Building A City In Ancient Times

Building A City In Ancient Times
Chapter 8 : Miao En!



Di depan Mansion Penguasa Kota, semua jasad warga Kota Insel dikumpulkan bersama di satu tempat terbuka— Suara tangisan adalah musik menyakitkan hari ini di Kota Insel, sebab banyak suami, istri, dan anak-anak dari para warga yang meninggal dalam kejadian berdarah hari ini.


Ini sangat menyedihkan, Xavier merasa bersalah sudah terlambat menolong mereka semua.


“Aku minta maaf!” Suara Xavier menyebar sampai ke mana-mana, dia tetap membungkuk dan tidak mengangkat kepalanya selama beberapa saat.


“...“


Semuanya terdiam sejenak, sebelum akhirnya ada salah seorang warga yang angkat bicara terlebih dahulu.


“Tuanku, anda tidak perlu meminta maaf, malah harusnya kami yang berterima kasih karena anda telah menyelamatkan kami!”


“Itu benar!”


Semua warga kota setuju dengan pendapat tersebut.


Mendapatkan balasan menyenangkan seperti itu Xavier hanya bisa menghela nafas lega dan mengucapkan permintaan maaf lagi, “Aku terlambat barusan, jika tidak banyak nyawa yang bisa terselamatkan.”


“Tidak apa-apa, Tuanku. Masih mending anda datang, jika anda tidak datang, entah apa yang terjadi pada kami.”


Karena di dunia ini, jatuh ke tangan bandit tidak ada akhir yang baik, selain bisa dibunuh, mereka juga bisa ditangkap dan dilecehkan, bahkan bisa dijual sebagai budak di kota-kota besar.


Tapi tetap saja … rasa bersalah dalam hati Xavier masih tersisa.


“Uhuk-uhuk ...” Suara batuk memecah suasana canggung di tempat itu dan menarik perhatian semua orang ke satu titik.


“Kalian ...” Xavier mendongak sedikit untuk melihat kedatangan gadis siluman kucing dengan Liani ke tempat mereka.


“Terima kasih sudah menyelamatkanku.” Gadis kucing itu sedikit malu dengan prasangka buruknya selama ini, “Aku kira semua manusia sama saja, rupanya tidak.”


“Jadi ...?”


Gadis itu menjawab, tetapi dipotong oleh Liani, gadis kecil itu. “Kakak, tolong terima kakak Miao En di kota ini ... kumohon!”


“Ehhh? Aku tidak ...” Miao En seperti tidak menyangka hal seperti itu akan keluar dari mulut anak kecil seperti Liani.


Padahal kami baru bertemu selama beberapa hari … Miao En memiliki perasaan campur aduk.


“Kak, kumohon, tinggallah di sini ... Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi.” Liani terus memeluk Miao En dengan isak tangis. Ibunya sudah meninggal karena serangan bandit yang baru saja terjadi dan disaksikan oleh mata kepalanya sendiri, jadi bisa dibilang dia sudah tidak memiliki siapapun lagi, semua orang tercintanya sudah hilang …


“...” Miao En paham betul dengan nasib gadis kecil ini, membuatnya tidak tega untuk meninggalkannya.


“Maaf, tapi aku tidak bisa ...” Miao En dengan berat hati berkata, “Manusia dan Siluman tidak bisa hidup bersama di satu tempat, kau tahu.”


“Ehh?” Bahkan Xavier baru kali ini mendengarnya.


“Nona Miao, anda tidak perlu khawatir tentang itu, setelah melihat anda menyelamatkan Liani, kami yakin kau adalah orang baik," ucap salah seorang yang saat itu ikut membantu Xavier menyelamatkan Miao En di tengah hutan.


Perkataannya itu adalah sebuah fakta yang membangkitkan persetujuan dari banyak pihak.


“Kami baik-baik saja jika Nona Miao mau tinggal di sini!"


"Ya, benar!"


Kejadian ini membuatnya bingung, tidak disangka ada manusia yang sangat baik seperti di Kota Insel. Ia bertanya, "Tapi kalian ... apa kalian yakin? Aku adalah siluman dan kalian ... manusia. Ras kita tidak ada kedamaian satu sama lain."


“Memangnya kenapa?” Kali ini Xavier yang berkata, ia maju melangkah ke dekatnya sambil berkata, “Di Kampung halamanku juga dulunya terjadi peperangan yang sangat besar, tapi pada akhirnya semua orang sadar bahwa perang hanya membawa kerusakan, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berdamai ...”


“Miao En, bukan? Aku ingin membuat tempat seperti itu di Kota Insel ini, jadi bantulah aku ...” Xavier mengulurkan tangannya dengan wajah serius.


“...” Miao En dan Xavier saling bertatapan satu sama lain untuk beberapa saat, tetapi tidak ada jawaban pasti yang keluar dari dalam mulut Miao En.


"..." Seperti masih ada yang mengganjal di hatinya, gadis kucing itu pun memutuskan untuk berbalik dan pergi meninggalkan semua orang, membiarkan Liani, si gadis kecil itu menangis karena trauma yang dialaminya.


“Liani ...” Xavier mengelus kepalanya dan berbalik kepada para wanita di tempat itu untuk meminta tolong mengurusnya.


•••


“Skiattt ...” Suara langkah kaki dengan cepat menghilang dan muncul sesosok siluet di dekat jendela mansionnya.


“Kau akhirnya datang ...” Xavier memandang ke arah jendela, berkata kepada sosok misterius ini.


“Taptaptap ...” Suara derik langkah kaki dengan diam melewati lantai sehingga tubuh siluet hitam tersebut disinari oleh cahaya obor yang dipasang di ruangan tersebut.


“Miao En.”


“Xavier ...” Miao En menatap Xavier dengan tenang. “Apa perkataanmu itu benar?”


“Meski tidak mudah, aku yakin bisa,” jawab Xavier dengan wajah santai.


“Bagaimana kau membuktikan niatmu ini? Karena sejauh ini, aku tidak pernah mendengar ada manusia yang baik pada ras siluman.”


Mendengar kekhawatiran pihak lain, Xavier dengan tenang pun menjawabnya, “Jika sejak awal aku membenci ras siluman, aku tidak akan menyelamatkanmu dan menyembuhkanmu.”


Miao En tercerahkan …


“Cukup.” Miao En hanya memejamkan matanya sejenak dan membukanya kembali, kali ini seolah dirinya sudah memutuskan sesuatu yang sulit kedepannya.


“Baiklah aku akan menerima tawaranmu yang sebelumnya itu. Tapi kau jangan salah paham, aku melakukan ini supaya Liani tidak kesepian di kota ini!” ungkap Miao En, ekspresinya yang serius membuat Xavier tersenyum puas.


Akhirnya berhasil mendapatkannya!


“Duduklah, ada beberapa hal yang aku ingin tanyakan," ucap Xavier sambil mempersilahkan Miao En untuk duduk di kursi yang berada tepat di hadapannya.


Miao En mengangguk dan duduk di kursi tersebut. “Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?”


“Tidak banyak ...” Xavier bertanya, “Kau harusnya tahu banyak tentang dunia ini, bukan?”


“Maksudmu?”


“Ya, semacam hal-hal umum ... seperti itu.”


“Hal-hal umum ...” Miao En berbisik rendah. “Apa kau ingin aku menceritakan hal-hal umum tentang dunia ini? Memangnya kau dari mana sampai tidak mengetahui hal semacam ini?” Miao En terlihat curiga sekaligus penasaran.


“Dari mana asalku itu tidak ada hubungannya denganmu, Miao En. Jawablah yang kupinta ini.”


Sikap Xavier yang sedikit tegas membuat Miao En kehilangan minatnya untuk bertanya lebih lanjut.


Akhirnya keduanya pun berbincang bersama selama lima belas menit lamanya sampai akhirnya semua informasi umum tentang dunia ini bisa diketahui oleh Xavier.


“Hanya itu saja yang aku tahu tentang dunia ini, dan itu semua informasi itu turunan dari kedua orang tuaku,” ungkap Miao En.


“Aku paham.”


Dari apa yang dijelaskan oleh Miao En, dunia ini sebenarnya mengandung banyak hal unik.


Terutama tentang ... Pengendali Elemen.


Ada hal seperti ini benar-benar membuat Xavier merasa dirinya benar-benar di dunia fantasi.


“Pengendali Elemen itu ... apa mereka cuman mengendalikan saja, atau mereka bisa menciptakan elemen?”


Miao En menjawab, “Mereka hanya bisa mengendalikan elemen yang berada dalam radius kendali mereka. Contohnya pengendali air hanya bisa mengendalikan air, jika ada air di dekat mereka.”


“Hah ...” Xavier menghela nafas lega. "Jadi mereka tidak menciptakan elemen …"


Miao En kembali melanjutkan apa yang belum dia beritahu kepada Xavier. “Lalu, sumber energi yang mereka gunakan untuk mengendalikannya disebut Energi Ruler,” jelas Miao En. “Selama Energi Ruler kepunyaan mereka belum habis, mereka bisa dengan sesuka hati mengendalikan elemen di sekitar mereka.”


“Merepotkan juga.”


•••


Bersambung! Jangan lupa tinggalkan like dan komen sebagai dukungan bagi Author, makasih :)