
*Enri nama samaran Xavier.*
***
Setibanya ia di toko barter, Xavier pun meletakkan beberapa kantong kulit di atas meja, kantong itu sangat besar sehingga membuat tatapan sang resepsionis membulat sempurna.
"Ini koin perunggu dan ini perak." Tunjuk Xavier satu per satu.
"I-Ini ..." Dia seperti baru kali ini melihat sekantong perak yang cukup banyak. "Tunggu di sini, Tuan. Aku akan segera kembali!"
"Eh?"
Tak berselang beberapa lama, wanita yang sebelumnya buru-buru pergi itu kini kembali membawa seorang lelaki paruh baya yang mengenakan pakaian rapi. Xavier bisa langsung mengetahui bahwa sosok ini pastilah pemilik toko.
"Tuan, apa kau ingin menukar semua ini?" ucap pemilik toko dengan nada bertanya sembari melirik dua kantong perunggu dan emas yang ada di atas meja resepsionis.
"Benar, aku ingin menukarkannya menjadi emas!" jawab Xavier tanpa menyembunyikan apapun.
"Emm, sebenarnya aku ada penawaran lain, apa anda mau mendengarkannya?"
"Ohh?" Xavier menaikkan salah satu alisnya. Rasa ketertarikan menarik dirinya lebih jauh untuk bertanya, "Tawaran macam apa itu?"
Hmm ...
Pemilik toko menunjukkan senyum tipis. "Tawaran saya cukup unik, jadi mari kita bicarakan sambil minum teh."
***
"Jadi apa yang anda tawarkan, Onriko." Xavier bersikap tenang setelah duduk di sofa empuk tempat mereka akan berbincang-bincang.
"Tidak perlu terburu-buru, Tuan Enri ..." Onriko mengangkat jarinya dan berkata, "Bukankah saya sudah bilang kita akan membicarakannya sambil meminum teh?"
Sikap mempengaruhinya benar-benar ...
"Hmm, baiklah. Saya rasa tidak apa-apa." Xavier seperti masih mempertahankan sikap seorang bangsawannya agar tidak dipandang remeh— karena dalam sebuah proses tawar menawar, yang lemah akan dirugikan dengan mudah.
'... Sikap pemuda ini seperti bukan rakyat jelata ... Apa dia bangsawan?' Onriko sedikit memberikan pengamatan khusus pada gerak-gerik khusus yang muncul dari Xavier.
*Klakk ...* Suara pintu terbuka.
Pintu terbuka dan seorang pelayan wanita melangkah masuk ke dalam ruangan mereka, di tangan pelayan itu terdapat nampan logam yang diatasnya terdapat dua gelas dan satu cerek berwarna putih.
"Hmm?" Xavier sedikit tertarik ketika menatap tubuh pelayan wanita itu dari dekat, yang mana jelas dia bukan manusia biasa, melainkan Ras Setengah Binatang, bisa dilihat dari daun telinganya yang berbentuk seperti kelinci, dengan gumpalan bulu-bulu lembut yang menonjol dari bagian belakang.
"Permisi, Tuan." Pelayan wanita itu melayangkan senyum hangat kepada Xavier sebelum menaruh kedua gelas ke atas meja, dan menuangkan teh hangat dari ceret ke gelas mereka masing-masing.
Dari awal sampai akhir Xavier terus mengamati gerak-gerik pihak lain, mulai dari cara ia menyajikan makanan, sampai sikapnya yang begitu sopan, ia harus mengakui bahwa gadis ini benar-benar sempurna melakukan profesi pelayannya.
"Apa anda tertarik dengan Mixane?" Onriko sedikit memberikan pertanyaan sambil mengamati perubahan ekspresi pada wajah Xavier.
"Ya, dia memang sangat profesional dalam melakukan hal seperti ini." Xavier mengangguk sebagai bentuk sanjungan.
"... Mixane adalah seorang budak." Onriko menjelaskan, "Dan karena dia Setengah Binatang ... dia masih perawan, Tuan Xavier."
"Oh?" Xavier sedikit tertarik, "Bagaimana aku bisa mempercayai perkataanmu?" Apa dia mau membodohiku? Pikir Xavier sambil terus menjaga sikap tenangnya.
Xavier sedikit mengerutkan keningnya karena ia baru mengetahui ini.
"Tetap saja, aku tidak bisa mempercayai omonganmu begitu saja ... karena di dunia ini dipenuhi dengan orang berdosa yang senantiasa bisa mengubah hal haram menjadi halal. Kau tahu itu, bukan? Tuan ... Onriko."
"Huhu ..." Onriko tidak bisa tahan lagi untuk tertawa. "Hahaha, sepertinya Tuan Enri sangat berhati-hati."
"Tapi apa yang aku beritahu itu benar, dia masih perawan. Dan alasan utamanya adalah karena orang yang memburu para Setengah Binatang tahu betul bahwa harga perawan dan tidak perawan itu berbeda-beda." Dia lalu menyebutkan alasan lainnya. "Adapun yang lain, itu karena ... Setengah Binatang tidak bisa mengandung anak manusia, jadi tidak ada gunanya melakukan hal itu dengan mereka."
"Hmm ..." Xavier sudah menduga ini sebelumnya. Pasti ada perbedaan genetik antara kedua ras, sekarang setelah mendengar cerita Onriko, Xavier semakin yakin bahwa itu benar.
"Tapi, Tuan Enri ..." Onriko menurunkan nadanya dan mengubah ekspresinya menjadi serius, "Mixane itu seorang penyihir."
Ungkapan Onriko membuat Xavier sedikit terkejut, bisa dilihat dari perubahan bentuk pada matanya yang sedikit membulat.
"Dia penyihir?" Xavier berkata lirih.
"Ya, benar." Onriko mengangguk dan berkata, "Meski Mixane seorang penyihir, tapi aku tahu dia gadis baik-baik ... Jadi, bisakah kau membelinya? Aku tidak tahu kau baik atau jahat, tapi ... Setidaknya jangan gadis baik macam dia jatuh ke tangan Kuil Suci ..."
"Kuil Suci?"
"Itu adalah organisasi keagamaan yang berada di bawah naungan Keluarga Kerajaan. Kabarnya semua penyihir diincar oleh mereka, dan menurut rumor yang beredar, semua penyihir-penyihir tidak pernah terlihat lagi ketika tertangkap oleh pihak Kuil Suci."
"Ada yang seperti itu?" Xavier bergumam rendah. Apa memang penyihir sekuat itu? Apa mereka bisa menciptakan badai atau angin ****** beliung sehingga mereka harus ditangkap?
Ini benar-benar pelanggaran hak asasi jika di dunianya.
"..."
"..."
Selang beberapa saat, Xavier akhirnya mengeluarkan keputusannya dengan berkata, "Aku tidak membeli orang yang tidak berdampak besar, karena ini akan membuat uangku habis." Tidak putus sampai situ, Xavier masih mencoba teknik jitunya. "Kecuali kalau kau memberikanku sedikit diskon, mungkin aku akan mempertimbangkannya, bagaimana menurutmu?"
"Ini ..." Onriko sedikit berpikir, 'Pemuda ini benar-benar memiliki otak memonopoli, aku harus hati-hati dengannya.'
"??" Xavier hanya menatapnya dengan ekspresi kompleks sambil menyesap kembali teh hangat yang ada di cangkirnya.
"Bagaimana jika aku menjual Mixane dengan harga lima keping e—"
"Aku akan membeli semua budak di tempat ini dengan harga 100 keping emas, bagaimana menurutmu?" tandas Xavier, "Ini penawaran tertinggiku, jika tidak deal, maka lupakan saja pembicaraan ini."
Onriko membuka dan menutup mulutnya kembali. Pada titik ini, dia sudah tidak bisa melakukan tawaran apapun lagi, pemuda di hadapannya ini ... bertindak sangat mendominasi!
"Hahhh ..." Onriko bersandar pada kursinya dan menghela nafas sambil mendongak menatap langit-langit.
"Apa kau tidak setuju?" Xavier menaruh cangkir tehnya dan hendak bangkit berdiri, namun Onriko segera menghentikan perbuatannya.
"Baiklah kalau begitu, Tuan Enri. Transaksi kita ... deal!"
"Hmm." Xavier melengkungkan senyumnya dan duduk kembali ke kursinya dengan perasaan lega dan penuh kemenangan.
"Senang berbisnis denganmu, Onriko."
Bersambung! Jangan lupa tinggalkan like dan komen sebagai dukungan untuk author :)