Building A City In Ancient Times

Building A City In Ancient Times
Chapter 17 : Mengakali Luceus



Melihat ketertarikan Luceus pada kota Insek membuat Xavier tersenyum, tetapi dirinya memutuskan untuk tidak menyinggung hal itu terlalu jauh.


"Tuan Luceus, kau harus berhati-hati dengan balon baru dari Kota Insek, yakni Baron Xavier."


Mendengar peringatan yang tertuju pada dirinya itu, perasaan Luceus seketika penuh amarah, akan tetapi kehormatannya sebagai seorang Baron harus tetap dia jaga.


"Hmph! Aku tidak akan pernah menaruh kota kecil itu di mataku!" tegasnya, sekali lagi membuat Xavier tersenyum.


"Ah, kuharap begitu, Tuanku."


"Tentu!" Meski berkata seperti itu, akan tetapi terlihat jelas pria berumur 39 tahun itu merasa khawatir dengan kehadiran Xavier yang membawa kebangkitan bagi kota kecil Insel.


Bukan karena hal lain, tetapi ia takut ekonomi Kota Dagang akan menurun jika komoditas mahal seperti ikan ini dimiliki dengan jumlah banyak oleh Kota Insel.


"Tuan Luceus, aku ke sini untuk meminta izin mendirikan tendaku, apa tidak apa-apa? Aku akan memberikan segerbong ikan kepadamu sebagai bayarannya."


"Benarkah?" Luceus melebarkan matanya.


"Tentu saja, lagipula Kota Insel mempunyai banyak ikan dengan harga murah." Xavier menimpal balik dengan maksud bahwa itu hanya barang murah, tidak apa-apa.


"... Baiklah, kalau begitu. Kau bisa mengirim ikannya ke mansionku."


"Kalau begitu, aku mengucapkan terima kasih, Tuan Luceus!" ucap Xavier sambil bangkit berdiri dan melakukan penghormatan formal kepada pihak lain.


"Ya, pergilah."


Xavier mengangguk dan melangkah keluar dari Balai Kota bersama dengan Adolf, meninggalkan Luceus sendirian di dalam sana sambil memikirkan tentang apa yang baru saja diucapkan oleh Enri (nama samaran Xavier).


"Sialan, Kota Insel benar-benar ingin menjadi pusat perdagangan? Aku tidak akan membiarkannya!"


•••


Selepas keluar dari sana, Xavier bersama para warga kota yang lain segera mendirikan tenda untuk menjual dagangan mereka dari siang hari itu sampai malam, dan itu benar-benar laku keras!


"Pak tua, aku ingin membeli dua ikan, apa masih ada?"


"Maaf, sudah habis."


"Heehhh? Begitu cepat?"


"Kami minta maaf, mungkin tuan pelanggan bisa membeli di tenda lain."


"Maunya sih begitu, tapi harga di sana lima kali lebih mahal daripada yang kalian jual!"


"Ada apa ini?" Xavier mendekati tempat pelanggan itu dan bertanya kepadanya, "Apa kau mencari ikan?"


"Itu benar, apakah sudah benar-benar habis?"


"Ya." Xavier menjawab apa adanya, "Semua ikan ini kami bawa dari Kota Insel, ikan di kota itu sangat banyak dan lebih murah, jika kau memang maniak ikan, kau mungkin mau berkunjung ke sana."


"Benarkah?"


"Untuk apa aku berbohong?" Xavier tersenyum dan berusaha untuk lebih meyakinkan pembeli itu lagi, "Sebulan kami akan datang lagi, sebenarnya kami ingin membawa banyak, tetapi karena takut tidak terjual habis, kami pun hanya membawa beberapa gerbong."


"Itu artinya aku harus menunggu sebulan lagi untuk memakan daging lezat dengan harga murah?" Wajah pelanggan itu sedikit tertekan, tetapi begitulah kenyataannya.


"..." Xavier melirik Hamrir, nama warga kota yang menjual dagangan ini dan mengedipkan mata kepadanya sehingga membuatnya mengerti.


Hamrir pun berpura-pura untuk mengecek bakul yang sebelumnya berisikan ikan, serta berpura-pura terkejut untuk menarik hati pelanggan itu.


"Oh, masih ada satu ikan di sini!"


"Benarkah?" Wajah pelanggan itu umur bahagia mendengar kabar bahwa masih ada satu ekor ikan di tenda ini.


"Benar, Tuan Pelanggan!" Hamrir bergegas kembali dengan membawa seekor ikan sepanjang lengan orang dewasa yang sudah diawetkan agar tetap terjaga dari bakteri.


"Uhh, itu sangat besar, berapa harganya?"


"Hanya 15 keping perak!" Xavier yang menjelaskan, "Tetapi karena kami akan tutup, bagaimana jika hanya 10 keping perak saja?"


"Benarkah?"


"Tentu!" jawab Xavier sembari mengambil ikan yang ada di tangan Hamrir dan menyodorkannya kepada pihak lain, "Tapi bisakah aku meminta tolong sesuatu padamu? Jika kau setuju, aku akan memberimu dengan harga yang disebutkan sebelumnya."


"Tidak terlalu sulit."


"..."


"..."


"Baiklah, aku paham! Aku akan memberitahu teman-temanku bahwa ada banyak ikan murah di Kota Insel."


"Bagus!" Xavier menyerahkan ikan di tangannya kepada pihak lain dan menyuruhnya pergi, "Lupakan saja, kau tidak perlu membayar, anggap saja ini bonus."


"Woah ... Terima kasih!"


"Ya!"


Setelah pembeli itu pergi menjauh dengan wajah gembira disertai kepuasan, Xavier akhirnya menghela nafas, "Tidak apa-apa sedikit rugi, yang penting hasilnya."


"Hamrir, kumpulkan yang lain, kita akan mencari penginapan untuk bermalam di kota ini."


"Baik, Tuanku!" jawab Hamrir dengan nada rendah, lalu bergegas pergi dari sana untuk memberitahu yang lain.


•••


[Penginapan]


"Hmm, kami untung banyak," ucap Xavier yang saat ini sedang menyusun tiga jenis keping di atas mejanya.


"3.750 keping perunggu, 10.125 keping perak, dan 30 keping emas."


Xavier cukup lelah menghitung semua ini.


Setelah selesai menghitungnya, barulah Xavier memasukkannya kembali ke masing-masing kantong yang berbeda.


"Phew~ sekarang aku harus menukarkan perunggu dan perak!" gumam Xavier.


Ia melakukan ini sebab tujuannya adalah menjual emas di Bumi, tidak dengan perak dan perunggu, sebab harganya sangat murah, dia akan rugi jika menjual kedua jenis koin tersebut.


"Tapi sebelum itu, aku harus menyimpan koin emasku dengan aman terlebih dahulu!"


Tentu saja dengan cara menaruhnya di Bumi, karena dengan begitu, maka mustahil ada orang yang mencurinya.


"Baiklah, sekarang saatnya menukarkan koin-koin ini!" ucap Xavier sambil mengangkat koin yang cukup berat itu, "Tidak-tidak, kenapa aku lakukan hal bodoh ini."


•••


Berjalan-jalan di tengah Kota Dagang yang masih ramai dalam keramaian, Xavier yang sudah mencari akhirnya menemukan adanya sebuah toko barter di sebelah kiri jalan.


"Hmph, barangkali mereka menerima penukaran uang," pikir Xavier ketika bergegas ke toko tersebut.


"Permisi, apakah bisa menukarkan koin di sini?" tanya Xavier kepada sang resepsionis wanita yang berjaga.


"Tentu, berapa banyak yang kau ingin tukarkan?" Ia bertanya balik sambil memandang tubuh Xavier yang terlihat seperti tidak membawa kantong koin.


Apa dia orang miskin?


"Jadi bisa yah, kalau begitu aku akan kembali sebentar lagi."


"U-Umm ..."


Xavier pun bergegas pergi dari sana dan mencari tempat sepi di sebuah lorong untuk berteleportasi ke Bumi untuk mengambil Koin Perak dan Perunggu yang sudah ia taruh di sana, lalu kembali lagi ke dunia lain.


Sharp ...


"Hadeuh, harusnya aku memikirkan ide ini sejak lama ..." Xavier menghela nafas kecewa, karena dengan ini harusnya ia bisa membawa lebih banyak ikan ke Kota Dagang untuk dijual.


"Sudahlah ..."


Xavier memutuskan untuk menyudahi pikirannya dan bergegas kembali ke Toko Barter sebelumnya untuk menukarkan semua koin-koin ini!


•••


Bersambung! Jangan lupa tinggalkan like dan comment sebagai dukungan untuk Author, makasih :)