Equincoupl

Equincoupl
Ep 11



Pagi menyambut hari Alvina dengan matahari seakan ikut tersenyum akan keceriaannya di pagi ini. Alvinapun turun menuju ruang makan dengan santai, hingga helaan nafasnya terdengar saat keadaan rumah kosong lagi dan lagi.


"Bik Mom Dad ke mana lagi sih?" tanya Vina malas.


"Oh Tuan Nyonya juga den Sean dan Ben ke Jerman subuh tadi, katanya urusan kantor Non" jawab bibi lalu kembali ke dapur.


"Kalian dulu pengen anak perempuan sekarang udah punya, ditelantarin maunya apa sih, emang aku apaan kalian dulu ngapain mau punya anak perempuan ujungnya dibuang gini" ucap Vina lalu melenggang pergi ke kamarnya, prepare akan segera berangkat ke kampus.


Pagi cerah di kepala Vinapun, seketika berubah menjadi mendung gelap penuh petir pagi, pasalnya pagi tiba masalah dirumah sudah membuat mood Vina rusak, dan pagi ini di sekolahpun mood nya makin down, saat dengan mata kepalanya sendiri Vina melihat Allan meniupi mata kanan Valerie terang terangan.


"Pagi indah hancur, mana udah anggota osis, sekarang mesti cemburu dan sayangnya pacar gue pun gak pernah sadar akan cewek busuk itu" batin Vina dengan langkah gusar masuk ke halaman sekolah tanpa memandang Allan.


Jam pertama, ke-2, k-3 lewat Allan sama sekali tak menyapa Vina, hingga Vina ke ruang osis menemui Cherry pun, Allan tak ada.


Rasa kesal, marah pun mendominasi fikiran Vina hingga.


"Eh iya bentar lagi kak Allan ujian, juga pasti kakak Allan bakal sosialisasi ke sekolah sekolah, siapa ya yang diajak?" Ucap beberapa anggota osis sebari ngerumpi ria.


Sedangkan Vina hanya diam, hingga datanglah Allan dengan merangkul Valerie catat merangkul!.


'Ternyata kamu sama aja posesive ke aku, tapi disaat aku kayak kamu sekarang kamu bakalan ngamuk' teriak emosi batin Vina sebari menatap malas Allan.


"Sibuk?" tanya Vina.


Dijawab tatapan diam Allan.


"Cher Allan sibuk?" tanya Vina menatap Cherry.


"Iya sih dia kan mesti bikin brosur sekolah ama anggota lainnya, ngadain rapat, juga sosialisasi, dan persiapan mengadakan Bulan bahasa setiap tahunnya" ucap Cherry.


"Oh ok lah, aku mau lanjut aja deh, aku kan dimintain tolong ama Bu Jiza, bantu di perpus, lanjut in tugasmu aku ke perpus" ucap Vina menepuk bahu Allan dengan ragu "udalah" ucap Vina berucap untuk Allan tapi malah menatap Cherry.


"Ok duluan Cheer Val gue mau ke perpus" Ucap Vina melenggang pergi.


Dengan wajah gusar mood benar benar hancur Vina berdiri di atas Roftoop sekolah menatap kosong pepohonan yang menari ditiup angin sejuk.


"Hmmm.... " hela Vina hingga.


Sebuah tangan menepuk bahunya dan sontak Vina menatap mata coklat tersebut aneh.


"Apa lagi sih aku lagi bad mood Zee?"sinis Vina melirik sosom yang pernah jadi ornga yang ia sayang siapalagi kalo bukan Zeron.


"Astaga, masalah apa lagi? rasanya hidup lo penuh masalah deh." tanya Zero berusaha mendekati Vina.


"Gak papa cuma biasa, rumah kosong lagi seakan mereka lupa punya seorang anak perempuan" jawab Vina malas, sebari mengikat rambutnya asal.


"Huh... Heran mereka dulu pengen anak perempuan, disaat anak itu lahir ternyata malah di titip di neneknya, pas sudah besar ditinggal mulu, dan sekarang tak dianggap apa gue anak angkat ato anak pungut?" Ucap Vina Asal hingga helaan nafas pun terus keluar dari bibir indahnya.


"Sebaiknya lo biarin gue sendiri Zee, mood gue lagi down, sebelum barang gue hancur dan emosi gue naik, niat ngusir lo? jawaban gue ya enggak lah, tapi please kasi gue sendiri dulu" ucap Vina menatap Zero mulai kesal.


"Pagi dirumah hancur, disekolah hancur, lo berubah semenjak Valerie dateng, dan bibir gue sudah habis suara ngomong ke lo dan dengan gampangnya bilang maaf, sedangkan lu terus ngulangin capek gue" ucap Vina hingga dirinya duduk di pinggir Roftoop dengn wajah datar dna dingin, menatap ke langit serta dengan pandangan kosong.


Mengeluarkan sebatang rokok dari balik batu.


Dengan santai Vina menghembuskan rokok yang ia hirup, matanya sudah sangat lelah hingga belum setengah batang rokoknya habis seketika rokok tersebut terlempar.


"Apa yang kamu buat sejaka kapan merokok" bentak Allan kasar menarik Vina menatapnya.


"Sudah lama disaat aku merasa ingin mati" jawab Vina enteng, lalu menghentakkan tanganya agar cengkeraman Allan terlepas.


Seketika datanglah Valerie dengan juice Jambu dikedua tangannya.


"Hay tolong temenin Allan sekalian PDKTan" ucap Vina menkan kata PDKT sebari menatap sksd Valerie dan menatap malas Allan lalu melenggang pergi.


Lagi lagi Vina tak bisa jujur, otaknya selalu memikirkan hal yang berlawanan arah dengan tubuhnya.


Sudah seminggu lamanya Vina menjauh, hari demi hari makin membuat keceriaan Vina pudar menjadi pendiam tak banyak bicara., malas dan pokoknya makin parah.


Hingga pagi ini Vina berjalan menuju ruang osis dengan santai, sebari ditemani aerphone yang setia menyumbat telinga indahnya.


Hingga cekalan tangan Allan, sontak menghentikan tubuhnya, dari mana Vina tau jelas saja wangi maskulin Allan menguar di sekelilingnya, hingga penciuman nya mengetahui pemilik wangi pavoritenya.


Tanpa basa basi Allan menariknya menuju gedung belakang sekolah.


"Kamu kenapa kamu berubah jadi gini pendiam, cuek, bahkan enggak secerewet dulu, kemana Vinaku yang dulu!" ujar Allan menatap menyelidik sebari menarik kesal aerphone di telinga Vina gemas, sedangkan si empunya hanya diam.


Hingga helaan nafas malasnya nampak "Inilah aku dulu hanyalah kepalsuan, maaf harusnya kamu keruang osis, aku masih harus ngambil surat untuk ditandatangani kepsek, dan oya dimana Valerie?" tanya Vina saat akan berbalik seketika Allan langsung memeluknya.


"Kamu kenapa jangan menghindariku" ucap Allan memeluk erat Vina.


"Kau mencintaiku, tapi kau tak pernah mengerti diriku Al" ucap Vina melepas pelukan Allan.


Sontak Allan melotot.


"Apa apa lagi kali ini cemburu kah, dia hanya sahabat, sahabat Vin" ucap Allan membentak.


Sontak Vina terkejut " sebaiknya kita sudahi aja, entah apa hubunganmu ama Vale itu masalahmu, aku tak bisa lagi Al tolong putusin saja aku Al" ucap Vina menatap Allan dengan sedu dan penuh ras sakit di matanya.


"Kamu gak bisa punya keduanya, disaat salah satunya bisa tersakiti dan itu aku kamu selalu sama dia, kamu makin sibuk, juga ia selalu bsama kamu karma dia sekertaris umun osis, kamu sama aku tapi kamh lebih dominanvsama dia tawa bahagia kamu pecah pas sama dia, bahkan kamu lupa pasal disana ada aku juga, kamu tau rasa itu mungkin menurutmu itu biasa tapi, aku enggak bisa kalo aja aku cuek, gak bicara, kamu pasti marah ngebentak aku, aku aku cuma bisa mendam sakit itu, jadi sekarang cukup sampai di sini saja aku udah capek banget All" ucap Vina lalu melepas pelukan Allan perlahan demi perlahan.


Vinapun segera pergi menuju perpustakaan, dengan pipinya yang sudah di liri buliran bening dari mata cantiknya, perlahan matanya membengkak tanda perasaannya saat ini tengah terluka.


Sungguh hal yang sulit pergi disaat mencibtai dan melepas disaat dia mempercayaiku.


.........


Gaje tapi semoga kalian suka