
Malam hari yang dingin dan sejuk, angin musim dingin mulai bertiup dari pegunungan menghampiri kota itu, tak terkecuali mansion tempat Xavier berada.
"Hmm, untuk sementara kurasa ini dulu."
Di dalam ruang kerjanya, Xavier mengenakan pakaian lapis sambil menyeruput kopi hitam dan bergantian menghisap rokok di tangan kirinya.
Matanya yang berwarna hitam gemerlap itu memandang ke atas meja, di mana terdapat kertas catatan yang sudah dituangkan berbagai macam rencana tentang pembangunan kota ini.
1. Membangun rumah
2. Membuat kebun
3. Membuat peternakan
4. Melatih regu pasukan
5. Merenovasi jalanan kota
6. Membangun sumur
7. Membuat ulang tembok kota
8. Membangun sekolah
9. Membangun rumah di pesisir pantai
10. Membuat perdagangan
Untuk saat ini, hanya itu rencananya, baik yang sudah atau belum dia laksanakan sama sekali.
Ia sekarang lebih fokus pada pembangunan rumah secara merata terlebih dahulu, yang mana dia yakin bisa menyelesaikannya dalam satu sampai dua bulan karena ini hanyalah sebatas rumah kayu.
Selagi para warga yang lain melakukan hal itu (membangun rumah), Xavier juga memiliki fokus tersendiri para regu pasukan yanh baru-baru ini dia bentuk yang bermarkas tepat di belakang mansionnya.
“Air di sungai masih mengalir deras jadi harusnya tidak usah membuat sumur terlebih dahulu, sekarang yang terpenting adalah bertahan hidup di musim salju ini.”
Dan untuk bertahan hidup, selain tempat tinggal, kota ini juga membutuhkan regu pasukan yang kuat. Karena Xavier dahulunya pernah mengikuti wajib militer, maka ini adalah tugas sempurna untuk dirinya.
•••
Keesokan harinya, Xavier memimpin semua regu pasukan untuk keluar dari kota dan pergi ke belakang kota, tempat di mana mereka akan dilatih.
“Berbarislah!” Xavier dengan suara tegas dan tampang menakutkan meneriaki mereka.
“Baik!—”
“Bukan baik, tapi SIAPPP!!”
“Siappp!!”
“Bagus!” Xavier cukup puas dengan sikap mereka semua, jadi langsung saja dia mulai melatih mereka.
“Kalian pemanasan selama 15 menit, setelah itu, berlarilah sampai ke tebing pantai dan kembali lagi ke sini, sebanyak dua puluh kali!”
“Hah?” Banyak yang menjadi kaget, beberapa sedikit terpana.
“Apa? Apa kalian tidak siap?” Xavier memelototi mereka dengan tatapan serius dan kejam.
“Siap!” Semuanya kembali menjawab dengan serius, beberapa bahkan sedikit takut dengan perubahan sikap Xavier yang tidak seperti biasanya.
“Bagus!” Xavier berkata lagi, “Setelah berlari, istirahatlah selama setengah jam, lalu push up lah sebanyak 50 kali dan sit up sebanyak 50 kali! Apa kalian mengerti?”
Itu artinya setiap satu putaran ...
Semua orang hanya bisa menelan saliva dan tetap patuh pada Xavier.
“Siap, mengerti!”
Xavier tidak bertanya lebih lagi pada mereka, sisanya dia hanya bisa menunggu hasilnya, apakah banyak yang menyerah, atau justru banyak yang lulus tesnya ini.
Hari pertama, hari kedua dan hari ketiga, semua orang melakukan latihan yang sama secara terus menerus hingga membuat beberapa orang merasa bosan dan protes kepada Xavier.
Xavier yang mendengar pertanyaan itu langsung menjawabnya, “Sepertinya aku sedikit meremehkan kalian.”
Sekarang Xavier memikirkannya, mungkin saja ekspresi terkejut mereka saat itu bukan kaget karena latihannya sangat sulit, melainkan karena terlalu mudah.
‘Hmm, fisik manusia di zaman seperti ini sangat kuat, jadi tidak salah menaikkan tingkat kesulitan.’
Berpikir seperti itu, Xavier yang menerima keluhan mereka langsung saja menaikkan tingkat kesulitan dengan menyuruh mereka merayap dari tempat latihan mengikuti arah samping sungai hingga ke pusat mata air berada.
Setelah menerima tugas dengan tingkat yang seperti itu, Adolf pun berbalik dan bergegas pergi untuk memberitahu teman-temannya yang lain sehingga membuat mereka menyesal sudah mengeluh kepada Xavier.
“Ini perintah Tuan Xavier, jangan ada yang mengeluh!” Adolf terlihat meneriaki mereka yang malas-malasan, “Ini bukan seberapa, jika dibandingkan dengan jasa Tuan Xavier pada kita!”
“Hmm, dia sepertinya yang paling serius dari semuanya.”
“Benar ... Eh?” Xavier menoleh ke samping tempat dia berdiri, “Miao ...” Xavier berbisik rendah, “Apa kau sudah sembuh?”
Miao En mengangguk dan berkata, “Meski masih agak sakit, tapi lukaku sudah tertutup, paling beberapa hari lagi sembuh.”
“Bagaimana bisa?” Xavier ingat bahwa luka Miao En sangat parah karena tertusuk panah di dua tempat berbeda, bagaimana bisa sembuh dalam beberapa hari?
“Bodoh, jangan samakan ras siluman dengan ras manusiamu yang lemah.” Miao En sedikit mencerca Xavier tapi dia tetap menjelaskan agar Xavier kiranya tidak kebingungan, “Kemampuan ras siluman untuk beregenerasi sangat kuat, itulah kenapa lukaku bisa sembuh dengan cepat.”
“Tidak heran ...” Xavier semakin takjub dengan ras siluman ini yang sepertinya akan menjadi lawan sulit jika mereka saling bermusuhan.
“Lalu, untuk apa kau datang ke sini?”
Miao En menjawab, “Aku ingin menangkap ikan, kau pikir apa lagi?” Miao En mendengus lembut, padahal saat ini dia sudah membawa pancing di pundaknya, bagaimana bisa Xavier menanyakan maksud dan tujuannya lagi?
Tak ingin berlama-lama lagi, dia pun pergi. Akan tetapi dia segera kembali setelah tak lama dengan wajah tampak murung.
“Orang-orang itu, kenapa mereka menyanyi sambil merayap ke arah sana?!” Miao En memprotes, “Mereka sangat ribut sampai-sampai tidak ada ikan di pinggiran sungai yang mau makan umpanku!”
“Hei, kenapa kau menyalahkanku?” Xavier merasa kurang senang dengan sikap Miao En, “Tidak bisakah kau penuhi lambungmu itu dengan daging asap yang banyak di mansion?”
“Lambung? Apa itu sejenis makanan?”
“Apa, kau bahkan tidak tahu lambung?” Xavier merasa seperti orang bodoh jika berbicara dengan Miao En lebih lama, jadi dia menyuruhnya pergi.
“Pergilah, aku akan membawakanmu ikan nanti malam. Untuk sementara makanlah yang ada.”
“Benarkah?” Mata gadis itu berbinar cerah dengan air liur yang menetes. Tetapi tiba-tiba otaknya seperti konslet dan dia memikirkan kemungkinan buruk lainnya, “Apa kau ingin mendapatkan tubuhku ini dengan ikan belaka? Kalian manusia sangat busuk!”
“Matamu!” Xavier langsung mengusirnya pergi, “Siapa yang tertarik dengan siluman sepertimu? Pergilah!”
Siapa yang tertarik dengan siluman ... pergilah ...
Suara itu terngiang-ngiang di kepala gadis itu sehingga wajah Miao En berubah menjadi muram karena merasa hatinya seperti ditusuk dengan ribuan pedang.
“Sialan ...”
Miao En langsung melompat dari tepian sungai ke tepi yang lain, kira-kira jaraknya adalah lima meter tetapi dia berhasil melompatinya dengan mudah.
“Uhhh, apa aku terlalu keras?” Tidak, kenapa aku harus mengatakan itu? Xavier jelas sadar dia terlalu keras barusan.
“...”
Sore hari, para peserta latihan yang dia tugaskan untuk merayap hingga pusat mata air sungai masih belum kembali, tetapi awan di atas sudah mulai mendung.
“Bruhhh, semoga saja tidak turun salju—”
Tess ... Sepertinya alam bahkan tidak sejalan dengannya karena sudah ada tetesan salju yang mengenai batang hidungnya.
“Huhh, kuharap mereka tidak mati.”
•••
Bersambung! Jangan lupa like dan komen sebagai dukungan untuk Author, makasih :)