Cat Go To Isekai!!

Cat Go To Isekai!!
02. Aku sudah siap menjadi petualang!!



Namaku Maru....


Aku dulu adalah seekor kucing yang baru saja tewas karena Sebuah mobil


Dan setelah itu aku bertemu dengan seorang yang mengaku dirinya sebagai dewa reinkarnasi.


setelah berbincang-bincang sedikit, aku kemudian di kirimkan ke dunia baru dan lahir sebagai manusia ras kucing.


Dan Kehidupan baru ku saat itu telah di mulai sebagai Milia.


5 tahun setelah terlahir di dunia Baru sebagai Milia


Kini aku sudah berusia 5 tahun.


Aku baru merasakan Pertumbuhan ku yang lamban.


Biasanya saat aku masih seekor kucing, setelah beberapa bulan aku bisa berjalan dengan baik. Namun saat aku telah terlahir sebagai manusia , aku baru bisa berjalan dengan dua kaki dengan benar saat usia 1 tahun.


Lupakan soal itu. Aku tidak terlalu ingin membahas pertumbuhan ku selama 5 tahun.


Yang jelas, saat ini aku sudah di perbolehkan bermain di hutan sekitar rumah. Tentu saja aku langsung melakukannya.


Saat ini aku sedang bermain dalam hutan dengan melompati Beberapa dahan dan berayun. Bahkan aku sempat melompat cukup tinggi hingga bisa melihat seisi hutan dari atas.


Aku tidak perlu khawatir soal mendarat. Habisnya, aku telah diajarkan cara mendarat dengan aman dengan sihir angin milik ku.


Cukup membuat angin di sekitar kaki ku. Maka perlahan aku akan turun hingga ke tanah.


Setelah mendarat dengan selamat. Aku langsung berbaring di atas rumput sekitar hutan. Bersama dengan daun yang berjatuhan.


Itu sangat menyenangkan. tidak ada kendaraan, Anjing, bahkan sesuatu yang berbahaya bagiku disini.


Saat aku terbaring di tanah. Ibuku mulai memanggil ku dari kejauhan.


"Milia! Makan Siang Sudah siap lho!"


Aku mulai bangun dan menjawab panggilannya


"Ya! Aku akan Segera Ke sana!"


Dan tentu saja aku akan memakai sihir untuk kembali dengan cepat.


Nama Baruku adalah Milia Vinryl


Dan aku adalah Manusia Ras Kucing


Aku memiliki rambut hitam yang panjang


Dan Mata biru yang indah


Aku tinggal bersama ke dua orang tuaku di sebuah rumah kecil yang berada diantara padang luas dan hutan tempat yang kujadikan tempat bermain.


Sedangkan padang luas adalah tempat kedua orang tua ku berternak hewan dan tempat untuk ku menguji sihir ku.


Aku berhasil sampai ke rumah ku tepat waktu.


"Aku pulang!"


Aku langsung bergegas menuju meja makan dan segera duduk di kursi ku. Ayah ku mulai berbicara dengan ku.


"Bagaimana dengan bermain mu, Milia?"


"Tentu saja, Menyenangkan Seperti biasanya. Aku baru saja melakukan lompatan yang sangat Tinggi sekali hingga bisa melihat seisi hutan"


Ibu ku memberi ku makan siang berupa sup daging. Dan ia khawatir karena melakukan hal berbahaya.


"Bukankah itu bahaya? Kau bisa saja terluka lho..."


"Tenang saja, ibu. Aku kan sudah menguasai sihir Angin ku. Jadi aku mendarat dengan selamat."


"Tetap saja itu berbahaya. Lain kali jangan melakukannya lagi ya"


"Ya! Aku berjanji"


Aku menyuapi sesendok sup kedalam mulutku. Aku tahu itu berbahaya dan orang tua mana yang tidak khawatir jika anaknya melakukan hal seperti itu. Bahkan jika anak itu masih 5 tahun Seperti ku.


"Tapi... Bukan kah bagus jika dia berkembang dengan cepat."


"Kau benar... Tapi jika dia melakukan hal seperti itu. Terlalu berbahaya."


"Meski itu berbahaya tapi Kau hebat lho, Milia."


Seperti biasanya, Ayah ku Akan memencet pipi ku dan memuji ku. Padahal dia tahu kalau aku tidak suka jika pipi ku di pencet bahkan di sentuh.


"Ayah.... Berhentilah memencet pipi ku dong...."


"Ahaha.... Maaf-maaf...."


Nama Ayah ku adalah William Vinryl


Rambutnya bewarna putih


Dan matanya bewarna Biru.


Dia adalah Mantan petualang dengan Job Penyihir.


Sifatnya kadang sedikit usil, Namun dia adalah orang yang tenang dan sabar dalam menghadapi suatu hal.


Lalu ibuku bernama Melisia Vinryl


Rambutnya panjang bewarna hitam


Dan matanya bewarna biru.... Tidak menurutku itu warna Hijau


Dia hanyalah wanita biasa yang membuat ayah ku jatuh cinta.


Sifatnya sangat ramah, dan Sangat keibuan.... Mirip seperti Hatsune-san


Setiap aku melihat ibuku, Terbayang Wajah Hatsune-san padanya membuat ku sulit untuk melupakan Hatsune-san.


"Ngomong-ngomong, Milia... Karena kau sudah menguasai sihir mu. Sepertinya ayah tidak perlu mengajarmu lagi..."


"Tidak boleh... Ayah hanya mengajar sihir angin lho... Dan lagi, ayah bilang bakal ngajarin semua sihir ayah sampai aku berusia 16 tahun."


"Hee? Memangnya ayah pernah bilang begitu ya?"


"Ada kok... Apa jangan-jangan ayah malas dan pura-pura lupa soal itu?"


"Hee?! Ketahuan ya.... Ya ampun, aku tidak bisa berbohong ya...."


Saat aku mengobrol dengan ayah, ibu memperingatkan kami untuk segera menghabiskan makanan kami.


"Kalian berdua... Nanti makanan jadi dingin jika tidak cepat-cepat dihabiskan lho..."


"Iya... Aku akan habiskan dan setelah ini ayah harus mengajarkan sihir selanjutnya... Berjanjilah..."


"Iya-iya... Ayah janji kok"


Aku memakan sup dengan cepat karena aku ingin cepat-cepat belajar sihir berikutnya dan juga agar sup yang ku makan tidak dingin. Karena aku sudah tahu sup dingin itu terlalu menjijikkan.


...XxX...


Setelah Makan siang. Ayah kemudian mengajak ku keluar rumah dan pergi ke padang rumput yang luas. Aku duduk manis di rerumputan yang lembut dan dingin meski cuaca saat ini cukup panas. Dan aku mulai mendengar Penjelasan ayahku tentang sihir yang akan di pelajari.


"Baiklah, Milia. Karena kau sudah menguasai sihir Angin. Selanjutnya aku akan mengajarimu sihir berikutnya. Yaitu..."


Ayah mulai menunjukkan jari telunjuk kanannya. Dan sebuah api kecil muncul di ujung jarinya. Meski itu hanya api kecil namun itu cukup membuat ku kagum saat melihatnya keluar.


"Apa itu api?"


"Ya, Sihir yang akan ku ajari adalah sihir api. Alasan kenapa aku mengajarimu sihir ini setelah sihir Angin. Karena sihir ini Perlu udara agar sihir ini bisa bertahan. Karena api ini berada di tempat terbuka seperti ini. Aku bisa..."


Api yang awalnya kecil tiba-tiba saja menjadi besar dan membakar telapak tangan kanannya.


"... Membesarkan api nya seperti ini. Lalu...."


Kemudian api tersebut semakin membesar kini membakar lengan ayah. Hingga api itu terlihat akan membakar pakaian ayah. Namun ayah masih saja tenang.


"... Sebesar ini... Luar biasa bukan..."


"Pakaian ayah... Pakaian bisa kebakar lho...."


"Owh.... Tenang saja... "


Ayah kemudian memadamkan api nya dalam sekejap dan terlihat pakaian ayah baik-baik saja dan tidak terbakar.


"Lihat? Pakaian ayah tidak kebakar kan?"


"Kok bisa? Padahal pakaian ayah ikut terbakar"


"Itu sederhana saja. Karena Api ini muncul dari tubuh ayah. Maka api tersebut tidak bisa melukai ayah bahkan apa yang yang ayah pakai. Namun, orang lain bakal terbakar akibat api ayah. Sebab itu sihir api sering di pakai dalam pertarungan"


"Begitu ya...."


"Baiklah... Semua nya sudah ayah jelaskan... Sekarang, saatnya kau untuk mencoba nya..."


"Ya!"


"Baik. Pertama, keluarkan lah jari telunjuk mu. Lalu bayangkan ada api kecil yang akan keluar dari ujung jari tersebut. Ingat, Api kecil saja. Jangan berpikir yang terlalu keras. Itu berbahaya lho"


"Baik"


Aku mengikuti instruksi dari ayah. Aku mengeluarkan jari Telunjuk ku lalu dengan tenang membayangkan ada api kecil yang akan keluar dari jari ku. Belum sesaat berpikir, api itu sudah muncul di tangan ku.


"Woah... Berhasil!"


Ayah sedikit terkejut melihat nya. Namun karena itu sudah biasa. Ayah hanya tersenyum lalu memuji ku sambil memencet pipi ku lagi.


"Bagus sekali, Milia. Itu baru anak ayah..."


"Ayah.... Berhentilah memencet pipi ku terus...."


Itu adalah Tahap pertama yang ku pelajari.


Saat siang hari aku akan belajar sihir dengan ayah ku meski aku yang membujuk nya untuk diajarkan sihir sih... Soalnya dia sedikit pemalas....


Saat malam hari, aku belajar membaca dan Menulis tiap Bahasa yang ada di dunia ini. Meski ibu ku hanya orang biasa, namun dia itu sangat ahli dalam mempelajari semua bahasa yang ada di dunia.


Kemampuan ku semakin meningkat dari hari ke hari. Aku bahkan latihan sihir sendirian saat malam hari ketika orang tua ku sudah tertidur. Aku terus latihan hingga.


Saat umur 7 tahun. Aku telah sepenuhnya menguasai sihir Api.


Saat umurku 10 tahun. Aku telah berhasil menguasai sihir Air.


Saat umur ku 12 tahun. Aku telah menguasai sihir tanah dan Tumbuhan.


Saat umurku sudah 15 tahun. Aku berhasil menguasai sihir Penyembuhan dan penguat fisik.


Semuanya telah ku pelajari Hingga Usia ku telah menginjak usia 16 tahun. Dimana itu adalah puncak nya.


Aku bukan lagi anak-anak lagi. Tubuhku sudah cukup tinggi mungkin sudah setinggi Bahu ayah ku. Dada ku juga sudah agak membesar, namun aku itu aku masih kalah dengan punya ibuku. Rambut ku juga semakin panjang jadi aku mengikatnya menjadi dua.


Sekarang adalah persiapan ku untuk menjadi seorang petualang. Aku menguji semua sihir yang ku pelajari dari ayahku. Aku hanya perlu menembaknya lurus ke depan untuk sihir biasa. Sedangkan sihir Support aku harus latihan dengan beradu sihir dengan ayah ku.


"Baiklah.... Ini sudah cukup bagus... Ternyata kau sudah berkembang pesat ya, Milia."


"Benarkah?... Atau ayah hanya melebihkan saja?"


"Tentu saja tidak, Milia.... Dari kecil kau sudah menunjukkan potensi yang hebat lho... Itu sangat Hebat lho...."


Ayah terus melakukan kebiasaan nya lagi. Yaitu memujiku dan memencet pipi ku. Padahal aku sudah bilang jika aku tidak menyukai nya.


"Ayah.... Bisakah kebiasaan mu ini berhenti.... Bukannya aku sering bilang jangan melakukan ini?."


"Maaf-maaf, Ayah tidak akan melakukannya lagi."


"Bohong.... Ayah pasti akan melakukan nya lagi..."


Kemudian ayah berhenti menyentuh pipi ku dan berjalan ke rumah. Aku kebingungan karena ayah tiba-tiba saja berjalan kembali kerumah.


"Eh? Ada apa, Ayah?"


"Milia, Ada hal yang ku ingin bicarakan. Ayo kita kembali dan berbicara di ruang makan..."


"Memangnya kita akan membicarakan apa? Lebih baik kita membicarakannya disini saja..."


"Ini penting lho... Tidak enak kalau bicara di luar..."


Aku masih tidak paham dengan apa yang ayah ku katakan. Tapi aku turuti saja untuk menghilangkan rasa penasaran ku.


"Baiklah...."


Aku berjalan Bersama ayah menuju ke rumah.


Di dalam rumah, tepatnya di ruang makan. Aku duduk berhadapan dengan ayah di meja makan. Ayah tampak tenang dengan senyumannya dan kedua tangannya diletakkan di atas meja dan saling bergandeng. Dan suasananya sangat hening.


Sedangkan aku, Sedikit gugup menghadapi situasi ini... Aku hanya bisa menaruh tanganku di bawah meja dan wajah ku menunduk karena gugup. Aku tidak tahu apa yang terjadi...


Apa aku ketahuan mencuri cemilan Hari ini?


Apa aku Salah melakukan Tehnik sihir?


Atau jangan-jangan Keluarga ku akan Bercerai?! Dan ayah ingin aku tinggal dengan nya?!


Apa itu benar?!


Apa yang menyebabkan mereka bercerai?!


Kenapa?!


"Milia..."


"JANGAN BERCERAI DULU AKU MOHON!!!"


Karena ayah memanggilku aku spontan berdiri dan Berteriak Seperti itu. Ayah ku terdiam keheranan mendengar itu.


Memalukan!!!


Apa yang aku Katakan tadi!!


Malu-maluin saja!!


Aku langsung duduk dan menutup kedua wajahku karena Malu. Aku tidak percaya jika itu akan memalukan.


Namun, ayah dia tertawa. Karena mengira dia akan bercerai dengan ibu.


"Apa yang kau katakan tadi.... Milia.... Apa kau berpikir Seperti itu karena kau gugup ya?"


"Berisik! Berhentilah tertawa tentang itu!"


"Maaf-maaf, tapi itu lucu sekali lho..."


"Berhentilah tertawa!"


Kemudian ayah berusaha menahan tawanya dan mulai fokus pada pembicaraan nya.


"Tenang saja, Milia. Kami tidak akan bercerai kok.... Bahkan tidak akan pernah."


"Be.... Begitu ya....."


"Namun, ini sangat penting bagimu. Maka dengar baik-baik ya..."


"Ya.... Aku akan mendengarkan nya"


"Baiklah.... Saat ini kau sudah berusia 16 tahun dan aku ucapkan selamat ulang tahun padamu. Dan aku bertanya padamu, apa kau akan benar-benar menjadi petualang?"


"Ya... Tentu saja. Aku sudah lama ingin menjadi petualang."


"Begitu ya... Perlu kau tahu, menjadi petualang awalnya akan menyenangkan. Namun, Semakin lama akan Semakin mengerikan, kau harus mempersiapkan diri dengan Quest yang ada dan berusaha menyelesaikan Quest itu dengan baik atau menundanya jika tidak memungkinkan... Di tambah lagi, bisa saja sang petualang mengalami banyak kejadian mengerikan... Terutama petualang Seperti mu... Jadi apa kau sudah yakin dengan keputusan mu?"


"Meski aku tahu itu semua. Tapi aku sudah mempersiapkannya semua bahkan mental ku. Jadi aku tidak akan merubah keinginan ku sedikit pun. Meski itu akan sangat beresiko nantinya."


"Begitu ya.... Baguslah.... Kau tidak jauh beda dengan ayah di masa lalu ya... Namun bedanya ayah saat itu harus mempersiapkan semuanya sendirian... Dan bahkan kakek dan Nenekmu melarang ayah untuk menjadikan seorang petualang karena mereka sudah tahu seberapa mengerikannya itu.... Namun ayah tetap memaksa menjadi petualang dan akhirnya ayah di akui sebagai petualang terbaik di guild."


"Hee.... Hebatnya...."


"Namun... Ayah harus pensiun dan menikah dengan ibumu karena party ayah bubar karena mereka ingin menjalani kehidupan masing-masing dan jauh dari petualang.... Dan ayah tidak memaksanya karena itu pilihan mereka."


"Begitu ya..."


"Maaf jika ayah malah menceritakan hal yang tidak perlu padamu."


"Tidak.... Itu tidak sia-sia kok. Malah aku jadi semangat menjadi petualang Seperti ayah"


"Begitu ya..."


"Maaf telah menunggu..."


Ibu kemudian datang dengan membawa sebuah kain hitam dan tongkat panjang bewarna putih dengan Bola permata di atasnya. Aku tidak tahu apa itu namun setelah benda itu di letakkan di atas meja. Aku menyadari itu adalah pakaian dan jubah. Dan juga sebuah tongkat sihir.


"Ini..."


"Hadiah ulang tahun mu dan juga sebagai tanda kau sudah siap jadi petualang..."


"Jubah dan tongkat sihir itu adalah milik ayahmu, dan baju itu ibu yang membuat nya untuk mu."


"Ayah sengaja menyimpan dan merawatnya agar kau kelak akan menjadi petualang juga. Dan itu benar-benar terjadi...."


"Begitu ya.... Terimakasih ayah, Ibu. Jadi kapan aku akan menjadi petualang?"


"Tentu saja hari ini... Ayah sudah memesan Kereta kuda dari teman ayah untuk mengantar mu ke kota dimana guild petualang ada di sana..."


"Begitu ya.... Berarti aku akan berpisah dengan ayah dan ibu ya..."


"Tenang saja... Kau bisa kembali kapan-kapan saja kesini... Tidak perlu khawatir tentang itu..."


"Milia, Kau boleh memakai pakaian mu sekarang... Aku harap kau menyukai nya...."


"Ya... Permisi dulu.... Ayah dan Ibu..."


Aku mengambil pakaian itu lalu pergi ke kamar untuk mengganti pakaian. Dan pakaian itu sangat Indah dan nyaman di tubuhku


Di sore hari yang cerah...


Kereta kuda milik teman ayah telah tiba. Dan saat itulah aku berpisah dengan kedua orang tuaku.


Aku berjalan keluar dengan pakaian baru itu dan aku memegang tongkat sihir di tangan kananku.


Angin mulai berhembus Seperti ingin mengucapkan salam perpisahan dengan ku. Ayah dan ibu ku juga melihat ku akan pergi setelah membesarkan ku selama 15 tahun terakhir.


Aku lupa memeluk mereka sebagai salam perpisahan. Jadi aku berlari ke mereka dan langsung berpelukan dengan mereka.


Saat aku memeluk mereka, mereka sedikit terkejut dan mereka membalas pelukan ku.


"Sampai jumpa lagi, Ayah.... Ibu.... Aku pasti akan menuliskan surat pada kalian nanti..."


"Ya.... Jangan lupa untuk berkunjung kesini jika sempat ya...."


"Dan pesan ayah adalah..... Jadilah petualang hebat seperti ayah.... Kau mengerti kan?"


"Tentu saja.... Baiklah aku akan pergi.... Sampai jumpa..."


"Ya.... Sampai nanti Milia...."


Aku masuk kedalam kereta kuda. Dan sang kusir pun memerintahkan kuda itu untuk memulai perjalanan panjang ke Kota Axel, kota dimana pusatnya guild para petualang.


Nama ku Milia, usia ku 16 tahun....


Dan petualangan ku Sebentar lagi akan di Mulai!!!


...XxX...


Nama ku Feirn, Sang Dewa Reinkarnasi


Kau tahu kenapa aku menulis diary lagi?


Karena ada beberapa hal menarik yang ku ingin katakan.


Kau ingat tetang kecemasan ku tentang tugas Dewa kematian akan digantikan oleh Kendaraan?


Ya, barusan saja terjadi.


Tapi ini sedikit berbeda.


Sang dewa kematian mulai protes kepada petinggi dewa dan Dewa Takdir karena ia mendapat tugas mencabut nyawa yang sangat sedikit dan sebagian besar nyawa Mahkluk hidup diambil oleh Truk, mobil, dan kendaraan semacamnya.


Dan kenapa dia protes ke dewa Takdir?


Ya karena dia yang Menyusun takdir makhluk hidup. Pastinya dia yang keseringan membuat takdir kematian Mahluk hidup di tabrak oleh kendaraan.


Ya menurut ku itu sudah keputusan yang tepat dari pada dia menceritakan keluhannya pada ku.


Bukan aku tidak menyukai dewa kematian. Tapi itu percuma saja, dia ingin meminta ku menyampaikan keluhannya pada dewa takdir malah aku di anggap seperti angin saja.


Jadi percuma saja jika dia mengeluh di sini.


Baiklah lupakan soal Dewa kematian. Itu juga tidak berpengaruh dengan pekerjaan ku.


Saat ini fasilitas tempat ku sudah di tingkat kan.


Entahlah berapa persen di tingkatkan nya.


5%?


4%?


3%?


2%?


Atau cuman 1% Entahlah.


Yang jelas aku mendapat rak buku dalam jumlah yang banyak sekali untuk buku-buku ku yang tidak pernah ku pikirkan sebelumnya.


Dan juga beberapa petugas kebersihan yang cukup banyak namun aku yakin bakal Berhenti juga satu persatu karena tak tahan membersihkan tempat ini.


Hanya Bualan saja?


Sudah ada buktinya kok...


Setiap saat salah satu petugas kebersihan akan menghampiri ku lalu mematahkan sapu mereka dan bilang "Aku tidak tahan Bekerja disini"


Ya aku tidak mempermasalahkan itu. Tapi, Mereka selalu membiarkan sapu patah itu tergeletak di lantai begitu saja lalu pergi.


Aku tahu tempat ini kotornya sangat memprihatikan. Tapi, mereka menambah kotor lagi. Apanya petugas kebersihan?


Kalian tahu kenapa aku mendapat fasilitas tambahan?


Ya, dari keluhan...


Bukan aku yang mengajukan keluhannya tapi dewa lain yang sering maupun jarang berkunjung kesini.


Mereka mengeluh tempat ku sangat berdebu dan kotor. Juga buku-buku yang berantakan dan tak terawat. Sehingga para dewa mulai memberi fasilitas ini.


Tapi percuma saja. Fasilitas bagus pun aku tetap bosan.


Aku sempat meminta pada dewa lain untuk di beri sesuatu yang bisa melawan bosan ku.


Dan hasilnya apa...


Ya... Mereka memberiku Meja dan kursi baru...


Rasa bosan ku hilang?


Tentu saja tidak... Malah semakin bertambah...


Aku tidak mengerti apa salah ku


Hei Dewa ****** *********** ************* ******** ********* ************* ************ ********** *********** ********** ********* ***********!!!!


Kalian tidak bisa membacanya?


Aku merobeknya karena pasti dewa lain akan membacanya dan mengadu pada dewa petinggi.


Sudah lah.


Namun aku punya berita bagus meski banyak berita memuakkan dan gak penting.


Selain dapat Fasilitas baru.


Aku juga dapat Hak Dewa Baru juga


Apa itu?


Itu adalah Hak dimana Dewa bebas melakukan sesuatu namun tetap di batasi.


Jadi Hak Dewa apa yang ku dapatkan?


Bisa di bilang aku mendapat Hak untuk mengunjungi seseorang bebas di dunia manapun


Namun aku tidak bisa lama-lama disana... Minimal hanya Seminggu atau sebulan, dan Tidak boleh membantu nya dengan kekuatan cukup dengan kata-kata saja.


Ini menarik?


Menurutku ini menarik.... Dan lumayan lah untuk hilangkan bosan ku yang bisa ku hilangkan dengan jalan-jalan ke dunia berbeda.


Karena ini adalah Hak Dewa yang baru kudapat kan.


Aku bingung harus berkunjung ke dunia siapa.


Aku memikirkan nya berjam-jam dan sampai mencari beberapa catatan kehidupan mahluk hidup yang telah bereinkarnasi.


Dan aku menemukan yang cocok yaitu Seorang bernama Milia yang Dulu hidup sebagai Kucing bernama Maru.


Jadi aku sudah memutuskan untuk mengunjunginya nanti.


Dan jangan Khawatir tentang Pertemuan Roh. Tempat ku ini tidak terlintas ruang dan waktu.


Jadi meski sebulan di dunia lain. Itu hanya 0,000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000001 detik di tempat ku.


Jadi tidak apa-apa.


Jadi sudah ku putuskan untuk bertemu dengannya Nanti.


Dan aku akan mengunjungi nya....


Bersambung......