
Karena aku penasaran, aku diam-diam mengikuti dua pria jubah hitam lusuh dari belakang.
Kerutan dikeningku muncul melihat dua pria jubah hitam lusuh menghentikan langkahnya, aku langsung bersembunyi lagi dibalik tembok.
'Kenapa mereka berhenti?'
Aku memberanikan diri untuk melihat mereka berdua dengan cara mengintip dibalik tempat sembunyiku.
Terlihat ada satu laki-laki yg mungkin lebih tua dariku? Sedang dikepung beberapa orang yg memakai jubah hitam lusuh, sekitar 4 orang.
Laki-laki itu mengenakan jubah putih dan emas di pinggir jubah, kalau dilihat dari jubahnya pasti laki-laki ini memiliki pangkat yg lebih tinggi dari duke, atau dia seorang pangeran? Karena setahuku hanya keluarga kerajaan yg memiliki jubah seperti itu, tidak mungkin bukan keluarga kerajaan.
Tapi kenapa dia dikepung? Apa aku harus menolongnya? Kita lihat dulu.
"Sore pangeran kecil"
Apa? Pangeran? Tunggu–berarti benar dia seorang pangeran, tapi ia sendiri, seharusnya ada pengawalnya.
Kemana semua pengawalnya?entahlah, kita dengarkan lagi apa yg dikatakan orang-orang itu.
"Siapa kalian?"
"Tenang saja pangeran, kami hanya ingin bermain dengan anda"
"Bermain?"
"Benar pangeran, seperti ini mainnya"
Sebuah belati meleset cepat ke arah pangeran, untungnya ia menghindar dengan cara melompat kesamping.
Tak lama kemudian, pangeran mengeluarkan pedang dari sarung nya, tidak butuh basa-basi lagi, ia menyerang ke dua pria yg ada di depannya dengan gesit.
Aku menontonnya dari jauh dengan perasaan kagum, ternyata gesit juga dia, tapi ada yg aneh.
Kemana dua pria kelompoknya? Kenapa menghilang? Aku menajamkan penglihatan ku untuk mencari dua pria itu.
Ternyata dua pria berjubah hitam bersembunyi ditempat yg sangat gelap agar tidak diketahui tempatnya, aku saja tidak tahu kalau mereka berdua bersembunyi disitu.
Sepertinya aku tau apa yg sebentar lagi mereka lakukan, aku menaruh barang ku dan langsung berlari cepat ke arah dua pria yg sedang menunggu waktu yg tepat untuk menyerang.
Setelah menemukan waktu yg tepat, dua pria menyerang pangeran dari belakang, pangeran yg mengetahui keberadaan dua pria tidak sempat untuk menghindar.
Untungnya aku datang tepat waktu, aku langsung menangkis pedang yg digunakan satu pria dengan belati ku, untuk yg satunya ia menggunakan belati, sama sepertiku.
Trang
Aku menyembunyikan belati di balik tudung ku untuk berjaga-jaga.
Setelah ku tangkis, aku langsung menendang bagian perutnya dan membuat pria yg mempunyai kumis tipis terpental agak jauh.
Dan disusul suara tabrakan tembok.
Brak
Aku menyeringai melihat pria berkumis tipis pingsan karena tendanganku.
"Siapa gadis kecil ini?!"
"Kenapa gadis kecil ini sangat kuat sekali"
Satu pria yg tadi menyerang bersama dengan pria kumis, berlari kearahku dengan belati yg ada ditangannya.
"Mati kau gadis kecil!"
Aku langsung memutar tubuhku cepat dan berhasil menangkis nya, aku tersenyum miring mendengar teriakan pria yg ada didepanku.
Pria itu menggeram kesal karena aku berhasil menangkis serangannya.
Saat pria itu ingin menendang ku, aku langsung melompat ke belakang.
Prok prok prok
"Hebat, gadis kecil ini sangat hebat, apa ia temanmu pangeran?"
Aku menoleh kesamping "bukan" tentu saja ia tidak mengenalku, apalagi aku.
"Benarkah? Tapi kalian cocok untuk-" pria yg agak gendut melemparkan 5 lebih belati kearah kami "mati!"
Aku yg dilanda kepanikan dan gelisah tiba-tiba semua belati yg dilemparkan kearah kami, jatuh ke tanah, aku menurunkan pandanganku kebawah dengan raut wajah terkejut, lalu mengalihkan pandangan ku kepada pangeran.
Pangeran berada didepan ku dengan pedang yg berbilah biru nan tajam ditangannya, aku bisa menebaknya kalau pangeran ini yg menangkis semuanya.
Setelah menangkis semuanya, pangeran berlari kearah tiga pria yg entah kapan sudah bersama dan menyerang mereka.
Tentu, aku tidak berdiam diri menonton mereka bertarung, seperti wanita lemah saja. jadi aku ikut menyerang ketiga pria dengan belati kecil yg kusimpan di dalam jubah hitam ku.
Aku hanya membantu pangeran agar tidak kuwalahan melawan mereka bertiga, jadi sekarang 2 lawan 3, agak seimbang.
Sepertinya... aku yg kuwalahan, padahal aku hanya melawan satu orang, dia sangat gesit dalam menghindar maupun menyerang.
Kalau ditanya tentang kekuatan, pasti yg lebih kuat orang dewasa, aku masih berusia 10 tahun! Mana bisa aku menahan serangan dia yg begitu kuat.
Aku melompat ke belakang dan mengambil jarak untuk lawanku, sebelum pria itu menyerang ku, sekilas aku melihat pangeran yg melawan dua pria kuat tidak kuwalahan sama sekali.
Bahkan raut wajahnya sangat tenang.
Tanpa aku sadari, banyak celah yg terbuka membuat pria itu menyeringai.
"Kurang fokus gadis kecil?" saat pria itu hendak menendang ku tepat di wajahku, aku langsung melindungi wajahku menggunakan kedua tangan ku dan ku bentuk silang.
Tapi sayang, semua perlindungan sia-sia, aku terpental dan menabrak tembok dengan kencang.
Brak
"Sshh" aku meringis kesakitan karena punggungku menabrak tembok dengan kencang tanpa ada perlindungan apapun.
Pria itu tertawa senang melihatku yg terpental jauh "aku akan mengakhiri kamu disini gadis kecil!" pria itu berlari kearah dengan belati di tangan.
Tentu aku melihatnya, tapi aku tidak bisa berdiri sama sekali, rasanya semua tubuhku sakit.
Benar-benar membuatku kesal di tempat, apa aku akan mati lagi? Sangat konyol kau lisna.
Saat pria itu sudah hampir dekat tiba-tiba saja ia terpental sangat jauh dan tubuh pria itu bergeseran dengan tanah, darah berceceran dimana-mana.
"Sialan" gumam pangeran kesal.
Benar, pangeran yg telah menyelamatkan ku, ia berada didepanku dengan pedangnya yg cantik ditangannya.
"Kau?"
Pangeran menoleh kebelakang "kau baik-baik saja?" aku menganggukkan kepala.
Aku mencoba untuk berdiri tapi ia mencegahku, aku menatapnya bingung.
"Kau terluka" ujarnya singkat.
Aku menggelengkan kepala "tidak, aku ingin membantumu–"
"Sudah selesai"
"Apa?"
"Sudah ku bereskan, mereka semua mati"
Aku menoleh kearah dua pria yg memang lawannya pangeran tadi, ternyata benar mereka sudah mati terutama yg pria itu terpental.
Benar-benar hebat, aku menghela nafas dan berdiri yg dibantu olehnya.
"Karena sudah selesai aku pergi dulu" saat aku ingin melangkah meninggal kan nya , ada suara yg membuatku menghentikan langkahku.
"Kau.. nama mu siapa?" tanya nya.
Aku tersenyum tipis " Christina, kau bisa memanggilku lisna, aku pergi dulu" setelah aku mengatakan namaku tanpa berbalik kearahnya, aku kembali melangkahkan kakiku.
****
Aku menghela nafas lega, untung saja tudung yg berada diatas kepalaku tidak lepas saat pria itu menendang ku, kalau lepas bahaya.
Sepertinya aku lama disini, aku harus cepat-cepat menyusul mereka agar mereka tidak khawatir.
Aku mengambil barangku yg sengaja ku tinggal dibalik tembok sembunyiku dan melangkah keluar gang, karena aku melihat ada sebuah cahaya yg sangat terang, pasti itu jalan keluarnya.