
5 tahun lalu, bisa dibilang usia ku sudah 12 tahun saat itu....
kakek terus melatihku cara bertarung dengan belati.
meski serangan kakek ku sudah ku hapal berkali-kali. tetap saja aku selalu tumbang berkali-kali. dan latihan kali ini Hasilnya tidak jauh berbeda.
aku terpental dan berguling di tanah, Belati yang ku pegang untuk bertarung lepas dari genggaman ku, tubuh ku di selimuti debu, dan beberapa luka lecet di tubuh ku.
tidak ada yang bisa kulakukan saat itu selain berusaha bangkit dengan menahan rasa sakit. kakek ku juga memberi ku semangat dengan caranya sendiri...
"bangunlah, Warzt. Kau masih belum bisa mengalahkan ku sejak kita duel pertama kali"
"baiklah.... aku tahu kok....."
benar.... itulah nama ku
Warzt Elzerbern, seorang anak laki-laki dengan rambut putih dan mata merah.
dengan tubuh gemetar, Aku mengambil belati milikku dan kembali bersiap untuk babak selanjutnya....
"mari kita lanjutkan.... kakek...."
kakek melihat ku yang sudah bersiap berduel lagi, namun ia mengatakan hal yang berbeda. ia malah berbalik dan menyimpan belati miliknya.
"latihan ini kita sudahi saja, Warzt"
"eh?... kenapa?"
"tentu saja..... dengan kondisimu seperti itu, kau akan semakin sulit bertarung.... sekarang kita istirahat dan makan terlebih dahulu...."
ia kemudian berjalan menuju rumah untuk beristirahat.
aku masih belum puas dengan hasil duel tadi, sebab itu aku membujuk kakek untuk melakukannya lagi.
"tapi, kakek. aku tadi belum mengeluarkan tehnik andalan ku.... jadi mari kita duel past aku bis-"
perutku mulai berbunyi. membuat ku terdiam sejenak.
"lihat, Perutmu saja tahu kapan kau harus berhenti... sebaiknya kita lebih dulu. dan kita lanjutkan latihan ini besok..."
"baiklah...."
aku dan kakek ku masuk kembali dalam rumah dan bersiap untuk makan.
kenapa aku dilatih cukup keras oleh kakek ku bahkan di usia yang sangat muda?
ya, selain itu keinginan ku sendiri, kakek ingin mewarisi kemampuan bertarungnya pada ku. tidak hanya cara Bertarung dengan Sepasang belati, Dia juga mengajariku cara memakai sebuah kekuatan aneh yang di sebut sihir.... aku tidak tahu kekuatan apa itu yang jelas kekuatan itu cukup menarik.
setelah makan siang, aku akan pamit kepada kakek untuk keluar rumah dan bermain dengan seseorang yang bisa menerima ku.
kenapa aku bilang begitu?
ya, bisa dibilang aku memiliki fisik yang berbeda dengan orang-orang di desa ku pada umumnya yang rata-rata mempunyai kulit yang tidak terlalu terang dan rambut hitam serta mata Coklat.
aku bisa memandang wajah ketidaksukaan mereka padaku. Bahkan mereka berbisik-bisik di belakang ku. Seolah-olah aku pernah melakukan hal yang memalukan di sini.
Aku tidak terlalu memperdulikannya, pastinya ada seseorang yang tetap memandang ku sebagai orang biasa selain kakek.
Tak lama, aku melihat anak-anak seusiaku sedang bermain bersama. Dan aku memutuskan untuk mendekati mereka berharap mereka mau menerima ku.
Aku mulai menyapa Mereka
"Hei.... Kalian sedang main apa?"
Wajah mereka seketika menjadi datar ketika aku datang menghampiri mereka.
".... Kalian sedang apa? Apa aku boleh ikut bergabung?"
Salah satu anak mulai menghampiri ku. Bukan untuk menerima ku untuk bergabung, malah dia menolakku ku dengan kedua tangannya. Untung saja tubuhku tidak jatuh dan tolakan itu hanya membuatku mundur beberapa langkah saja.
"Pergilah.... Kami tidak ingin bermain dengan anak Ras Vampir seperti mu...."
"Benar! Seharusnya ras Vampir tidak disini!"
"Ras Vampir? Aku bukan ras Vampir! Aku masih manusia seperti kalian!"
"Benarkah? lalu jika kau itu manusia, kenapa wujud mu berbeda dengan kami?"
"Soal itu.... Itu karena...."
Tiba-tiba saja gumpalan tanah mendarat di kepala ku. Dan itu berasal dari anak-anak lain yang melemparkannya pada ku.
"Pergilah Vampir! Kembalilah ke kerajaan iblis!"
"Ya! Pergilah!"
Mereka terus melemparkan tanah kepadaku. Dan aku rasa mereka akan terus melemparkan itu hingga aku pergi dari pandangan mereka. Jadi lebih baik aku mundur saja dan pergi ke tempat lain saja.
"Baiklah! Aku akan pergi dari pandangan kalian!"
Aku berbalik dan berjalan menjauhi mereka. Mereka tampak puas melihat ku pergi.
"Benar! Lebih baik kau pergi ke tempat asal mu, Vampir!"
Karena di desa ini tidak ada yang menganggap ku seperti manusia, aku memilih pergi menyendiri di hutan dimana tidak ada siapapun yang memandangi ku dengan tatapan sinis.
...****************...
di dalam hutan, setelah membersihkan wajahku dari debu dan tanah. aku memanjat pohon dan bergelantung secara terbalik sambil mengeluh.
"hah~ kenapa sih semua orang se-benci itu kepada ku.... mereka terus-terusan memanggil ku Vampir... se-benci itukah mereka dengan Vampir itu?.... aku ingin melihatnya apakah mereka mirip seperti ku....."
aku terus-menerus mengeluh tentang kebencian mereka kepada ku.
aku pikir kehidupan kedua ini akan berjalan mulus.... tapi nyatanya tidak....
aku di buang oleh Orang tua ku saat bayi, mempelajari Bahasa dunia ini yang membuat lidah ku terbelit, dan di benci satu desa hanya karena fisikku yang aneh....
"AAAARRRRRGGGGHHHHH!!! SETIDAKNYA BERI AKU HAL YANG MENYENANGKAN DONG!!!"
Tiba-tiba saja suara samar-samar terdengar.... membuat ku langsung waspada dan langsung turun dari pohon yang kunaiki.
awalnya aku tidak tahu asal suara itu. namun, aku mulai mendengarnya secara seksama. dan suara itu muncul dari semak-semak dekat ku.
aku fokus pada semak-semak itu dan menunggu mahluk apa yang akan keluar dari semak-semak itu. dan aku menyadarinya, jika yang keluar adalah seekor kucing putih dengan 2 ekor panjang yang sedang terluka cukup parah.
"ku...kucing?"
tiba-tiba saja kucing itu jatuh dan tidak sanggup untuk berdiri. karena khawatir aku langsung menghampirinnya.
aku memeriksa lukanya dan ternyata lukanya cukup parah. pantas saja dia benar-benar lemas jika separah ini.
aku tidak punya cara lain untuk menyembuhkan nya kecuali dengan sihir yang ku pelajari.
"bertahanlah sebentar... aku akan menyembuhkan mu...."
aku mengangkat kedua telapak tangan ku diatas tubuh kucing itu. dan aku mulai mengeluarkan sihir penyembuhan sebisa ku. berharap kucing itu bisa sembuh dengan sihir ku.
"Heal!"
cahaya hijau mulai menyinari telapak tangan ku dan kucing itu. perlahan lukanya mulai memudar lalu menghilang.
karena kucing itu sudah tidak merasakan sakit lagi dan mulai bangun dengan sendirinya, aku menghentikan sihir ku karena aku lumayan kelelahan memakai sihir.
"dengan ini.... kau bisa sembuh...."
tiba-tiba saja kucing itu berbicara membuat ku agak terkejut.
"sihir mu lumayan juga. meski kau terlalu memaksa untuk mengeluarkan energi mu...."
"kau.... bisa bicara?"
"tentu saja.... karena aku adalah roh Agung...."
"Roh Agung?"
"jika aku jelaskan padamu, kau akan sulit memahaminya karena kau masih anak-anak.... yang jelas aku ucapkan terima kasih banyak karena telah menyembuhkan ku.... dan perkenalkan nama ku adalah Killis, Dan kau adalah....."
"nama ku Warzt Elzerbern.... kau bisa memanggilku Warzt"
"Waruzo?"
"bukan.... Warzt yang benar...."
"waruto?"
"Wa-r-zt"
"ah.... nama mu sangat sulit ku panggil.... kalau begitu aku akan membuat nama panggilan baru buat mu...."
"panggilan baru?"
"biar aku pikirkan nama yang cocok untukmu.... hmmmm.... karena rambutmu bewarna Putih, akan lebih cocok jika ku beri nama Yuki.... bagaimana?"
"aku tidak keberatan soal itu...."
"baguslah jika kau menyukainya...."
"hei.... killis... ada yang ingin ku tanyakan"
"ya?"
"Vampir itu sebenarnya apa?"
"Vampir ya.... ya bisa ku simpulkan mereka adalah Ras yang memiliki umur panjang dan gemar mengisap darah mahluk lain.... selain itu, selera pakaian mereka juga norak menurut ku...."
"begitu ya...."
"Kenapa kau menanyakan itu?"
"bukan apa-apa.... aku hanya penasaran dengan orang-orang di desa ku yang selalu memandang ku seperti ras Vampir... bahkan mereka menjauhi ku karena itu. apa ras Vampir itu jahat?"
"ya, Mereka adalah salah satu Ras yang mengabdi kepada raja iblis. wajar saja mereka di benci."
"begitu ya.... pantas saja aku di buang oleh orang tua ku sendiri...."
"tapi, menurutku kau tidak seperti ras Vampir menurutku...."
"benarkah...."
"aku bukanlah orang yang senang melihat sisi luar suatu hal... bagiku kau itu juga manusia pada umumnya.... hanya saja fisikmu berbeda dengan yang lain.... serta pakaianmu juga terkesan norak dimata ku"
"ya aku memaklumi nya...."
aku mulai melihat ke langit. tanpa sadar langit telah menjadi oranye yang berarti hari sudah berganti sore.
"hoo.... sudah mau malam ternyata.... sepertinya kita berpisah disini...."
"benar juga.... terimakasih sudah menemani ku, Killis"
"bukan apa-apa.... kau boleh menjumpai ku disini kapanpun kau mau. aku akan mengajarimu beberapa hal yang ku ketahui padamu"
"ya... terimakasih banyak, Killis.... sampai jumpa lagi!"
aku berpamitan dengannya lalu kembali ke rumah sebelum hari menjadi gelap.
setelah pertemuan itu, setiap hari setelah makan siang, aku menghabiskan waktu bersama Killis di hutan.
dia mengajariku berbagai hal tentang dunia ini yang masih asing bagiku. mulai dari pengetahuan umum, beberapa mahluk unik, dan beberapa sihir untuk ku gunakan suatu hari nanti.
selain itu, aku terus berlatih kemampuan bertarung ku di hutan seorang diri agar aku bisa melampaui kemampuan kakekku.
...****************...
4 tahun berlalu...
kemampuan bertarung ku semakin meningkat...
bahkan untuk pertama kalinya aku berhasil mengalahkan kakek dalam pertarungan 1 lawan 1.
kakek cukup kagum dengan kemampuan ku yang sudah meningkat selama 4 tahun.
"akhirnya kau berhasil mengalahkan ku kali ini, Warzt. kemampuan mu sepertinya sudah melampaui kakek ya..."
"kakek terlalu berlebihan menilai ku lho. aku hanya mengikuti apa yang kakek ajarkan sebelumnya padaku...."
"kau juga selalu merendah ya, Warzt...."
kakek tertawa namun tiba-tiba ia mulai batuk dengan cukup keras. aku langsung menghampiri nya karena khawatir.
"kakek! apa kau baik-baik saja?!"
aku mulai mengelus-elus punggung nya. saat kulihat tangan yang ia pakai untuk menutup mulutnya. tampak darah merah membasahi telapak tangan itu.
"darah?"
"sepertinya kakek sudah hampir dekat dengan batasan kakek sendiri.... aku sama sekali tidak menyadarinya...."
"sebaiknya kakek beristirahat dulu.... kakek tidak perlu memaksa kan diri lagi...."
"ya.... kau benar Warzt...."
aku berjalan sambil merangkul tubuh kakek yang lemas masuk ke dalam rumah.
aku membaringkan nya di kasur. selain itu, aku sempat memberikan sihir penyembuhan padanya. namun tetap saja, penyakit itu masih belum sembuh.
"tidak bisa ya.... kekuatan luar biasa ini bahkan tidak menyembuhkan kakek..."
aku mulai pasrah dengan keadaan seperti ini. meski sihir adalah kekuatan luar biasa, tetap saja dia tidak bisa menyembuhkan penyakitnya.
saat aku merenung tiba-tiba saja suasana di luar menjadi Gaduh. aku tidak tahu apa yang terjadi di luar. namun, aku punya perasaan yang tidak enak.
"Ada apa di luar sana?"
"entahlah, kakek.... Biar aku saja yang memeriksa nya, Kakek tetap disini saja...."
aku mengambil 2 pasang belati milik ku untuk berjaga-jaga jika sesuatu tiba-tiba menyerang. dan dengan perasaan tegang, aku membukakan pintu. dan aku melihat hal yang mengerikan....
"apa yang terjadi?"
beberapa monster datang dan menghancurkan setiap tempat yang ada. bahkan mereka tidak ragu membunuh warga desa lain yang terpojok. terlihat sosok yang tertawa lepas di tengah kekacauan itu. sepertinya dia pemimpin para monster perusak ini.
Sesosok Pria dengan tanduk panjang dan rambut oranye. ia juga membawa kapak besar di tangannya. aku menyelinap di bangunan didekat tempat ia berada. terlihat ia membawa beberapa sandera yang tangan dan kakinya di ikat.
"Kerja bagus. dengan ini kita mudah mengorek informasi tentang Roh itu...."
roh?
apa yang ia maksud adalah Killis?
"kau tahu dimana Roh Agung berada kan? jawablah dengan jujur atau kepala mu akan terpisah dengan badan mu...."
"aku tidak tahu!! aku benar-benar tidak tahu dimana ia berada!! aku bersumpah!!"
"hoo~ Entah apakah kau berbohong atau jujur.... jawaban mu tidak membuatku puas lho...."
ia mulai mengangkat kapaknya dan bersiap menebas kepala sandera itu.
"bersiaplah untuk kematian mu...."
"Maaf mengganggu"
Aku keluar dari persembunyian ku dan mulai berjalan dengan Mahkluk besar itu.
"Siapa kau?! Jangan Mengganggu ku, dasar Ras Vampir!!"
"Ras Vampir ya?.... Sepertinya kau keliru tentang ku.... sejujurnya, aku masih manusia biasa...."
Mahluk itu melepaskan sanderanya lalu berjalan kearah ku sambil mempersiapkan kapaknya.
"begitu ya....biar ku tebak. pasti kau datang untuk menyelamatkan mereka...."
"ya.... tentu saja"
"jujur sekali.... kalau begitu....."
ia mulai mengayunkan kapaknya keatas.
"KAULAH YANG MATI LEBIH DULU!!!"
ia memulai serangan Pertamanya. namun, aku berhasil menahannya meski Tubuhku masih belum kuat menahannya.
"sepertinya Kekuatan mu masih jauh dibawah ku ya?"
"Ini belum seberapa!"
aku menangkisnya membuat kapaknya terangkat. dan kesempatan itu aku ambil untuk menyerang titik Vitalnya.
apa itu berhasil?
tidak.... jangankan melukainya , bahkan goresan saja tidak muncul di tubuhnya saat aku menyerangnya.
"Apa yang kau lakukan.... serangan mu tidak mempan untuk ku!!"
la langsung menendang ku cukup keras hingga tubuhku terpental dan terbanting di tembok.
aku berusaha bangkit, namun ia menghampiriku dan mulai mengangkat kepala ku dengan satu tangan.
"tampaknya kau tahu sesuatu tentang Roh itu.... cepat katakan pada ku dimana Roh itu berada...."
"Tidak.... akan...."
"hah? apa kau bilang?"
"Aku tidak akan mengatakan padamu dimana dia berada, Bodoh..."
Ia terdiam, lalu secara tiba-tiba ia tertawa. lalu ia kembali melempar ku hingga ku terjatuh.
"baiklah.... kau ingin merahasiakannya.... tapi nyawamu akan jadi bayaran untuk itu...."
"siapa yang peduli tentang nyawa ku..... akan ku lakukan apapun asalkan rahasia ku tidak terbongkar...."
"kau benar-benar bodoh ya.... akan ku turuti permintaan mu...."
ia segera mengangkat kapaknya. yang ku lakukan hanya terduduk diam dan bersiap menunggu kematian ku akan datang....
"bersiaplah menunggu ajalmu...."
ya....
tidak ada yang akan peduli kematian ku. selain kakek dan Killis
warga desa lain mungkin akan senang dengan kematian ku. entahlah, aku sudah terlalu banyak berprasangka buruk tentang desa ini.
yang ingin ku katakan hanyalah satu....
"Selamat tinggal...."
"Jika kau mati sekarang maka hutang ku akan semakin banyak lho..."
Suara itu....
secara tiba-tiba aku berada di Tempat serba putih. tidak ada siapapun selain aku dan Killis yang saling berhadapan.
"Killis....."
"sudah waktunya....."
"hah?"
"sudah waktunya untuk ku melunasi semua hutang ku padamu, Yuki"
"tapi, bukankah kau mengajariku Beberapa hal padaku itu sudah cukup?"
"memang benar. tapi dengarlah, Yuki. itu hanya sebagian kecil hutang yang ku bayarkan padamu. dan itu masih belum cukup bagiku."
"lalu apa yang ingin kau berikan padaku?"
"Itu adalah.... Diriku sendiri"
"dirimu sendiri? apa maksudnya?"
"aku akan menyatu dengan mu, maka seluruh kekuatan yang ku miliki akan berada padamu. bagaimana?"
"tidak.... aku tidak mau..... bagiku, Kau itu sudah seperti teman terbaikku.... dan juga aku tidak ingin kehilanganmu selamanya"
"tenang saja, Yuki. kau tidak akan pernah sendiri, kau pasti akan punya teman yang menerimamu lho.... waktu semakin menipis, sebaiknya kita bergegas."
"baiklah.... aku akan menerimanya...."
"baiklah.... sekarang pegang lah tangan ku, Yuki"
"ya, Terimakasih banyak ya.... Killis"
aku meraih tangan nya. cahaya terang perlahan menyinari seisi tempat.
...****************...
Kapak mulai mendarat di atas ku. namun, bukan merasakan sesuatu terbelah, malah mahkluk itu merasa jika kapak itu ditahan oleh sesuatu.
"apa?"
ya benar.... yang menahannya adalah aku.... aku menahannya dengan 1 tangan.
aura biru mulai memancar, sepasang kuping kucing muncul di kepalaku, 2 ekor kucing bewarna putih dan mengeluarkan api biru juga muncul di belakang ku.
"apa-apaan ini?! apa jangan-jangan kau adalah Roh itu sendiri?!"
"tidak, kau salah, Ras Demorcia bodoh"
aku berdiri dan mendorong kapaknya hingga terpental.
"Aku hanya bersatu dengan roh itu saja"
"cih sialan! habisi dia!"
para monster lain mulai mengerumuni ku dan bersiap membunuh ku. namun, dengan hanya 1 belati....
"Nekomata Mode : Instant Break...."
semuanya terbunuh menyisakan Demorcia itu sendiri. ia kembali menyerang ku namun dengan mudah aku mengalahkan nya hingga kapaknya hancur.
"sayang sekali ya. kali ini situasi nya jadi terbalik seperti ini."
"sialan! Akan kubunuh kau sekarang!!"
ia mulai menyerang balik dengan pukulan. namun....
"Nekomata Mode : Wind Punch!!"
aku meninju tepat di dada nya dan berhasil menghempas nya Bersamaan munculnya angin hebat.
ia terjatuh tersungkur. namun dengan kesal ia bangkit.
"kau! takkan ku Maafkan!!"
"sudah cukup sampai disitu saja"
perhatian kami teralihkan oleh seseorang yang datang. seorang pria kurus dengan tanduk, Rambut panjang bewarna putih, dan mata hitam dengan tatapan yang dingin.
sepertinya sudah jelas jika dia adalah Demorcia. tapi kenapa dia muncul disini tiba-tiba? dan lagi apa-apaan pakaian nya. kemeja putih dengan rompi hitam dan Celana panjang bewarna hitam. benar-benar norak sekali!
sebentar.... kenapa aku berpikir seperti Killis?
apa karena aku menyatu dengannya jadinya kepribadiannya juga tercampur?
lupakan lah. yang jelas, Demorcia yang ku kalahkan tidak senang dengan kedatangannya.
"apa maksudmu?!"
"Kstaria Raja Iblis ke-9, Malfard. kau di perintahkan untuk menghentikan tugas mu."
ia semakin kesal dan mulai menantang pria misterius itu.
"hah?! memangnya siapa kau memerintahkan ku untuk berhenti ha?!"
pria itu dengan tenang meletakkan salah satu tangannya di dada kiri Demorcia itu lalu....
"Heart Explotion...."
seketika tubuh Demorcia itu mulai tumbang, mulutnya mulai memuntahkan banyak darah.
"si...a...lan...."
"kau bertanya siapa aku kan?.... akan ku jawab..... namaku adalah Aizbern..... dan aku akan menggantikan posisi mu...."
"a....p-"
"Corpse Dust"
seketika rubuh Demorcia itu hancur dan berubah menjadi debu. tak lama Pria bernama Aizbern menatap dingin kearah ku. aku dengan sigap menyiapkan ancang-ancang bertarung. namun ia hanya berbalik dan berjalan menjauh.
"Aku tidak akan bertarung dengan mu.... karena itu bukan tugas ku..... tugas ku hanya merebut posisi 9 Ksatria Raja Iblis saja...."
seketika aura hitam mulai mengelilinginya.
"sampai bertemu lagi, Roh Agung....."
dan ia kemudian Menghilang bersama aura hitam itu.
semua telah berakhir, Aku mematikan mode Nekomata ku yang membuat telinga dan ekor kucing ku Menghilang.
di saat semuanya telah berakhir, kakek datang menghampiriku.
"Syukurlah kau selamat, Warzt"
"kakek?! Kenapa kakek disini? seharusnya kakek beristirahat."
"bagaimana kakek bisa beristirahat jika kau bertarung sendirian...."
"tenang saja, semuanya sudah aman sekarang....."
"Aman?! kau bilang ini Aman?!"
salah satu Warga desa datang dan mulai protes.
"Lihatlah baik-baik! gara-gara kau, Pasukan Raja Iblis datang menghancurkan desa ini dan membunuh warga desa!"
"benar! Jika kau tidak berhubungan dengan Roh itu, para Demorcia tidak akan datang menghancurkan desa ini!"
warga yang protes semakin banyak. dan aku sudah menduga nya. mau berapa banyak hal baik ku buat di desa hingga aku membuat desa ini jadi kerajaan itu percuma saja, hati mereka ditutupi oleh kebencian yang terlalu tebal hingga tidak bisa dicerahkan lagi.
kakek awalnya ingin menjelaskan kepada warga desa, namun aku mencegahnya. karena lebih baik aku saja yang bicara.
"baik-baik aku mendengar keluhan kalian semua tentang masalah ini. sebenarnya aku juga tidak peduli dengan kalian yang hanya bisa mengeluh. bisa ku bilang kalian tidak berguna, bodoh, dan ketinggalan jaman. kalian hanya melihat seseorang dari sebelah mata saja. apa-apaan ini, payah sekali. lebih baik aku biarkan saja Monster itu membunuh kalian semua saja disini. jika kalian tidak senang dengan keberadaan ku, baiklah. aku akan tinggalkan desa ini sekarang."
apa-apaan tadi....
kenapa aku malah mengejek mereka?
tentu saja mereka semakin Marah bodoh!!
"Ya pergilah!! kami tidak ingin melihat mu lagi berkeliaran di desa ini!!"
"ya Pergilah dari desa ini!!!"
semua orang menyoraki ku untuk pergi dari desa.
ya.... aku menuruti saja apa yang mereka mau, aku pergi dari sini..... lagian aku muak dengan desa ini...
aku berjalan keluar menuju gerbang luar desa. tiba-tiba kakek mulai memanggilku
"tunggu, Warzt! apa kau yakin ingin pergi"
"tenang saja kakek, aku bisa menjaga diriku sendiri... lagian mereka hanya menganggap ku sebagai hama. jadi sebagai hama yang baik, aku pergi dari sini."
"baiklah jika keputusan mu seperti itu.... tapi aku akan memberi mu saran"
"apa itu?"
"pergilah ke kota Axel dan jadilah petualang disana, jika ada pendaftaran Party maka mendaftarlah...."
"baiklah! terimakasih sarannya. akan ku lakukan sebaik mungkin"
"ya, hati-hati di jalan. semoga kau menjadi Petualang yang hebat"
"ya.... aku janji... kalau begitu sampai nanti ya, kakek"
aku berpamitan dengan kakek ku dan melanjutkan perjalanan ke kota Axel yang menurut Killis Kota itu ada di Timur.
dan itu adalah Akhir kisah Masa kecilku dan Awal dari Kisah petualang ku.
dan sesuai keinginan kakek dan Killis, aku mendapatkan party dan Teman baru disini.
Bersambung.....