christina

christina
bab 6



"Rula, fia!" teriakku.


Mereka berdua menoleh kearah samping, terlihat mereka khawatir dari raut wajahnya.


"Nona" mereka langsung menghampiri ku dan memelukku dengan erat.


Aku yg dipeluk mendadak dan erat, sampai aku susah untuk bernafas, aku mengeluarkan suara agak serak.


"Kalian tolong lepaskan dulu, aku susah bernafas"


Mereka melepaskan pelukannya dan aku terbebas"A-ah maafkan kami" aku hanya mengangguk tidak masalah.


"Kenapa kalian disini? Bukannya aku menyuruh kalian untuk menungguku disana?" tanyaku dengan alis yg terangkat.


"Kami khawatir nona" rula mengangguk menyetujui yg diucapkan olafia.


"Benar, anda belum kembali lebih dari 2 jam, jadi kami mencari anda, takut terjadi apa apa dengan anda nona, maafkan kami" setelah mengatakannya rula menundukkan kepala yg juga diikuti oleh olafia.


Aku menghela nafas "maaf tadi ada sesuatu yg menghalangku jadi aku terlambat menuju kalian, angkat kepala kalian" pintaku yg diikuti oleh mereka berdua.


"Anda tidak bersalah nona, seharusnya kami tetap ikut dengan anda" kalau kalian ikut aku maka semua akan hancur, pasti kalian akan melapor kepada ayah tentang hadiahku untuk kedua kakakku.


"Yasudah ayo kita kembali ke kereta, takut yg lain khawatir dengan kita"


"Baik nona"


Kami berjalan beriringan menuju tempat kereta kuda dan pengawalku di sebelumnya.


*****


Kami sampai, aku melihat raut para kesatria murung.


"Hai" sapaku yg memecahkan keheningan malam.


Yap, sekarang waktu sudah malam.


Para kesatria menoleh kearahku dengan raut wajah terkejut, aku yg dilihat hanya tersenyum canggung.


Dylan langsung berlari kearahku dan diikuti kesatria lainnya dibelakang.


"Nona, anda tidak apa apa?" tanya dylan yg terlihat khawatir sekaligus gelisah.


Lagi dan lagi aku menghela nafas, wajar jika ia khawatir denganku karena aku kembali saat hari sudah malam.


"Aku tidak apa apa dy, maafkan aku semuanya membuat kalian khawatir" ucapku merasa tidak enak.


Mereka semua menggelengkan kepala "tidak masalah nona, yg penting anda selamat" balas mereka serempak.


Aku tersenyum lega mendengar jawaban mereka semua.


"Baiklah, mari kita kembali ke kediaman"


"Baik"


Rula membuka pintu kereta dan aku masuk kedalam, tak lupa mengucapkan terimakasih karena telah membukakan pintu untukku, setelah aku masuk disusul rula dan olafia.


Selesai memastikan kami sudah masuk kedalam kereta, dylan dan tiga kesatria menaiki kuda mereka yg berada dibelakang kereta.


Kereta yg ku sewa mulai menjalankannya, begitu pula dengan para kesatria yg juga mulai jalan kudanya.


*****


Selama perjalanan semua berjalan dengan lancar, aku merasa sangat lelah hari ini dan untung nya mereka berdua tidak melihat ada bekas darah di mulutku.


Entah mereka tidak fokus melihatnya karena panik atau sengaja.


"Akhirnya sampai" kereta kuda yg ku sewa berhenti tepat dihalaman kediaman ku.


Aku dan kedua pelayanku turun dari kereta kuda, aku tak lupa mengucapkan terimakasih dan memberinya koin emas banyak.


"Rula, fia tolong bawa belanjaan ku kedalam dan taruh di kamarku rapi" pintaku yg masih membenarkan pakaianku.


Mereka berdua menganggukkan kepala mengerti dan pamit undur diri, aku memutar tubuhku sepenuhnya menghadap ke belakang, terlihat para kesatria sedang menuntun kuda mereka menuju kandang.


"Dylan!" aku berjalan cepat kearahnya sembari melepas tudung yg menutupi kepalaku.


Dylan menghentikan langkahnya dan menoleh "ada apa nona?" tanya nya.


Aku berhenti tepat didepan nya dan para kesatria yg juga ikut berhenti.


"Kalian–terimakasih untuk hari ini" aku tersenyum manis.


Aku menatap heran kearah dylan "itu sudah kewajiban kami, nona" ia membungkukkan tubuhnya yg diikuti lainnya.


"A-ah baiklah, aku duluan" ujarku canggung.


Aku berbalik badan dan masuk kedalam kediaman menyusul kedua pelayanku yg sudah masuk duluan ke dalam sana.


Setelah melihat nona nya pergi, dylan menegakkan kembali tubuhnya dan kembali berjalan yg diikuti bawahannya.


*****


"Lisna.."


Aku terpaku mendengar suara yg sangat familir ditelingaku.


Dengan ragu aku berbalik badan kearah asal suara, aku berdoa semoga bukan 'mereka' yg memanggilku.


Tapi seperti dewi kehidupan tidak mengabulkan doaku.


Ah.. Benar-benar aku sudah tertangkap basah, lihat mereka berempat yg berdiri menghadap ku sembari memberiku tatapan tajam.


"Ibu, ayah, kakak. Kalian kenapa berkumpul disini?" tanyaku gugup.


Ibuku berjalan mendekat kearahku, aku berusaha untuk tetap tenang tapi tetap saja tidak bisa! Apalagi tatapan yg diberikan ibu kepadaku, sangat mengerikan.


Ibu menghentikan langkahnya dan berdiri didepanku.


"Kenapa lama sekali?" aku mengindari kontak mata dengan ibuku, jadi aku mengalihkan pandanganku kearah lain.


"Keluar untuk berbelanja" sial! Kenapa aku mengatakan itu? Tapi benar juga sih alasan yg ku berikan kepada ibu.


Ibu terlihat mengangkat alisnya keatas "belanja? Selarut ini?" tanya ibu untuk memastikannya.


Sudahlah aku menyerah, lebih baik jujur bukan? Aku menghela nafas dan menatap mata ibuku "Ya.. Tadi ada sebuah kendala ibu jadi aku pulang agak terlambat" balas ku pasrah.


"Kendala?" bukan ibu yg bertanya tapi ansell, kakak pertamaku.


Aku menganggukkan kepala "benar kak, tadi ada kendala yg sangat besar" saat aku mengatakan itu, mereka bertiga berjalan mendekat kearahku.


Sekarang didepanku tidak hanya ibu, tapi ayah dan kedua kakakku yg menatapku butuh penjelasan yg lebih detail, termasuk ibu.


aku takut mengatakan yg sebenarnya terjadi, tapi mau gimana lagi, sudah tidak bisa diputar lagi.


"Baiklah aku akan menceritakan semuanya tapi–apa sekarang sudah saat makan malam?" tanyaku yg memang bukan untuk mengalihkan topik.


Mereka menggelengkan kepala "15 menit lagi" ujar hansel.


"Pas sekali, nanti setelah makan malam aku akan menceritakan semuanya–" aku menjeda ucapanku saat melihat raut wajah dari kedua kakakku yg tidak percaya.


Aku menghela nafas "aku janji" setelah aku mengucapkan nya raut wajah mereka berdua berubah lunak.


"Yaudah aku akan membersihkan tubuh ku, ini sudah lengket" keluh ku dengan tubuhku yg mulai lengket.


"Ya, sana cepat" suruh ibuku yg mendorongku untuk cepat pergi mandi.


Aku mendengus kesal "tapi tidak begitu juga bu, aku pergi" aku melangkahkan kakiku meninggalkan mereka, tak lupa menghentakkan kakiku kesal.


Mereka yg melihat tingkahku terkekeh pelan, tapi tidak dengan kakak kedua yg tertawa sangat keras, ingin sekali ku lempar sepatuku ini ke wajahnya.


*****


Tap tap tap


"Ck, lama sekali kau, hampir lebih 1 jam" decak hansel yg melihatku yg menarik kursi disamping ibu.


Aku memutar bola mataku malas "wanita wajar, tapi yg gak wajar itu laki-laki" sindir ku.


Hansel yg merasa tersindir dengan ucapanku mendengus kesal, terlihat raut wajahnya kusut.


"Sudah, mari kita mulai makannya"


Kami semua makan dengan tenang yg sudah disediakan oleh pelayan.


Ditengah-tengah makan, aku berfikir tentang anak laki-laki yg mungkin lebih tua dariku saat di kota tadi.


Warna rambut kuning keemasan, kulit yg putih, manik mata semerah darah yg mengerikan, tapi juga terlihat cantik seperti permata yg berharga, jubah putih dengan di pinggirnya emas.


Dilihat-lihat aku merasa familir dengan warna rambut dan jubah yg dikenakan anak laki-laki itu.


...✶...