Catchers

Catchers
Sean



" Pirang kecil, apa kabar? Kita sudah 10 tahun tidak bertemu, loh. " Pria itu yang tersenyum dan melepaskan rambut Ver yang tadi ia tarik.


" Tidak usah sok dekat. Cepat katakan apa maksudmu. " Kata Ver dengan nada datar. Ver yang sedang tidak menggunakan Wig dan kacamatanya.


" Apa kita perlu menggunakan salam yang dulu kita janjikan? Cepatlah ingat. " Kata Pria itu yang juga mulai kesal.


Ver terlihat bingung.


" Pirang kecil, 10 tahun, janji apa yang dia katakan? " Ver dalam hatinya. Ver memang merasa kenal namun, ia tidak mengingatnya.


Pria itu mendekat kearah Ver dan langsung mencium pipi Ver.


Ver tiba-tiba teringat soal temannya yang sudah sangat lama pergi.


" SEAN?! INI BENAR-BENAR KAMU?! " Ver yang terlihat bahagia. Ver mengingat ciuman pipi yang tadi Sean lakukan.


" Ingat juga akhirnya. Aku tidak menyangka kamu melupakan aku begitu mudah. " Sean yang masih terlihat sedikit kesal.


Ver tertawa karena merasa bersalah.


" Jangan kesal begitu, aku selama ini membaca buku tanpa henti, yang aku pikirkan hanya incaran aku. " Kata Ver yang meminta maaf.


" Kamu tidak berubah ya selama ini. Aku maafkan kamu sebagai kakakmu. " Kata Sean terlihat sombong. Sean menganggap Ver sebagai adik perempuannya.


" Kakak? Justru, aku yang kakak perempuanmu. " Ver menganggap Sean sebagai Adik laki-lakinya. Ver sangat ingin mempunyai adik dari dulu.


" Intinya, aku kakakmu dan aku kebetulan melihatmu disini. " Sean yang kebetulan bertemu Ver dijalan. Sean baru saja dari rumah temannya.


Ver melihat sekeliling Sean.


" Tu-tuan Marx dimana? " Ver yang hanya mencari Marx.


" Dia tidak pergi. Hanya aku yang kembali karena, aku dengar akan ada pesta. " Sean memang sering kabur dari Marx karena, Marx terus menerus menyuruhnya belajar dan Sean sangat benci belajar.


Sean juga sangat menyukai pesta, dimanapun ada pesta Sean selalu mencari cara untuk menghadirinya.


Ver terlihat sedikit kecewa.


" Marx pasti akan menemui kamu dalam beberapa hari, tidak usah murung begitu, pirang kecil. " Sean yang mengacak-acak rambut Ver.


Sean dari dulu selalu memanggil Ver dengan sebutan pirang kecil.


" Aku tidak percaya. Aku ingin pulang, lebih baik kamu juga pulang. " Ver yang juga ingin cepat-cepat pulang untuk beristirahat.


Sean menarik tangan Ver untuk berjalan.


" Apa? Kenapa menarik tangan aku? " Ver terlihat bingung.


" Katanya mau pulang, aku ingin istirahat juga. " Sean yang tersenyum membodohi Ver.


" Sean, aku tidak menyuruhmu untuk menginap dirumahku dan Zell. " Ver yang mulai kesal dengan sifat Sean.


Sean selalu saja mempermainkan Ver dari kecil.


" Iya, Zell! Aku juga ingin bertemu dengannya. Pirang kecil, ini sudah sangat malam jangan berisik. " Sean yang masih menarik Ver untuk pulang kerumah Dyias.


Ver hanya pasrah dan menghela nafas.


Sepanjang perjalanan mereka bertengkar dan sampai dirumah.


" Zell!! " Panggil Sean berteriak. Sean dan Zell juga bersahabat dari kecil. Sean memang memiliki sifat yang sedikit kacau dan sulit diatur.


Zell keluar dari kamarnya yang baru bangun tidur.


" Sean? Untuk apa kamu kesini? " Zell yang tidak terkejut sama sekali. Zell sudah menerima pesan dari Marx yang mengatakan Sean sudah kembali.


Ver langsung menjauh dari Sean.


" Zell, kamu memang teman terbaikku! Adik perempuanku saja lupa. " Kata Sean yang kesal karena, temannya melupakannya.


" Berisik, untuk apa kamu kesini? Disini tidak ada ruang lebih, hanya cukup untuk aku, adikku dan Dyias. " Zell yang cuek. Zell terbangun dari tidurnya karena, suara Sean yang berteriak.


" Jangan marah-marah, aku akan tetap menginap disini dan tidur dikamar Bibi Dyias. " Kata Sean yang tidak ragu-ragu dan membuka kamar Dyias dan Dyias sedang tidak ada dikamar.


Ver langsung mendorong Sean dari kamar Dyias.


" Sean, jangan menganggu di tengah malam begini. " Ver yang kesal dengan Sean yang membuka kamar Dyias tanpa izin.


" Tidak usah memasang wajah seperti itu, kamu tiba disini beberapa hari lalu,kan? Artinya kamu sudah punya tempat tinggal, sana pergi. " Usir Ver.


Ver memang senang dengan Sean yang sudah menemuinya tapi, Ver selalu saja kesal dengan sifat Sean yang seenaknya sendiri.


" Ah~ tidak menarik sama sekali. Pirang kecil, sebagai adik yang baik, kamu harus mengizinkan kakakmu ini menginap dikamarmu. " Sean yang langsung berjalan kearah kamar Ver.


Ver yang mendengar itu langsung menghadangnya.


" Zell, tolong kamu usir dia. " Ver yang meminta Zell membantunya. Ver memang paling tidak bisa menang dari Sean jika soal, pertengkaran bicara.


" Sean, malam ini aku izinkan tapi, besok kamu harus pergi dari rumah kita. " Kata Zell yang langsung masuk kamar. Zell juga tahu bahwa jika, Sean menginginkan sesuatu, ia akan mendapatkannya.


Sean melihat kearah Ver dan merasa menang.


" Sean, jika kamu menganggu waktu tidurku, aku akan langsung membunuhmu. " Ver yang mengalah pada Sean karena, Zell. Ver terkadang memang mendengarkan apa yang dikatakan Zell.


" Berisik. " Sean yang langsung masuk tanpa mendengarkan Ver.


Dirumah Freya....


Diruang pribadi Freya....


" Pure, aku tidak menyangka hari ini akan seseru ini. " Kata Freya berbicara pada Pure. Freya tidak pernah merasakan pertemanan sebelumnya.


" Berbicara pada burung itu membosankan, Freya. " Luz yang langsung masuk keruang pribadi Freya tanpa mengetuknya dan memanggil Freya dengan namanya untuk pertama kali.


Freya yang mendengarnya tidak bisa berkata apa-apa.


" Aku tahu kamu sudah sangat lama ingin aku menjadikanmu temanku dan bukan majikan, anggap saja ini hadiah. " Kata Luz yang membuat permintaan Freya menjadi nyata.


Freya langsung berlari kearah Luz.


" Luz, apa kamu.... Benar-benar menganggap aku sebagai teman dan bukan majikan? " Freya yang ragu-ragu. Freya takut Luz akan berubah lagi nantinya.


" Tidak. Aku tetap menganggap kamu sebagai majikan hanya saja kali ini, aku akan mencoba untuk bersikap sebagai teman sekaligus, pelayanmu. " Kata Luz yang tersenyum.


" Luz, aku benar-benar beruntung memiliki orang sepertimu disisiku. " Kata Freya tersenyum tulus. Freya merasa bahwa, perlahan keadaan mulai berubah.


" Pada akhirnya, ini semua berkat Vinea yang membujukku terus setiap hari. " Luz yang malas mengakuinya namun, itu faktanya.


" Pure itu seperti lambang pertemanan kita bertiga kalau dipikirkan karena, dihari pertama kita bertiga berteman dia hadir dan saat kamu mengatakan ini, dia juga mendengarnya. " Kata Freya tertawa kecil.


Di Istana tempat dimana ketiga keluarga bangsawan terbesar tinggal jika ada acara, rapat atau pengumuman penting.


Diperpustakaan besar.....


" Apa kita akan mengumumkannya disaat acara yang diadakan Putra Mahkota? " Tanya Bella yang sedang menyelidiki sesuatu.


" Kalau semua itu dibongkar disaat acara diadakan, acaranya akan kacau dan pertunangan antara Putra Mahkota dan Putri Era akan batal. " Kata Jeaz yang juga ragu.


" Karena ini berhubungan dengan 3 keluarga Bangsawan terbesar, kita harus bicarakan ini dengan Putra Mahkota dan bongkar mengenai hal ini kepadanya terlebih dahulu. " Kata Bella yang mengumpulkan datanya menjadi satu.


Jeaz juga membantunya.


5 hari menuju acara ulang tahun.


Rumah Ver dan Zell....


" Dyias, belum kembali dari kemarin? " Tanya Ver mencarinya.


" Terakhir kali Dyias bilang, dia ingin pergi kesuatu tempat karena diundang oleh seseorang. " Zell yang sudah bangun dan bersiap-siap untuk pergi.


" Apa itu? Terlihat misterius. " Kata Ver tertawa. Dyias sangat jarang berbicara sesuatu yang tidak jelas seperti itu.


Sean sudah tidak ada dikamar disaat, Ver bangun dari tidurnya.


" Aku menjadi khawatir, Dyias jarang seperti ini sebelumnya. Aku akan mencarinya dulu. " Ver yang langsung keluar karena merasa khawatir.


" Aku akan membantumu, ada kabar apa nanti beritahu. " Kata Zell yang juga membantu.


Dyias adalah salah satu orang terpenting bagi Ver dan Zell, jadi jika terjadi sesuatu pada Dyias, mereka akan sangat marah.


Dikediaman Era.....


" Putri, karena dia berhubungan dekat dengan Putri Vernier, aku telah membunuhnya agar dia tidak membahayakan, nyawa putri. " Kata Kai salah satu pelayan Era yang paling setia.