
Malam hari, ketika hujan salju yang lebat sudah mulai turun melanda wilayah sekitar dari Kota Insel— Xavier yang masih dengan tenang menunggu akhirnya mendapati para peserta latihan kembali dengan tubuh yang sudah menggigil karena diterpa oleh hujan salju dan angin musim dingin yang menusuk daging.
“Cepat!” Xavier tidak mengasihani mereka. Sebab mengasihani itu hanya membuat mereka menjadi lembek, sifat seperti itu benar-benar ingin dihindari oleh Xavier.
Para peserta latihan yang baru saja tiba hanya bisa mengangguk pasrah dan berbaris di hadapan Xavier meskipun kondisi masih turun salju saat ini.
“Apa kalian lelah?!”
“Siap, tidak!”
“Apa kalian lelah?!” Kali ini Xavier meningkatkan nadanya lebih dari sebelumnya dan lebih memelototi mereka.
“Siap, lelah!”
Xavier mengangguk dan berkata kepada mereka, “Karena kalian sangat lambat, turunlah 10 kali!”
10 kali? Semua peserta latihan yang ada di sana merasa terkejut dengan jumlah yang diberikan oleh Xavier.
“Ada apa? Cepat turun!”
“Siapppp!!”
Segera semua orang saling membuka jarak dua sampai tiga langkah dari yang lain, lalu mulailah mereka turun ke bawah dan melakukan push up.
“Mulai!”
Ketika Xavier mengatakan itu, maka semuanya langsung saja turun dan naik kembali dengan gerakan yang sempurna.
“Satu!” Xavier mulai menghitung. Ketika mereka turun dan naik lagi, Xavier justru mengulang apa yang dia katakan, “Satu!”
Dua sampai tiga orang di barisan depan yang ingin memprotes langsung dilayangkan tendangan di wajah mereka sebelum mereka belum bisa bicara.
“Aku hanya menyuruh push up, bukan protes.”
“Maafkan kami!” Keduanya kembali ikut dalam ritme dengan yang lain tanpa memprotes lebih lanjut.
“Tiga!”
“Tiga!”
Tak lama, baru hitungan delapan, sudah banyak yang tidak sanggup dan jatuh ke tanah, yang lain bahkan sudah berkeringat dingin dan tangan mereka begitu gemetar untuk menopang tubuh mereka.
Ketika masuk hitungan sembilan, hanya tersisa 10 orang yang masih bertahan, dan ketika memasuki hitungan ke-sepuluh, hanya ada 5 peserta yang masih bertahan.
“Bagus!” Xavier tersenyum bangga kepada mereka, “Dirikanlah tenda!”
Bagi semua peserta latihan, pulang ke rumah hanyalah mimpi, mereka tiap hari harus di sini menghadapi penyiksaan ini.
Xavier tahu bahwa caranya sedikit keras, tapi memang harus begitu untuk melatih mental mereka. Yang dimaksud adalah mereka tidak boleh takut mati! Mereka hanya boleh takut kepada dirinya.
‘Hmm, besok ... mungkin lebih kejam, tapi kuharap kalian bisa bertahan sampai musim dingin selesai.’
•••
Kembali ke mansion, Xavier dengan wajah sedikit memerah berjalan masuk ke mansion lantai tiganya dan bertemu dengan Miao En yang tengah bermain bersama Liani di sana.
“Kenapa kau mengajak orang lain?” Xavier menatap Miao En dengan tajam.
“Kenapa? Dia hanya anak kecil ...” timpal Miao En sambil menyembunyikan Liani di belakangnya.
“Kau tidak paham,” Xavier menggelengkan kepalanya dan berjalan mendekati mereka berdua, “Ini bukan tentang kasih sayang, ini tentang aturan. Di manapun kau berada, tolong taati aturan.”
Aturan adalah hal yang sangat penting, melanggar aturan tetaplah salah, tidak boleh ada pembenaran sama sekali.
Tapi untuk kali ini Xavier masih memakluminya.
“Liani, tunggu kami di lantai dua, oke? Kita akan makan.”
“Umm, baik, Kak.” Liani mengangguk dengan polos sebelum akhirnya bergegas pergi dari ruang kerja Xavier.
“Kau mengusirnya!” Miao En mendengus kesal.
“...” Xavier memandangi Miao En untuk beberapa saat sebelum berkata, “Miao, memang tidak ada salahnya membawa dia masuk, tetapi seperti yang aku katakan; semua tempat ada aturannya.”
Xavier kurang menyukai sifat ini.
Hanya karena dirinya diberikan akses oleh Xavier untuk masuk ke ruangan ini, bukan berarti dia boleh membawa orang lain dengan menggunakan wewenangnya sendiri. Sebab sikap Miao En ini tidak ada bedanya dengan yang biasa disebut sebagai Orang Dalam.
“Uhhh ...” Miao En masih tidak begitu paham, tetapi karena ini adalah ucapan Xavier, dia hanya bisa menerimanya.
“Baiklah, aku paham!”
“Baguslah kalau kau paham. Pergilah dan tunggu aku di lantai dua, uhuk ...”
Miao En melirik Xavier dan tidak lagi banyak bicara sebelum akhirnya bergegas pergi dari hadapan Xavier.
“Uhh, sepertinya aku sedikit flu.”
Xavier kembali ke Bumi— Tidak banyak membuang waktu, Xavier langsung saja memesan Taxi menuju ke arah pusat kota.
“Pak, kita cari apotek dahulu, aku ingin membeli obat.”
“Baik.”
Selanjutnya dari apotek, Xavier menuju lagi ke salah satu tempat makan dan membungkus lauk; ikan dan sayuran, sebelum akhirnya pergi ke toko pakaian untuk membeli pakaian, lalu kembali lagi ke rumahnya dengan Taxi.
“Makasih, Pak. Ini uangnya.”
“Ya!” jawab sang supir sambil menerima ongkos yang diberikan oleh Xavier.
Brummm …!!
"Fiuh, aku harus segera pergi, sangat dingin untuk berdiri di sini."
Sebenarnya dia tidak diantar sampai di rumah, melainkan ini hanya di luar gang rumahnya yang berjarak 30 meter lebih, itulah mengapa dia harus segera pergi.
“Fiuh, ini sangat dingin ...” gumam Xavier ketika berbalik dan melanjutkan perjalanan menuju rumah kecilnya yang berada di pinggiran kota.
“Hmm, ada kios.” Xavier mampir dan memanggil, “Bu, beli rokok sebungkus.”
•••
“Wahhhh ...” Air liur gadis kecil itu menetes ketika melihat makanan lezat yang disajikan oleh Xavier di atas meja. Bahkan Miao En yang kelihatan cukup dewasa juga tidak bisa menahan aroma ikan yang dibawa oleh Xavier dari Bumi.
Melihat keduanya yang tampaknya sudah kelaparan membuat Xavier mempersilahkan mereka untuk makan.
“Ayo, makanlah.”
“Ya!”
Gadis kucing itu langsung menggigitnya dengan agak rakus, bukan dengan sendok atau garpu, dia justru menggunakan tangan.
Astaga …!
“Hei, lebih sopanlah, apa kau ingin mengajarkan Liani hal jorok seperti itu?” Sungguh, jika ini ikan bakar mungkin saja tidak apa-apa, tapi ini ikan berkuah kental, bagaimana kau bisa memegangnya dengan tangan kosong?
“Apa maksudmu, Liani tidak mungkin ...” Miao En menoleh ke samping dan seketika wajahnya membeku menyaksikan Liani yang saat ini mengikuti cara makannya.
“Hei, Liani, berhenti!”
Melihat tingkah laku keduanya membuat Xavier mendengus dingin tetapi dia tersenyum tipis. "Kalian makanlah dengan sopan."
“I-Iya!”
Pada akhirnya mereka bertiga menikmati makan malam yang menyenangkan di sana. Alhasil Miao En yang sebelumnya dibuat tersinggung, sekarang tampaknya sudah melupakan kejadian sebelumnya.
•••
Sehabis Xavier selesai menyantap makan malam yang lezat di meja makan, dia pamit undur diri terlebih dahulu dari mereka untuk meminum obat flu-nya sekaligus sebat di dalam kamar tidurnya yang indah dan tertata rapi dengan selimut hangat.
“Hmm, ini lebih baik.”
•••
Bersambung! Jangan lupa tinggalkan like dan komen sebagai dukungan untuk Author, makasih :)