakin lama semakin tertutup.
Seketika mata Vina terbuka dan putih hanya satu kata putih dan pertama kali yang Vina lihat dokter.
"Astaga Vina kenapa kondisimu begini sangat memprihatinkan sangat lemah untung, alergimu tak kambuh jika hal kondisi ini alergimu juga kambuh kamu bisa mati" ucap Paman Manuel menatap serius keponakannyabyang satu ini.
"Tak apa aku hanya kehujanan saja, tubuhku memang sensitif paman" ucap Vina parau, terbaring lemah masih dengan suhu badan yang tinggi, dan sakit kepala yang membuatnya benar benar tergangu.
Tiga hari berlalu dan belum ada kemajuan dalam kondisi Vina, bahkan makin menurun keluarganya tak ada satupun menjenguk Papa sibuk Mama ikut Papa, Keduak kakaknya ikut menyusul Papa karna perusahaannya mengalami kemerosotan di cabang Belgia padahal seluruh keluarga sudah di telfon tapi apa semuanya masih sibuk hingga.
.........
Di sisi lain Allan kalut dan sudah mengamuk bahkan seperti orang gila sangat berantakan, sudah 4hari Allan tak bisa menghubungi Vina bahkan kerumahnyapun Vina tak ada seakan kekasihnya itu sudah di telan bumi
Hingga dering hp ya berbunyi.
"Halo tuan Allan saya mau memberi kabar non Vina di Rs Permai Vip no7, Non sakit sejak 3hari lalu dan kondisinya makin menurun" ucap pembantu Vina hingga tanpa basa basi Allan langsung cus.
Bak kesetanan Allan berlari hingga matanya menatap Pak Josh satpam rumah Vina didepan kamar yang pastinya Vip No. 7.
"Kenapa Vina pak?" Tanya Allan panik, dengan keringat sudah memenuhi tubuhnya akibat lari maratonnya.
"Non Vina stres, lambungnya infeksi dan insomnia walau baru tahap awal" ucap Pak satpam hingga Dokter pun keluar.
"Om gimana Vina kapan Vina bisa sembuh Om?" Tanya Allan sudah makin khawatir luar biasa.
"Om tidak bisa prediksi Vina sangat lemah tak mau makan, ia hanya menangis dan melamun bahkan Om sudah mengancam nya, dan dia hanya diam menatap Om, Om tanya ke psikolog Vina hanya stres dan diusahakan ada yang menghiburnya jadi Om menyuruh pelayan di rumah Vina menelfonmu" Ucap Manuel Dengan wajah sedih bagaimana tidak pasalnya ini tentang keponakannya yang sangat lemah.
Dengan wajah sangat khawatir Allan masuk ke ruang Vina, hingga nampak gadis pujaan hatinya dengan wajah pucat menatap langit kamar dengan airmata yang mengalir keluar dari mata indahnya.
Hingga.
"Hey sayang kamu kok gak bilang ke aku kalo sakit?" Seketika Vina menengok dan menatap Allan.
"Ini cuma ilusi Allan sudah bahagia aku sendiri" ucap Vina seketika Allan makin merasa sakit, ini salahnya tak mengecek keadaan Vina malah asik sibuk di sekolah.
"Aku bukan millikmu" ucapnya dengan buliran airmata Vinapun menangis lagi.
"Aku sakit disaat Al tak jujur berpegangan dengan yang lain dan tak mengejarku saat aku marah, Al tau Papa Mama sejak aku kecil mereka sibuk tak seperti Ben dan Sam dulu masih sempat dapat kasih sayang papa selama 6 tahun sebelum aku lahir dan mereka mulai sibuk disaat kelahiranku, bahkan mereka menitipkanku dengan tante Alin dan tante Alin memberiku nama Alvina bukan kedua orang tuaku" ucap Vina parau, masih dengan wajah pucatnya.
Seketika terbesit rasa bersalah, rasa benci terhadap dirinya yang lalai hingga gadis tercintanya sampai begini hingga airmata Alanpun menetes mendengar suara serak Vina mengintrupsi.
"Aku sayang kamu ini gak ilusi aku Millikmu Allamu sayang" ucap Allan seketika Vina menengok dan langsung memeluk Allan dan menangis makin keras.
Dengan sayang Allan membalas pelukan Vina dengan tubuh lemahnya Vina sebenarnya rapuh tapi ia selalu sembunyikan itu dihatinya Allan berjanji sampai kapanpun Vina miliknya dan Allan akan menjaganya hingga kejadian ini tak terulang kembali.
Allan tak sanggup melihat sakit yang dirasakan cintanya, cukup kali ini dan tak ada kata besok walau harus menyakiti orang terdekatnya pun Allan tak akan masalah demi Vinanya.
"Aku menunggu kamu kenapa kamu terlambat apa kamu bosan denganku apa aku terlalu manja, aku terlalu egois atau tak mengerti kamu maafkan aku Al aku mencintaimu" ucap Vina histeris hingga Allan pun mendekat dan menggeser badan ramping Vina lalu menyandar di ranjang rumah sakit dengan kepala Vina berada di dada bidang Allan.
"Tidak aku yang salah sudah lah tidur aku akan membangunkanmu saat makan siang nanti" jawab Allan diangguki Vina lalu tidur dengan tenang sebari memeluk tubuh Allan seakan tak membiarkan Allan pergi sesentipun.
"Kau miliku dan selamanya akan begitu" ucap Allan lalu mengelus sayang pucuk kepala cintanya sebari mengecup puncuk kepala Vina berulang kali.
...........
Garing yaaaa maaffff
Tapi inget likee ok...
Kl gak mau gak papa yang pnting dilihat ok guys..
maaf ya upnya lamaaa......