
Tapi siapa? apa aku pernah melihatnya?
Saat aku melahap daging yg sudah kupotong, aku merasa ada dua pasang mata yg menatapku dengan tajam.
Aku menghiraukan tatapan yg mengarah kepada ku, dan melanjutkan makanku dengan tenang.
*****
Tak
kenyang, makan malam hari ini banyak sekali makanan kesukaanku, bahkan lebih.
"Jadi, apa yg kau akan ceritakan kepada kami lisna?" tanya ayah yg membuatku tersentak.
"Ah tentang tadi? Baiklah aku akan menceritakan nya sekarang" aku mulai bercerita dari awal sampai akhir dan kejadian yg seseorang di serang, tapi aku tidak menceritakan tentang aku yg ikut membantu pangeran, yah intinya aku sedikit mengarang sebagian nya.
Selesai aku menceritakannya,terlihat mereka semua terkejut dengan apa yg aku ceritakan kepada mereka,
"Ayah tau kerajaan mana yg memiliki ciri-ciri seperti itu?" aku masih penasaran darimana dia berasal, walaupun aku tahu kalau dia memang seorang pangeran, dari jubah yg ia pakai, tapi aku belum mengetahui dia berasal dari kerjaan mana.
Raut wajah ayah berubah saat aku bertanya tentang ciri-ciri anak laki-laki yg ada diceritaku, tidak hanya ayah saja, aku melihat kedua kakakku yg juga menampilkan raut wajah dingin dan datar.
"Kerajaan kita sayang, zeiroun" bukan ayah yg mengatakan nya tapi ibu, aku menganggukkan kepala paham.
Pantas saja aku merasa familir dengan ciri-ciri nya, ternyata dia dari Kerajaan zeiroun.
Sebelum aku berdiri dan meninggalkan meja makan, aku menitipkan pesan kepada mereka semua, tapi lebih mengarah kepada ayah dan kedua kakakku.
"Kalian jangan membuat masalah, aku tidak suka, mau apapun itu jangan pernah menimbulkan masalah" aku menekan kata yg berada diakhir kalimat kuucapkan.
Ayah dan kedua kakakku diam seperti patung saat mendengar suaraku, sedang kan ibuku hanya tertawa melihat raut wajah mereka bertiga yg berubah menjadi kusut.
Setelah mengatakannya aku pamit kepada mereka semua untuk pergi kekamar duluan, karena aku merasa tubuhku pegal semua selesai pergi dari kota, mungkin karena habis bertarung bersamanya.
*****
Cklek
Aku masuk kedalam kamarku dan tak lupa kututup kembali, aku berjalan mendekat ke ranjang ku dengan raut wajah lelah.
Sampai di ranjang ku, aku melemparkan tubuhku ke ranjang empuk, aku benar-benar lelah hari ini, rasanya di tubuhku mati rasa.
"Semoga mereka–terutama ayah dan kakakku tidak membuat masalah sama sekali, itu akan sangat menyebalkan jika terjadi" setalah mengatakannya, perlahan mataku tertutup karena berat dan tidak bisa ku buka kembali, aku butuh istirahat hari ini.
Sebelum aku terlelap sepenuhnya, aku ingat kalau pakaian yg kugunakan masih sama dan belum berganti pakaian, tapi karena sudah malas dan mataku yg tidak bisa dibuka jadi aku memilih untuk menghiraukannya.
*****
Kinara pov
Namaku kinara adele garfield, aku seorang ibu yg sudah memiliki tiga anak, satu perempuan dan dua laki-laki, statusku sebagai bangsawan adalah duchess, tugas yg hampir tiap hari numpuk dimeja kerjaku.
Tapi tak apa, karena aku ingin membantu suamiku untuk meringankan bebannya, nama suamiku xander oliver garfield yg memiliki status duke.
Aku sebenarnya anak seorang count tapi xander adalah anak seorang duke, entah kenapa ia mau menikahi ku karena alasannya ia sangat mencintaiku.
Awalnya aku meragukan cintanya, karena xander terkenal dingin dan tirani, tapi ia mengatakan cinta kepadaku dengan wajah yg tulus.
Seorang tirani jatuh cinta denganku? Yg benar saja, aku merasa seperti mimpi.
Aku juga mencintainya tapi karena status, aku hanya bisa memendam rasa suka–tidak cintaku kepadanya.
Saat aku dilamar oleh xander, aku menerimanya dengan senang hati, tapi tentu saja aku tetap waspada dengannya, mau bagaimana pun dia anak seorang duke, dan pasti memiliki rencana yg tidak ku ketahui.
Diperlakukan seperti itu, aku mulai tahu jika ia mencintaiku bukan karena sebuah rencana rahasia, tidak seperti para bangsawan lainnya.
Akhirnya aku menurunkan kewaspadaan ku kepadanya dan kami hidup bahagia, tanpa ada gangguan apapun, walaupun sedikit masalah tapi kami bisa melewati semuanya dengan lancar dan saling percaya satu sama lain.
Tak lama kemudian aku melahirkan seorang satu bayi laki-laki, dan dimenit berikutnya disusul bayi laki-laki satunya.
Aku dan xander sangat bahagia melihat anak pertama–em kedua? Tapi karena laki-laki, xander langsung mendidiknya keras dan memberi latihan yg berat, waktu itu mereka berdua masih berusia 6 tahun.
hari pertama latihannya berat, karena aku merasa kasihan dan tidak tega dengan kedua anakku, akhirnya aku meminta xander untuk meringankan latihan nya, karena wajah memohon ku ia menuruti nya.
Tak lama lagi, aku hamil bayi perempuan, kami semua ikut bahagia karena yg akan lahir adalah matahari kami yg selalu bersinar.
Beberapa bulan, aku melahirkan bayi perempuan yg sangat cantik, dari kecantikannya mengikuti agenku.
Tapi sifatnya dari aku dan xander yg turun kepada putriku.
Selama 10 tahun berjalan, putriku dan putraku sudah mulai tumbuh besar, dan sifat putriku semakin dewasa daripada kedua kakaknya.
Terkadang ia menjadi dewasa disaat ia serius memikirkan sesuatu atau memutuskan sesuatu.
Aku heran dengan sifat satu putriku ini, ia menuruni sifat dari siapa? Tidak mungkin xander, apalagi aku.
Akhirnya aku menyerah berfikir dan tetap mengawasi putriku, entah kenapa aku was-was dengan putriku jika bersama orang lain, tidak aku saja tapi kedua anakku dan xander.
Saat ia masih berusia sekitar 5 tahun, putriku meminta kepada xander untuk menyewa guru untuk melatihnya berpedang dan guru belajar lainnya, seharusnya diusianya ia masih berfikir tentang bermain tapi putriku malah meminta hal itu.
Mau tak mau xander menyetujui dan menyewa guru, tentu meminta persetujuan ku terlebih dahulu.
Aku dibuat heran dengan anakku sendiri, saat mereka masih berusia muda yg membutuhkan bermain pada umumnya, tapi mereka malah meminta untuk berlatih pedang dan mempelajari semuanya.
Baiklah cukup cerita tentang kehidupanku, aku harus kekamar putriku, christina.
Aku berjalan menuju kamar putriku yg berada disebelah utara, lumayan jauh, aku memperlambat jalanku ketika melihat pelayan pribadi lisna, rula. yg keluar dari kamar lisna.
"Rula" panggilku.
Merasa terpanggil rula menoleh kearahku dan langsung menundukkan kepalanya.
Aku menghentikan langkahku tepat didepannya "apa putriku ada didalam?" tanyaku basa basi.
Sebenarnya aku tidak usah bertanya kepadanya dan bisa langsung masuk, tapi karena perkataan putriku yg melarang seluruh orang masuk kedalam kamarnya tanpa seizin nya, atau harus mengetuk pintu dahulu.
Begitulah lisna, dia sangat dewasa daripada kakak-kakaknya.
"Maaf duchess, nona sedang tertidur dan saya selesai menggantikan pakaian nona" balas rula yg masih menundukkan kepalanya.
Aku menghela nafas "yasudah, kau boleh pergi"
Rula pamit undur diri dan pergi meninggalkan ku yg masih didepan pintu kamar putriku.
Aku beralih menatap pintu kamar putriku, mau bagaimana lagi kalau putriku tertidur lelap? Masuk? Tidak, ia akan marah besar nanti kepadaku dan aku tidak mau itu.
Jadi aku memutuskan untuk meninggalkan kamar putriku dengan kakiku yg terasa berat.
Entah kenapa lisna tidak memperbolehkan kami masuk tanpa seizinnya, tapi aku yakin lisna anak yg baik.
Kinara pov end
...✶...