christina

christina
bab 3



Rula menganggukkan kepala membenarkan ucapanku "benar nona, ini kereta yg anda inginkan"


Aku tersenyum puas melihat kereta yg sederhana seperti yg kumau.


"Tapi, kenapa nona menginginkan kereta yg sederhana?" aku mengalihkan pandanganku ke rula.


"Tentu untuk berkeliling kota dengan bebas, apalagi? " aku kembali menatap kereta kuda yg didepanku.


Saat aku ingin masuk kedalam kereta, mataku tidak sengaja menatap beberapa kuda yg ada dibelakang kereta, aku menoleh kearah mereka berdua dengan kerutan yg muncul dikeningku, mereka yg tau apa yg dimaksud dari tatapanmu, rula membuka suara untuk menjawab pertanyaan ku.


"Mereka adalah pengawal untuk nona selama di kota, dan kata duke harus butuh 4 pengawal untuk menjaga nona" pupus sudah rasa senangku sekarang.


Aku menghela nafas kasar "ini namanya sama saja.." gerutuku kesal, yg kuyakini tidak ada orang yg mendengar ucapanku.


Memang seingatku ayahku mengatakan kalau memberi ku pengawal atau kesatria, tapi lihat. Ini bahkan bagiku sangat berlebihan, seharusnya cukup beri aku pengawal 2 jangan 4.


Benar-benar membuatku kesal yg dibuat oleh ayahku sendiri.


"Yasudah, ayok kita naik" aku mengode mereka berdua untuk naik keatas.


Setelah aku naik keatas, mereka berdua selaku pelayan pribadiku menyusul naik keatas kereta.


Rula menutup pintu kereta lalu kereta kuda mulai jalan, aku melihat dibelakang ada empat yg mengawalku mulai memacu kudanya untuk mengikuti kereta, bahkan menyamakan kecepatan kereta kuda yg kunaiki sekarang.


Aku menghela nafas pasrah dan mengalihkan pandanganku menatap keluar jendela.


*****


Selama perjalanan aku sama sekali tidak merasa bosan, karena setiap yg dilalui selalu bertemu dengan pemandangan yg sangat indah.


Akhirnya kami sampai di kota yg ya... bisa dibilang ramai? Malah ramai sekali, aku merasa sangat senang.


Aku turun dari kereta dan diikuti kedua pelayan ku, sebelum aku melangkah kan kakiku untuk menjelajahi kota, aku berjalan kearah para kesatria untuk mengawalku yg diberi oleh ayahku.


Mereka yg melihat kedatanganku langsung terdiam dan memberiku senyum sopan, aku menghentikan langkahku didepan mereka.


Karena aku tidak mengatakan sesuatu, salah satu dari mereka yg menurutku lebih kuat maju sedikit didepanku.


"Maaf nona, ada apa kemari?" tanya salah satu kesatria yg bernama dylan, dia adalah pemimpin para kesatria yg ada dikediaman garfield yg terkenal akan kekuatan militer.


Aku cukup dekat dengan dylan, karena dulu hampir setiap hari aku mengunjungi pelatihan para kesatria untuk melihat kakak kakakku yg sedang berlatih, dan aku menyemangati mereka dari jauh.


Tidak hanya dylan, tapi seluruh kesatria aku mengenal baik mereka semua.


"Dylan–tidak, kalian semua tolong jaga disini dan jangan mengikutiku"


"Tapi–"


"Kumohon ya? Aku cuman sebentar keluar jadi kalian tidak perlu khawatir, aku juga membawa rula dan fia untuk menemaniku"


Dylan menghela nafas pasrah, begitu pula dengan kesatria lainnya.


"Baiklah nona, kami akan menunggu anda, jika ada sesuatu yg terjadi maka anda harus memanggil kami dengan ini" dylan menyerahkan semacam gelang yg kupastikan itu bukan gelang biasa, pasti alat untuk memanggil.


Aku mengambil gelang dari tangan dylan, saat aku memakainya dylan memberiku peringatan yg tajam.


"Gelang ini jangan pernah anda lepas, apapun yg terjadi" ujar dylan yg disetujui kesatria lainnya.


Aku menganggukkan kepala mengerti "yasudah aku pergi dulu" aku berlari meninggalkan dylan dan kesatria lainnya.


"Hati-hati nona!" teriak mereka semua bersama.


Aku juga membalas mereka dengan melambaikan tanganku keatas.


"Ayok rula, fia"


Mereka berdua ikut mengejarku dari belakang, rasanya sangat bahagia aku bisa kelaur dari kediaman ku, untung saja kedua kakakku tidak tahu kalau aku keluar, kalau mereka tahu pasti akan ikut denganku dan itu tidak membuatku bebas sama sekali.


Walaupun ibu bisa kuajak bercanda maupun berbicara, tapi beda.


Lebih baik aku mencari hadiah untuk mereka berdua, aku menelusuri setiap toko dengan seksama untuk mencari hadiah, tentu aku juga akan menikmati ini semua.


*****


"No nona anda i ingin membeli makanan la lagi?" aku menoleh kearah mereka berdua yg berada dibelakang ku.


Terlihat mereka berdua sangat kecapean dan ditangan mereka terdapat bungkus yg berisi makanan, semua iya semua.


Aku menyengir "maaf rula, fia pasti kalian lelah, kalian bisa istirahat dulu disini dan tunggu makanan yg kupesan ini, hanya satu" aku berbalik menatap koki yg sedang memasak.


"Pak tolong nanti pesanan yg kupesan biar mereka yg ambil dan uang nya di mereka" aku menunjuk mereka berdua yg duduk dengan raut wajah lelah.


Koki menganggukkan kepala mengerti, karena merasa tak aku membelikan mereka minuman terlebih dahulu sebelum aku pergi untuk membeli sesuatu.


****


Aku kembali dengan dua gelas plastik. Yg berisi jus jeruk yg manis.


"Ini untuk kalian" aku menyodorkan kepada mereka.


Rula dan olafia mendongak menatapku dengan terkejut, saat mereka berdiri aku mencegahnya untuk tetap duduk, tentu dengan sedikit ancaman pastinya.


"Ambil saja, tidak apa apa" aku menyakinkan mereka jika aku memang sengaja membelinya.


Dengan ragu mereka berdua mengambil dua gelas plastik yg ada dikedua tanganku.


"Terimakasih nona, maaf kami sangat merepotkan anda" ujar rula menundukkan kepala, olafia juga begitu.


Aku menggelengkan kepala " kalian tidak merepotkan ku, yasudah aku ingin pergi ke suatu tempat" aku yg hendak pergi dihentikan suara milik olafia.


"Anda ingin pergi kemana nona? Biar kami temani anda"


"Tidak usah, kalian tunggu disini saja, aku baik baik saja, percayalah" tolak ku halus.


Akhirnya mereka berdua menuruti dan menunggu di kedai makanan.


"Aku pergi dulu, kalian hati-hati" aku berlari meninggalkan mereka berdua.


"Anda juga nona" balas mereka yg tidak berani berteriak, karena nona nya mengatakan jangan memanggilnya sebutan nona kalau ada banyak orang, jadi mereka sedikit mengecilkan suaranya.


*****


Ting


"Selamat datang di toko kami" sambut pegawai toko.


Aku tersenyum dan melepaskan tudung yg menutupi kepalaku, seluruh pegawai terkejut melihat warna rambutku.


Seluruh pegawai langsung berlarian kearahku dan membungkuk setengah badannya.


"Maaf lady christina atas kelalaian kami yg tidak mengetahui lady"


Aku menganggukkan kepala tidak masalah dan menyuruh mereka untuk mengangkat kepala nya.


"Anda menginginkan gaun seperti apa lady? Biar kami bantu memilihkannya" tawar pegawai yg memiliki rambut hijau gelap.


Aku mengedarkan pandanganku melihat seluruh gaun yg sedang terpajang disini, semua gaun sangat indah, tidak ada yg tidak indah dan yah sayangnya kebanyakan gaun-gaun ini mempunyai motif yg berlebihan, serta warnanya yg mencolok.


Aku mendengus malas dengan warna gaun yg mencolok dan motif yg berlebihan.


"Bisa kau antarkan aku ke tempat gaun yg sederhana?" tanyaku anggun.


Pegawai yg menawarkan ku tersentak mendengar ucapanku barusan, tapi ia tetap menunjukkan ku ketempat gaun yg sederhana dan simpel.