Cat Go To Isekai!!

Cat Go To Isekai!!
12. inilah Kesempatan nya!!



Dia belum mati. Di ku sangka jika dia akan berubah menjadi sesosok mahluk yang jauh lebih mengerikan, Yaitu Lord Chimera yang di ketahui punya kekuatan yang setara dengan raja iblis.


Tubuhnya benar-benar acak-acakan karena ia menggabungkan dirinya dengan monster-monster yang ia serap Sebelum nya.


Lalu ia membuat sebuah raungan yang membuat semua orang merinding melihatnya.


"Apa kalian pikir dengan membunuh'ku semuanya akan berakhir baik?.... Justru itu malah membuat sebuah masalah yang jauh lebih besar.... Sekarang terimalah kehancuran kalian, Manusia!!"


Ia mulai mengumpulkan energi untuk membuat serangan yang dirasa akan mematikan.


"Hei!! Menyingkir!! Dia akan mengeluarkan sebuah serangan mematikan!!"


Tanpa pikir panjang, Semua petualang berhamburan berlari menuju kedalam gerbang.


Beberapa saat kemudian, serangan itu kemudian diluncurkan dan membuat ledakan besar. Beberapa petualang terkena serangan itu benar-benar tidak tersisa akibat ledakan itu. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain lari darinya.


"Benar!! Benar begitu semestinya!! Larilah Manusia!! Larilah seperti seekor semut yang Bodoh!!!"


Dia kembali mengisi energinya untuk serangan keduanya. Energi itu jauh lebih besar dari sebelumnya. Seperti nya dia ingin menghancurkan kota ini sekaligus.


"Kalau begitu... Selamat tinggal.... MANU-"


Tiba-tiba saja Harold datang dan memukul wajah lord Chimera itu. Membuat serangan itu berbelok kearah lain.


"Tidak akan ku biarkan kau menghancurkan Kota ini!!"


"Kau!!"


Harold kembali mendarat di tanah, wajahnya tampak lebih serius dari biasanya. Sedangkan Lord Chimera menjadi sangat kesal dengan Harold.


"Kau..!! Kau benar-benar Manusia yang menyebalkan..!! Akan ku buat...."


Lord chimera kembali mengumpulkan energi dan mengarahkan serangannya ke Harold.


Harold segera bersiap menghadapi nya. Ia mulai memunculkan buffnya, tidak hanya 3 melainkan 10 pasang Buff sekaligus. Seperti nya dia benar-benar akan menghadapi nya dengan serius.


".... TEMPAT INI JADI KUBURAN MU!!!"


Lord Chimera menembakkan serangannya. Harold melompat dan melesat bersiap memukulnya. Dan ledakan besar terjadi.


Kami hanya terdiam menyaksikan nya. Meski cuman sebentar, tapi pertarungan mereka benar-benar menegangkan.


Tidak lama kemudian, Lord Chimera mulai tumbang. Sedangkan Harold berhasil mendarat dengan selamat meski ia terlihat memegang sebelah lengannya akibat pukulan itu.


Semuanya menjadi lega karena Harold berhasil mengatasinya.


"Akhirnya dia kalah juga!"


"Berarti kita tetap mena-"


"MUNDURLAH!!"


tiba-tiba Harold berteriak membuat semua orang terkejut. Dengan sebelah lengan yang terluka parah, ia mulai berjalan pincang sambil memerintahkan kami semua untuk mundur.


"Ini.... Masih belum berakhir.... Dia masih bisa berdiri sebentar lagi.... Percepat langkah kalian...."


Tidak lama, lord Chimera perlahan bangkit. Membuat semuanya segera bergegas menuju kedalam kota, beberapa orang segera membantu Harold berjalan menuju kota.


Dan di saat semua orang sudah masuk ke kota. Tanpa pikir panjang, Para penjaga segera menutup pintu gerbang dan sihir pelindung kota ditingkatkan menjadi berlapis-lapis. Situasi kota saat ini benar-benar berada dalam ancaman.


Lord Chimera berjalan mendekati kota namun karena terdapat perisai sihir di sekitar kota, membuat langkahnya terhenti dan segera merusak perisai itu untuk membuka jalan.


Di dalam kota, para petualang kini berputus asa dan pasrah dengan keadaan kota. Beberapa petualang yang terluka baik parah maupun ringan disembuhkan oleh ahli medis dan beberapa Petualang Job Priest.


Salah satu ahli medis selesai menyembuhkan sedikit luka pada tubuh harold, sedangkan sisanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sembuh.


"Maaf, jika Aku cuman bisa menyembuhkan sedikit lukamu. Luka mu terlalu parah untuk bisa disembuhkan dengan sihir."


"Aku tahu, terimakasih banyak sudah membantu"


"Harold!!"


Astridia dan beberapa pengurus guild petualang menghampiri para petualang untuk melihat kondisi mereka.


"Bagaimana dengan situasinya?"


"Sangat buruk, dia jadi sangat kuat dari yang ku bayangkan."


"Begitu ya.... Ternyata jadi lebih parah...."


Disaat yang lain berkumpul, aku menyadari jika Yuuki menjauh, dan berjalan ke tempat yang lebih sepi. Dan karena penasaran, aku diam-diam mengikuti nya.


Aku mengikutinya hingga ke gang kosong tidak jauh dari gerbang. Yang ia lakukan hanya duduk. Ia sepertinya benar-benar merasa bersalah karena kejadian ini. Aku tahu rasanya, jadi aku merasa bersimpati pada nya.


"Niat sekali kau mengikuti ku sampai kesini, Milia..."


Dia menyadarinya. Jadi aku terpaksa keluar dari persembunyian ku.


"Ketahuan ya?"


"Aku tidak akan menyadarinya jika bau amis mu tidak menyengat"


"Apa kau bilang?!"


"Santailah, Milia. Aku hanya bercanda..."


Di saat seperti ini dia masih saja menyebalkan.


Ah sudahlah...


Aku kesini bukan untuk hal seperti itu.


Kali ini aku memaafkan nya.


"Kau merasa bersalah atas kejadian ini ya?"


"Bersalah? Memangnya ap-"


"Jangan mengelak... Sikap mu sudah berbeda dari biasanya setelah ini terjadi."


Ia hanya diam sejenak. Lalu perlahan ia kembali berbicara.


"Aku hanya ingin membalas dendam saja... Aku tidak menduga jika dia malah menjadi kuat... Seandainya aku tidak mengikuti keegoisan ku waktu itu...."


"Jangan terlalu dipikirkan... Kau lihat bukan? Sampai sekarang tidak ada yang menyalahkan mu atas ini... Semua orang juga tidak tahu itu akan terjadi... Jika aku jadi kau... Aku pasti melakukan hal yang sama..."


"Dan kau merasa bersalah lalu aku menasehati mu... Benar bukan?"


"Tepat sekali... Jadi intinya tidak perlu di pikirkan terlalu keras... Jadi sekarang mari kita pikirkan cara mengakhiri nya."


"Ya..."


Tiba-tiba saja sebuah dentuman keras muncul membuat kami sedikit terkejut.


"Dentuman apa itu?"


"Milia, Lihatlah keatas."


Aku melihat keatas dan melihat pemandangan yang mengerikan.


"Lapisan luar Pelindung nya.... Hancur?!"


"Bukan hanya 1, Tapi dua lapisan hancur sekaligus. Lama-lama kota ini akan hancur jika kita tidak bertindak cepat"


"Kalau begitu, ayo kita kembali."


"Ya..."


Dan dengan tergesa-gesa kami kembali ke tempat petualang berkumpul.


Sebagian besar para petualang mulai panik setelah melihat 2 lapisan luar Pelindung hancur.


"Gawat! Pelindungnya hancur!"


"Kalau begini... Tamatlah riwayat kita!"


Rasa takut dan putus asa benar-benar tercampur. Mereka benar-benar terpojok dengan situasi ini.


"bagaimana ini... Dia terlalu kuat sekarang... Kita tidak bisa mengalahkannya sama seka-"


"Tidak... Kita masih bisa mengalahkan nya..."


Harold mulai berdiri dan berbicara dengan semua orang.


"Masih ada cara lain untuk mengalahkan nya. Yaitu dengan sihir yang pernah dipakai untuk mengalahkan Catys..."


"Apa yang kau maksud itu Adamtier bless?"


"Ya."


Adamtier bless?


Aku pernah mendengarnya....


Tunggu.... Aku ingat!!


Sihir yang pernah Ayah tunjukkan padaku. Dia pernah bilang sihir itu adalah senjata utama mengalahkan raja iblis sebelumnya.


"Dengan itu, Aku yakin. Dia akan lenyap tak bersisa... Tapi sayangnya kita punya suatu kendala...."


"Apa itu?"


"Aku tidak tahu Rapalannya karena hanya satu orang yang tahu tentang Mantra itu. Yaitu William seorang... Seandainya dia ada disini, kita bisa mengalahkan nya...."


Semuanya kembali murung, mereka berhasil menemukan solusinya, namun mereka tidak memiliki kunci untuk mewujudkannya.


Dengan sedikit mengumpulkan keberanian, aku mengangkat tangan dan...


"Aku tahu Rapalannya!"


Semua orang terkejut dan keheranan dengan ku, seolah tidak percaya. Begitu juga dengan Harold.


"Kau?.... Tahu Rapalannya?"


"Ya... Soalnya, Aku adalah anak William Vinryl..."


Semuanya kembali terkejut dan tidak percaya. Aku tahu ini akan terdengar sulit dipercaya. Tapi itu kenyataannya.


"Pantas saja, kau sekilas mengingatkan ku pada William saat pertama kali kita bertemu, Kupikir kau Berasal dari Keluarga Vinryl yang berbeda makanya aku tidak menyadarinya."


"Tidak apa-apa... Aku juga tidak pernah mengenal diri secara rinci. Jadi wajar saja"


"Baiklah... Karena kita berhasil menemukan kuncinya... Mari kita susun rencana... Baiklah, Putri William. Apa kau punya rencana?"


"Ya! Aku punya!"


...XxX...


Lord Chimera terus mengeluarkan serangannya untuk menghancurkan beberapa lapisan pelindung kota. Ia merasa sedikit heran karena para petualang belum menunjukkan perlawanan balik.


"Tampaknya kalian benar-benar menyerah ya.... Kalian sama sekali belum keluar dari kandang dan melawan balik.... Tapi tidak apa-apa... Semakin kalian berputus asa semakin muda membinasakan kalian semua!!"


Disaat ia mengumpulkan energi, sebuah panah cahaya bergerak melesat mengenai wajahnya. Meski itu tidak membuat ia terluka, ia tetap mencari sumber panah itu dan tidak jadi menyerang kota.


Ia melihat sekitar dan menemukan seorang gadis elf yang baru saja melemparkan anak panah cahaya kepadanya. Dan elf itu adalah Sylvia.


"Elf?"


Dengan agak gugup, Sylvia kembali membidik nya dengan panah cahaya.


"L-Lord Chimera!! T-tidak akan ku biarkan kau menyerang kota ini!! L-lawan lah aku dulu jika kau ingin kota ini!!"


Tanpa pikir panjang, Lord Chimera mengeluarkan raungannya di hadapan Sylvia. Sylvia yang ketakutan tidak sengaja menembakkan anak panahnya dan panah itu tepat mengenai salah satu mata lord Chimera.


lord Chimera langsung merasa kesakitan dan kesal dengan ulah Sylvia yang tidak ia sengaja.


"kau elf yang menyebalkan!! tidak akan ku maafkan kau!!"


Sylvia dengan panik langsung berlari menjauhi kota dan lord Chimera pun mengejar nya.


...[sebelumnya]...


aku dan para petualang mulai menyusun rencana. rencana itu adalah aku dan petualangan dengan job mage, priest, dan sejenisnya akan merapalkan mantra nya diatas tembok pembatas kota. sedangkan yang lain akan berusaha menghalangi sang lord Chimera agar ia tidak menyerang kami.


"anu Milia. Aku punya pertanyaan"


salah satu petualang mulai bertanya.


"apa itu?"


"bagaimana kita memancing ia untuk menjauh dari kota? bukankah jika dia terlalu dekat dengan kota akan mudah ketahuan?"


"benar juga. agak sulit untuk membawanya jauh dari sini. kita perlu seseorang untuk memancingnya"


"tapi siapa orangnya?"


kami kembali berpikir kembali siapa yang pantas jadi umpan untuk lord Chimera untuk sementara.


serangan mematikan ya...


ahli menghindar...


tapi menghindari serangan mematikan itu butuh keberuntungan....


beruntung....


beruntung....


sebentar, ITU DIA!!!


"Sylvia!!"


"ya!?"


aku menghampirinya. aku tahu ini agak jahat, tapi tidak ada pilihan lain, cuman dia yang paling beruntung disini.


"Maaf jika ini terdengar agak jahat, tapi... Maukah kau menjadi umpannya?"


Semuanya kembali keheranan. Tentu saja mereka heran, karena aku memilih elf yang masih muda untuk dijadikan umpan. Tapi mau bagaimana lagi, hanya dia bisa Melakukan nya.


Tetapi hanya aku dan Alfred yang tahu itu. Sedangkan yang lain tidak. Jadi Yuuki dan Eva kurang setuju dengan keputusan ku.


"Sebentar, Milia. Apa kau yakin menjadikan Sylvia sebagai umpannya?"


"Ya... Bukankah terlalu berbahaya jika gadis elf ini jadi umpannya?..."


"Aku tahu.... Ini memang terdengar tidak masuk akal, tapi aku yakin dia akan baik-baik saja..."


Maaf aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kalau keberuntungan Sylvia itu benar-benar keterlaluan.


"...kumohon Sylvia, Cuman kau satu-satunya yang bisa ku andalkan..."


Sylvia mulai sedikit gugup dan cukup lama berpikir.


"Eee... Jika itu demi menyelamatkan kota... Aku bersedia melakukan nya..."


"Kau mau?"


"Iya, karena tidak ada pilihan lain lagi."


"Baiklah! Masalah umpan kita selesai, sekarang saatnya kelompok pengalih. Dan..."


Tanpa basa basi, aku langsung menunjukan jari ku pada Alfred.


"Alfred! Gunakan tehnik Shock Wave mu untuk menumbangkan dia sementara!"


"Apa?! Apa kau yakin?!... Maaf ya... Bukannya aku menolak... Tapi tehnik itu perlu mana yang besar karena tehnik itu tidak cocok dengan pedang... Sebab itu ak-"


"ini ambillah!!"


Yuuki melemparkan sebuah tombak kepadanya.


"Darimana kau mendapatkan tombak?"


"Aku menyimpan buat jaga-jaga saja jika kau kehilangan pedang mu. Wajar saja aku menyiapkannya, karena kau itu bodoh."


"Apa?!"


"Hei, jangan bertengkar di saat seperti ini dong... Karena semua rencana telah selesai, Ayo kita lakukan semuanya. Mohon kerjasama nya, Semua!"


Dan dengan serentak para petualang menjawab


"Ya!!"


...[Saat ini]...


Sylvia terus berlari menjauhi kota sambil menghindari serangan dari Lord Chimera. Lord Chimera yang mengejarnya dari belakang terus menembakan serangannya namun tidak ada satupun serangan mengenainya membuat ia semakin kesal.


"Kau benar-benar merepotkan!! Aku akan benar-benar menghancurkan mu hingga tak bersisa!!"


Saat Sylvia berlari, secara tidak sengaja ia tergelincir dan jatuh. Memanfaatkan kesempatan itu, Lord Chimera langsung mengumpulkan energi dan bersiap menyerang.


"Saatnya kau Binasa, Elf Brengsek!!!"


Dengan sedikit ketakutan, Sylvia langsung berteriak.


"SEKARANG!!"


Dengan gerakan yang cepat, Alfred mulai menyiapkan serangannya dan mengincar keempat kaki lord Chimera.


"Baiklah!! Ini yang ku tunggu-tunggu!!! SHOCK WAVE!!!"


Dengan cepat ia mengayunkan tombaknya di bawah lord Chimera. Sebuah gelombang kejut besar berhasil membuat Lord Chimera perlahan tumbang. Setelah berhasil menumbangkan nya, Alfred langsung menangkap Sylvia dan membawa ke tempat yang aman.


"Apa-apaan ini?! Berani-beraninya kalian menyerang ku secara diam-diam!!"


"Hoo~ kau benci diserang seperti itu ya?"


Yuuki datang menghampiri nya dengan sepasang belati sudah siap di kedua tangannya.


"Kau lagi?! Apa kau akan melawan ku sendiri lagi seperti dia?!"


"Sendiri? Maaf-maaf, aku masih sayang nyawa loh... Kami lebih senang melawan mu bersamaan"


" 'kami'? "


Ia melihat sekelilingnya, dan melihat para petualang sudah berkumpul mengelilingi nya dan sudah bersiap menyerangnya.


"Baiklah Semuanya!! Jangan sia-sia kan nyawa kalian!!"


Sementara itu, di atas tembok kota. Dimana kelompok perapal mantra sudah siap dan Astridia juga mulai menyiapkan alat komunikasi untuk mengumumkan ke seluruh kota.


Aku melihat dari kejauhan pertarungan mereka yang berlangsung sengit. Untung saja, semuanya sesuai yang direncanakan.


"Baguslah. Ia tidak melihat kesini."


"Alat komunikasi nya sudah siap. Aku akan mengumumkan nya sekarang."


"Ya, ku serahkan padamu"


Dengan tenang, Astridia mengaktifkan alat itu dengan sihir dan memasang nya di kepalanya. Dan ia mulai berbicara mengabarkan seisi kota.


"Kepada semua Penduduk kota Axel, tolong dengarkanlah. Saat ini para petualang sedang berusaha melawan musuh yang sangat kuat bahkan setara dengan raja iblis. untuk itu, aku meminta tolong untuk kalian membantu mereka dengan membantu merapalkan mantra yang akan ku ucapkan. Dengan begitu dia akan jadi bisa di kalahkan dengan mudah. Ku mohon atas bantuan kalian!"


Astridia menatapku lalu mengangguk yang itu berarti sudah saatnya.


"Baiklah Semuanya, apa kalian siap?"


"Ya!"


Semuanya serentak menjawab.


"Baiklah, aku akan mulai"


Aku membalikkan badanku dan melihat para petualang lain sedang berusaha keras melawan. Aku benar-benar gugup untuk melakukan nya. Namun, bukan waktunya untuk gugup di waktu seperti ini, semuanya tergantung pada ku.


Dengan ujung tongkat menghadap ke depan, aku mulai menarik nafas untuk membuat kegugupan ku.


"SPELL ROOM. Aktifkan!!"


Ruang rapalan telah muncul. Dan saatnya aku merapalkan nya.


"Wahai dewa api, Servarty. Sang pemberi kehangatan bagi dunia


Wahai dewi Air, Aquelia. sang Pemberi kesejukan bagi mahkluk hidup


Wahai dewa tanah, Guarta. Sang pemberi kesuburan


Wahai dewi angin Wendra. Sang pemberi nafas..."


Dengan serentak para tim perapal mulai mengikuti rapalan ku. Begitu juga dengan Astridia, ia ikut merapalkan nya sambil memakai alat komunikasi.


Satu per satu penduduk kota mulai mengikuti rapalan yang disiarkan. Tidak ada yang tidak merapalkan nya. Mereka tahu para petualang sedang bersusah payah.


Perlahan-lahan, energi sihir di tongkat ku semakin kuat. Energi itu semakin terang dan semakin berat. Tapi aku harus bisa menahannya.


Sementara itu. Lord Chimera terus menghadapi para petualang yang terus menyerangnya tanpa henti dari berbagai arah. Di saat ia sedang melawan para petualang yang ada. Tubuhnya mulai merasakan sesuatu yang mengerikan.


"Apa ini, kenapa aku merasakan ketakutan."


Saat sedang berpikir, sekelompok petualang mulai menyerangnya membuat ia sedikit jengkel dan mulai menyerang nya. Namun tiba-tiba saja, serangan itu terhalang oleh sesuatu yang tak terlihat.


"Apa?"


Tidak lama, sebuah lingkaran sihir berukuran raksasa dan beberapa rantai raksasa keluar dari tanah dan mulai mengikat tubuh lord Chimera.


"Argghhh!! Apa ini?!!"


Ia mulai melihat sebuah cahaya terang di kota. Dan semakin ia melihat nya, rasa takut itu tiba-tiba semakin menguat.


"Apa itu?! Hentikan! HENTIKAN!! BERHENTI LAH, KALIAN!!"


Menyadari jika Lord Chimera berhasil di segel. Dengan serentak, Para petualang yang melawannya mulai mengikuti rapalan mantra. Membuat segel itu semakin kuat.


"...Wahai para 11 dewa-dewi yang Agung, dengarkanlah permintaan kami


Kami para Pemuja setiamu memohon


Pinjamkan lah kekuatan mu


Pinjamkan lah sedikit kekuatan mu untuk Memurnikan mahkluk...."


"Berhenti!! BERHENTI MERAPAL MANTRA ITU!! AKU BILANG BERHENTI!!"


Lord Chimera mulai mengamuk. Ia terus menerus menembakkan serangan ke para petualang, namun itu sia-sia karena ia telah tersegel.


Energi ini semakin kuat. Aku mulai tidak kuat untuk menahannya. Belum pernah aku merasakan energi sihir sebesar ini.


Sebuah pusaran mulai terbentuk diatas langit, disusul dengan beberapa lingkaran sihir raksasa tersusun diatas lord Chimera.


Aku sudah mencapai penghujung mantra nya. Sudah saatnya untuk melepaskan nya.


"...Tunjukan lah sedikit kekuatanmu kepada mahkluk-mahkluk tersesat ini untuk membuktikan hanya kau lah yang bisa mengalahkannya!!"


Dengan sekuat tenaga. Aku mengangkat tongkat sihir ku yang telah penuh dengan energi sihir.


Dan saatnya aku mengakhiri ini dengan 2 kata.


"Adamtier.... BLESSING!!!"


pusaran itu seketika memancarkan energi yang besar dan menyambar ke Lord Chimera yang tersegel. Energi itu benar-benar besar hingga menciptakan angin yang sangat kuat.


Tidak ada kata-kata lain yang keluar dari nya selain jeritan rasa sakit yang hebat akibat serangan itu.


"TIDAK MUNGKIN!!! AKU BELUM KALAH!!!"


Perlahan tubuhnya lenyap tak bersisa. Dan energi itu pun juga perlahan melemah sebelum akhirnya menghilang bersamaan awan gelap. Hanya menyisakan sepetak tanah yang terbakar dan langit biru.


Semuanya. Para petualang, penduduk kota terdiam sejenak melihat kejadian itu sebelum akhirnya.


"Akhirnya... KITA MENGALAHKAN NYA!! KITA BERHASIL MENYELAMATKAN KOTA!!"


Semuanya bersorak atas keberhasilan ini. Mereka tidak bisa membendung tangis haru mereka. Akhirnya perjuangan mereka tidak sia-sia.


Astridia dengan terharu langsung memberi kabar kepada penduduk kota bahwa...


"Semuanya, Kota ini Terselamatkan!!"


Mendengar seluruh penduduk kota bersorak dan lega kota mereka berhasil selamat.


Semua orang merasa senang dan lega, sebab kota tercinta mereka berhasil selamat dari bahaya.


Dengan tubuh yang sangat kelelahan, aku menatap ke atas langit yang cerah. Aku bersyukur karena berhasil menyelamatkan kota.


"Akhirnya... Kota ini Terselamatkan"


Noir kembali menghampiri ku. Wajah senangnya tiba-tiba menjadi cemas melihat ku yang sangat lemas.


"Milia? Apa kau baik-baik saja?"


"Noir.... Tenang saja.... Aku baik-baik saja.... Aku hanya perlu beristirahat seben....."


Pandangan ku mulai kabur, tubuhku mulai kehilangan keseimbangan, dan kesadaran ku semakin memudar. Dan seketika aku mulai jatuh dan pingsan.


Noir langsung panik melihat ku yang jatuh pingsan. Ia terus menepuk tubuhku. Sebelum benar-benar pingsan... Aku bisa melihat ia terus memanggil ku dengan cemas.


"Oi... Milia!! Milia!! Milia...."


Dan perlahan, suaranya nya menghilang....


Bersambung...