
Setelah seharian mengerjakan quest petualang apa yang akan di lakukan selain beristirahat?
Tentu saja.... Yaitu makan...
Itu lah yang aku lakukan saat ini di Guild.
Suasana guild tampak lebih tenang dari biasanya namun bau bir di dalam masih ke cium di hidungku.
Namun tidak masalah. Itu tidak bisa membuat ku menikmati makanan di guild ini!
"Silahkan dinikmati..."
Tepat waktu!
Pelayan datang mengantarkan pesanan ku!
Ikan goreng tepung dan segelas jus anggur dengan harga 500 Reis. Hidangan yang ku nantikan.
"Jika perlu sesuatu silahkan panggil saya lagi ya... Kalau begitu aku permisi dulu..."
"Terimakasih banyak!"
Aku bisa mencium bau nya yang nikmat. Ini membuat ku semakin tidak sabar menikmati nya.
"Keliatan ini benar-benar enak...."
Aku mengambil ikan itu dengan kedua tangan ku.
"Selamat makan!!"
Aku memulai gigitan pertama ku. Dan ini.... Ini....
BENAR-BENAR ENAK!!!
Aku tidak bisa berkata-kata tentang rasanya. Aku memulai gigitan ke dua dan ini tetaplah enak.
Ekor ku tidak berhenti bergoyang karena merasa senang dengan rasa nikmat ikat ini.
"Aaahhhh~ ini benar-benar enak sekali.... Pantas Saja ini sering jadi Makanan favorit..."
"Milia!"
Seorang gadis memanggilku dari samping kiri ku. Dan sudah pasti dia adalah...
"Noir! Apa kabar mu?"
Noir adalah Petualang Level 10 dengan Job Priest.
Dan tentu saja dia gadis yang pernah ku selamatkan beberapa hari lalu.
Dan perlu kalian tahu... Kami sudah berteman sekarang meski dia sering berkumpul dengan Party nya.
Kembali ke pembicaraan kami.
Dia mulai duduk di hadapan ku dan membalas sapaan ku.
"Ya, aku baik kok... Ngomong-ngomong, apa kau sudah mengambil Quest hari ini?"
"Belum kok... Aku akan mengambilnya setelah makan.... Lalu kau bagaimana?"
"Owh.... Soal itu Teman party ku sedang berdiskusi... Aku jarang ikut Diskusi kadang..."
"Begitu ya.... Ngomong-ngomong apa kau sudah melaporkan kejadian itu pada pemerintah kota Axel?"
"Ya... Mereka juga merasa mustahil jika monster Level tinggi berkeliaran di sekitar Axel... Tapi syukurlah jika mereka mau mengatasinya..."
"Begitu ya... Syukurlah kalau begitu."
Tak lama Temannya Mulai memanggil Noir dari Papan Guild.
"Oi, Noir! Kita Ketemu Quest yang bagus nih! Ayo kita jalankan!"
Noir yang langsung menyadari nya langsung berdiri dari tempat duduknya dan membalas panggilan temannya.
"Baiklah aku segera ke sana!! Maaf ya, Milia. Sepertinya aku harus pergi mengerjakan Quest sekarang.... Aku permisi dulu..."
"Ya... tidak apa-apa.... Hati-hati ya..."
"Tentu saja.... Sampai nanti ya!"
"Ya!"
Noir berjalan ke teman-teman Party nya. Mereka tampak bercanda ria sebentar dan mulai berjalan ke pintu keluar untuk memulai Quest mereka.
Enak ya.... Punya teman-teman se-party....
Tapi lupakan rasa iri ini...
Karena ada Makanan lezat yang menghapus rasa iri tersebut.
Aku tetap fokus menyantap makanan ku hingga habis dan hanya tersisa tulangnya saja.
"Ahhh~ kenyang nya.... Tidak rugi aku memesannya.... Baiklah! Energi ku telah terisi... Saatnya Mencari Quest!!!"
Aku mulai membayar pesanan ku lalu beranjak ke kursi ku dan menuju ke Papan Guild.
Sepertinya biasa.... Banyak Quest baru tertempel di papan. Dan saatnya untuk melihat Quest yang cocok berdasarkan level ku, Tugasnya apa, dan sudah pasti Imbalan yang lumayan.
Mencari, Mencari, dan Terus Mencari....
Dan aku akhirnya menemukan nya!!!
...***...
...Quest Perburuan (2-4) :...
...(butuh Petualang level minimal level 2)...
...Kalahkan Golem Pundak Besi tajam di sekitar Reruntuhan Dungeon. Ambil besinya lalu Berikan Pada sang tukang Besi Joe....
...Imbalan : 200,000 Reis per Orang...
...Pemberi Quest : Si pandai Besi, Joe...
...***...
Baiklah aku akan Mengambilnya!
Aku mulai mengambil pin
Menempelkan pin ke kartuku hingga tulisan muncul lalu menancapkan ke kertas Quest! Dan...
*Pop
Pin nya terlepas dari Kertas
"Lho? Kok Terlepas?"
Aku memeriksa pin nya dan tulisannya juga ada....
"Ahhh~ mungkin pasti karena ada debu yang menempel di pin ini... Bodohnya aku..."
Aku membersihkan pin itu hingga ku rasa itu sudah cukup bersih. Dan setelah selesai, Aku menempelkannya kembali ke kertas. Dan...
*POP
"HEEE??!!!!"
Lagi-lagi pin itu tidak terpasang lagi di kertas. Aku mencoba berkali-kali tetap saja tidak bisa.
"Kenapa tidak terpasang sih?"
"Ada Masalah apa, Nyonya Ras Kucing."
Harold tiba-tiba saja muncul di sampingku dan membuat ku terkejut.
"Wah!! Harold-san sejak kau ada disini?!"
"Sejak kapan? Aku Setiap hari hanya disini lho..."
"Begitu ya...."
"Apa ada masalah?"
"Ya, Quest yang ku pilih tidak bisa ku ambil..."
"Hmmmm.... Biar aku lihat dulu Quest mana yang ingin kau ambil..."
Aku menunjuk Quest yang ingin ku ambil. Dan Harold dengan Seksama memperhatikan Quest itu dan secara tiba-tiba dia menghela nafas.
"Haaah~ pantas saja kau tidak bisa memilih nya..."
"Maksudnya?"
"Lihatlah Quest yang kau pilih..."
Harold menunjuk ke Sebuah angka di sebelah "tipe Quest".
"Sepertinya kau memilih Quest yang bukan untuk Petualang solo."
"Petualang solo?"
"Maksudnya seperti ini.... Kau bisa lihat kan berapa minimal anggota party yang boleh mengerjakan Quest ini... Jika kau Memilih Quest dengan minimal 2 orang. Maka kau tidak bisa mengambilnya kecuali kau punya Teman Se-party"
"Begitu ya.... Aku paham sekarang... Berarti aku akan memilih Quest lain yang Menerima solo ya..."
"Benar sekali.... Tapi sayang sekali...."
"Kenapa? Apa ada masalah?"
"Tidak sih.... Tapi lihatlah Semua Quest dengan Seksama...."
Aku yang kurang mengerti maksudnya langsung menuruti kata Harold. Dan saat Aku melihat semua Quest....
Ternyata Tidak ada Quest Solo untuk Petualang Level Pemula.
"Quest untuk petualang Solo pemula..... Tidak ada?"
"Ya... Akhir-akhir ini, banyak sekali petualang Baru yang mendaftar. Di tambah lagi, Pemberi Quest juga tidak banyak karena Keterbatasan Uang imbalan. Dan lagi, mereka sering meminta bantuan Petualang level tinggi karena mereka lebih jauh berpengalaman."
"Begitu ya..... Jadi aku harus bagaimana jika Quest petualang pemula solo tidak ada...."
"Saran ku lebih baik kau segera membentuk party. Kau pasti tahu itukan?"
"Ya tentu saja. Yang kau maksud adalah kelompok petualang kan?"
"Benar. Ternyata kau pintar juga..."
"Tentu saja karena setiap novel yang ku baca selalu ada kata ini"
"Novel?"
"Ah.... Bukan apa-apa.... Ngomong-ngomong bagaimana caranya Membuat Party?"
"Dengan ini...."
Harold menunjuk sebuah Lembaran yang berisi tentang formulir pembukaan Party.
"... Kau bisa mulai membentuk party lewat kertas ini. Jika kau ingin mencari Anggota cukup bilang kau sedang mencari anggota tergantung berapa orang yang kau butuhkan. Dan maksimal orang dalam party ada 4 orang aja. Kau mengerti kan?"
"Ya!"
"Baiklah... Ambillah ini. Ikuti saja instruksi di lembaran itu."
Aku mengambil lembaran yang Harold tunjukkan.
"Terimakasih atas sarannya, Harold-san."
"Ya, Semoga kau cepat mendapatkan teman party mu ya..."
"Ya semoga saja... Terimakasih banyak... Aku permisi dulu..."
Aku pamit lalu segera ke meja terdekat untuk menulis formulir pembukaan Party ku.
Hal yang ku tulis adalah nama Party yang ingin ku buat. Karena aku bingung harus mau kasih nama apa. Jadi aku pakai nama keluarga ku saja "Vinryl".
Setelah itu beberapa hal yang tidak perlu aku bahas seperti tujuan ku membentuk party, Kata-kata untuk menarik perhatian petualang solo untuk masuk party ku, hingga status petualang ku.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Formulir itu telah jadi.
"Baiklah! Sudah selesai. Saatnya menempelkan nya di papan Quest!"
Aku langsung pergi ke papan Quest dan menempelnya lalu kembali ke tempat duduk ku sebelumnya.
"Nah... Sekarang aku tinggal menunggu saja. Paling cuman sebentar langsung ada yang mau masuk ke party ku...."
30 menit berlalu....
Aku masih menunggu petualang yang mau masuk ke dalam party ku. Tapi aku masih yakin pasti ada yang akan datang mendaftar
"Pasti bakal ada.... Tenang saja diriku...."
1 jam berlalu....
Aku masih duduk manis menunggu siapapun yang mau mendaftar.
Karena bosan, aku sedikit bernyanyi...
"Du du du~ pasti ada yang mau daftar~ pasti~"
2 ja-
Entalah....
Rasanya seperti sudah setahun aku duduk menanti.
Aku masih duduk di tempat ku. Tapi, aku meletakkan wajahku di permukaan meja.
"Lama sekali..... Apa jangan-jangan tidak ada petualang solo di kota ini kah?... Ah rasanya sangat bosan duduk disini tanpa berbuat sesuatu...."
Saat aku bergumam tidak jelas....
Di waktu yang sama. Di meja yang berada jauh dariku lebih tepatnya berada di kawasan petualang bongsor.
Seperti biasanya mereka bercanda dengan tawa keras, meneguk bir, dan meja mereka penuh dengan daging besar. Namun, seseorang mulai membuat masalah dengan salah satu petualang.
Saat para petualang bongsor sedang asik bercanda, seorang pria berjubah datang melewati dan tidak sengaja menyenggol salah satu dari mereka yang sedang minum bir. Membuat dia tidak sengaja menumpahkan birnya di meja.
Pria berjubah itu hanya berjalan santai seperti tidak berbuat apa-apa. Hingga...
"OI! Apa-apaan kau ini?!"
Pria bongsor itu memanggil pria berjubah itu. Dan berjubah itu berhenti.
"Apa ada masalah, otot besar?"
"Berani-beraninya kau menyenggol ku dan Memanggil ku seperti itu!! Lihatlah perbuatan mu!!"
Pria berjubah itu berbalik dan melihat pria pria itu.
"Owh... Terus?"
"Kau ini benar-benar kurang ajar ya!!"
Keributan mereka berdua semakin menjadi-jadi.
Aku yang sedang menunggu dengan wajah menempel di permukaan meja langsung terbangun dan melihat apa yang terjadi dengan wajah kusut.
"Ada apa ini....? Ribut sekali....?"
Aku langsung berdiri dan melihat keributan itu dari dekat.
Petualang lain dan pelayan guild juga berkumpul dan menyaksikan keributan itu. Begitu juga dengan ku.
Pria bongsor itu terus berdebat dengan pria berjubah itu.
"Kau harus mengganti rugi atas ulah mu!! Kau dengan itu!!"
"Hoo~ ganti rugi ya... Bagaimana...."
Pria berjubah itu mulai membuka tudung yang menutupi kepalanya. Dan sesosok lelaki tampan dengan rambut Pirang dan Mata merah.
"...jika kita melakukan duel saja?"
"Ha?! Duel?!"
"Kenapa? Kau takut?"
"Buat apa aku takut dengan pria Modal tampan dan nekat Seperti mu?!"
"Apa?! Kau bilang aku modal tampan doang?!! Tidak bisa ku maafkan!!"
Dia mulai menarik pedangnya dari sarung di belakang punggung nya dan melakukan kuda-kuda Menyerang.
"Kau akan menyesal karena mengatakan itu, dasar Otot Bau!!"
Bisa ku bilang dia lumayan keren!
Dia mirip seperti karakter utama di novel yang pernah ku baca.
Bukan aku saja, Para Petualang wanita dan Pelayan guild juga terpana melihat dirinya. Membuat dia semakin percaya diri.
"Hoo~ boleh juga kau, sok Tampan."
Petualang bongsor itu mengambil pemukul raksasanya yang berada di sekitar tempat duduknya.
"Aku terima duel mu!! OI!! Seseorang tolong jadi Wasit disini!!!"
Seorang pelayan Guild dengan Sukarela mendekat dan berada di antara mereka berdua.
"Kau siap, pria tampan?"
"Tentu saja."
"Dan kau, Orion-san?"
"Aku sudah siap membuat wajah tampannya bonyok!"
"Baiklah!! Ready!!"
Pelayan itu mengangkat tangannya lalu.
"GO!!"
Pelayan itu menurunkan tangannya. Dan beberapa saat kemudian petualang tampan itu langsung melompat cukup tinggi dan bersiap menyerang petualang bongsor itu.
"Akan ku tunjukkan! Kekuatan pedang ini sesungguhnya!!"
Sungguh keren!! Benar-benar keren!!
Saat pedangnya telah menyentuh pemukul petualang bongsor itu tiba-tiba.... Pedang itu patah...
Pria tampan itu yang awalnya menunjukkan wajah percaya diri tiba-tiba menjadi panik karena pedangnya patah. Seketika dia langsung berbalik dan berteriak.
"PEDAAAAAAAAANGGGGGGKUUUUU!!!!!"
Dia berteriak sambil melihat pedangnya yang hanya tersisa gagangnya saja.
Saat ia sedang menangisi pedangnya yang patah, pria bongsor itu datang dengan menepuk-nepuk pemukul di tangannya sambil tersenyum.
"Oi"
Pria tampan itu hanya bisa menoleh dengan gemetaran.
"Ya.... Ad..ada... Masalah apa?"
"Kau lupa kalau sedang duel lho..."
"Sebentar!! Pedang ku rusak!! Lebih baik duelnya batal saja..."
Petualang bongsor itu lalu melemparkan pemukul nya ke temannya. Lalu menyiapkan tangannya yang sudah mengepal.
"Jika pedang mu rusak, maka kita pakai tangan kosong saja!!"
"Hee?"
"Bersiaplah karena wajah tampan mu bakal rusak!"
"Sebentar!! Aku belum siap!! TIIIIDDDAAAAAAAKKKKK!!!!"
Petualang bongsor itu langsung menghajarnya berkali-kali. Wajah para penonton hanya menunjukkan ekspresi datar melihat pria itu dihajar. Dan beberapa orang mulai meninggalkan tempat tersebut.
Setelah beberapa menit berlalu, wajah pria tampan itu sudah di penuhi benjolan dan memar. Dan ia hanya bisa terbaring kesakitan karena di hajar habis-habisan.
"Cih! Dasar manusia bodoh!"
Petualang bongsor itu lalu meninggalkan tempat tersebut dan mengajak teman-teman nya untuk mengambil quest. Dan penonton satu persatu meninggalkan tempat itu dengan wajah datar begitu juga dengan ku.
Bagaimana tidak, ku pikir dia keren dan sangat kuat. Ternyata dia cuman modal tampan saja...
Dan aku kembali ke tempat duduk ku dan menunggu kembali... Entah sampai kapan...
...***...
Keesokan harinya....
Aku berada di kondisi yang memprihatikan...
Aku...
Tidak punya Uang lagi....
Aku hanya bisa duduk dan meletakkan kepalaku di meja dengan tubuh lemas karena lapar.
"Haaa~ aku lapar...."
Uang ku juga semakin lama semakin berkurang. Karena belum ada Quest petualang solo level Rendah yang bisa aku kerjakan sementara waktu...
Uang ku sebenarnya masih banyak... Cuman aku perlu berhemat hingga ada quest solo untukku lagi.
Tapi bukan itu saja yang masalah...
Tidak ada yang mau masuk party ku dari kemarin
"Aaaahh~ kenapa belum ada yang mau mendaftar party ku... Aku tahu aku pemula.... Tapi ini terlalu lama lho... Untung saja Quest kemaren Harold yang menyimpannya untuk ku dan batas Quest nya masih lama."
Saat aku mengeluh tentang itu. Seseorang mulai mendekati ku.
"Yo, apa kau Milia?"
Aku tidak ingin meliriknya. Jadi aku hanya menjawabnya saja.
"Ya... Itu aku... Ada apa. Jika tidak penting maka jangan ganggu aku... Aku sedang menunggu orang yang ingin mendaftar ke party ku..."
"Aku memang ingin bergabung."
"Bergabung apa?"
"Sudah pasti party mu."
Karena dia mengatakan itu aku langsung bersemangat dan bangkit dari tempat duduk ku. Lalu aku langsung melihat orang tersebut.
"Benarkah?!!... Eh?"
Pandangan ku langsung berubah ketika melihat pria tersebut.
Bagaimana tidak, dia adalah pria modal tampan yang babak belur kemarin.
Dia sedikit bingung dengan Raut wajah ku yang seketika berubah.
"Apa kau baik-baik saja..."
"Kau..."
"Ya?"
"Kau... Yang kemarin menantang Pria besar itu ya?"
"Tentu saja... Memangnya kenapa?"
Dia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi.
"Etto.... Oh ya... Aku lupa Memperkenalkan diri. Nama ku Alfred Eryla. Dan kau..."
"Milia, Milia Vinryl."
"Owh... Jadi itu nama Belakang mu ya."
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk menolak Manusia Modal tampan ini.
Jadi aku harus mengusirnya secara Halus. Cukup dengan senyuman ramah.
"Hei... Alfred..."
"Ya..."
"Aku punya saran Bagus..."
"Saran Apa itu?"
"Aku sarankan... Mending cari party lain saja."
Alfred hanya terdiam saja untuk beberapa saat Hingga...
"Memangnya Kenapa?"
"Soalnya aku tidak butuh Petualang Sampah Modal Tampan sepertimu di Party ku."
Sial!!
Itu bukan Cara Halus lagi Bodoh!!!
Itu cara iblis mengusir kecoa payah!!
Kata-kata tadi benar-benar membuat hatinya tertusuk. Aku bisa melihat dirinya sakit hati dengan kata-kata itu.
Selamat Milia.
Kata-kata mu sudah memulai perang.
"Ha?! Kenapa kau mengatakan diriku seperti itu? Aku bukan sampah modal tampan lho!"
"Lalu, Kenapa kau malah bonyok duluan saat duel? Padahal kau sendiri yang mengajak duel duluan?"
"Itu... Sih... Karena aku beli pedang yang salah..."
Aku hanya menghela napas dan mulai beranjak pergi darinya.
"Sebentar kau mau kemana?"
"Pergi dari sini..."
"Kenapa?! Bagaimana dengan Party?"
"Lupakan saja... Kalau begitu selamat tinggal..."
Aku meninggalkan nya dan segera ke pintu keluar. Tapi tiba-tiba saja dia menghadang ku.
"Sebentar! Apa-apaan kau ini"
"Hei..."
Dia mulai mendekati ku lalu tiba-tiba saja dia memegang kedua Pundak ku.
"A-ada apa? Kenapa kau..."
Kupikir dia akan melakukan kekerasan. Tenyata dia hanya merengek-rengek meminta untuk bergabung ke party.
Merengek sih tidak masalah... TAPI JANGAN MENGGUNCANG TUBUHKU JUGA DONG!!!!
"Izinkan aku bergabung ke party mu!! Aku sudah berkali-kali ingin masuk party orang lain tapi semuanya menolak dengan alasan yang sama!! Terlebih lagi, Tidak ada Quest untuk petualang Solo pemula disini!! Karena itu kaulah satu-satunya harapan ku!! Kumohon Milia-sama!! Kumoho-"
Karena aku tidak tahan. Aku terpaksa melakukan Uppercut. Hingga dia terpental.
"Berhenti Mengguncang tubuh ku, BODOH!!!"
Aku menyadari pukulan ku terlalu keras. Dan saat aku melihat dia, dia sudah pingsan.
Ya... Singkat saja, Aku menerima Pria bodoh ini masuk ke Party ku. Dan langsung memulai Quest.
...***...
Alfred tampak senang karena Sudah mendapatkan party. Dia terus Bersenandung tidak jelas selama perjalanan.
Aku hanya ingin bilang pada...
"Bisakah kau berhenti?"
"Iya-iya. Ngomong-ngomong, pandai Besi Joe itu dimana?"
"Aku tidak tahu, tapi di peta sudah tertulis di sekitar sini"
"Apa itu?"
Alfred menunjukkan ke sebuah Toko dengan banyak Armor. Sepertinya itu tempat pandai besi itu.
"Itu ya... Baik kita kesana!!"
Alfred tanpa basa-basi langsung kesana. Dan aku terpaksa mengejar nya.
"Tunggu!!"
Aku dan Alfred sudah sampai ke pandai besi tersebut. Tanpa ragu aku memanggil pemilik tersebut dari luar.
"Permisi!! Kami ingin mengerjakan Quest!!"
"Ya!!"
Seseorang mulai keluar dari dalam. Seorang pria botak dan Dengan tubuh buncit muncul. Wajahnya lumayan sinis memandang kami berdua.
"Hoo... Para petualang ya..."
"Ya... Kami ingin mengerjakan Quest anda... Kalau boleh tahu... Quest nya berada di mana?"
"Pergi saja ke utara hingga kalian melihat sebuah gua. Kalian paham? Baiklah kerjakan lah... Akan ku bayar nanti"
Dia meninggalkan kami berdua dan masuk ke dalam lagi. Dari awal orang itu membuatku sedikit risih. Aku cukup kesal dengan orang seperti itu.
"Apa-apaan dia, setidaknya kasih detail lokasinya dong!!'
"Sebentar... Aku tahu tempatnya..."
"Benarkah? Aku tidak yakin dengan mu."
"Tenang saja, ini beneran kok... Ikut aku"
Mau tidak mau aku harus mengikuti nya. Aku tidak yakin orang satu ini benar-benar berguna.
Perjalanan kami tidak terlalu lama. Kami telah sampai ke sebuah area berbatuan dan Golem itu berada di sekitar pintu Dungeon.
Kami terpaksa bersembunyi di balik batu. Karena golem itu sangat sensitif terhadap mahluk asing.
"Sepertinya dia terlalu berbahaya ya..."
"Kalau begitu kita bantai saja..."
"Ha? Jangan bodoh! Dia bukan pria bongsor yang kau lawan kemarin. Dan lagi kau harus menuruti perintah ku karena aku pemimpin..."
Baru saja menjelaskan...
Dia langsung keluar dari persembunyiannya dan segera menyerangnya...
"YOSH KITA POTONG-POTONG DIA DENGAN PEDANG BARU KU!!!"
"BODOH!!!"
Dia mengeluarkan pedangnya dari sarungnya. Golem itu langsung melihat nya dan menyerangnya namun Alfred langsung mengelak dan melakukan tebasan cepat. Tapi... saat dia ingin melakukan serangan terakhir nya.
"Rasakan ini!!"
Tiba-tiba saja pedangnya langsung patah...
Aku sudah tahu sejak awal itu akan terjadi....
Di benar-benar bodoh...
Modal Tampan Saja...
Karena pedang Alfred patah. Golem itu langsung bersiap menyerang lagi. Alferd yang panik langsung menghindar namun dia kalau cepat.
"Gawat!"
Karena dia dalam bahaya. Aku langsung menariknya dengan sihir ku lalu. Aku langsung keluar dan mengeluarkan sihir api ku.
"Fire Cannon!!"
Bola api langsung ku tembakan dan Boom!!
Sudah selesai tanpa ada masalah.
Golem itu juga mati.
"Hah... Selesai juga..."
"Sudah kelar ya.... Padahal aksi ku belum usai."
"Berisik. Lagian kenapa kau membawa pedang Rusak?"
"Habisnya ini pedang kebanggaan ku lho... Tidak mungkin aku membuangnya..."
"Hah... Ya ampun... Kenapa kau bodoh sekali... Ah sudahlah... Ayo kita ambil Besinya dan akhiri Quest nya."
Kami Langsung mengambil Besi pada punggung golem tersebut dan segera membawanya ke Pandai besi Joe.
Di pandai Besi Joe...
Sesuatu yang tak terduga terjadi...
"Tunggu... Kenapa kami cuman dapat segini?"
Quest kami telah tuntas. Namun, entah kenapa Kami masing-masing hanya Mendapat 10.000 Reis padahal di kertas tertulis kami akan mendapat 200,000 Reis.
Pandai Besi itu sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun dan dia mengatakan...
"Itu sudah pas lho... Kalian mendapatkan ini dalam waktu singkat, Jadi Imbalan Kalian juga aku potong. Adil bukan?"
"Adil dari mananya? Bukannya tidak ada batas waktu untuk Quest yang kau berikan ya? Dan seharusnya kau memberi kami imbalan yang sesuai."
Karena kata-kata ku. Dia langsung naik pitam dan mulai memaki-maki ku.
"Aku tidak peduli! Seharusnya kalian bersyukur sudah aku kasih segitu! Kalian maunya untuk saja!"
"Ta...tapi...."
"Intinya aku tidak mau nambah imbalannya. Kau paham!!"
"Ya... Aku mengerti... Ayo kita pergi, Alferd"
Aku perlahan pergi dari pandai besi dengan wajah murung. Alfred sedikit kasihan melihat diriku yang bersikeras untuk meminta imbalannya.
Hah.... Aku pikir ini akan menyenangkan....
"Milia..."
Alfred menepuk pundak sebelah kiri ku. Dan ia tersenyum pada ku.
"Kali ini serahkan saja pada ku..."
Aku tidak mengerti apa yang akan dia lakukan. Tapi, dia segera berjalan menghampiri pandai besi itu.
"Hei, Joe-san..."
"Ada apa lagi, sud-"
Tiba-tiba saja dia langsung memukulnya....
Apa?!
DIA MEMUKULNYA!!
Sebentar... Dia sudah keterlaluan lho....
Gawat, pandai besi itu semakin marah lho!
"Apa yang kau lakukan bodoh! Apa kau tidak terima imbalan jug-"
Alfred Langsung mengeluarkan sebuah kertas dari jubahnya. Aku tidak tahu apa isi kertas tersebut, namun pandai besi itu terdiam.
"Kau pasti tahu tentang aturan pembuat Quest kan? Menurut peraturan tertulis disini, Sudah seharusnya sang pemberi Quest memberi imbalan Yang di Janjikan. Dan sebelum memulai Quest, pemberi quest harus menyiapkan imbalannya segera atau quest itu akan batal. Disini kau paham kan maksudku? Kami juga di perbolehkan melakukan kekerasan tingkat wajar jika kau masih bersikeras untuk tidak memberi imbalan. Dan kau juga tidak punya hak untuk melawan balik"
Pandai besi itu terdiam dan tidak tahu harus berkata apa. Ia benar-benar terpojok.
"Cih! Baik-baik, aku akan membayar sisanya!"
Dia mulai mengambil Dua buah kantung di celananya lalu Melemparkannya ke Alferd. Dan Alfred menyambutnya.
"Sekarang kau puas hah?!"
"Terimakasih banyak... Kalau begitu kami pamit.... Dan Oh ya.... Jika kau melakukan hal yang sama, Aku tidak segan-segan melaporkan mu ke kepolisian Kota lho."
Pandai besi itu langsung panik mendengar kata itu. Dan Alfred langsung pergi kembali ke Guild. Dan aku mengikuti nya.
Di perjalanan pulang, Alfred Langsung memberi 1 Kantong Uang padaku.
"Ini Ambilah Jatah mu"
"Terimakasih, Alfred. Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa tahu tentang Aturan Seperti itu?"
"Yah, Bisa dibilang orang tua ku seorang Pengacara hebat di Kota Eria kota kelahiran ku. Jadi aku tahu hukum-hukum petualang."
"Begitu ya."
"Dan Kau... Milia..."
"Ya?"
"Seharusnya kau lebih berani sedikit... Orang-orang seperti dia sangat sulit dapat pembelaan dari masyarakat umum lho. Orang-orang tahu mana benar mana salah. Jadi jangan takut jika kau merasa benar...."
"Aku tahu kok... Dan ngomong-ngomong, apa kau ingin beli pedang baru?"
"Pedang baru? Ah iya... Aku ingin ganti pedang... Untung saja uang ini cukup banyak..."
"Simpan saja uangmu..."
"Sebentar... Kau ingin Membeli ku pedang ya?"
"Tentu saja sebagai rasa terimakasih ku. Kalau begitu ayo kita pergi ke toko senjata sekitar sini!"
"Ya!"
Dan yah...
Seperti itulah kisah petualangan ku bersama Alfred. Meski dia sedikit bodoh, tapi kuakui dia hebat pada waktu yang tepat.
Dan Aku akan Menanti Teman Party ku selanjutnya....
Bersambung.....