
Author pov
"Baiklah, sampai jumpa besok pagi lady" setelah mengatakan marquess melangkah kan kakinya menuju pintu, yg dimana sudah dibuka kan oleh pelayan.
"Baik guru" lisna tersenyum sopan, ia menatap pelayan yg berada diluar dekat pintu "rula, tolong antarkan tuan savian sampai kereta kudanya" pinta lisna.
Rula menganggukkan kepala patuh, setelah marquess keluar tak lama rula menutup pintu dengan pelan.
Cklek
Mendengar suara pintu tertutup lisna menghela nafas lalu kembali duduk.
"Apa itu benar yg diceritakan oleh tuan savian...?" gumam nya.
Lisna merasa bingung dengan yg diceritakan oleh tuan savian, entah kenapa itu semua seperti cerita dongeng, ia antara percaya atau tidak dengan cerita itu.
Tapi lisna masih mengingat apa yg dikatakan oleh tuan savian sebagai guru sejarahnya, disaat akhir cerita.
"Anda tidak perlu percaya dengan cerita ini"
Waktu mengatakannya raut wajah tuan savian tenang, tapi lisna merasakan, tuan savian selaku guru sejarahnya terlihat tidak terlalu percaya dengan cerita yg ia ceritakan kepada nya, itu hanya perasaannya saja, bisa jadi marquess percaya.
Lagi lagi lisna hanya bisa menghela nafas, ia menoleh kearah jendela lalu menatap keluar.
Tok tok tok
Mendengar suara ketukan pintu membuat lisna menoleh kebelakang.
"Masuk"
Tak lama kemudian pintu terbuka dan menampilkan pelayan pribadinya yaitu olafia, lisna menghadap sepenuhnya kearah olafia berada.
"Nyonya viscount sudah datang dan sekarang sedang menunggu anda di taman belakang kediaman" ujar olafia.
Alis lisna terangkat satu "oh? cepat juga, padahal aku ingin beristirahat sebentar" diakhir kalimat lisna mengecilkan suaranya.
"Maaf, apa anda mengatakan sesuatu nona?" tanya olafia yg sepertinya mendengar ucapan lisna samar-samar.
"Tidak ada" balas lisna.
Olafia menyipitkan matanya penuh selidik lalu menghela nafas.
"Kalau begitu aku pergi dulu, dada fia" tak lama kemudian lisna menghilang di tempat, lebih tepatnya ia menggunakan sihir teleportasi.
Olafia yg melihat nonanya tiba-tiba menghilang, hanya bisa menggelengkan kepala lalu melangkah keluar dari ruangan belajar.
****
Sekarang lisna berada di taman belakang kediamannya, ah.. lebih tepatnya setelah taman belakang kediaman.
Lisna melihat ada wanita yg sedang duduk di kursi dengan secangkir teh ditangan nya, lisna mengenalnya.
Tanpa basa basi lisna berjalan menghampiri wanita itu "guru" panggil lisna.
Wanita yg dipanggil oleh lisna menoleh kesamping, lalu bibir nya terangkat membentuk sebuah senyuman lembut.
"Apa aku terlambat?" tanya lisna yg dibalas gelengan kepala wanita itu.
Lisna menghela nafas lega"syukurlah"
Wanita yg berada didepan lisna adalah viscount sekaligus guru sihirnya, nyonya viscount sebenarnya seorang penyihir yg terkenal memiliki kekuatan yg cukup kuat, dan dia juga sahabat duchess.
Ny. viscount bangkit dari kursi yg ia duduki "karena lisna udah datang, mari kita mulai" ujar nya.
Lisna menganggukkan kepala "baik"
Saat ny. viscount melangkah kan kakinya, ia teringat akan sesuatu lalu menatap kearah lisna.
Merasa ditatap oleh guru sihirnya, lisna bertanya "kenapa?" dengan raut wajah yg bingung.
"Aku lupa, kau kan sudah menguasai semua yg kuajarkan.." ny. viscount memijat keningnya.
"Lalu–ah aku paham" lisna menggaruk pipinya yg tidak gatal.
Ny. viscount menghela nafas "trus apa yg aku ajarkan padamu lisna? semua sudah kau kuasai bahkan tidak sampai satu tahun, bahkan sihir tingkat tinggi" Ia benar-benar bingung apa lagi yg ia ajarkan kepada anak sahabatnya.
Lisna hanya diam tanpa ada niatan untuk membalas perkataan ny. viscount, ia hanya menampilkan senyum yg canggung.
"Lisna, bagaimana kalau kau tanding dengan anakku? tapi besok, gimana?" tawar ny. viscount.
Lisna berfikir sejenak, lalu mengangguk kan kepala "baiklah, aku terima,tapi untuk hari ini melakukan apa guru?" lisna berbalik tanya kepada ny. viscount.
"Minum teh? lalu membahas sesuatu" lisna mengangguk kan kepala setuju dan dengan senyuman cerah.
"Kalau begitu aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan semuanya" ujar lisna.
Tak lama kemudian lisna menghilang, ny. viscount hanya tersenyum lalu mengalihkan pandangannya kearah danau.
"Apa lisna bisa melindungi dunia ini?" gumam ny. viscount.
*****
"Silahkan tante"
Ny. viscount tersenyum "terimakasih lisna sayang" ujarnya yg dibalas anggukan kepala lisna.
Saat ny. viscount menatap kedepan, ia melihat satu wanita paruh baya yg sudah duduk manis di kursi, sembari meminum teh.
Ny. viscount yg merasa familir dengan wanita paruh baya tersenyum dan berjalan mendekat "kirana?"
Kirana sekaligus duchess dan ibu lisna menoleh kearah ny. viscount.
"Kau sudah datang prianka?" tanya kirana sembari menaruh cangkirnya ke atas meja.
Prianka sura quirinal, guru sihir lisna serta sahabat dari kecil kirana, prianka terkenal karena kekuatan sihirnya yg hebat, ia juga menjadi pemimpin di menara sihir.
Lisna yg melihat tante dan ibunya mulai berbincang, ia memutar tubuhnya lalu berteleportasi ketempat lain.
Author pov end
*****
Aku sampai di sebuah hutan yg tidak terlalu jauh dari kediaman ku.
Sebenarnya aku sering kesini, walaupun dilarang keras oleh ayah dan kedua kakakku, kalau ibu memperbolehkan ku karena dulu ibu juga selalu pergi ke hutan saat masih kecil, yah.. kata ibu ia sering pergi ke hutan karena bosan di kediaman.
Aku juga baru tahu kalau ibu ternyata nakal serta keras kepala dari kecil, banyak yg bilang terutama kakek kalau aku mirip seperti ibu saat masih kecil.
Kalian tau kenapa aku sering pergi ke hutan ini? Karena ada danau yg sangat indah dan cantik, bahkan airnya sangat bersih.
Apalagi saat aku menyentuh airnya terasa dingin, serta hutan ini beda dari hutan lainnya, yah.. itu menurutku saja.
Di hutan ini sering ku sebut hutan damai, karena gk ada satupun monster yg berbahaya didalam hutan ini.
Aku berjalan mendekat kearah pohon apel yg gk terlalu jauh dari danau.
Kadang aku pernah ketiduran sampai malam dan satu–bukan seluruh orang dikediaman heboh karena tidak pulang.
Waktu aku kembali ke kediaman, ayah, ibu dan kedua kakakku bertanya aku habis darimana, tentu saja tidak aku jawab dihutan, aku membuat alasan agar mereka percaya.
Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki, aku langsung menoleh ke asal suara dengan penuh waspada.
"Siapa itu?!" teriakku yg sudah siaga jika tiba-tiba aku di serang.
Srek
Aku yg melihat rumput bergerak langsung menyerang nya dengan sihir api milikku tanpa pikir panjang.
Pssh
Apa orang itu menghindari sihir milikku? atau menepisnya? aku berfikir sembari terus menatap dengan tajam kedepan.
"Duh siapa sih.."
Suara anak laki-laki yg terasa asing di telingaku, aku tidak pernah mendengar suara laki-laki itu sama sekali.
Walaupun suaranya masih anak yg mungkin berumur sepertiku, aku tetap menatap waspada
"Oh..? kamu yg barusan menyerangku?" tanya anak itu.
Aku menajamkan penglihatanku menggunakan sihir, terlihat anak itu tidak terlalu bahaya aku menurunkan kewaspadaan ku kepadanya.