christina

christina
bab 8



Tok tok tok


"Masuk" bukan aku yg mengucapkan, tapi ibuku.


Benar, 3 jam yg lalu ibuku masuk kedalam kamarku tepat saat aku sudah bangun, walaupun nyawaku waktu itu belum terkumpul lama.


Ibuku menyeretku ke dalam pemandian ku, saat itu aku hanya bisa pasrah ketika ibu mulai membersihkan tubuhku.


Sebenarnya aku sempat protes kepada ibuku kalau aku bisa membersihkan tubuhku sendiri, tapi ibu mengatakan kalau ia ingin memandikan ku dan alasan lainnya yg menurutku sedikit tidak masuk akal.


Dah yah... Aku duduk di depan meja rias ku dengan rambut ku yg sudah tertata rapi dan ikat menjadi satu, menyisakan beberapa helai rambut yg dibiarkan keluar disana.


Tentu ibuku yg menata rambutku, aku disuruh ibuku untuk memilih hiasan rambut sendiri, aku pilih bando biru langit dan ibu memakaikan nya di kepalaku.


Aku merasa senang ibu bisa menata rambutku lagi.


"Pagi duchess, yg mulia duke memanggil anda untuk segera ke tempat kerjanya" ujar seorang pelayan yg tidak asing sama sekali, dia adalah viona pelayan yg baik hati dan juga pelayan pribadi ibuku.


Ibuku berbalik badan ke arah vio dengan alis yg terangkat "kenapa lucas memanggilku?" tanya ibu.


Vio menggelengkan kepala tanda ia tidak tahu alasan ayah memanggil ibu ketempat kerjanya, ibu menghela nafas dan berjalan keluar pintu kamarku yg diikuti vio dibelakangnya, tapi sebelum keluar ibu sempat mencium kening ku cukup lama dan pergi meninggalkanku di kamar sendirian.


Aku berfikir mungkin ada sesuatu yg penting membuat ayah memanggil ibu, karena ibu terkenal sangat cerdas mengatasi bencana atau menyusun strategi perang, tidak hanya itu. Ibu juga sangat pandai dalam memanah dan selalu tepat sasaran sekali tembak.


Jadi setiap ada perang atau bencana ibu selalu memberikan arahan yg bagus.


Aku berdiri dari tempat kursi yg ku duduki dan menatap diriku sendiri dicermin.


"Kemampuan ibu tidak diragukan sama sekali" aku tersenyum puas melihat hasil rambutku yg telah ditata oleh ibuku.


Selesai puas melihat diriku dicermin aku berbalik badan dan melangkahkan kakiku menuju pintu untuk keluar dari kamarku, tak lupa aku menutupnya kembali, entah kenapa aku ingin menemui kedua kakakku.


Dengan perasaan senang aku berjalan menuju kedua kakakku berada, tentu aku tau tempat mereka, di tempat latihan para kesatria garfield.


*****


"kakak!" panggil ku yg sengaja berteriak agar kedua kakakku mendengarnya.


Ansell dan hansel yg sedang menyeka keringat yg terus bercucuran menoleh kearah adik kesayangan nya.


Betapa terkejutnya mereka dengan kedatangan adiknya yg berada di tempat latihan para kesatria, tidak hanya mereka berdua tapi seluruh kesatria yg sedang berlatih terkejut melihat nona cantiknya datang kemari.


ansell mengangkat alisnya merasa ada yg berbeda dari adiknya, tapi ia tidak tahu apa yg berbeda dari adiknya.


Aku menghentikan langkahku tepat didepan kedua kakakku yg masih terkejut dengan kedatanganku yg tiba-tiba datang kemari, tentu itu wajar untuk mereka terkejut, karena udah 3 tahun lalu aku tidak melihat kedua kakakku yg berlatih dan mengunjungi lapangan latihan kesatria.


"Ini kak untuk kalian bedua" aku menyerahkan sekotak yg kubingkiskan dengan motif yg berbeda.


Ansell dan hansel menerima dengan antusias "terimakasih adikku" ujar mereka berdua bersamaan.


Aku hanya menganggukkan kepala, aku menoleh kesamping kanan yg terdapat dylan sedang berdiri menghadap kearahku, aku mengodenya untuk mendekat sebentar, dylan dengan cepat memahami kode ku dan berjalan mendekat kearahku.


"Ada apa nona?" tanya dylan canggung.


Aku menyodorkan keranjang besar yg isinya makanan serta minuman didalam keranjang itu, dylan yg belum mengerti apa maksudku yg tiba-tiba menyodorkan keranjang makanan kearahnya.


Aku menghela nafas "ini untukmu dan para bawahanmu, ambil lah"


Setelah aku mengucapkan nya, dylan terlihat ragu menerima keranjang yg isinya makanan serta minuman.


Lagi lagi aku menghela nafas "itu hadiah untuk mereka karena sudah berlatih dengan keras" ujarku malas.


Malas sekali aku meladeni kakakku yg sudah seperti ini, kesabaranku yg setipis tisu harus bisa menahannya.


Hansel mendengus kesal dan berbalik badan "awas aja kalian akan ku tambah latihan nya" gumam hansel yg terdengar olehku dan yg lain.


Dylan yg mendengar ancaman mengerikan dari tuan muda keduanya tersentak, dylan tidak ingin latihannya sampai ditambah kan karena hal ini, tidak hanya dia tapi seluruh kesatria yg sedang berlatih akan bertambah.


Aku mendengus lelah, rasanya aku ingin memukul kepala kedua kakakku, tapi aku harus sabar menghadapi mereka.


"Kak jangan begitu, itu hadiah untuk hasil kerja keras mereka" nasehatku.


Terlihat para kesatria yg dilindungi oleh nona nya tersenyum senang, bahkan ada yg menahan agar tidak berteriak mengatakan terimakasih.


Hansel tidak mendengarkan ku dan tetap melangkah kan kakinya, sedangkan ansell masih diam ditempatnya berada.


Ansell melirik sekilas kearah para kesatria yg terlihat senang dengan tatapan dingin, seketika para kesatria yg diberi tatapan dingin oleh tuan muda pertamanya langsung terdiam dan berkeringat dingin.


Ansell mengalihkan pandangannya ke arahku "ayo ke taman belakang mansion" ia menarik lengan kananku dan membawaku pergi dari lapangan pelatihan kesatria garfield.


Aku hanya bisa pasrah saat kakak pertamaku menarik lengan ku.


Aku melihat raut wajah para kesatria yg takut "makan saja tidak apa apa! Tidak usah pedulikan kedua tuan mu!" teriakku serta perintah ku yg tidak ingin dibantah.


Saat aku berteriak kearah para kesatria, dibalas anggukan antusias dan senang dari mereka semua.


Entah ansell kesal atau tidak dengan yg ku ucapkan barusan, sepertinya ia kesal seperti hansel hanya saja berbeda, ia lebih memilih diam dengan raut wajah yg terlihat sangat dingin jika sedang kesal.


Aku tidak bisa melihat raut wajahnya, semoga saja ia tidak kesal denganku.


*****


Aku dan ansell berhenti di taman yg berada dibelakang mansion garfield, yg banyak sekali bunga lily, bunga kesukaanku dan ibu.


"Kak–"


Belum selesai aku mengatakan sesuatu, tapi sudah disela olehnya.


"Kita duduk disana, sudah disiapkan oleh pelayan" tunjuk ansell.


Aku menatap ke arah yg ditunjukkan ansell, ternyata benar yg dikatakan olehnya, ada meja dan dua kursi yg ada disana serta cemilan lainnya.


Tunggu, sejak kapan? Bukankah tadi kakak sedang bersamaku menuju kemari? Aku merasa bingung dengan kehadiran kursi dan meja tiba-tiba.


Daripada aku semakin bingung dan membuat kepalaku sakit, lebih baik aku bertanya kepada kakak pertamaku.


Aku menepuk pundak kakak cukup keras membuatnya meringis kesakitan, aku memiringkan kepalaku melihat reaksi kakak pertamaku.


Apa sesakit itu? Padahal aku hanya menepuk nya


Ansell berbalik badan menghadap kearahku sepenuhnya dengan raut wajah yg kesal, tidak–ia tidak sepenuhnya kesal.


Ia memberiku tatapan tajam, aku hanya menyengir tanpa dosa.


"Maaf kak, aku hanya ingin bertanya kepadamu" ujarku jujur.


Ansell mendengus kesal "bukankah kalau ingin bertanya bisa memanggil namaku?" tanya nya yg diikuti tatapan kesal dimatanya.