
Dikediaman Era.....
" Putri, karena dia berhubungan dekat dengan Putri Vernier, aku telah membunuhnya agar dia tidak membahayakan, nyawa putri. " Kata Kai salah satu pelayan Era yang paling setia.
Era yang mendengarnya langsung menamparnya.
" Kai, apa yang kamu katakan?! Dari kemarin, kamu pergi entah kemana dan hari ini kamu mengatakan kamu membunuh orang yang bahkan, aku tidak kenal. " Kata Era yang terlihat sangat marah.
Kai merasa sangat bersalah karena, membuat Era sangat marah.
" Putri Vernier adalah tunangan Putra mahkota sebelumnya, aku merasa pelayan putri Vernier akan membalas dendam kepada Putri karena telah merebut Putra Mahkota. " Kata Kai yang mengutamakan nyawa Era.
" Zero telah membatalkannya beberapa hari lalu dan sampai hari ini tidak terjadi apa-apa padaku, kenapa kamu berpikir seperti itu?! Apa yang akan Putri Vernier lakukan jika dia tahu hal ini. " Era sangat tidak suka melihat nyawa orang yang terbunuh sia-sia.
Kai langsung membungkuk.
" Maafkan saya, Putri. Saya hanya mendengar dari seorang pria bahwa, pelayan Putri Vernier bernama Dyias mencoba meracuni anda. " Kata Kai yang tidak merasa bersalah sama sekali karena membunuh pelayan Ver.
" Seorang Pria? Siapa? " Tanya Era yang tidak mengetahui orang yang dimaksud Kai.
" Saya tidak tahu namanya karena, dia hanya mengatakan hal itu dan menghilang entah kemana. " Kata Kai yang juga tidak mengenal orang yang memberitahunya.
" Kamu membunuh orang yang belum tentu meracuniku dan tidak mengenal orang yang memberitahumu, itu bodoh sekali! Aku menghukummu untuk pergi ketengah hutan selama 4 hari tidak boleh kembali. " Era yang sangat kecewa dengan pelayannya.
Era selalu menghukum pelayannya ditengah hutan jika, pelayannya telah berbuat sesuatu yang keterlaluan.
Kai hanya menurutinya.
Ditengah-tengah jalan tempat banyak kedai dan tempat orang berjualan aksesoris.
" Dimana Dyias sebenarnya? Dia biasanya selalu disekitar sini. " Kata Ver yang berkeliling mencari Dyias.
Seorang Nenek mendatangi Ver dan menarik tangannya.
Ver melihat kearah belakang.
" Nenek Zia! Kebetulan sekali, apa anda tahu dimana Dyias? " Tanya Ver.
Zia adalah sahabat Dyias dan biasanya, Zia tahu segala hal mengenai Dyias.
" Vernier, memangnya Dyi belum kembali? Kemarin, dia bilang, dia diundang bertemu dengan seorang Prajurit dihutan sana. " Zia menunjuk arah selatan.
Ver yang mendengarnya terkejut.
" Prajurit? Siapa prajurit yang ingin bertemu Dyias dan apa yang dia ingin dari seorang Dyias? " Ver yang sangat bingung. Ver sangat tahu bahwa, tidak ada satupun Prajurit yang mengenal Dyias.
Tiba-tiba Sean datang dengan wajah paniknya.
" Nier! Ini urusan penting, kamu harus ikut aku sekarang. " Sean yang terlihat buru-buru dan matanya terlihat berkaca-kaca.
" Sean, aku sedang mencari Dyias, kamu jangan menganggu. " Ver yang juga sedang kesal. Ver biasanya selalu mengutamakan keluarganya.
Sean tidak mendengar dan langsung menarik.
" Sean, ada apa? Kamu terlihat panik. " Ver yang bingung dengan sikap Sean yang terlihat berubah-berubah.
Sean tidak menjawabnya.
Sesampainya ditengah hutan dan Zell sedang menggendong seseorang.
" Z-zell, i-itu Dyias, kan? Kenapa tubuhnya banyak goresan pedang seperti itu? " Kata Ver berjalan mendekat ketubuh Dyias.
Sean hanya mengikuti Ver.
" Aku tidak tahu, aku tadi mendengar suara minta tolong ditengah hutan disaat, aku mencari Dyias dihutan. " Kata Zell yang terlihat sedang menahan sedihnya.
Zell meletakkan tubuh Dyias ditanah dan Ver terjatuh.
" Dyias?! Apa yang terjadi?! Dia hanya seorang wanita yang selalu mengurusi anak-anak. " Ver yang tanpa sadar meneteskan air mata.
Zell tidak bisa berkata apa-apa.
Tubuh Dyias banyak goresan pedang dan tangannya mengeluarkan banyak darah.
" Hei, siapapun jawab apa yang terjadi dengan Dyias?! " Ver memegang tangan Dyias dan mencoba membangunkannya.
" Aku mencarinya ditengah hutan karena, ada sebuah burung yang menuntunku kesini. " Kata Zell yang juga memegang tangan Dyias.
Sean memeluk Ver untuk menenangkannya.
Ver menggoyangkan tubuh Dyias yang sudah tergeletak namun, Dyias tidak bergerak sama sekali.
Ver yang sudah mengetahuinya bahwa, Dyias tidak bisa diselamatkan langsung menangis dan memeluk tubuh Dyias yang sudah tergeletak.
" Kita harus cari orang yang melakukan ini terhadap Bibi Dyias. " Sean menggepalkan tangannya dan berdiri.
" Ver, kita harus mengadakan pemakaman untuk Dyias. " Zell yang masih sangat kecewa dan sedih. Zell bahkan, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Ver tidak berkata apa-apa dan wajahnya terlihat pucat.
" Tidak! Jangan biarkan satupun orang tidak berguna menghadiri pemakamannya, cukup kita dan Marx. " Kata Sean yang masih sangat murka.
Zell membantu Ver berdiri yang masih meneteskan air matanya.
Disisi lain....
" Tuan, Tuan muda Sean mengirim pesan bahwa, Dyias sudah dibunuh oleh seorang Prajurit. " Kata Pelayan Marx membungkuk.
" Dyias.... Dibunuh?! " Marx yang langsung memecahkan jendelanya.
5 hari kemudian, hari acara ulang tahun Era.
" Terima kasih untuk kalian semua yang sudah hadir. " Kata Zero yang menuruni tangga bersama Era Calon Putri Mahkota.
" Sebelum acaranya dimulai, Saya ingin melamar Putri Era sebagai kekasihku dan Putri Mahkota. " Kata Zero yang membungkuk dan memegang tangan Era dengan lembut.
Era hanya tersenyum bahagia.
" Bahkan, mereka mengundang kepala gereja. " Kata Yeri yang melihatnya juga.
" Dia adalah Putra Mahkota negara ini. Jelas bahwa, keputusan yang ia ambil harus disaksikan semua orang terutama Kepala Gereja. " Margare yang juga hadir namun, Debutnya sudah lewat.
Yeri hanya tersenyum bodoh.
" Dengan ini, Saya yang hadir sama saja dengan seluruh orang di Negara ini telah menyaksikan pertunangan resmi antara Putra Mahkota, Zero Das Xacsier dan Putri Mahkota Era Yuivelette. " Kata Kepala Gereja memberi cincinnya.
Zero memasangkannya dijari Era dan langsung berdiri dan mencium bibir Era.
" Selamat untuk Putra Mahkota dan Putri Mahkota. " Kata Kepala Gereja yang menunduk lalu pergi karena, tugasnya sudah selesai.
Tiba-tiba saja ball roomnya langsung ramai dengan suara yang berkata bahwa, Era yang sangat cantik dan pertunangan mereka sangat cocok dan itu akan membawa masa depan Negeri lebih cerah.
" Aku pikir dulu ada rumor mengatakan bahwa, Zero memiliki tunangan dari kecil. " Kata Leam yang juga tidak yakin.
" Its just a rumor. Aku rasa Era juga sangat cocok dengan Zero. " Kata Caleb sambil menikmati makanan.
" Silahkan dinikmati acaranya untuk kalian para wanita bangsawan yang memulai Debutnya. " Kata Zero yang tersenyum dan bersulang.
Dipaling belakang.....
" Dasar para sampah tidak berguna. " Kata Ver yang memandang dengan datar dan tidak menggunakan penyamarannya.
Ditempat ramai seperti ini hanya beberapa orang yang menyadari keberadaan Ver.
Semua bangsawan mengucapkan selamat pada Zero dan Era saat mereka menuruni tangga.
" Zero, aku ingin pergi sebentar menyapa teman. " Kata Era yang meminta izin.
Zero hanya tersenyum dan mengizinkannya.
Setelah itu, Zero langsung naik keatas dan menyuruh semua diam karena, ia ingin mengumumkan hal lainnya.
" Cih, Zero itu mengumumkan apa lagi? " Leam yang sedang bersama seorang perempuan bangsawan. Leam memang menyukai semua gadis.
" Saya mendengar bahwa, Putri yang dikatakan sudah mati dari sepasang kekasih kriminal bernama Roselia Fi Deluxe dan Athan Gibelia ternyata masih hidup. " Kata Zero menyuruh pengawalnya membawa data-data.
" Putri itu dikatakan diadopsi oleh Keluarga Guile yang dikatakan sering membantu masyarakat. " Zero yang berbicara dengan tegas.
Semua orang langsung membicarakan hal itu dengan suara kecil.
" Ara, menarik, siapa itu? " Leam yang tiba-tiba tertarik. Keluarga Leam juga pernah dibantu oleh Keluarga Guile.