
"Ya aku minta maaf kak, aku tidak tahu kalau sesakit itu" aku menggaruk tekuk ku yg tidak gatal, merasa bersalah juga.
"Sudahlah, kau ingin tanya apa? Tunggu–kita kesana dulu" aku mengangguk dan mengikuti kakak pertamaku dari belakang.
Sampai aku menghentikan langkah ku dan menarik kursi kebelakang lalu duduk, begitu juga dengan ansell.
Ansell menaruh kedua tangannya diatas meja "apa yg mau kau tanyakan?"
"Ah, sejak kapan sudah ada meja dan kursi disini?" tanyaku penasaran sekaligus bingung.
Ansell yg mendengar pertanyaan ku tertawa pelan "astaga kau bertanya soal itu?" ia menggeleng kan kepalanya tidak mengerti kenapa aku bertanya soal itu kepadanya.
"Kenapa?" tanya balikku ketus.
Ansell langsung menghentikan tawanya dan menatap kearahku sepenuhnya.
"Maaf adikku, aku akan menjawab pertanyaanmu yg terlihat sangat penasaran" ansell tersenyum tipis "tadi bukankah aku mengatakan sesuatu kepada seorang pelayan yg lewat tadi?" aku mengerutkan kening berusaha mengingat kembali.
Oh!sekarang aku ingat, sebelum sampai ke taman belakang mansion kakak pertama ku menghentikan seorang pelayan yg sedang menjalankan tugasnya, tapi aku tidak tahu kakak pertamaku mengatakan apa kepada pelayan itu.
"Jadi tadi kakak memerintah kan nya untuk menyiapkan ini semua?"
Ansell menganggukkan kepala, sekarang aku mengerti kenapa tiba-tiba ada meja dan dua kursi serta camilan lainnya, ternyata tadi kakak memerintah pelayan yg melewati ku dan kakaku saat masih berjalan menuju taman belakang mansion, jaraknya tidak begitu jauh juga, pasti ia menyuruhnya untuk menyiapkan secepat mungkin.
Aku menghela nafas "aku merasa kasihan dengannya" gumamku.
"Apa..?" tanya ansell karena ia mendengar suara dari arahku yg sangat lirih.
Aku menggelengkan kepala pelan serta tersenyum canggung "tidak ada kak" ujarku.
Ansell hanya mengedikkan bahu acuh, ia menoleh kesamping kanan yg terdapat beberapa pelayan yg berdiri disana.
Terlihat ia sedang memberi kode kepada salah satu pelayan yg berdiri tidak jauh dari tempatnya, pelayan yg diberi kode oleh ansell langsung mengangguk kan kepala mengerti dan pergi dari sana.
Selesai memberi kode ansell beralih menatap kearah adiknya yg ternyata sedang asik makan kue, ansell terus menatap dan memperhatikan christina yg asik makan tanpa memperdulikan apapun.
Ansell pov
Aku sekarang sedang bersama adik ku yg cantik, ia berada didepanku yg sangat asik memakan camilan atau kue yg disiapkan oleh para pelayan.
Aku memperhatikan nya yg asik makan tanpa memperdulikan apapun, buktinya ia tidak tahu jika aku menatapnya.
Terkadang aku merasa bingung dengan sikap adikku yg satu ini, kadang sikap adikku kalau sedang serius ia akan menjadi lebih dewasa dariku dan sisi dewasa lainnya keluar, padahal ia masih berusia 10 tahun.
Kalau tidak serius sikap kekanak-kanakan akan keluar darinya, untungnya masih ada sikap kekanak-kanakan nya kalau tidak, aku tidak berguna sebagai seorang kakak.
Tapi walaupun begitu aku sangat sayang kepadanya, karena satu-satunya wanita setelah ibu di keluarga garfield dan aku berjanji akan melindunginya.
Kalau diingat-ingat, saat ia berusia 3 tahun, ia sudah sangat mahir membaca dan menulis dan tulisan nya yg berbeda dari anak seusianya.
Tulisan nya cukup jelas dan bisa dibaca, aku heran dengan adikku yg masih kecil sudah sangat mahir membaca dan menulis, bahkan bahasa kuno ia mahir juga.
Kalau bahasa kuno aku belajar dan mengerti setiap hurufnya dalam kurung 5 bulan, dan dia hanya 2 bulan, Hebat bukan? Tentu saja adik kecilku yg sangat cantik.
Mungkin agen kecerdasan dan kepintaran yg dimiliki ibu turun ke lisna, buktinya ia juga memiliki otak yg cerdas seperti ibu.
Kalau diusia 7 tahun ia meminta kepada ayah untuk belajar berpedang dan sihir, awalnya ayah, aku dan hansel menolak tapi karena lisna keras kepala akhirnya kami semua setuju.
Ibu? Ibu berpihak kepada lisna, jadi yah kami menyetujui nya.
Sebenarnya usia 7 tahun yg gadis seusianya saja tidak ada yg berlatih pedang, bahkan sampai meminta berlatih sihir, malah berlatih seperti dansa, tata krama dan lainnya.
Lisna? Tata krama? Dansa? Sejarah kerajaan? Melukis? Seni? Ia sudah mempelajari semuanya saat masih berusia 5 tahun, lisna mengatakan kalau ia membaca buku yg ada di perpustakaan milik keluarga garfield.
dan juga ia mahir dalam sihir saat diusianya yg masih 5 tahun, 1 bulan ia sudah menguasai tingkat rendah sampai tingkat tinggi, aku saja butuh 5 bulan untuk menguasainya, apalagi sihir tingkat tinggi.
"Kak?" aku tersadar dari lamunanku karena lisna memanggilku.
"Kenapa?" tanyaku.
"tehnya udah dateng"
"Kapan?"
"Barusan, 2 menit yg lalu" balas lisna yg kembali memakan kue yg disiapkan oleh pelayan.
Aku hanya ber-oh ria dan meminum teh herbal yg dibuat langsung oleh garfield, aku suka dengan aromanya yg bisa dibilang harum membuatku bisa rileks.
"Kak, tadi kakak kenapa?" tanya lisna sembari memasukkan cookie kedalam mulutnya.
Aku meletakkan cangkir ke tempatnya "tidak ada"
Terlihat lisna mendengus kesal mendengar jawabanku, aku mengedikkan bahu acuh dan mengalihkan pandangan ku kesamping kiri yg terdapat kolam besar yg ada berbagai ikan kecil didalamnya.
Lisna sangat menyukai kolam ini, bahkan ia pernah mengatakan kalau ada orang yg mengotori danau ini, ia takkan segan-segan menghukumnya.
Saat ku tanya alasannya menyukai kolam, ia menjawab kalau kolam ini indah, dingin dan udara sejuk membuatnya menjadi tenang.
Waktu kecilnya setelah selesai latihan ia selalu kesini dan duduk sambil mengamati kolam dengan teh herbal.
Ansell pov end
Aku melihat kakak pertamaku mengalihkan pandangannya kearah danau, danau–bukan lebih tepatnya kolam besar aku sangat menyukai kolam itu.
Aku memutuskan untuk melanjutkan kembali memakan kue kesukaan ku yg rasa coklat.
Hening
Kami saling diam dan tidak ada yg mau mengucapkan satu kalimat.
Tiba-tiba ada suara teriakan yg membuat aku dan ansell menoleh kearah asal suara.
"LISNA, KAKAK!"
Ternyata itu adalah hansel, kakak kedua ku yg cukup menyebalkan.
Aku melirik sekilas ke ansell yg raut wajahnya berubah menjadi datar dan dingin, aku yakin pasti ia terganggu dengan teriakan kakak kedua.
Hansel menghentikan langkahnya tepat disampingku dan ansell, ia menoleh ke pelayan yg berdiri tidak jauh dari kami, aku melihat ia seperti sedang menyuruh salah satu pelayan yg ada disana dengan tatapan.
Tentu pelayan di kasih perintah langsung paham apa yg dimaksud oleh tuan mudanya, dengan cepat pelayan itu membawa satu kursi dan berlari cepat kearah kami.
Pelayan itu langsung menaruh kursi itu disampingku dan ansell tentunya, selesai pelayan itu mengundurkan diri lalu pergi dari hadapan kami.
Hansel menarik kursi dan menduduki kursi yg dibawakan oleh pelayan itu.
"Kenapa kalian tidak menunggu ku?" tanya nya dengan ketus.
Aku memutar bola mata malas "siapa yg tadi tiba-tiba hilang di lapangan latihan kesatria? Dan aku diajak oleh kak ansell kesini–bukan tapi ditarik" sindir ku.
Terlihat raut wajah kak ansell berubah menjadi lebih lunak "maaf , tadi aku terlalu kesal melihat semua kesatria senang karena makanan yg kamu beri" murung nya.
aku menghela nafas "sudahlah, lebih baik kita bersantai sambil minum teh yg masih hangat"
aku menuangkan teh kedalam cangkir milik kak hansel, untungnya cangkir yg telah disediakan oleh para pelayan ada tiga.
setelah ku tuangkan, kak hansel mengambil cangkir teh miliknya "terimakasih" lalu meminumnya sesuai tata krama yg selalu di gunakan para bangsawan.