
"Kak hansel bolos" ujarku sambil memakan kue dengan santai.
Hansel mendelik mendengar ucapanku, tapi memang benar apa yg dikatakan.
Alis ansell terangkat "apa benar begitu hansel?" tanya nya dengan senyuman yg penuh arti.
Hansel menggeleng cepat "tidak! Lisna kau sangat kejam menuduh kakakmu ini" aku melihat ia memelas untuk meminta bantuan kalau yg aku ucapkan barusan hanya bualan.
Tapi aku hiraukan dan tetap melihat mereka berdua yg didampingi kue kesukaanku.
Ansell berdiri dari kursi yg ia duduki lalu ia menarik tangan hansel, hansel yg tiba-tiba ditarik terkejut dan memberontak, sayangnya ansell tidak akan melepaskannya begitu saja.
"AN! LEPAS SIALAN!" hansel berteriak untuk melepaskan cengkraman yg ada ditangan nya.
Ansell menulikan pendengarannya dan tetap jalan sembari menarik tangan hansel.
Aku menggelengkan kepala melihat sikap mereka berdua, apalagi hansel yg berteriak tidak ada malunya.
"Akhirnya tidak ada penggangu lagi" aku menghela nafas lega.
Ah iya, aku sekarang berusia 8 tahun, semua orang mengatakan kalau usia dan sikapku sangat berbeda jauh, lebih dewasa.
Jelas, orang jiwaku dewasa tapi tidak dengan tubuhku yg masih kecil.
Aku lompat dari kursi yg ku tempati dan menepuk-nepuk gaun ku agar kembali rapi, aku mendongak menatap olafia yg tidak jauh darimu.
Olafia yg paham berlari mendekat kearahku "fia aku ingin jalan-jalan diluar mansion" ia berhenti tepat disampingku.
"Meminta izin kepada duke terlebih dahulu nona"
Aku menghela nafas, apa harus izin kepada ayahnya? Pasti tidak akan diperbolehkan seperti waktu itu.
"Apa boleh?tapi pastinya tidak fia.. " lirih ku ragu.
Olafia tersenyum tipis "boleh nona jika anda izin kepada duke, dicoba saja dulu nona"
Aku diam ditempat, benar juga yg dikatakan fia, kalau tidak dicoba siapa tau izinkan? Aku menoleh kearah olafia lalu tersenyum lebar.
"Baiklah ayok kita keruangan ayah!" aku melangkah kan kakiku kedepan menuju ruang kerja duke.
Olafia mengikuti ku dari belakang dengan senyuman yg tidak luntur dari bibirnya.
✶
Tok tok tok
"Masuk"
Cklek
"Ayah!" aku berlari menghampiri ayahku yg sedang duduk tenang dimeja kerjanya yg penuh dengan kertas.
Duke terkejut melihatku yg berlari, ia takut putrinya terjatuh ke lantai.
"Jangan lari" peringat duke.
Aku menghentikan langkahku, aku menundukkan kepala sembari memainkan jari jemariku.
Duke mengerutkan keningnya dan menatap penuh kearah putrinya.
"Ada apa?" tanya duke.
Aku mendongak kedepan menatap mata duke yg juga tengah menatapku "ayah, aku ingin keluar dari mansion" aku takut duke tidak mengizinkan ku.
"Bersama?" tanya duke lagi dengan nada tenang.
Aku terkejut tapi kuubah kembali menjadi semula, ayah tidak marah? Kalau didengar dari suaranya serta wajahnya tidak.
"Olafia dan rula" balas ku jujur.
Duke meletakkan kertas yg harus ia baca disampingnya "keluar karena apa?" sepertinya aku diinterogasi oleh ayahku sendiri.
Aku mendengus "tentu aku ingin jalan-jalan ayah" seruku.
Duke berfikir sejenak sebelum menganggukan kepalanya, tanda ia mengizinkan ku untuk keluar.
Aku melompat-lompat senang karena ayah mengizinkan ku keluar.
"Tapi kau harus ayah berikan pengawal untuk berjaga-jaga" ujar duke yg tidak ingin dibantah.
Aku hanya mengangguk, lagian aku tidak peduli mau dikasih pengawal atau tidak, yg penting aku bisa keluar bersama kedua pelayan pribadiku.
Duke mengerjab beberapa kali, ia sedang mencerna apa yg baru saja terjadi padanya.
Perlahan senyuman yg tidak pernah orang lain lihat terbit dibibirnya.
✶
Cklek
"Bagaimana nona?" tanya olafia yg nunggu didepan pintu.
Aku menoleh kearah olafia dan tersenyum "boleh fia" balas ku.
Olafia ikut tersenyum melihat nona nya juga tersenyum karena diperbolehkan oleh duke untuk keluar dari mansion.
"Ayok fia" ajakku sambil menarik tangan olafia.
Olafia hanya pasrah ditarik oleh nona nya dan mengikuti langkahnya dengan perlahan.
Selama aku jalan menuju kamarku semua orang yg ku lewati aku menyapa mereka semua, mau itu pelayan atau penjaga, mereka juga membalas sapaanku.
1 jam kemudian
Aku membuka pintu kamarku dan masuk kedalam bersama dengan olafia yg ikut dibelakang ku.
"Fia tolong suruh rula untuk menyiapkan kereta untuk kita pergi, tapi yg sederhana saja dan suruh juga untuk ia bersiap-siap,kamu juga"
"Baik nona" olafia memutar tubuhnya dan menutup pintu kamarku.
Aku melangkah menuju pemandian untuk membersihkan tubuh ku, hari hampir sore jadi aku bergegas cepat agar tidak berangkat saat pertengahan malam, walaupun sebenarnya lebih enak keluar malam, tapi yah.. Kalian tau sendiri.
*
****
Author pov
Christina keluar dari pemandian dengan setelan gaun sederhana bewarna coklat, olafia yg sedang menunggu nona nya mengerutkan kening melihat gaun yg dikenakannya.
"Nona kenapa memakai pakaian itu?" tanya olafia.
Sejak kapan fia disini? Mungkin sudah kembali saat aku mandi batin hati christina.
"Aku ingin menikmatinya dan harus memakai pakaian sederhana agar tidak terlalu mencolok, bantu aku menata rambutku" christina berjalan mendekat ke kursi dan duduk.
Olafia yg melihat nona nya sudah duduk langsung menyisir rambutnya terlebih dahulu dengan halus.
Ditengah-tengah kegiatan olafia bertanya "nona ingin diikat atau digerai?"
Christina berfikir sejenak "em kayaknya bagus digerai fia" jawabku dan menatapnya dari pantulan cermin.
Olafia menganggukkan kepala mengerti, tak butuh waktu lama rambutku tertata dengan rapi, christina tersenyum puas melihat penampilanku di cermin.
Christina berdiri dari kursi yg ku duduki dan memutar tubuhku menghadap lemari, christina membuka lemarinya, terlihat sebuah jubah hitam yg tergantung didalamnya dibelakang deretan gaunnya yg cukup banyak, tapi gaun yg dimilikinya tidak begitu mencolok, seperti para bangsawan lainnya.
Ia lebih suka pakaian yg cukup sederhana dan simple.
Christina mengambil jubah hitam lalu ia menutup kembali lemarinya, christina memakai jubah hitam yg barusan ia ambil dari lemarinya , ternyata jubah hitam ini tidak terlalu buruk malah cocok untuk bepergian ke kota.
Setelah merapikan jubah yg ia pakai, achristina memutar tubuhnya dan menatap olafia yg berada di samping kanannya.
"Ayok fia kita akan jalan-jalan ke kota"
Ujarnya dengan nada yg penuh semangat dan berjalan keluar kamar yg juga diikuti oleh pelayan pribadinya.
Author pov end
*****
Disetiap aku berjalan menuju halaman, aku bertemu pelayan yg berlalu lalang dan penjaga yg sedang melakukan tugas nya menyapaku.
Aku membalas sapaan mereka dan menampilkan senyum cerah yg tidak luput dari bibirku, bahkan aku tidak merasakan pegal sama sekali.
Setelah berjalan melewati semuanya, aku akhirnya sampai didepan halaman yg terdapat kereta kuda dan rula yg kelihatannya daritadi menungguku.
Aku menghentikan langkahku dan tersenyum canggung " rula, kau menunggu lama? Pasti capek menunggu ku" aku merasa tidak enak kepada rula.
Rula menggelengkan kepala "tidak nona, sudah kewajiban saya untuk menunggu anda" melihat rula tersenyum membuatku menghela nafas lega.
"Yasudah, apa ini keretanya untuk kita berkeliling kota?" tanyaku mengalihkan tatapanku kearah kereta kuda yg ada didepanku.