
Di sisi lain tak disangkan saat air mata Allan menyentuh bibir Vina, tiba tiba air mata Vina jatuh, hingga beberapa menit kemudian kedua kelopak mata itupun terbuka secara perlahan bahkan snagat pelan.
Yang Vina pertama di tatapnya hanya sebuah boneka teddy besar berwarna biru kesukaannya disampingnya.
"Allan" gumam Vina dengan suara kecil seraknya.
Lagi lagi sama, wangi bunga mawar, lily memenuhi ruang dan saat mata Vina mengedar, betapa bahagianya Vina karna ruang rawatnya dipenuhi dengan vas kaca berisi seluruh bunga kesukaannya.
Seketika Vinapun menangis haru 'apa ini dari Allan' batinnya berteriak merindukan Allan hingga.
"Nona Vina anda sudah sadar" Ucap Dr Barry tersentak kaget, lalu dengan gesit menyodorkan minum ke Vina, yang hanya diteguk satu tegukan, itupun dengan sedotan.
"Berapa lama saya disini, dan siapa yang menungguku kenapa saya sendiri?" tanya Vina bingung, perlahan iapun memposisikan tubuhnya agar lebih nyaman berbaring l, sebari masih menghalau pening yang menyerang kepalanya.
"Yang lain mengiramu sudah tak tertolong, kecuali Tuan Allan yang masih menganggapmu ada, bahkan ia rela ikut mati dan mengancam semua orang yang mau mencabut alat bantu kehidupanmu pada masa koma Nona" ucap Barry, hingga seluruh ceritapun mengalir, bahkan mimik wajah Vinapun terus berubah ubah hingga.
"Telfon Allan katakan aku dalam keadaan kritis, bisakah tutupi aku dengan selimut saat Allan datang" Ucap Vina seluruh rencananya, seketika terbesit dengan cepat, saat matanya menatap tanggal, karna hari esok adalah ulang tahun kekasihnya.
Jam 7 malam Allanpun datang dengan wajah gusar, dan langkah seribjnya berubah menajdi langkah sejutanya, akibat rasa khawatir mengebu gebubya, hjngga saat menatap Vina sudah dipasangkan berbagai macam alat yang makin memenuhi tubuh Kekasihnya.
Allanpun menatap sedu Vinanya sebari mengelus pipi pucat nan tirus tersebut, sedih "Nona dalam masa keritis mohon tunggu diluar" Ucap Berry sebari menahan tawany mati magian menatap mimkm wajah lesu dan tersiksa Allan .
Dan benar saja semuanyapun sontak terkejut saat Barry mengabarkan rencana Vina hingga mereka hanya mengangguk pasrah, dan ebrtanya bagai mana reaksinya nanti.
Awalnya semua berjalan lancar Allan masih tetap setia, sebari memijit keningnya letih, dan gelisah, dicampur khawatir karna dokter hampir sudah hampir 4 jam memeriksa kekasihnya.
Hingga bankar kasur Vinapun dipindahkan dari Icu kembali ke kamarnya.
VVP1.
Jampun terus bergerak hingga tak terasa sudah menunjukan 11.55.
Allanpjn masih setia duduk di samping gadisnya, yang entah sejak kapan tangannya berubah memeluk boneka teddy yang diberikan Allan saat ulang tahun gadisnya yang saat itu tengah tertidur akibat koma.
"Hingga"
"HBD Sayang" Ucap Vina sontak Allan terjungkal ke belakang saking terkejutnya.
Matanya membulat sempurna, rasa senang, kesal plus marahpun seketika mendominasi.
Hingga "Apa apaan ini!!!" Bentak Allanmenatpakan raut wajah emosi yabg tak lama lagi akan meledak tiba tiba Allanpjn kalah.
Saat mimik wajah Vjminanya masih nampak phcat dengan swnyum yang dipaksakan.
Allan menatap dengan perasaan campur aduk "Aku khawatir dan kalian membohongiku" Ucap Allan dengan nada mulai merrndah walau masih terdengar sedikit sinis, hingga.
Semuapun hening, dan setetes air mata jatuh dari mata Vina.
Sontak Allanpun panik bak kesetanan memeluk Vina "maaf maaf aku terlalu mengkhawatirkan mu sayang...." ucap Allan sangat lembut akibat panik bahkan terus membenamkan kepala Vina di dada bidangnya, seakan mohon maaaf atas segala perbuatannya.
Hingga Vina mendongak "Maaf aku pergi, kamu lama menungguku?, aku terlalu lama pergi aku takut bangun" Ucap Vina sebari menangis pilu.
"Hingga tangan Vina menggulurkan kotak kecil" saat Allan membukanya fdidalamnya nampak sebuah gelang indah, sontak Allanpun menatap Vina dengan tatapan bertanya.
"Untukmu aku membuatnya khusus sebenarnya sudah sejak tahun, lalu tapi aku takut memberikannya" Ucap Vina lalu kem alj memeluk Allan.
"I Love You, I Miss You Soumach" Ucap Allan lalu makin mengeratka pelukan m mereka, hingga seuruh keluargapun berknisiatif keluar, tak kngin mengaggu dua insan yang tengah kasmaran.
Seketika ciuman panaspun terjadi, tak ada kata penolakan, hanya menyalurkan rasa rindu yang sudah membuncah keluar, bahkan tak bisa ditepis, dan rasa bahagia yang benar benar sudah seperti benar benar berada di surga dunia, dan merasa dunia hanya milik berdua saja.
Itulah yang sepasang insan yang tengah bercumbu mesra itu rasakan, sangat sangat bahagia dan senang.
Hingga ciuman terlepas Allanpun menatap Vina "Besok kita tunangan kumohon kali ini jangan menolakku aku sungguh mencintaimu, aku percaya pada mu bahkan melebihi diriku" Ucap Allan yang hanya diangguki Vina.
Seketika Allanpun berteriak "Mom Dad" teriaknya sontak sang Mama, dan Papa datang.
"Ya ada apa sayang, kau tampak sangat aneh? " Ucap sang Mama dan Papa Allan nampak menyenbunyikan senyum mereka.
"Siapkan pesta sederhana saja, aku akan tunangan dengan Vina besok" Ucap Allan tegas, dibarenggi senyum cerianya yang napak bahagia, membuat semua orang terpaku. Allan lamanya telah kembali.
"Kakak tersenyum" Ucap Eve girang berhamburan memeluk Vina dan Allan.
Allan dan Vinapun menyambut peluka Eve dengan sepenuh hati.
Kebahagiaanpun kembali mendatangi keluarga Vina maupu Allan.
Hingga keterkejutan Vinapun makin nampak saat, sikap Allan sudah berubah 360 derajat.
Hingga 3 minggu sudah berlalu, sudah sejak seminggu lalu kembali kerumah dan itupun ke mansion milik Allan bukan Mansion Vina maupun keluarga Allan.
Oh ya tentang pertunangan Vina sedikitpun tak bisa menolak, Pertunangan berjalan lancar bahkan Allan tak tanggung tanggung walau katanya sederhana ,dan hanya mengundang kerabat ia malah membuatnya se indah dna snagat megah tak seperti ucapannya .
Hingga kembali ke saat ini, Vina sudah stay di kamar dengannya, yap tentu saja dengan Allan yang masih setia bergelut dengan selimutnya,bahkan enggan untuk membuka matanya.
Sedangkan Vina malah asik menatapnya sudah sedari 1 jam yang lalu.
Hingga si empunya terbangun dari tidurnya, dengan mata yang langsung tertuju pada Vina, plus tatapan teduh khas baru bangunnya.
"Jam berapa?" tanyaya sebari menarik Vina lembut mendekat, mengecup bibirnya sekilas.
"Tuju lebih sepuluh" Jawab Vina dengan santai dengan senyum malu.
Allanpun duduk di tepi ranjang sebari menatap Vina intens.
"Kenapa?" tanya Vina pura pura biasa saja, padahal sesungguhnya jantungnya sudah bak mau lari keluar akibat sangat keras berdegup, saat Vina hendak beranjak tiba tiba Allan menariknya ke pangkuannya.
"Seluruh berkas dan semuanya sudah masuk, kuharap kamu tak marah saat aku menyuruhmu kuliah di Universitasku dengan jurusan bisnis" Ucap Allan sontak membuat Vina melotot bahkan kepalanyapun, berputar menatap Allan, saat sudah kembali sadar, Vinapun langsung memasang raut wajah kesalnya.
"Aku bahkan sudah menyelesaikan skripsiku kau tau sarjana desain ku akan datang, dan aku tak ingun menunda wisudaku lagi!" Seru Vina kesal menatap Allan tajam, hingga saat ia ingin turun dari pangkuan Allan, Allanpun menggeleng dengan mata tajamnya.
"Kau tau aku bahkan sudah belajar dengan keras dan sudah loncat ssmester kau tau kan!!!" Bentak Vina dengan wajah sangaf kesal.
"Itu desain, bukan bisnis kau tau seluruh keluargamu menolak, kamu sekolah aku yang akan mengurus wisudamu, dan sidang skripsimu, kamu akan memiliki ijazah dan pangkat S1 mu tapi kamu harus sekolah Bisnis, tak ada penolakan babe!!" Ucap Allan sontak, Vina makin melotot tajam, lalu mendengus membuang mukanya agar tak menatap Allan "No" Jawab Vina datar
Seketika Vinapun menatap Allan dengan wajah pupy eyesnya "Oh tak bisakah aku tak perlu sekolah bisnis, hanya kursus atau belajar sendiri" Ucap Vina memohon, Allanpun menggeleng mantap hingga Vibapun kembali ke mode paling akhir yaitu mode dengan wajah malas, dN tatapn datar.
"Tidak" jawab Allan tgeas dan jelas, lalu Vinapun beranjak masuk ke kamar mandi.
Blam....
Membanting pintu, terus mengumpat merutukki keinginan Allan yang benar benar tak bisa dibantah.
Ritual mandi Vinapun bahkan tak terasa telah selesai, dengan cepat Vina memasuki Walk in closet segera menganti pakaiannya asal.
Lalu turun menuju meja makan, sebari terus membaca buku novel yang ia bawa sedari tadi karna sedang menunggu Hani pembantu rumah, sedang masak.
Tiba tiba si empunya pemaksa, dan tak bisa dibantahpun datang lengkap dengan almamater kampusny, tak lupa tas yang tersampir di bahu kanannya.
Vinapun memutar bolamatanya malas "Aku akan kebutik, dan toko Perfume" Ucap Vina, malas sebari terus melanjutkan membaca novelnya.
Hingga tanpa basa basi Allan mengamit Novel Vina, menarik kursi tempat Vina duduk agar mendekati kursi tempatnya duduk.
"Aku tak suka dibantah babe, berhentilah mengumpati pendapatku yang tak akan pernah kuubah lagi" Ucap Allan terlihat sangat tegas, dengan tatapan tajam walau nada suaranya masih rendah.
"Semua sudah siap, minggu depan ikuti ospek sesuai peraturan tanpa penolakan kau mengerti jika tidak, dan masih tetap kekeh ok, kita akan menikah minggu depan pilihlah Sekolah, atau Menikah" Ucap Allan sontak Vina melotot lalu mengamit kasar Novelnya.
"Kau egois, Tahun depan bukan Minggu depan holy shit, kau jahat" Ucap Vina kesal lalu Vinapun beranjak ingin pergi.
Hingga ia kalah cepat, karna Allanpu tiba tiba sudah merengkuh pinggang ramping Vina yang ingin segera pergi "Aku khawatir dan bisakah kau selalu disisku dikampus, di rumah dan di tempat lainnya harus selalu dalam pengawasanku" Ucap Allan yang sontak membuat Vina mengerinyit.
"Astaga kau gila!" Sinis Vina menatap Allannya emosi
Sedangkan Allan hanya bisa menahan emosinya mari.matian agar tak lepas kontroĺ, hingga Allanpun memgehela nafas berkali kali lalu "Tidak Babe!" Tekan Allan pad aucapannya berusaha sabar "aku ingin kamu selalu ada, dimanapun aku, entah pagi saat aku bangun, di Kampus, rumah, bahkan saat aku kembali tidur jika tidak aku, akan mati saat itu juga kau segalanya Babe" Ucap Allan seketika Vina menatap Allan lembut.
Inilah konsekuensinya, seketika Vinapun hanya bisa mengalah, jika terus melawan tak akan berguna, karna apapun yang Allan inginkan harus terwujud, jika tidak maka ia akan berbuat ekstream dan akan berakhir buruk.
"Kau makin posesive, ok terserahmu aku tak akan menolak lagi" Ucap Vina lalu memutar bola matanya, saat melihat seketika Allan mengangguk dan emnampakan swnyun kemenanganya.
"Good girl" Ucap Allan sedangkan Vina masihsaja mendengus, tak terima.
"Pemaksa" Impat Vina yang dijawab hanya kekehan tek peduli Allan.
.................... 6667777
Maaf kalo makin gaje ya tapi minta
Votenya donk...
Yanv minat up lagi mohon koment,,, janji kalo aku baca ada yang koment gue akan up lagi..... maka dari itu go!!!! koment yang banyak dan terus disetiap Ep jadi gua makin semangat up okkk....😍
Tunggu Nezx Epnya yaaa........
Lop Yu....