
Duke yg daritadi diam melihat mereka sambil menggendong christina membuka suara.
"Tidur, lisna juga udah tertidur, besok kau bisa bermain dengannya lagi"
Karena duke udah membuka suara, mau tak mau hansel harus menuruti perintah ayahnya, memang benar lisna sudah tertidur daritadi tapi hansel masih ingin melihatnya.
Dengan perasaan yg masih kesal hansel pamit lalu keluar dari kamar duchess dan duke, ansell juga ikut keluar dari kamar mereka berdua dan menyusul adiknya.
"Ini" duke menyerahkan kembali bayi lisna kepada duchess.
Duchess mengambil dari tangan suaminya dan mengencup pipi yg chubby beberapa kali.
"Putri kita pasti sangat cantik kedepannya" gumam duchess yg memandangi wajah lucu christina yg tertidur lelap.
Duke tersenyum tipis "benar, tapi aku tidak akan satupun laki-laki yg dekat dengannya"
Ucapan duke membuat duchess terkekeh pelan "kamu egois sayang" dengan sengaja duchess mencubit pinggang duke, membuatnya meringis kesakitan, cubitan duchess bukan main-main.
✶
10 tahun kemudian
"Lisna?!!" pekik senang seseorang yg berlari kearahku.
Aku langsung menutup telingaku, kalau tidak kututup bisa-bisa telingaku pecah nanti.
"Kak jangan teriak saat memanggilku!" kesal ku.
Aku kembali menurunkan kedua tanganku yg tadi untuk menutup telingaku.
Seperti biasa dia selalu berteriak saat memanggil namaku, dan itu membuatku harus menutup telingaku.
Dia adalah kakak keduaku hansel wein garfield, ia sekarang berusia 14 tahun.
Tidak ada perubahan sama sekali setelah 10 tahun berjalan, semua orang sangat posesif padaku, huh! mengingatnya saja membuatku kesal.
Hansel menarik kursi yg berada didepanku sembari menampilkan senyum khas miliknya, aku hanya memutar mataku malas.
"Kenapa?" tanyaku tanpa basa basi.
"Tidak ada, aku hanya ingin meminun teh bersama mu saja" alasannya.
Hansel memanggil seorang pelayan yg kukenal, olafia, selaku sebagai pelayan pribadi ku yg sedang berdiri lumayan jauh dari meja yg ku tempati, berjalan menghampiri kami.
Olafia setengah membungkukkan badannya "ada yg bisa saya bantu?" tanya nya.
"Buatkan aku teh herbal yg kusuka" suara hansel berubah menjadi dingin, yah aku tidak terkejut lagi.
Olafia menganggukkan kepala dan menegakkan kembali tubuhnya, olafia pamit undur diri yg dibalas anggukan hansel, kakak keduaku.
Berbeda bukan? Saat didepanku ia berbicara dengan nada lembut dan perhatian, tapi kalau didepan orang lain berubah drastis, menjadi dingin dan cuek.
Tidak hanya suaranya tapi juga sikapnya yg juga berubah didepanku dan didepan orang lain.
Awalnya aku juga terkejut melihat perubahan hansel, tapi setelah 8 tahun berjalan aku sudah terbiasa dengannya, seperti yg tadi, memanggil namaku sambil berteriak.
Aku menghela nafas "kakak kenapa datang kemari? Tidak mungkin alasan kakak itu hanya untuk melihatku–" aku menjeda kata²ku.
"jangan bilang kakak bolos kelas?" aku menyipit kan mataku menyelidik.
Raut wajah hansel langsung berubah gelisah, sepertinya benar dugaanku.
"Ti-tidak, mana mungkin aku bolos kelas?" nahkan benar, buktinya ia tergagap menjawab pertanyaanku.
Selama 8 tahun ini aku sudah mengenal jelas sifatnya, bahkan sifat keluargaku dan seluruh orang yg ada dikediaman garfield.
Aku mendengus mendengar jawaban kakak kedua ku "terserah kakak, tapi aku tidak mau ikut-ikut" aku mengangkat kedua tanganku tanda aku tidak ingin ikut campur.
Ikut campur dalam artian kalau ibu marah kepadanya aku tidak ingin ikut campur, karena itu sangat menyebalkan.
Marahnya ibu bukan main-main, ayah saja ketakutan melihat ibu marah apalagi aku? Jiwaku sudah menciut takut.
Hansel menghela nafas pasrah "baiklah" ujarnya lemah.
Aku dan hansel menoleh kearah asal suara, ternyata olafia yg sedang membawa secangkir teh untuk kakak keduaku.
Olafia meletakkan diatas meja dengan hati-hati dan profesional, setelah meletakkannya olafia pamit undur diri yg balas deheman oleh hansel.
Olafia berjalan menjauh dari kami, sekarang ia berdiri tidak jauh dariku dan hansel berada.
Hansel meraih secangkir teh lalu meminumnya dengan tenang, aku hanya diam sambil memakan cookies didepanku.
Setelah meminumnya hansel kembali menaruhnya diatas meja, hansel menatapku yg sedang asik makan berbagai kue, mau itu basah atau kering.
"Lisna, kau tadi sepertinya ingin mengatakan sesuatu?"
Aku mendongak dan membalas menatapnya "hm? Apwa itwu?"(apa itu?)
Hansel menahan tawanya yg akan meledak ketika melihat ku yg makan sambil berbicara.
Setelah kutelan semua, aku menatap sinis kearah hansel yg masih menahan tawanya.
"Apa?" tanya ku dengan nada ketus.
Hansel yg mendengar suara nada ku yg berubah langsung merubah raut wajahnya, yg tadinya ingin tertawa berubah diam.
"Kau tadi ingin mengatakan sesuatu atau aku yg salah lihat?" Hansel menyandarkan tubuhnya di gagang kursi, terlihat ia kelelahan.
Aku berfikir sejenak "sebelum fia datang?" tanyaku.
Hansel mengerutkan keningnya "fia..?siapa?" bukannya menjawab pertanyaanku malah ia berbalik bertanya kepadaku.
"Olafia, dia kupanggil fia" aku menurun kan pandanganku dan memotong kue kesukaanku.
Hansel hanya ber-oh datar tanpa tertarik sama sekali, setelah kepotong kue stroberi kesukaanku, ku masukkan ke mulut, terasa sangat lembut di mulutku.
Ditengah-tengah aku sedang menikmati kue, laki-laki selaku kakak pertamaku datang menghampiri kami.
"Siang lisna" sapa kakak pertama ku dengan senyum nya yg manis.
Aku sekilas melirik ke arahnya lalu kembali makan kue ku yg jauh lebih manis, tapi aku tetap membalas sapaannya.
"Siang juga kak ansell"
Ansell wesley garfield, kakak pertama ku yg sekarang sudah menginjak usia 14 tahun, ansell dan hansel adalah saudara kembar.
Tapi sifat maupun sikap mereka berdua bertolak belakang, sangat berbeda.
Ansell selalu berfikir dengan lebih dewasa, mengambil keputusan dengan kepala dingin, tegas dan penuh hati-hati atau sangat penuh waspada saat ada musuh.
Sedangkan hansel, ia bertolak belakang dengan ansell, hansel selalu berfikir dengan malas, mengambil keputusan dengan tidak serius, penuh tantangan dan berani dalam menghadapi musuh, mau itu lebih kuat dirinya atau tidak.
Beda bukan mereka berdua? Padahal kembar tapi sikap dan sifat mereka berdua berbeda.
Entahlah aku juga bingung, apalagi hansel kakak kedua ku, yg sangat malas untuk berfikir, mau itu serius atau tidak ia tetap malas untuk masalah berfikir.
Aku juga begitu tapi kalau masalah serius aku tidak akan malas dan segera membereskan semuanya, aku tidak suka membuang-buang waktuku yg berharga.
Ansell menarik kursi yg ada disamping kanan ku, sebenarnya tadi aku menyuruh fia untuk menyiapkan kursi lebih dari dua, insting ku pasti mereka berdua akan datang menghampiriku dan benar saja.
Setelah kutelan semua yg ada di mulutku, aku mendongak menatap ansell penuh dengan selidik.
"Ada apa kak ansell kesini?" tanyaku menyelidik.
Ansell membalas tatapanku dengan tenang "hanya ingin melihat adikku yg cantik ini" balasnya dengan senyuman manisnya.
"Lagi dan lagi alasan yg intinya sama" gumam ku.
"Kau.. kelasmu sudah selesai?" bukan aku yg bertanya tapi hansel.
Ansell mengangguk "kau sendiri?" tanya balik ansell.
Terlihat hansel langsung mengalihkan tatapannya saat ansell menatapnya.