Equincoupl

Equincoupl
Ep 15



12.00 waktu pas seorang gadis sudah turun dari pesawat pribadi, dengan laki laki tampan setia memeluk tubuh gadianya sangat sangat Posesive.


"Max berhentilah memeluk seperti itu kekanakan" kesal gadis tersebut menatap ke samping kanannya, yang tak lain kekasihnya yang terus menciumi Pipi gadisnya gemas.


"Kau cantik dan pipi chubbymu itu menggodaku meminta untuk selalu dicium" ucap pria yang di sebut Max dengan seringai devilnya.


Dengan wajah masamnya, gadis tersebutpun terus saja mencubit bahu kekeasihnya, yang terus saja menciuminya, tapi sama sekali tak dihiraukan malah laki laki tersebut tertawa di leher jenjang kekasihnya, saat gadisnya terus mengumpati kelakuan kekasihnya.


"Kita langsung cus ke rumah paman Vina no kiss Max stop it please cmonn" ucap Azura kesal.


Yap dialah Azura sahabat Alvina.


Seketika tampang menyebalkan Maxpun musnah, terganti dengan tampang datarnya.


Dengan wajah sangar, Max melajukan mobil memecah jalanan di kota menuju tujuan utama rumah Vina.


-------


Sedangkan disisi lain, wajah sifat dingin dan over protektiv Allan makin bertamabah.


Semenjak kabar pertuanangan masuk telinga Vina, ternyata semuanya sudah dipersiapkan dengan matang.


Jujur dihatinya, Vina senang,tapi Allan tak bisa juga menjauh dari Valerie, kecuali kebusukan gadis tersebut diungkapkan, tapi bagaimana caranya batin Vina berfikir.


Saat ini bahkan dimanapun Vinaa, Allan selalu menempel padanya, kemana mana bahkan sekarang kedua keluarga mengizinkan Allan ataupun Vina menginap dimanapun, dan itulah yang membuat Allan makin besar kepala angkuh, over posesive, tak bisa disalahkan, arougant, berkuasa, semua sifat Jerk dipungut olehnya hingga saat inipun sama.


"Berenti menciumi leherku Allan astagaa!" ucap Vina kesal dan jawabannya sangat miris.


Malah Allan makin mengeratkan pelukannya, membalik tubuh Vina ke pangkuannya agar menghadap Allan, lalu terus mengecup bibir Vina.


Dan jawabannya saat Vina menuntup bibirnya, seketika Allan akan melototkan matanya dan menatap tajam Vina bahkan tak segan akan mengancam Vina dengan ancamannya diluar nalar.


Hingga Vinapun pasrah, tak apa yang penting hanya dicium dan tak disetubuhi.


"All kerumah pamanku yaa.... "


"Untuk?"


"Ayolah, cepat antar aku bertemu teman" jawab Vina Allan hanya bisa mengangguk pasrah, dan mengantar gadisnya.


Hingga merekapun sampai disaat bersamaan, dengan mobil yang menghalangi gerbang seketika Allan keluar dan.


Berpelukan dengan Laki laki itu.


"Bro.. " ucap Allan seketika Seorang gadis turun langsung saja menoyor laki laki setinggi Allan dan itu Azura.


Dan "huaaaaa Rara" teriak Vina sedangkan Azura menatap terkejut, Allan yang tak lain sepupu jauhnya Azura.


"Kau mengenalnya?"tanya Allan dengan wajah sedikit tersentak.


"Kenapa kau tak kembali, kau sudah sembuh? kan keluargamu bahkan sudah letih mencarimu kau dikira sudah meninggal oleh mereka!" ucap Allan agak keras.


"Biar mereka memang jahat, walau aku saat itu pecandu, setidaknya rawat aku, rehabilitasi dengan baik, jenguk, sayangi, aku malah diusir, dihina bahkan kakek nenekpun menghinaku bwrkata aku gadis jalang, gadis gila, dan ejekan sadis lainnya bahkan ibuku menyumpahiku agar cepat mati kau tau!!!" ucap Azura mengebh gebu penuh debdam, dengan tatapan sinis.


"Dan dia kekasih yang kau katakan itu Allan?" tanya Max Bingung.


"Jadi apa hubungan kalian?"tanya Vina bingung, menatap tajam Azura seakan bertanya serius dan dibalas wajah datar Azura.


"Oh aku Max teman kecil Allan dan Azura tunanganku, walau tanpa restu orangtuanya, lalu kau?" tanya Laki laki yang bernam Max, dengan wajah santai menjulurkan tangannya untuk bersalaman.


Dengan senang hati Vina menanggapinya "Aku Vina sahabat, Azura sebelum Azura gila dan dia calon kai tau kan tunanganku." jawab Vina seketika Allan tersenyum senang diakui, lalu memeluk pinggang ramping Vina calon tunangan dengan wajah makin berseri seri saat tau Vina tak menolak pelukannya. 


Setelah perbincangan tersebut merekapun masukke, rumah Paman Vina.


Suasana makin ramai, hingga Allanpun ke taman depan bersama Max.


"karnanya kau meminta tolong memang ada apa?" tanya Azura seketika Vinapun menarik Azura menuju sofa ruang tamu.


Vinapun memulai ceritanya dari awal hingga yang terjadi saat ini.


"Valery, itulah masalahnya aku takut kasus kami sama seperti aku dan Zero aku tak bisa, aku sudah terlalu mencintai Allan jika ia pergi aku mati,  hancur" ucap Vina hingga.


Masuklah Allan seketika mata Vina makin terbelalak saat.


Valeri gadis itu berada di sebelah Allan, sangat manja bahkan memeluk pinggang Allan seakan mereka sepasang kekasih.


"Kau mengenalnya" tanya Azura Pada Max yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakannya.


Lalu Maxpun mengecup puncak kepala Azura, duduk di sebelahnya "Valery sahabat Allan ya lebih tepatnya soulmate sejak kecil, mereka bersama bahkan tak terpisahkan, Allanpun menyayangi Vale seperti adiknya sendiri" ucap Max sebari memainkan rambut Azura.


"Mereka saling mencintai?" tanya Azura menatap pasangan itu dengan tatapan benci.


"Tidak Valeri sudah di jodohkan dan Allan sudah memiliki Vina, tapi aku sedikit ragu karna 3bulan lalu dikabarkan pertunangan Valeri batal, dan ia pindah kemari jadi baru saja aku tau mereka bertemu lagi." ucap Max.


"Kau tau aku kesini untuk apa?"


Dijawab gelengan Max.


"membantu Vina menjauhi Allan, atau membuktikan Valeri mencintai Allan dan Valeri ingin merebut Allan dari Vina" ucap Azura langsung to the point tanba basa basi lebih lama lagi.


Hingga Maxpun sedikit mendengus


"Yang lebih berhak Allan kenapa malah Vina yang mengatur." Ucap Max tak sependapat dengan Azura.


"Jangan campuri urusan mereka lebih baik kita kembali" ucap Max agak meninggi hingga


"No Max aku ingin menolong Vina" ucap Azura tak terbantahkan dan lagi lagi


"Jangan atau kau dalam bahaya Allan terlalu bahaya, ia tak akan segan membunuh siapapun yang menghancurkan hubungannya, ikuti kata kataku atau sebaiknya jauhi Vina" ucap Max To the point bahkan nada suaramya sontak membuat Azura makin emosi. 


Plak.....


"Kau membentakku?" teriak Azura kesal.


"Kau baru mengenal ku 2tahun dan Vina dengan senang hati menerimaku walau aku kecanduan, penyakitan bahkan tanpa dia aku tak akan bisa seperti sekarang, Vina menguatkanku membangkitkan hidupku, bahkan mensuportku disaat ia hidup tanpa orangtua, hanya dengan neneknya bahkan tanpa kasih sayang, kau tau!!. Sekali lagi kau bilang jauhi Vina lebih baik kau meninggalkanku aku benci Vina dijauhkan dariku!!" Teriak Azura pergi seketika Max berdehem.


..............


Airmata selalu menates sejak kedatangan Valeri, Allan seakan melupalan Vina, sakit itulah yang sesungguhnya entah apa yang Allan mau, ia ingin memiliki Vina tapi ia juga menginginkan Valeri disisnya, itu sunggu menyakitkan, hingga saat ini Vina melihat dari lantai tiga mansion pamannya Allan tengah asik berbicara dengan senyum riang dan sesekali tawanya menjawab ucapan Valeri.


"Kau kenapa?" tanya Azura.


"Haruskah aku menyerah lagi,  atau pergi" ucap Vina parau.


"Kau sudah menjelaskannya apa isi hatimu padanya?" tanau Azura sebai menangksn Vina.


"Sudah tapi ia berkata kecemburuanku tak beralasan" ucap Vina makin parau bahkan sangat parau.


"Baiklah pergilah, aku tak kuat melihatmu seperti ini aku selalu tertimpa musibah, dan kau selalu tak bahagia kita dalam posisi yang, sama walau hidupmu lebih miris" ucap Azura mmeluk erat Vina, dibalas isakan kecil tang kembali muncul di bibir Vina.


"Baik trimakasih, aku akan pastikan sekali lagi jika hal itu sama maka aku pergi" ucap Vina turun sebari menghapus sisa airmatanya yang barusan tumpah hanya menyisakan sakit dan sembab. 


Malam tiba suasana di rumah paman Vina tetap sama Vina,  Allan, Valeri, Azura dan Max.


Hingga Vina sampai di tempat dengan wajah berantakan lalu membuka suara.


Vinapun mendekati Valeri "Vale kau mencintai Allan" tanya Vina to the point.


"Dan kau menyukai Valeri" tanya  Vina lagi lalu menatap Allan intens.


"Kita hanya sahabat" ucap Allan sekanannya tapi, Vina tau mata itu nampak menatap penuh keraguan.


"Baiklah aku tanya sekali lagi,  kamu suka a Valeri atau enggak?. Allan dan kamu Valeri tolong katakan dengan jelas, kamu suka atau enggak sama Allan, aku muak cemburu, muak bertengkar,  bahkan muak di bohongi kalo kalian saling suka katakan jangan bikin aku merasa menjadi wanita perusak" ucap Vina meningi sebari menatap tajam Allan.


Seketika tangan Allan mengepal....


"Cemburumu tak beralasan..." ucap Allan pergi dengan menutup pintu kamar kasar.


Seketika senyum Vina memudar "kau dengar Ra, ia bimbang memilih aku atau Valeri" ucap Vina miris.


.....................


Huhu..... Sabar ya Vin kali gue mah udah tak bunuh na cowok gt wkwkw...


Aku yang nulis kok aku yang marah..


See ya nex chapter.....


Gak maksa minta likenya kok kalo mau like thanx kl gak no froblem yang penting dah ada yang baca...