
Apa yang aku pikirkan? Menyelamatkan gadis itu? Tidak-tidak, aku tidak boleh ceroboh atau kau akan mati!
Gadis itu terus berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa: ini tidak ada hubungannya dengan dirinya.
“Ini nasib malang mereka, bahkan jika aku ikut campur, aku tidak akan bisa menyelamatkan mereka semua.” Gadis kucing itu memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya yang mengganggu.
Sebaiknya aku segera pergi …
Tepat ketika ia hendak berbalik untuk melompat ke luar kota, teriakan gadis kecil itu lantas memanggil dirinya.
“Kakak! Tolong aku! Aku tidak mau mati! Kakak!”
"!!!"
“Hahaha, kakak siapa?” Bandit jahat itu mengangkat gadis kecil itu dengan satu tangan dan berkata tepat di depan wajahnya, "Tidak ada yang akan menolongmu—!"
“Cuih!”
Gadis itu melemparkan ludah dengan telak di wajah bandit tersebut, membuat wajah sang bandit menjadi gelap bagai bagian bawah wajan yang tidak pernah dicuci—
"Kau berani!"
Baru kali ini ia diperlakukan seperti ini dan yang melakukannya adalah anak kecil, betapa hina!
“Bocah sialan!” Tubuh gadis itu langsung dipentalkan oleh sang bandit hingga menabrak tembok rumah kayu yang ada di sebelahnya.
"Ahnnnggg, sakit!" Ia menjerit, merintih-rintih karena kesakitan yang dirasakan akibat kejadian barusan.
“Sakit?” Sang bandit menunduk dan meremas dagu gadis kecil itu, ia memelototinya dengan dingin. “Aku akan memotongmu menjadi seribu bagian untuk kujadikan makanan kudaku, gadis bodoh!”
Ketika ia mengatakan itu, salah seorang lelaki paruh baya berpakaian rapi meneriakinya dari belakang: “Hei, cepatlah bunuh gadis kecil itu, tidak usah banyak drama!"
Bandit itu berbalik dan justru memarahi orang yang menyuruhnya itu, “Siapa kau memerintahku? Kau hanya pelanggan! Ingat itu!”
"Ughhh …"
‘Sialan, dasar jelata tidak tahu diri!’ Hati lelaki paruh baya berkumis runcing itu berubah menjadi marah dan kesal, tetapi ia tetap merendah serendah harga dirinya itu. “Kau benar ... maafkan aku.”
“Pergilah!” decak sang bandit mengusirnya.
“I-Iya ...”
Setelah lelaki paruh baya itu sudah pergi, sang bandit yang baru ingin memulai kesenangannya kembali menatap tempat gadis kecil Liani sebelumnya berada, namun yang dia temukan hanyalah kekosongan.
Di mana gadis itu?
Ia mencari ke kiri dan ke kanan, lalu ke atas, di atap rumah dan dilihatnya ekor kucing berwarna hitam yang lebih panjang daripada kucing pada umumnya.
Berserulah dia, "Apa itu?!"
Ketika dilihatnya ada ekor kucing hitam di atas atap rumah, bandit itu pun mengambil beberapa langkah mundur dan mendongak, melihat atas rumah tersebut yang mana terdapat seorang gadis cantik bertelinga kucing menggendong gadis kecil sebelumnya untuk melompat ke arah pohon yang berbatasan langsung dengan tembok kota.
“Siluman Kucing!” Bandit itu berseru kaget.
Teriakan bandit itu sangat kuat dan lantang, sampai-sampai seorang bandit pemanah yang saat ini berada di menara penjaga mendengarnya dan mulai mencari tahu di mana posisi sang siluman kucing yang di maksud.
“Itu dia!” Bandit pemanah itu dapat melihat dengan jelas bahwa gadis kucing itu tengah berlari di luar tembok kota melalui ladang-ladang yang baru di bangun di samping kota.
“Bodoh dan lambat!”
Tak membuang lebih banyak waktu, langsung saja sang bandit turun dari menara dan mengejar mereka menggunakan kuda yang miliknya yang terparkir di bawah.
“Kita sepertinya sudah ketahuan!” Gadis kucing itu tahu akan kemungkinan ini terjadi sangat besar, dia ingin menyesalinya tetapi ini sudah keputusannya untuk menyelamatkan gadis kecil ini.
“Kak, Kakak ... Apa kita akan mati?” Liani terlihat ketakutan, namun saat ini entah kenapa dia sangat tenang setelah merasakan kehangatan dalam gendongan gadis kucing tersebut. Dia berkata dengan lirih, "Jika memang kita akan mati, sebaiknya aku saja, kakak larilah saja sendirian.”
Larikan diri …
“...” Memori gadis itu seketika bernostalgia tentang kenangan buruk sebelumnya yang tak jauh mirip dengan ini. Dia juga mengikuti kata kedua orang tuanya untuk melarikan diri dan berakhir dengan penyesalan seumur hidup.
Tak Tak Tak ...
Suara tapak kaki kuda akhirnya membuatnya buyar dari lamunannya dan berbalik untuk melihat bahwa mereka sudah disusul oleh bandit pemanah.
'Sial, sangat cepat! Andai saja lukaku sudah sembuh sepenuhnya …' Dia hanya bisa menghela nafas dan terus memaksa diri untuk berlari dengan sangat cepat.
Ketika keduanya sedang berusaha untuk pergi menjauh dari Kota Insel, tepat 100 meter jauhnya di belakang mereka, bandit yang sedang mengendarai kuda itu mulai membidik keduanya dengan busur kayu yang digenggamnya dengan erat.
Swoosh!
Tap!
Meleset!
“Sial, dia menghindarinya!”
Pihak lain hanya menyungut beberapa kali dan mulai kembali lagi membidik target.
Swoosh!
Takkkk!...
“Hahaha!” Sekali lagi sang bandit membidik dan melepaskannya.
Swooshhhhh ...
Tupppp!
“Ughhhh ...”
“Ahhhh, Kakak! Kakak!” Liani menjerit karena panik melihat panah yang menembus bahu orang yang dia panggil kakak itu.
"Urghhh …"
‘Sial, luka sebelumnya belum sembuh, sekarang terluka lagi ... aku sudah tidak kuat ...’
“Kakak!”
“Diamlah, Manusia!” Gadis itu terdengar marah tapi dia tersenyum, “Semoga kau tidak dibunuh, ahhh ...”
Brukk ...
Gadis itu terjatuh dan tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa mendengar tangisan Liani yang terus menerus berusaha untuk menyemangatinya.
“Kakak, ayo bangun! Ayo kita lari!”
"Kakak!"
“Hehehe, buat apa kau tangisi dia? Lagi pula sebentar lagi kau akan mati!” ucap sang bandit yang saat ini sudah tiba di dekat mereka.
“Orang jahat! ” Gadis kecil itu memiliki tatapan yang sangat ketakutan seperti melihat maut, tetapi untuk kali ini dia menggigit bibirnya dan membentangkan tangannya untuk melindungi siluman kucing itu, "Jangan bunuh kakak!"
Sangat polos …
“Sighhh, kau sangat merepotkan!" Sang bandit sepertinya sudah tidak mau membuang-buang waktu, jadi dia pun mengeluarkan sangkur dari pinggangnya dan hendak menyabet tubuh gadis kecil tersebut sebelum akhirnya terlambat karena proyektil berkecepatan tinggi sudah melewati dari sisi kiri ke sisi kanan kepalanya.
Tembus!
Brakkkk! …
Bahkan sebelum dia menyadari tentang kematiannya, dia sudah mati dalam kondisi mata terbelalak karena bahkan sampai kematianmu dia tidak merasakan sakit.
“Headshot ...” Jauh di lantai tiga mansion penguasa kota, seorang pemuda dengan AWM di tangannya baru saja menghela nafas karena sasarannya sudah mati.
“Uhhh, sudah lama aku tidak menggunakan senjata ini ...” Xavier pernah mengikuti wajib militer jadi dia bisa mengatakan seperti itu.
Ketika Xavier hendak reload pada AWM yang ia gunakan, beberapa bandit sudah muncul di pintu lantai dua dan meneriakinya, "Siapa kau?!"
“Siapa aku?” Xavier sedikit tersenyum tapi dia sangat marah!— Ketika dirinya berbalik, MP40 yang tergantung di tubuhnya sudah dia hamburkan semuanya ke tubuh para bandit itu.
Trettt … Trettt…Trettt …
“Uahhh ... Ahhhh ... Uahhh … Ahhh”
Gabungan antara jeritan dan juga suara proyektil yang diluncurkan seolah menciptakan nada kematian yang sangat indah dalam pembantaian mengerikan ini.
Semuanya mati!
“Apa yang terjadi?” Beberapa bandit yang baru saja datang terkejut dengan hal ini, ketika mereka ingin melihat siapa pelaku pembunuhan ini, mereka hanya melihat Xavier ... beserta belasan peluru yang sudah membesar di mata mereka.
"Sekelompok manusia kuno …" Xavier mencerca mereka dengan perasaan campur aduk, “Karena kalian sudah mengacau di kota ini ... Aku akan membuat kalian menyesalinya di neraka!"
Kalimatnya terdengar santai, tetapi ketika dia sampai di tangga-tangga menuju lantai satu, dengan santainya dia membantai semua bandit yang ada di sana dengan senjata api jenis MP40 itu seperti seorang pembunuh berdarah dingin yang tidak kenal ampun sedikitpun.
“Penguasa Kota! Penguasa Kota!” Beberapa wanita yang bekerja di dalam mansion segera berlari menghampirinya dengan maksud untuk meminta perlindungan.
Tubuh mereka penuh luka-luka, kecantikan mereka seperti kaca yang tergores, wajah mereka ketakutan, dan mata mereka menunjukkan keputusasaan.
“Sialan ...” Xavier melihat ke sekitar dengan tatapan dingin sebab ada beberapa mayat yang sudah tergeletak di beberapa tempat, yang artinya selain dari mereka yang berlindung di dekatnya ini, yang lain sudah pasti meninggal.
“Berlindunglah di lantai dua!” titah Xavier sebelum akhirnya pergi keluar dari Mansion hanya untuk melihat banyaknya pertumpahan darah di luar sana, bahkan … orang yang cukup dekat dengan dirinya akhir-akhir ini.
“Old Sam ...” Wajah Xavier sedikit tenggelam ketika mengetahui Old Sam sudah jatuh tak bernyawa di depan pintu mansion dengan mata terbelalak.
“Tidurlah ...” Xavier membungkuk dan menutup mata Old Sam sebagai penghormatan kepadanya. “Aku akan memimpin kota ini seperti yang kau percayakan kepadaku.”
Jika sebelumnya dia masih memiliki beberapa keraguan, saat ini tidak! Dia benar-benar sudah membulatkan tekadnya!
"Dan juga aku akan membasmi mereka semua … kau serahkanlah semuanya padaku."
Dalam hati yang tak tenang, Xavier mulai mengambil langkah meninggalkan jasad Old Sam.
Ia pergi untuk … membunuh. Dengan MP40 di tangannya, Xavier seperti Dewa Kematian di tengah-tengah huru-hara yang terjadi, dengan tatapan beringas ia mengeksekusi lawan-lawannya dengan kejam tanpa rasa kasihan sedikitpun.
Hingga akhirnya …
Ia memenangkan pertarungan ini!
•••
Bersambung! Jangan lupa tinggalkan like dan komen sebagai dukungan untuk Author, makasih :)