Catchers

Catchers
Get a idea



" Jangan bicara padaku kalau bicara hal yang tidak jelas. " Fhell juga pergi. Fhell dan Margare memang sangat sering bertengkar dan menjelek-jelekkan satu sama lain.


Margare dan Calon Pewaris lainnya memang tidak pernah akur satu sama lain.


Semua yang bersekolah di Moral mengincar kursi Kepala Sekolah.


Ver ditengah jalan....


" Bagaimana caranya menghindar? Zell sepertinya tidak akan pulang malam ini. Coba saja ada Tuan Marx aku pasti bisa meminta saran. " Kata Ver yang menendang batu dijalan.


Ver dan Zell sama-sama sedang belajar mengenai Sekolah Moral setelah itu, mereka akan memulai langkah dalam merebut Sekolah Moral.


Ver melepas kacamata dan Wig rambut pendeknya ditengah jalan dan memasukkan kedalam tas.


Dikediaman Zero Das Xacsier....


" Zero, apa kamu sudah membatalkan pertunangan itu? " Tanya Era memegang tangan Zero. Era memang bersikap berbeda jika, didekat Zero.


" Tentu saja, perempuan itu tidak cocok denganku. Aku menyukai perempuan berambut panjang dan lembut sepertimu. " Kata Zero mengelus rambut Era.


Zero memang lebih suka perempuan berambut panjang dan yang selalu tersenyum seperti Era.


" Aku sangat penasaran siapa tunangan kamu itu. " Era yang masih belum mengetahui siapa tunangan yang dimaksud Zero.


Era memang akhir-akhir ini sering menghabisi waktu bersama Zero bahkan, mereka tinggal serumah.


Semua orang ditempat Zero juga sangat menyukai kepribadian Era yang baik kepada semua orang.


Zero tersenyum.


" Kamu akan tahu nantinya. " Zero yang berkata dengan nada lembut dan melanjutkan jalannya.


Dirumah Dyias.


" Zell, menginap dirumah temannya? Padahal, ia baru 2 hari disana dan dia menginap dirumah temannya? " Dyias menyiapkan minuman untuk Ver.


Ver langsung memukul meja.


" Hari ini sangat, sangat buruk! Pertunanganku dibatalkan, besok ada kelas renang, Zell menginap dirumah teman! " Ver berbicara dengan sangat cepat.


Hari pertama Ver merasa senang tanpa beban namun, dihari kedua ia merasa sangat buruk.


Dyias langsung terkejut mendengarnya.


" Pertunangan..... Dibatalkan? Apa maksudmu? " Dyias mengingat bahwa, ia tidak pernah membicarakan mengenai surat perjanjian pertunangan pada Ver maupun Zell.


Ver langsung menyadari kesalahan bicaranya dan menyiapkan mental.


" Sebenarnya, aku dan Zell sudah tahu mengenai surat peninggalan 2 orang itu. Kita diam-diam memeriksanya dan hari ini Pria yang dimaksud tunanganku itu mendatangiku dan ingin membatalkannya. " Ver melihat kearah lain.


Dyias berdiri dan memukul kepala Ver 10 kali.


" Kalian sangat keterlaluan! Kamu tanpa izin siapapun menyetujuinya?! Itu peninggalan orang tua kalian! " Dyias yang terdengar sangat kecewa.


" Aku benar-benar meminta maaf, lagipula, aku tidak sebodoh itu untuk membatalkannya. Aku akan mendapatkan posisi yang menjadi milikku. " Ver yang memegang kepalanya.


Dyias langsung duduk dan wajahnya terlihat marah.


" Ver, kenapa kamu melakukan itu? Saya tahu bahwa, pertunangan kalian hanya diketahui anggota keluarga tapi, itu keputusan yang besar. " Dyias yang mengeluh.


Dyias hanyalah orang luar dan tidak memiliki hak sepenuhnya atas Zell dan Ver.


Ver datang dan memeluk Dyias.


" Itu perjanjian lama dan itu tidak diketahui secara publik. Aku akan membuat perjanjian baru dan diketahui oleh seluruh orang. " Kata Ver membujuk Dyias.


Dyias bukanlah Nenek kandung Zell dan Ver, Dyias adalah orang yang Marx utus untuk merawat Zell dan Ver.


Dyias menghela nafas dan pasrah pada Ver. Ver dan Zell sama-sama orang yang keras kepala dan susah diatur.


Setelah itu, Ver langsung mengeluh.


" Dyias! Aku baru ingat, besok ada kelas renang, apa kamu ada saran agar aku bisa tidak mengikutinya? " Tanya Ver yang langsung mengingat dan panik.


" Kamu tidak bisa berenang? Bukannya, Tuan muda Marx pernah mengajarimu? " Tanya Dyias yang tidak mengetahui soal luka ditubuh Ver.


" I-iya, Tuan Marx memang pernah mengajariku namun, ada alasan lain kenapa aku tidak mau berenang ditempat ramai seperti itu. " Ver juga tidak memiliki niat untuk memberitahu Dyias soal luka ditubuhnya.


Yang tahu soal bekas luka ditubuh Ver hanya Marx dan bahkan, Zell tidak mengetahuinya. Ver yang merahasiakan hal itu dari Dyias dan Zell agar tidak khawatir.


Kalau, Dyias atau Zell mengetahuinya pasti akan berpikir bahwa, Ver tersiksa dengan bekas lukanya dan merasa khawatir.


Tetapi, Ver tidak terlalu memikirkannya karena, itu tidak penting.


Dyias berpikir dengan serius.


" Tidak bisa alasan demam karena, Sekolah Moral akan mengetahuinya dengan cepat. Kalau besok tidak datang akan terkena hukuman. " Kata Ver lebih dulu agar Dyias tidak memberi saran gampang seperti itu.


" Emm, bilang saja kamu tidak bisa berenang dan kalau kamu tidak ingin diajari Senior kamu tinggal bilang akan belajar bersama temanmu. " Kata Dyias tersenyum.


Ver juga baru teringat.


" Kenapa baru bilang sekarang! Dyias, kamu memang yang terbaik. " Ver yang memeluk erat Dyias dan kembali kekamarnya.


Ditempat Zell berada...


" Jadi saat ini, hanya ada 3 Calon Pewaris dan mereka berasal dari kelas 3-2? Kelas 3-A tidak tertarik dalam hal merebut Sekolah Moral? Membosankan. " Zell sambil meminum teh yang disiapkan.


" Sebenarnya, bukan tidak tertarik. Tapi, 3-A itu tahun ini tidak bisa berlomba menjadi Calon Pewaris karena, tahun kemarin mereka. " Kata Eir memberitahu.


" Kita lihat apa yang akan aku lakukan nanti. " Zell yang langsung meletakkan kepalanya dimeja dan menutup matanya.


Hari kelas renang.


Tempat loker perempuan....


" Hahaha, Vinea apa kepalamu terpukul? Kita akan berenang hari ini dan kamu memakai baju tebal seperti itu? " Tanya Yeri yang berdiri disebelah.


" Aku tidak bisa berenang jadi, aku tidak mengikuti kelas renang. Aku akan membersihkan tempatnya habis, kalian pakai. " Kata Ver tersenyum pura-pura tenang.


Ver bahkan, tidak yakin rencananya akan berhasil.


" Aku akan membantumu nanti. " Freya tersenyum ramah. Freya tidak tega membiarkan Ver untuk membersihkan tempat yang luas seperti itu.


" Teman yang harus aku mintai tolong, siapa?! Freya terlihat sangat bersemangat, Margare juga pasti memaksaku untuk latihan bersama Senior. " Ver dalam hatinya yang pusing ingin memilih siapa.


Ver keluar dari Ruang Loker dan mengatakan ingin izin kepada Yiran terlebih dahulu.


" Kalau aku meminta bantuan Bella, dia akan menolak. " Ver masih mengingat seberapa dingin sikap Bella pada dirinya.


Ver langsung teringat seseorang dan mencarinya.


Ruang Pribadi Fhell...


Ver langsung membuka tanpa mengatakan apa-apa. Ver masih mengingat siapa saja yang memiliki Ruang Pribadi.


Fhell biasanya, melakukan apa yang dia suka. Pada hari kelas renang, ia akan membolos. Fhell tidak suka jika, disatu ruangan yang ramai berisi orang-orang Bangsawan.


Fhell dikelas saja, karena dipaksa oleh pelayannya untuk mengikuti setiap pelajaran agar ia bisa menjadi lebih baik.


Fhell mengikuti kemauan pelayannya karena, pelayan tersebut merupakan Adik ibunya.


" Aku ingin meminta bantuanmu! " Ver yang tidak ragu-ragu. Ver yakin bahwa, Fhell akan membantunya.


Fhell sedikit terkejut dengan orang yang tiba-tiba masuk.


" Untuk apa meminta bantuan pada orang yang kamu merasa jijik? Dasar tidak ada etika. " Fhell melanjutkan menonton TV.


Fhell saja sudah kebingungan dengan Ver yang tiba-tiba datang seperti seorang teman.


" Aku tebak kamu pasti akan membolos dan lebih memilih hukuman. Kalau kamu membantu aku, kamu tidak akan mendapatkan hukuman. " Kata Ver dengan percaya diri.


Sangat terlihat jelas bahwa, Fhell membenci para Bangsawan.


Fhell tersenyum.


" Itu sedikit menguntungkan. Tetapi, kamu tetap akan menerima hukuman karena, sudah melanggar peraturan untuk masuk ketempat orang tanpa diundang. " Fhell yang mencari setiap kesalahan Ver.